Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Sedih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2015

Cerpen | Di Ujung Perjalanan



"Berjanjilah wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku
Tetaplah tersenyum..."

Langkah kaki Rio terus menggema di jalan panjang itu. Ia tak peduli tubuh kurusnya itu sudah lelah mengejar mobil silver yang jauh mendahuluinya. Kalau dia tak berhasil mensejajarkan langkahnya dengan mobil tersebut, mungkin dia akan menyesal seumur hidupnya.
Kecemasan yang ada di dalam dirinya terus berkecamuk di dalam hati, harusnya tadi dia tidak bertengkar dengan Alvin. Ya, mereka memang sering beradu mulut untuk hal-hal kecil. Mereka bersahabat karena perbedaan yang mereka miliki itu. Tapi, bukan ini yang Rio mau.

Rabu, 23 Juli 2014

Cerpen | Kenangan Terakhir [2 Minggu Bersamamu]




Cakka P.O.V

Bagiku, musik adalah jiwaku. Semua yang aku lakukan dalam hidup ini, harus disertai dengan musik. Jangan heran. Aku terlahir dari keluarga musisi. Ayah adalah mantan gitaris yang cukup hebat, saat muda sering sekali mendapatkan prestasi dalam bidang musik dan juga pernah membuat sebuah album berisi lagu-lagu alunan gitar yang berhasil ia ciptakan. Ibu adalah seorang penulis lagu, lagu-lagunya pernah mendunia saat ia masih menginjak umur 18 tahun. Dan kakak laki-lakiku mempunyai grup band yang cukup terkenal. Tentu saja, dengan lingkungan seperti itu, Aku juga ingin 'bersinar' seperti keluargaku.

Senin, 21 Juli 2014

Cerpen | Sahabat Loker Part 2 [Ending]



Mungkin kau sudah mendengar bahwa aku terkena skors karena dituduh membawa rokok. Kalau tidak, harus kuberitahu kau bahwa aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu siapa yang memasukkan rokok-rokok itu ke dalam tasku dan aku tak punya cukup bukti untuk membongkarnya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Bunda kepadaku karena hal ini. Hanya kau yang mau mendengarkan ceritaku. Kirimkanlah balasan suratku ke rumahku di komplek Matahari, aku tidak akan datang esok.

Cerpen | Sahabat Loker Part 1



Iqbaal Dhiafakhri, anak itu tengah duduk di pinggir lapangan sambil bersandar pada tiang penyangga atap koridor sambil melamun. Telinganya mendengar suara canda tawa teman-temannya, hidungnya mencium bau aroma persahabatan, hatinya seakan-akan bisa merasakan bagaimana indahnya memiliki teman dekat. Benar-benar menggiurkan seperti kue tar besar buatan Ibu. Padahal, sejak dia duduk di bangku SMP, dia benar-benar tak memiliki satupun teman.