Tampilkan postingan dengan label Bastian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bastian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2014

Cerpen | AKU, DIA dan KAMU


“Jadi kau akan bekerja di sana seterusnya?” terdengar suara Bunda protes kepada Ayah. “Bagaimana dengan anak-anak?”
“Bukankah dari dulu kau yang bilang kalau kau bisa membesarkan anak-anak sendiri tanpa aku?” tanya Ayah tak perduli. “Sekarang saatnya kau buktikan omongan kau itu.”
Bunda bungkam mendengar ucapannya. Dari balik pintu kamar, Iqbaal dan kedua adik kembarnya mendapati wajah Bunda tampak kesal. Kedua pipi beliau memerah karena sudah kehabisan rasa sabar menghadapi Ayah. Ini sudah hal paling parah yang dilakukan suaminya kepada keluarga.

Selasa, 29 Juli 2014

Cerpen | Penyesalan




Iqbaal benar-benar kaget ketika melihat seorang anak tengah diserang oleh teman-teman sekelas. Anak itu tampak ketakutan menghadapi sendiri dua orang berbadan besar yang sudah siap menghajarnya. Untung saja Iqbaal mengawasi mereka untuk beberapa waktu, atau anak itu pasti habis karena dipukul oleh dua preman itu.

Senin, 21 Juli 2014

Cerpen | Sahabat Loker Part 2 [Ending]



Mungkin kau sudah mendengar bahwa aku terkena skors karena dituduh membawa rokok. Kalau tidak, harus kuberitahu kau bahwa aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu siapa yang memasukkan rokok-rokok itu ke dalam tasku dan aku tak punya cukup bukti untuk membongkarnya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Bunda kepadaku karena hal ini. Hanya kau yang mau mendengarkan ceritaku. Kirimkanlah balasan suratku ke rumahku di komplek Matahari, aku tidak akan datang esok.

Cerpen | Sahabat Loker Part 1



Iqbaal Dhiafakhri, anak itu tengah duduk di pinggir lapangan sambil bersandar pada tiang penyangga atap koridor sambil melamun. Telinganya mendengar suara canda tawa teman-temannya, hidungnya mencium bau aroma persahabatan, hatinya seakan-akan bisa merasakan bagaimana indahnya memiliki teman dekat. Benar-benar menggiurkan seperti kue tar besar buatan Ibu. Padahal, sejak dia duduk di bangku SMP, dia benar-benar tak memiliki satupun teman.