“Jadi kau akan bekerja di sana seterusnya?” terdengar suara Bunda protes
kepada Ayah. “Bagaimana dengan anak-anak?”
“Bukankah dari dulu kau yang bilang kalau kau bisa membesarkan anak-anak
sendiri tanpa aku?” tanya Ayah tak perduli. “Sekarang saatnya kau buktikan
omongan kau itu.”
Bunda bungkam mendengar ucapannya. Dari balik pintu kamar, Iqbaal dan kedua
adik kembarnya mendapati wajah Bunda tampak kesal. Kedua pipi beliau memerah
karena sudah kehabisan rasa sabar menghadapi Ayah. Ini sudah hal paling parah
yang dilakukan suaminya kepada keluarga.



