Jumat, 06 Juni 2014

Cerpen | Aku Perduli


Another old story, aku buat pas masih SMP. Sudah diedit-edit kembali supaya lebih enak dibaca. Berikan komentar kalau sudah selesai baca ya :)



PRANG….
Suara itu masih terdengar dan menghantui di pikiran Wilson. Kejadian menyedihkan waktu itu terlalu sulit untuk dilupakan, walaupun sebenarnya bukan dia yang mengalaminya. Tapi, orang yang mengalaminya juga sangat dekat dengannya. Dan Wilson iba melihat keceriaannya yang hilang begitu saja karena kejadian itu.
Wilson menghela napasnya, ia selalu murung jika mengingat kejadian itu. Benar-benar menyedihkan. Bukan hanya dia saja yang berubah, tapi kehidupannya juga ikut berubah.

Wilson menbenarkan menguatkan pegangannya terhadap tas yang digantung di pundaknya. Wilson berjalan keluar dari rumahnya dan pergi menuju sekolah. Ia sudah hampir terlambat. Kalau tidak cepat pergi, ia pasti akan terkena hukuman dari guru yang bertugas piket hari ini.
Selama perjalanan, Wilson melamun sendiri mengingat seseorang. Seorang teman yang paling disayanginya selama ini. Dialah yang mengalami kejadian yang terus menghantui pikiran Wilson itu. Seseorang yang berasal dari kelas empat di sekolahnya itu sudah seperti adiknya sendiri. Karena itulah ia benar-benar prihatin dengan kejadian buruk yang menimpanya tersebut.
Begitu sampai di sekolah, ia disapa oleh teman–temannya dengan riang. Tapi, Wilson hanya tersenyum karena ia sudah berencana untuk bergegas pergi ke kelas yang ada di ujung koridor. Kelas 4-A.
“Cari Brandon? Dia tidak ada di sini.” kata salah seorang murid yang ada di sana. Wilson memang sering ke kelas itu, sehingga membuat anak–anak di kelas 4-A sampai mengenal sosok Wilson. Mereka sudah hafal, jika dia muncul di depan kelas, pasti mencari Brandon.
“Benar?” tanya Wilson kurang yakin. Ya, ini bukan yang pertama kalinya mereka mengatakan Brandon tidak ada di kelas. Padahal, Wilson yakin kalau dia ada di sana. Hanya saja teman-temannya terlalu sentimen dengannya, sehingga melarang hampir seluruh murid menemuinya. Ia menyempatkan untuk melihat sekeliling kelas sampai ia melihat sosok laki-laki mungil yang ada di pojok yang mirip dengan Brandon. Wilson memicingkan matanya melihat sosok tersebut. Wajahnya terlihat menunduk.
Karena penasaran, Wilson langsung masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan beberapa anak yang melotot padanya. Wilson menghampiri laki-laki mungil yang ada di pojok kelas itu. Ia sedang membereskan bukunya yang barusan dia baca. Wilson menoleh ke arah buku itu. Tertera nama ‘Brandon Desley’ di sana. Wilson tersenyum.
“Wilson?” Brandon mengangkat kepalanya dan mendapati Wilson di hadapannya. Tapi, wajahnya tak memancarkan kesenangan sedikitpun. Wajahnya tetap saja datar tanpa ekspresi.
“Ndon, sudah tiga hari kau tidak terlihat, kau kemana?” jawab Wilson tersenyum. Ya, sejak beberapa hari lalu Brandon nggak kelihatan batang hidungnya. Wilson sudah mencarinya ke mana–mana, tapi tetap saja nihil. Padahal, temannya itu sangat menyukai sekolah, sekalipun teman-temannya mengejek.
“Sibuk sekolah saja.” jawab Brandon masih dengan raut wajah yang sama.
“Bohong! Tiga hari kemarin dia bolos!” Tiba-tiba salah seorang murid berseru nyaring membuat Wilson menoleh ke arahnya dengan heran. Sedangkan Brandon hanya diam.
“Brandon bolos?” tanya Wilson pada anak itu.
“Iya, dia absen tanpa keterangan!” katanya lagi dengan wajah sebal.
“Memang anak badung!” temannya menyahut.
Wilson hanya diam mendengar ucapan mereka, kemudian menoleh lagi ke arah Brandon meminta penjelasan. Tapi, Brandon hanya menatap Wilson diam. Wajah tanpa ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi wajah marah. Matanya melotot. Lalu, tiba-tiba ia berdiri. Hendak pergi dari kelas.
“Mau kemana, anak badung?” tanya anak tadi dengan nada mengejek.
“Mau bolos lagi?” sindir temannya.
“Sudah badung, belagu lagi!” kata anak tadi kembali menyahut. Belakangan ini Brandon dianggap belagu karena tidak mau bergaul dengan teman–temannya semenjak kejadian itu terjadi. Dia hanya diam di kelas.
Brandon hanya diam mendengar semua ejekan itu. Ia benar-benar tak ingin membalas ucapan mereka. Percuma baginya berbicara kepada mereka, mereka tidak akan pernah mengerti apa yang dia rasakan.
 “Jangan ganggu aku!” kata Brandon tiba-tiba bersuara. Kemudian, ia langsung buru-buru pergi keluar kelas tanpa pamit. Wilson sampai kaget melihat kepergiannya. Dia bahkan tidak perduli ketika ia menabrak sebelah bahu Wilson yang membuat Wilson hampir saja terjatuh kalau ia tidak menahan tubuhnya dengan tangannya.
“Kalian tidak mengenal Brandon seperti aku mengenalnya!” protes Wilson dengan amarah yang memuncak kepada anak–anak itu. Ia benar-benar kesal dengan teman-teman sekelas Brandon.
Semuanya langsung terdiam mendengar suara nyaring Wilson. Tapi, ada juga beberapa anak yang mendengus kesal mendengar perkataannya. Yang pasti, tidak ada yang berani melawan ucapan Wilson.
Tanpa banyak bicara lagi, Wilson langsung pergi keluar untuk mencari Brandon. Ia sempatkan dirinya untuk menaruh tas sebentar di kelasnya. Ia tak perduli dengan teman–temannya yang bingung melihat tingkahnya yang tak biasanya.

J L J

Brandon merenung sendiri di bukit belakang sekolah. Dia duduk di bawah pohon rindang yang biasa menjadi tempat ia menyendiri. Brandon merebahkan tubuhnya di rumput hijau itu sambil memandang langit. Ia bahkan tidak perduli sebentar lagi bel masuk bunyi. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah ketenangan dari orang-orang di sekitarnya.
Untunglah Wilson bisa menemukan laki-laki mungil itu di bukit tersebut. Tak ada tempat lain yang bisa menjadi tempat Brandon menenangkan diri selain bukit itu. Itulah yang membuat Wilson yakin kalau Brandon akan pergi ke bukit itu untuk melarikan diri dari orang lain. Sikapnya memang tidak berubah, selalu sensitif dengan perkataan orang lain. Berbeda dengan Wilson yang selalu cuek dan ceria apapun yang terjadi.
“Brandon!” seru Wilson dari jauh.
Brandon bangkit dari tidurnya untuk melihat siapa yang datang dan memanggilnya. Setelah itu, ia kembali merebahkan tubuhnya. Ia tak perduli dengan kedatangan sahabatnya.
Wilson menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya. Ia langsung buru-buru duduk di sebelah Brandon. Perlahan tangannya menepuk pundak Brandon. “Duduklah, aku ingin berbicara denganmu.”
Brandon menggeleng pelan.
“Kau juga kesal denganku?”
Brandon menggeleng lagi.
“Kalau begitu duduklah di sebelahku. Aku tahu kau kesal. Dan aku tidak akan tinggal diam melihat sahabatku seperti itu.” kata Wilson, membuat Brandon bergeming. Setelah itu, Brandon langsung menuruti perkataan Wilson.
Dua laki-laki tersebut menatap ke arah langit. Langit begitu cerah saat itu. Tapi, hati Brandon jelas tidak secerah langit itu. Tak lama kemudian, Wilson kembali menoleh ke arah Brandon. “Aku perduli padamu.”
Brandon menoleh ke arahnya. “Untuk apa kau berkata seperti itu?”
“Kau ada temanku sejak kecil. Dan aku ingin kau bahagia.”
“Kamu tau dunia memusuhiku.”
“Karena kepalamu?” tebak Wilson.
Brandon menatapnya diam. Lalu, memegang kepalanya. Brandon meringis. Kepalanya masih sangat sakit. Wilson sampai bergeming mendengarnya. Tapi tak lama kemudian, Wilson kembali menatap pemandangan. “Kepalamu itu tidak bisa dijadikan alasan. Teman-teman salah jika mereka memusuhimu karena kecelakaan yang kau alami.”
“Tapi, lihatlah kenyataannya, Wilson. Sekarang dunia memusuhiku karena kepalaku yang cacat.”
Cacat. Sebenarnya Wilson tidak bisa menyebut kepala Brandon itu cacat. Wilson hanya bisa menyebutnya mengalami kecelakaan kecil. Ia masih ingat bagaimana kejadiannya. Dia dan Brandon sedang berkelahi di rumahnya. Dan Wilson tidak sengaja mendorong Brandon ke arah jendela dan memecahkan kacanya. Dan sialnya kejadian itu menjadi fatal karena salah satu beling dari kaca tersebut mengenai kepala Brandon. Bahkan Ayah Brandon sampai melarangnya bergaul dengan Brandon karena kecelakaan itu menyebabkan otak Brandon tidak berfungsi maksimal. Otaknya tak mampu lagi untuk diajak berpikir terlalu keras. Wilson masih ingat bagaimana sakitnya ditampar beliau.
Walaupun waktu itu Brandon sudah bisa menyakinkan Ayahnya supaya dia boleh bergaul lagi dengannya, Wilson belum bisa menghilangkan rasa bersalahnya terhadap Brandon. Ingatannya tentang kecelakaan itu belum bisa ia lupakan. Apalagi ditambah dengan perubahan sikap Brandon terhadap lingkungan sekitarnya. Untungnya belakangan ini Brandon sudah lebih terbuka kepadanya.
“Wilson?” panggil Brandon menatap Wilson yang masih saja asyik melamun dan bermain dengan dunianya sendiri.
“Eh? Apa?” tanya Wilson kaget menoleh ke arah Brandon.
“Kau melamun?”
“Tidak, Ndon. Aku hanya mengingat kejadian itu.” kata Wilson pelan.
Brandon terdiam mendengar ucapan Wilson. Kemudian tersenyum tipis. “Lupakan saja, Son. Kau tahu aku tidak suka mengingat kembali kejadian itu.”
“Tapi, kau tahu aku yang menyebabkan kepalamu terluka.”
 Brandon menggelengkan kepalanya. “Kau tidak salah. Ayah yang berlebihan.”
Wilson tersenyum. Kemudian, ia berdiri. “Mau breakdance?”
Brandon ikut tersenyum, kemudian tersenyum dan ikut berdiri. “Aku tidak akan menanggung jika aku ditegur guru karena bolos pelajaran.”

“Itu urusanmu, kawan.” kata Wilson sambil menjulurkan lidahnya.

Mereka tertawa bersama, kemudian Wilson dan Brandon bergantian melakukan gerakan freestyle, atau bisa dibilang gerakan bebas. Brandon dan Wilson memang sama–sama penari. Mereka sangat mahir dalam hal ini. Bedanya Wilson mahir dalam breakdance, sedangkan Brandon mahir dalam Hip Hop. Mungkin bakat ini juga bisa dijadikan alasan kenapa mereka bisa dekat selain karena Wilson yang setia kawan menemani Brandon dalam situasi sedihnya.
Kini Brandon nggak perduli lagi dengan teman–temannya yang banyak mengejeknya. Brandon juga tidak mempermasalahkan masalah otaknya yang kurang mampu untuk diajak berpikir keras. Bagi Brandon, Wilson tak sengaja dan tidak bermaksud untuk melakukan itu saat mereka bertengkar itu. Dan dengan terus berteman dengannya, Brandon bisa tetap tersenyum, tabah dan bahagia, karena ia tahu Wilson selalu ada di sampingnya.

THE END..
Tuliskan komentar kalian di bawah,
nantikan ceritaku selanjutnya!

7 komentar:

  1. setiap manusia punya kekurangan masing2 dan dari setiap kekurangan itu Allah mencukupkannya dengan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Nice dan inspiratif cerpennya.

    BalasHapus
  2. hoby banget nih nyerpen ya?

    BalasHapus
  3. wah sangat berbakat kamunya bikin cerpen, cita-cita jadi penulis ya ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess that's right! Udah cita2 dari SD hehe :D

      Hapus
  4. Keren Gan Ceritanya :D , Ditunggu Cerpen Berikutnya :D

    BalasHapus
  5. keren banget ceritanya :) ditunggu cerpen selanjutnya ya :)

    BalasHapus

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p