Another old story, aku buat pas masih SMP. Sudah diedit-edit kembali supaya lebih enak dibaca. Berikan komentar kalau sudah selesai baca ya :)
PRANG….
Suara itu
masih terdengar dan menghantui di pikiran Wilson. Kejadian menyedihkan waktu
itu terlalu sulit untuk dilupakan, walaupun sebenarnya bukan dia yang
mengalaminya. Tapi, orang yang mengalaminya juga sangat dekat dengannya. Dan Wilson
iba melihat keceriaannya yang hilang begitu saja karena kejadian itu.
Wilson
menghela napasnya, ia selalu murung jika mengingat kejadian itu. Benar-benar
menyedihkan. Bukan hanya dia saja yang berubah, tapi kehidupannya juga ikut
berubah.
Wilson
menbenarkan menguatkan pegangannya terhadap tas yang digantung di pundaknya.
Wilson berjalan keluar dari rumahnya dan pergi menuju sekolah. Ia sudah hampir
terlambat. Kalau tidak cepat pergi, ia pasti akan terkena hukuman dari guru
yang bertugas piket hari ini.
Selama perjalanan,
Wilson melamun sendiri mengingat seseorang. Seorang teman yang paling
disayanginya selama ini. Dialah yang mengalami kejadian yang terus menghantui
pikiran Wilson itu. Seseorang yang berasal dari kelas empat di sekolahnya itu
sudah seperti adiknya sendiri. Karena itulah ia benar-benar prihatin dengan
kejadian buruk yang menimpanya tersebut.
Begitu
sampai di sekolah, ia disapa oleh teman–temannya dengan riang. Tapi, Wilson
hanya tersenyum karena ia sudah berencana untuk bergegas pergi ke kelas yang ada
di ujung koridor. Kelas 4-A.
“Cari
Brandon? Dia tidak ada di sini.” kata salah seorang murid yang ada di sana. Wilson
memang sering ke kelas itu, sehingga membuat anak–anak di kelas 4-A sampai
mengenal sosok Wilson. Mereka sudah hafal, jika dia muncul di depan kelas,
pasti mencari Brandon.
“Benar?”
tanya Wilson kurang yakin. Ya, ini bukan yang pertama kalinya mereka mengatakan
Brandon tidak ada di kelas. Padahal, Wilson yakin kalau dia ada di sana. Hanya
saja teman-temannya terlalu sentimen dengannya, sehingga melarang hampir
seluruh murid menemuinya. Ia menyempatkan untuk melihat sekeliling kelas sampai
ia melihat sosok laki-laki mungil yang ada di pojok yang mirip dengan Brandon. Wilson
memicingkan matanya melihat sosok tersebut. Wajahnya terlihat menunduk.
Karena
penasaran, Wilson langsung masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan beberapa
anak yang melotot padanya. Wilson menghampiri laki-laki mungil yang ada di
pojok kelas itu. Ia sedang membereskan bukunya yang barusan dia baca. Wilson
menoleh ke arah buku itu. Tertera nama ‘Brandon Desley’ di sana. Wilson
tersenyum.
“Wilson?”
Brandon mengangkat kepalanya dan mendapati Wilson di hadapannya. Tapi, wajahnya
tak memancarkan kesenangan sedikitpun. Wajahnya tetap saja datar tanpa ekspresi.
“Ndon, sudah
tiga hari kau tidak terlihat, kau kemana?” jawab Wilson tersenyum. Ya, sejak
beberapa hari lalu Brandon nggak kelihatan batang hidungnya. Wilson sudah
mencarinya ke mana–mana, tapi tetap saja nihil. Padahal, temannya itu sangat
menyukai sekolah, sekalipun teman-temannya mengejek.
“Sibuk
sekolah saja.” jawab Brandon masih dengan raut wajah yang sama.
“Bohong!
Tiga hari kemarin dia bolos!” Tiba-tiba salah seorang murid berseru nyaring membuat
Wilson menoleh ke arahnya dengan heran. Sedangkan Brandon hanya diam.
“Brandon bolos?”
tanya Wilson pada anak itu.
“Iya, dia absen
tanpa keterangan!” katanya lagi dengan wajah sebal.
“Memang
anak badung!” temannya menyahut.
Wilson
hanya diam mendengar ucapan mereka, kemudian menoleh lagi ke arah Brandon
meminta penjelasan. Tapi, Brandon hanya menatap Wilson diam. Wajah tanpa
ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi wajah marah. Matanya melotot. Lalu,
tiba-tiba ia berdiri. Hendak pergi dari kelas.
“Mau
kemana, anak badung?” tanya anak tadi dengan nada mengejek.
“Mau bolos
lagi?” sindir temannya.
“Sudah badung,
belagu lagi!” kata anak tadi kembali menyahut. Belakangan ini Brandon dianggap
belagu karena tidak mau bergaul dengan teman–temannya semenjak kejadian itu
terjadi. Dia hanya diam di kelas.
Brandon
hanya diam mendengar semua ejekan itu. Ia benar-benar tak ingin membalas ucapan
mereka. Percuma baginya berbicara kepada mereka, mereka tidak akan pernah
mengerti apa yang dia rasakan.
“Jangan ganggu aku!” kata Brandon
tiba-tiba bersuara. Kemudian, ia langsung buru-buru pergi keluar kelas tanpa
pamit. Wilson sampai kaget melihat kepergiannya. Dia bahkan tidak perduli
ketika ia menabrak sebelah bahu Wilson yang membuat Wilson hampir saja terjatuh
kalau ia tidak menahan tubuhnya dengan tangannya.
“Kalian
tidak mengenal Brandon seperti aku mengenalnya!” protes Wilson dengan amarah
yang memuncak kepada anak–anak itu. Ia benar-benar kesal dengan teman-teman
sekelas Brandon.
Semuanya
langsung terdiam mendengar suara nyaring Wilson. Tapi, ada juga beberapa anak yang
mendengus kesal mendengar perkataannya. Yang pasti, tidak ada yang berani melawan
ucapan Wilson.
Tanpa
banyak bicara lagi, Wilson langsung pergi keluar untuk mencari Brandon. Ia
sempatkan dirinya untuk menaruh tas sebentar di kelasnya. Ia tak perduli dengan
teman–temannya yang bingung melihat tingkahnya yang tak biasanya.
J L J
Brandon
merenung sendiri di bukit belakang sekolah. Dia duduk di bawah pohon rindang
yang biasa menjadi tempat ia menyendiri. Brandon merebahkan tubuhnya di rumput
hijau itu sambil memandang langit. Ia bahkan tidak perduli sebentar lagi bel
masuk bunyi. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah ketenangan dari orang-orang di
sekitarnya.
Untunglah
Wilson bisa menemukan laki-laki mungil itu di bukit tersebut. Tak ada tempat
lain yang bisa menjadi tempat Brandon menenangkan diri selain bukit itu. Itulah
yang membuat Wilson yakin kalau Brandon akan pergi ke bukit itu untuk melarikan
diri dari orang lain. Sikapnya memang tidak berubah, selalu sensitif dengan
perkataan orang lain. Berbeda dengan Wilson yang selalu cuek dan ceria apapun
yang terjadi.
“Brandon!”
seru Wilson dari jauh.
Brandon
bangkit dari tidurnya untuk melihat siapa yang datang dan memanggilnya. Setelah
itu, ia kembali merebahkan tubuhnya. Ia tak perduli dengan kedatangan
sahabatnya.
Wilson menggelengkan
kepalanya melihat tingkah sahabatnya. Ia langsung buru-buru duduk di sebelah
Brandon. Perlahan tangannya menepuk pundak Brandon. “Duduklah, aku ingin
berbicara denganmu.”
Brandon
menggeleng pelan.
“Kau juga
kesal denganku?”
Brandon
menggeleng lagi.
“Kalau
begitu duduklah di sebelahku. Aku tahu kau kesal. Dan aku tidak akan tinggal
diam melihat sahabatku seperti itu.” kata Wilson, membuat Brandon bergeming.
Setelah itu, Brandon langsung menuruti perkataan Wilson.
Dua
laki-laki tersebut menatap ke arah langit. Langit begitu cerah saat itu. Tapi,
hati Brandon jelas tidak secerah langit itu. Tak lama kemudian, Wilson kembali
menoleh ke arah Brandon. “Aku perduli padamu.”
Brandon
menoleh ke arahnya. “Untuk apa kau berkata seperti itu?”
“Kau ada
temanku sejak kecil. Dan aku ingin kau bahagia.”
“Kamu tau
dunia memusuhiku.”
“Karena
kepalamu?” tebak Wilson.
Brandon
menatapnya diam. Lalu, memegang kepalanya. Brandon meringis. Kepalanya masih
sangat sakit. Wilson sampai bergeming mendengarnya. Tapi tak lama kemudian, Wilson
kembali menatap pemandangan. “Kepalamu itu tidak bisa dijadikan alasan.
Teman-teman salah jika mereka memusuhimu karena kecelakaan yang kau alami.”
“Tapi,
lihatlah kenyataannya, Wilson. Sekarang dunia memusuhiku karena kepalaku yang
cacat.”
Cacat.
Sebenarnya Wilson tidak bisa menyebut kepala Brandon itu cacat. Wilson hanya
bisa menyebutnya mengalami kecelakaan kecil. Ia masih ingat bagaimana
kejadiannya. Dia dan Brandon sedang berkelahi di rumahnya. Dan Wilson tidak
sengaja mendorong Brandon ke arah jendela dan memecahkan kacanya. Dan sialnya
kejadian itu menjadi fatal karena salah satu beling dari kaca tersebut mengenai
kepala Brandon. Bahkan Ayah Brandon sampai melarangnya bergaul dengan Brandon
karena kecelakaan itu menyebabkan otak Brandon tidak berfungsi maksimal.
Otaknya tak mampu lagi untuk diajak berpikir terlalu keras. Wilson masih ingat
bagaimana sakitnya ditampar beliau.
Walaupun
waktu itu Brandon sudah bisa menyakinkan Ayahnya supaya dia boleh bergaul lagi
dengannya, Wilson belum bisa menghilangkan rasa bersalahnya terhadap Brandon. Ingatannya
tentang kecelakaan itu belum bisa ia lupakan. Apalagi ditambah dengan perubahan
sikap Brandon terhadap lingkungan sekitarnya. Untungnya belakangan ini Brandon
sudah lebih terbuka kepadanya.
“Wilson?”
panggil Brandon menatap Wilson yang masih saja asyik melamun dan bermain dengan
dunianya sendiri.
“Eh? Apa?”
tanya Wilson kaget menoleh ke arah Brandon.
“Kau
melamun?”
“Tidak,
Ndon. Aku hanya mengingat kejadian itu.” kata Wilson pelan.
Brandon
terdiam mendengar ucapan Wilson. Kemudian tersenyum tipis. “Lupakan saja, Son.
Kau tahu aku tidak suka mengingat kembali kejadian itu.”
“Tapi, kau
tahu aku yang menyebabkan kepalamu terluka.”
Brandon menggelengkan kepalanya. “Kau
tidak salah. Ayah yang berlebihan.”
Wilson
tersenyum. Kemudian, ia berdiri. “Mau breakdance?”
Brandon
ikut tersenyum, kemudian tersenyum dan ikut berdiri. “Aku tidak
akan menanggung jika aku ditegur guru karena bolos pelajaran.”
“Itu
urusanmu, kawan.” kata Wilson sambil menjulurkan lidahnya.
Mereka tertawa bersama, kemudian Wilson dan
Brandon bergantian melakukan gerakan freestyle,
atau bisa dibilang gerakan bebas. Brandon dan Wilson memang sama–sama penari.
Mereka sangat mahir dalam hal ini. Bedanya Wilson mahir dalam breakdance, sedangkan Brandon mahir
dalam Hip Hop. Mungkin bakat ini juga
bisa dijadikan alasan kenapa mereka bisa dekat selain karena Wilson yang setia
kawan menemani Brandon dalam situasi sedihnya.
Kini
Brandon nggak perduli lagi dengan teman–temannya yang banyak mengejeknya.
Brandon juga tidak mempermasalahkan masalah otaknya yang kurang mampu untuk
diajak berpikir keras. Bagi Brandon, Wilson tak sengaja dan tidak bermaksud
untuk melakukan itu saat mereka bertengkar itu. Dan dengan terus berteman
dengannya, Brandon bisa tetap tersenyum, tabah dan bahagia, karena ia tahu
Wilson selalu ada di sampingnya.
THE END..
Tuliskan komentar kalian di bawah,
nantikan ceritaku selanjutnya!

setiap manusia punya kekurangan masing2 dan dari setiap kekurangan itu Allah mencukupkannya dengan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Nice dan inspiratif cerpennya.
BalasHapushoby banget nih nyerpen ya?
BalasHapusYess broo.. :D
Hapuswah sangat berbakat kamunya bikin cerpen, cita-cita jadi penulis ya ? :D
BalasHapusYess that's right! Udah cita2 dari SD hehe :D
HapusKeren Gan Ceritanya :D , Ditunggu Cerpen Berikutnya :D
BalasHapuskeren banget ceritanya :) ditunggu cerpen selanjutnya ya :)
BalasHapus