“Kau harus
jadi pebisnis untuk meneruskan perusahaan Ayah!”
Cakka
langsung berlutut di lantai rumahnya begitu langkah Ayah menjauh. Pelan-pelan
tangannya membersihkan beberapa kertas yang sudah berantakan di hadapannya.
Matanya berkaca-kaca. Beribu-ribu tetes keringat yang ia keluarkan untuk
kertas-kertas itu sudah tak terhitung lagi. Namun, semuanya punah hanya dengan
gerakan tangan beberapa detik dari Ayah.
