“Kerja
bagus, Raynald Putra.” seorang bapak paruh baya sambil tersenyum. Ia memberikan
sebuah amplop kepada laki-laki tinggi di hadapannya. “Jangan lupa untuk datang
lagi besok.”
Laki-laki
itu mengangguk mantap dan mengambil amplop itu dari tangannya. Kemudian, ia
langsung pamit untuk pulang. Ia benar-benar bersyukur bisa lahir sebagai
laki-laki yang berbakat dalam memasak. Tak sia-sia dulu Bunda memaksanya agar
wajib mahir dalam hal yang satu itu. Memang benar kata-kata Bunda, dengan mahir
memasak, dia tidak menyusahkan orang lain dan bisa menghidupi keluarga dengan
baik.
