Minggu, 03 Agustus 2014

Mini Cerbung | Surat Biru Untuk Cakka #1


"Tidak. Meskipun kau tak sengaja masuk ke dalam hidupku, kau tetaplah orang yang paling berharga dalam hidupku. Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Itu semua tak akan berpengaruh kepada pikiranku tentangmu. Karena aku tulus menyayangimu." -Raynald Putra.
---


"But you find yourself alone

Just like you found yourself before

Like I found myself in pieces

On the hotel floor..." 

Tak ada yang lebih menyenangkan daripada menyendiri di kelas bagi seorang laki-laki berumur lima belas tahun itu. Duduk di pinggir jendela, menatap bahagianya teman-teman sekelasnya yang bermain di lapangan luar sana sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Telinganya selalu mendapati suara-suara ceria. Hidungnya mencium segarnya udara di luar sana. Namun sayang, dia tak bisa ikut bergembira bersama mereka. Sama sekali tidak bisa.
Ia menghela nafasnya lebih dalam setelah menelan makanannya. Kalau ditanya apakah dia pernah bosan menjalankan semua ini, jawabannya jelas pernah. Ya, bagaimanapun dia adalah makhluk sosial. Sekuat apapun dia berusaha menahan dan menganggap semua ini menyenangkan, dia tetap akan sampai pada titik jenuhnya. Tapi, dia juga tak bisa kabur dari titik jenuh tersebut. Titik jenuh kehidupannya ini berbeda dari yang lain. Kalau semua orang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dia tak bisa. Kehidupannya ini ibarat sebuah penjara yang dijaga ketat oleh para penjaga. Benar-benar menyiksa hidup di dalamnya.
"Cakka?"
Kepalanya langsung menoleh ketika mendengar suara seseorang. Ya, hanya anak itu yang selama ini setia menemaninya setiap kali ia merasa bosan sendirian. Tentu saja, faktanya memang hanya dia yang mengetahui mengapa Cakka, laki-laki itu, harus menyendiri setiap kali istirahat maupun kegiatan luar yang lain. Huh, padahal justru kegiatan-kegiatan itu yang akan membuatnya menyenangkan. Tapi, tidak. Semua itu tidak akan terjadi.
"Lagi-lagi kau sendirian di kelas. Mengapa tidak makan di kantin?" tanyanya. Kakinya melangkah masuk menghampiri Cakka dan berdiri di dekat jendela, dimana Cakka duduk. 
Cakka hanya diam saja mendengarkan pertanyaannya. Ia memalingkan wajahnya, kembali menatap keluar dan tetap sibuk melahap bekal yang hanya tinggal sedikit. "Dunia luar terlalu menggiurkan, Ray. Kau tahu, aku selalu ingin merasakan berada di sana. Berada di antara mereka yang tertawa. Berada di antara mereka yang bahagia."
Ray menolehkan kepalanya ke arah mana Cakka menatap. Kemudian, ia kembali melihat wajah Cakka yang begitu datar. Ia menghela nafasnya sejenak. Ah, seharusnya ia tahu laki-laki itu akan mengucapkan kata-kata yang sama. Ya, sudah kesekian kalinya dia mengatakan hal itu kepadanya. Bahkan saat di rumah. Ingin rasanya membantu, tapi...
"Hei, Ray! Ayolah! Kita harus latihan untuk pertandingan minggu depan!" Tiba-tiba Rangga telah berdiri di ambang pintu kelas Cakka. Ia menggelengkan kepalanya melihat Ray yang masih saja bermain-main di kelas adiknya. Padahal, dia sendiri yang mengajaknya latihan basket saat istirahat.
Ray tersenyum melihat teman sekelasnya itu. Kemudian, menatap ke arah Cakka. Sejenak ia acak rambut adiknya itu dengan sayang. "Aku akan kembali lagi saat pulang sekolah, oke? Bersenang-senanglah. Lekukan wajahmu itu bisa membuatmu lelah."
Cakka mengangguk tanpa banyak bicara. Membiarkan Ray pergi meninggalkannya di kelas sendirian. Gelarnya menjadi kapten basket sekolah sudah membuatnya terbiasa sendiri, karena dia selalu sibuk latihan bersama teman-teman basketnya. Tidak salah. Memang sudah seharusnya dia seperti itu. Bahkan dia masih memiliki waktu untuk mengunjunginya di kelas di antara kesibukannya tersebut. Menjadi adik dari seorang Ray itu satu-satunya keberuntungan yang ia punya.

"I'm a good man with a good heart
Had a tough time, got a rough start
But I finally learned to let it go..."

---

"Cakka, kau tak boleh melakukan hal seperti itu."
Mungkin hanya itulah yang terlintas di pikiran Ayah dan Bunda jika mengetahui bahwa Cakka melakukan kesalahan. Atau bahkan saat Cakka baru berniat melakukannya. Ia sudah hafal betul tabiat mereka selama ini. Selalu banyak larangan yang mereka siapkan untuknya tanpa ada alasan yang jelas. Jika ditanya kenapa, mereka selalu mengalihkan pembicaraan. Berbeda dengan Ray yang bebas melakukan apa saja dalam hidupnya.
"Cakka, kau harus tidur jam sembilan. Jangan ikut-ikut kakakmu tidur lebih malam."
Dan itu adalah kata-kata mereka saat Cakka ingin mengikuti Ray ke kamarnya untuk bermain sejenak sebelum tidur. Mereka tak perduli jika Cakka belum mengantuk atau masih ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, yang mereka mau hanyalah Cakka berbaring di tempat tidurnya, menarik selimutnya dan segera menutup mata sebelum pagi tiba. Padahal, kegiatannya dari pagi sampai sore saja sudah cukup membosankan.
Sekarang waktunya makan malam. Cakka merasa malas untuk turun ke bawah dan bergabung dengan keluarganya. Entah kenapa, moodnya benar-benar sedang tidak baik. Setelah mengerjakan PR tadi, badannya terasa lelah, kedua matanya juga minta diistirahatkan. Yang dia inginkan sekarang hanyalah jam tidur nyenyaknya. Tapi, tentu saja itu mustahil. Dengan langkah lunglai, dia turun ke bawah dan menghampiri Ray, Ayah dan Bunda yang sudah menunggu.
"Ah, Cakka. Akhirnya kau datang juga." kata Bunda sambil tersenyum. Ia segera membuka tudung saji. "Kalau begitu, ayo kita mulai makan malam. Hari ini Bunda membuatkan udang mayones kesukaan Cakka, ikan goreng kesukaan Ray dan kepiting saus padang kesukaan Ayah. Tentu saja tak ketinggalan sayur buncis agar kalian tetap sehat."
"Terima kasih, Bunda." kata Ray senang. "Makanan ini pasti akan membuatku semangat saat pertandingan nanti. Cakka juga, pasti akan tambah semangat menyemangati timku."
"Cakka akan menontonmu?" tanya Ayah sambil menoleh ke arah Ray. "Bagaimana kalau Cakka terkena bola basket di tengah pertandingan? Atau bahkan terjadi sesuatu yang lebih buruk daripada itu? Lebih baik dia di rumah saja."
Bunda mengangguk sambil menguyah makanannya. "Ya, perkataan Ayah ada benarnya juga. Lebih baik kau di rumah saja. Lagipula, dari Senin sampai Jumat kau sudah lelah bersekolah. Kau harus menjaga kesehatan, Cakka."
"Memangnya kenapa jika aku terkena bola basket?" tanya Cakka. "Dari dulu Ayah dan Bunda selalu melarangku melakukan banyak hal. Sekarang hanya menonton saja juga tidak boleh? Aku tidak mengerti. Aku selalu diperlakukan berbeda dari kakakku!"
"Cakka!" bisik Bunda pelan dengan raut wajah tidak senang. Ia melotot ke arah anak bungsunya tersebut, mengisyaratkan Cakka agar tidak berkata sembarangan.
Cakka menghela nafasnya. Memutuskan untuk menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa menunggu yang lain juga selesai makan. Ayah dan Bunda menggelengkan kepala mereka menatap tingkah laku Cakka. Hanya Ray yang merasa khawatir dengan adiknya itu. 

---

Kehidupan ini sudah berjalan sekitar dua tahun. Ya, sejak masuk SMA, Cakka benar-benar tak diperbolehkan mengikuti kegiatan luar. Apalagi kegiatan berat seperti basket, karate, musik dan teman-temannya. Entahlah, bahkan dia sama sekali tak mengerti mengapa ia harus menjalankan kehidupan membosankan ini. Padahal, sejak kecil dia sudah akrab sekali dengan dunia musik yang melibatkan aksi loncat-loncat di panggung dan kelelahan yang luar biasa. Tapi, entah kenapa, semenjak kejadian itu terjadi, ia benar-benar merasa terkekang.
Ya. Cakka adalah tipe musisi yang bisa melakukan apa saja di atas panggung. Sambil memaksimalkan suaranya yang begitu merdu, dia juga memiliki segudang koreografi dan aksi apapun yang dapat membuat suasana ramai. Dan aksi-aksinya itu tak jarang merupakan hal yang 'gila'. Dan yang menyebabkan kejadian itu terjadi adalah saat ia dengan santainya naik ke atas speaker dan bernyanyi di sana. Kemudian, saat dia meloncat ke atas panggung kembali, kakinya terpeleset dan menyebabkan sikunya terbentur lantai. 
Cakka mengerti orang tuanya tidak ingin dirinya cedera lagi seperti waktu itu, tapi larangan-larangan mereka jelas tidak masuk akal. Mereka tidak akan seprotektif itu jika mereka hanya khawatir dengan hal itu. Mereka membuat segala hal yang ingin dia lakukan akan membahayakannya dengan cara-cara mereka sendiri. Padahal, kenyataannya jelas tidak seperti itu.
Cakka menghempaskan badannya di tempat tidurnya. Kedua matanya yang menatap lurus ke arah langit-langit membuat pikirannya melayang entah kemana. Terlepas dari larangan-larangan itu, Cakka merasa dia sangat berbeda dengan anak-anak yang lainnya. Terutama dengan Ray, kakaknya sendiri. Tapi, Cakka tidak tahu perbedaan apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Dia memiliki anggota tubuh yang lengkap, dia juga tak kalah cerdas dari Ray. Walaupun tidak berprestasi di bidang basket, dia juga berprestasi di bidang musik. Dulu, sebelum ia terpaksa menghentikan semuanya karena larangan orang tuanya. 
"Cakka?"
Cakka segera bangkit dari tidurnya ketika lagi-lagi suara Ray terdengar di telinganya. Ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri kakak tersayangnya. Kemudian, menghela nafasnya menatapnya. 
"Ya, aku tahu." kata Ray sambil menatapnya iba. "Kau lelah dengan semua ini. Kau lelah menjalani hidup yang tak berarti. Terlalu banyak ombak yang harus kau hadapi, sementara kau hanya bisa diam. Kau bahkan mungkin susah bernafas menghadapinya. Aku mengerti."
"Sudahlah, Ray. Kau tak perlu mengasihani aku." kata Cakka datar. "Aku tahu, kau satu-satunya orang yang perduli padaku. Selain beberapa teman dekatku. Tapi, sungguh, aku tidak apa-apa."
"Kalau saja aku tahu mengapa mereka melakukan itu, aku pasti membantumu." kata Ray sambil menepuk sebelah pundak Cakka. Ia menundukkan kepalanya. "Tapi, tidak. Aku tidak tahu alasan mereka melarangmu ini-itu."
"Ya ya, aku tahu." kata Cakka malas. Ia menyingkirkan tangan Ray dari pundaknya dan memegang pintu kamarnya. Ia tersenyum tipis ke arah kakaknya. "Tidurlah, kau butuh banyak istirahat untuk pertandingan hari Sabtu nanti. Tenang saja, aku akan mendukungmu, Ray."
Ray mengangguk, kemudian segera meninggalkan Cakka.
Sementara itu, Cakka mengambil buku tulis kecil dan sebuah pensil dari dalam laci mejanya. Ia duduk di kursi belajar dan menghela nafas sebelum menulis. Kata per kata ia tumpahkan sesuai dengan suasana hatinya sekarang. Berharap semua kekesalannya berakhir setelah ia menulis. Tapi, sayang sekali. Lagi-lagi keadaan tidak mendukungnya.
"Aduh!!" teriak Cakka sambil memegangi tangannya. Pensil yang ia pegang tadi seketika terjatuh ke meja. Dan selanjutnya ia hanya bisa pasrah dengan tangannya yang seketika seolah-olah terperangkap sebongkah es. Kaku sekali.

---

Cakka tersenyum melihat kakaknya berlari ke sana kemari di lapangan. Ya! Pada akhirnya, dia bisa pergi ke sana tanpa ketahuan Ayah dan Bunda karena keduanya sedang pergi. Ia tak perduli dengan ceramahan Ayah dan Bunda yang akan menanti jika ia dan Ray sudah pulang nanti, yang penting dia bisa mendukung penuh kakak tersayangnya itu dengan semangatnya. Walaupun tak sesemangat yang ia kira.
Entahlah. Sejak tangannya terasa kaku, ia merasa aneh. Jari-jarinya terasa susah digerakkan. Padahal, Cakka merasa dinginnya suhu kamar yang ia tempati selama ini sudah cukup standar. Tak mungkin bisa membuat tubuhnya kedinginan sampai kaku. Kakinya juga. Sejak tadi pagi, ia berjalan seperti orang pincang. Kaki kirinya terasa susah diajak bekerja. Untung saja Ayah dan Bunda sedang tidak ada di rumah, sehingga dia aman.
“Kalian tidak akan bisa merebut bolaku!” Ray melakukan berbagai teknik mengecoh untuk menghindar dari lawan-lawan yang mencoba menghadangnya, kemudian melempar bola basketnya dengan cepat ke tangan teman satu timnya begitu ia sudah tidak jauh lagi dari ring. Ray tersenyum dan berseru keras begitu temannya tersebut menangkap bolanya. “Shoot!!”
“MASUK!!!!” teriak salah seorang dari mereka dengan nyaring begitu bola basket yang temannya lempar itu dengan mulusnya masuk ke dalam ring. Masuknya bola basket tersebut mengakhiri pertandingan hari ini dengan kemenangan tim Ray.
Refleks, Cakka langsung berdiri dan berteriak senang mengetahui bahwa tim kakaknya memenangkan pertandingan. Tapi, dalam sekejap dia langsung terjatuh dengan keras karena dia lupa bahwa kakinya sedang tidak baik. Kepalanya seketika terbentur parah pada kursi yang ia duduki tadi. BRUK!!!! Suara itu membuat semua orang yang ada di sana kaget bukan main. Terutama yang duduk di sekitar tempat duduk Cakka dan juga... Raynald Putra.
"CAKKA!!!!" Dengan cepat Ray langsung meninggalkan lapangan dan segera menghampiri adiknya. Ia menerobos kerumunan orang yang menghalanginya dan mengangkat tubuh Cakka yang tersungkur di tempat duduknya. Ia mengangkat tubuh Cakka agar duduk kembali di tempat duduknya dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh. "Hei! Cakka! Kau kenapa?! Cakka!"
Tapi, Cakka sama sekali tidak menjawab. Ia tak sadarkan diri.

TO BE CONTINUED..
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

2 komentar:

  1. cerita pendek yg bagus nih :D
    visit back: http://kindlyrics.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. good. mampir ke blog ane ya

    BalasHapus

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p