"Tidak. Meskipun kau tak sengaja masuk ke dalam
hidupku, kau tetaplah orang yang paling berharga dalam hidupku. Terserah kau
mau berpikir apa tentangku. Itu semua tak akan berpengaruh kepada pikiranku
tentangmu. Karena aku tulus menyayangimu." -Raynald Putra.
---
"But you find yourself alone
Just like you found yourself before
Like I found myself in pieces
On the hotel floor..."
Tak ada yang lebih
menyenangkan daripada menyendiri di kelas bagi seorang laki-laki berumur lima
belas tahun itu. Duduk di pinggir jendela, menatap bahagianya teman-teman
sekelasnya yang bermain di lapangan luar sana sudah menjadi kebiasaannya setiap
hari. Telinganya selalu mendapati suara-suara ceria. Hidungnya mencium segarnya
udara di luar sana. Namun sayang, dia tak bisa ikut bergembira bersama mereka.
Sama sekali tidak bisa.
Ia menghela nafasnya
lebih dalam setelah menelan makanannya. Kalau ditanya apakah dia pernah bosan
menjalankan semua ini, jawabannya jelas pernah. Ya, bagaimanapun dia adalah
makhluk sosial. Sekuat apapun dia berusaha menahan dan menganggap semua ini
menyenangkan, dia tetap akan sampai pada titik jenuhnya. Tapi, dia juga tak
bisa kabur dari titik jenuh tersebut. Titik jenuh kehidupannya ini berbeda dari
yang lain. Kalau semua orang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain,
dia tak bisa. Kehidupannya ini ibarat sebuah penjara yang dijaga ketat oleh
para penjaga. Benar-benar menyiksa hidup di dalamnya.
"Cakka?"
Kepalanya langsung
menoleh ketika mendengar suara seseorang. Ya, hanya anak itu yang selama ini
setia menemaninya setiap kali ia merasa bosan sendirian. Tentu saja, faktanya
memang hanya dia yang mengetahui mengapa Cakka, laki-laki itu, harus menyendiri
setiap kali istirahat maupun kegiatan luar yang lain. Huh, padahal justru
kegiatan-kegiatan itu yang akan membuatnya menyenangkan. Tapi, tidak. Semua itu
tidak akan terjadi.
"Lagi-lagi kau
sendirian di kelas. Mengapa tidak makan di kantin?" tanyanya. Kakinya
melangkah masuk menghampiri Cakka dan berdiri di dekat jendela, dimana Cakka
duduk.
Cakka hanya diam
saja mendengarkan pertanyaannya. Ia memalingkan wajahnya, kembali menatap
keluar dan tetap sibuk melahap bekal yang hanya tinggal sedikit. "Dunia
luar terlalu menggiurkan, Ray. Kau tahu, aku selalu ingin merasakan berada di
sana. Berada di antara mereka yang tertawa. Berada di antara mereka yang
bahagia."
Ray menolehkan
kepalanya ke arah mana Cakka menatap. Kemudian, ia kembali melihat wajah Cakka
yang begitu datar. Ia menghela nafasnya sejenak. Ah, seharusnya ia tahu
laki-laki itu akan mengucapkan kata-kata yang sama. Ya, sudah kesekian kalinya
dia mengatakan hal itu kepadanya. Bahkan saat di rumah. Ingin rasanya
membantu, tapi...
"Hei, Ray!
Ayolah! Kita harus latihan untuk pertandingan minggu depan!" Tiba-tiba
Rangga telah berdiri di ambang pintu kelas Cakka. Ia menggelengkan kepalanya
melihat Ray yang masih saja bermain-main di kelas adiknya. Padahal, dia sendiri
yang mengajaknya latihan basket saat istirahat.
Ray tersenyum
melihat teman sekelasnya itu. Kemudian, menatap ke arah Cakka. Sejenak ia acak
rambut adiknya itu dengan sayang. "Aku akan kembali lagi saat pulang
sekolah, oke? Bersenang-senanglah. Lekukan wajahmu itu bisa membuatmu
lelah."
Cakka mengangguk
tanpa banyak bicara. Membiarkan Ray pergi meninggalkannya di kelas sendirian.
Gelarnya menjadi kapten basket sekolah sudah membuatnya terbiasa sendiri,
karena dia selalu sibuk latihan bersama teman-teman basketnya. Tidak salah.
Memang sudah seharusnya dia seperti itu. Bahkan dia masih memiliki waktu untuk
mengunjunginya di kelas di antara kesibukannya tersebut. Menjadi adik dari
seorang Ray itu satu-satunya keberuntungan yang ia punya.
"I'm a good man with a good heart
Had a tough time, got a rough start
But I finally learned to let it go..."
---
"Cakka, kau tak
boleh melakukan hal seperti itu."
Mungkin hanya itulah
yang terlintas di pikiran Ayah dan Bunda jika mengetahui bahwa Cakka melakukan
kesalahan. Atau bahkan saat Cakka baru berniat melakukannya. Ia sudah hafal
betul tabiat mereka selama ini. Selalu banyak larangan yang mereka siapkan
untuknya tanpa ada alasan yang jelas. Jika ditanya kenapa, mereka selalu
mengalihkan pembicaraan. Berbeda dengan Ray yang bebas melakukan apa saja dalam
hidupnya.
"Cakka, kau
harus tidur jam sembilan. Jangan ikut-ikut kakakmu tidur lebih malam."
Dan itu adalah
kata-kata mereka saat Cakka ingin mengikuti Ray ke kamarnya untuk bermain
sejenak sebelum tidur. Mereka tak perduli jika Cakka belum mengantuk atau masih
ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, yang mereka mau hanyalah Cakka
berbaring di tempat tidurnya, menarik selimutnya dan segera menutup mata
sebelum pagi tiba. Padahal, kegiatannya dari pagi sampai sore saja sudah cukup
membosankan.
Sekarang waktunya
makan malam. Cakka merasa malas untuk turun ke bawah dan bergabung dengan
keluarganya. Entah kenapa, moodnya benar-benar sedang tidak baik. Setelah
mengerjakan PR tadi, badannya terasa lelah, kedua matanya juga minta
diistirahatkan. Yang dia inginkan sekarang hanyalah jam tidur nyenyaknya. Tapi,
tentu saja itu mustahil. Dengan langkah lunglai, dia turun ke bawah dan
menghampiri Ray, Ayah dan Bunda yang sudah menunggu.
"Ah, Cakka.
Akhirnya kau datang juga." kata Bunda sambil tersenyum. Ia segera membuka
tudung saji. "Kalau begitu, ayo kita mulai makan malam. Hari ini Bunda
membuatkan udang mayones kesukaan Cakka, ikan goreng kesukaan Ray dan kepiting
saus padang kesukaan Ayah. Tentu saja tak ketinggalan sayur buncis agar kalian
tetap sehat."
"Terima kasih,
Bunda." kata Ray senang. "Makanan ini pasti akan membuatku semangat
saat pertandingan nanti. Cakka juga, pasti akan tambah semangat menyemangati
timku."
"Cakka akan
menontonmu?" tanya Ayah sambil menoleh ke arah Ray. "Bagaimana kalau
Cakka terkena bola basket di tengah pertandingan? Atau bahkan terjadi sesuatu
yang lebih buruk daripada itu? Lebih baik dia di rumah saja."
Bunda mengangguk
sambil menguyah makanannya. "Ya, perkataan Ayah ada benarnya juga. Lebih
baik kau di rumah saja. Lagipula, dari Senin sampai Jumat kau sudah lelah
bersekolah. Kau harus menjaga kesehatan, Cakka."
"Memangnya
kenapa jika aku terkena bola basket?" tanya Cakka. "Dari dulu Ayah
dan Bunda selalu melarangku melakukan banyak hal. Sekarang hanya menonton saja
juga tidak boleh? Aku tidak mengerti. Aku selalu diperlakukan berbeda dari
kakakku!"
"Cakka!"
bisik Bunda pelan dengan raut wajah tidak senang. Ia melotot ke arah anak
bungsunya tersebut, mengisyaratkan Cakka agar tidak berkata sembarangan.
Cakka menghela
nafasnya. Memutuskan untuk menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara dan
langsung masuk ke dalam kamar tanpa menunggu yang lain juga selesai makan. Ayah
dan Bunda menggelengkan kepala mereka menatap tingkah laku Cakka. Hanya Ray
yang merasa khawatir dengan adiknya itu.
---
Kehidupan ini sudah
berjalan sekitar dua tahun. Ya, sejak masuk SMA, Cakka benar-benar tak
diperbolehkan mengikuti kegiatan luar. Apalagi kegiatan berat seperti basket,
karate, musik dan teman-temannya. Entahlah, bahkan dia sama sekali tak mengerti
mengapa ia harus menjalankan kehidupan membosankan ini. Padahal, sejak kecil
dia sudah akrab sekali dengan dunia musik yang melibatkan aksi loncat-loncat di
panggung dan kelelahan yang luar biasa. Tapi, entah kenapa, semenjak kejadian
itu terjadi, ia benar-benar merasa terkekang.
Ya. Cakka adalah
tipe musisi yang bisa melakukan apa saja di atas panggung. Sambil memaksimalkan
suaranya yang begitu merdu, dia juga memiliki segudang koreografi dan aksi
apapun yang dapat membuat suasana ramai. Dan aksi-aksinya itu tak jarang
merupakan hal yang 'gila'. Dan yang menyebabkan kejadian itu terjadi adalah
saat ia dengan santainya naik ke atas speaker dan bernyanyi di sana. Kemudian,
saat dia meloncat ke atas panggung kembali, kakinya terpeleset dan menyebabkan
sikunya terbentur lantai.
Cakka mengerti orang
tuanya tidak ingin dirinya cedera lagi seperti waktu itu, tapi
larangan-larangan mereka jelas tidak masuk akal. Mereka tidak akan seprotektif
itu jika mereka hanya khawatir dengan hal itu. Mereka membuat segala hal yang
ingin dia lakukan akan membahayakannya dengan cara-cara mereka sendiri.
Padahal, kenyataannya jelas tidak seperti itu.
Cakka menghempaskan
badannya di tempat tidurnya. Kedua matanya yang menatap lurus ke arah
langit-langit membuat pikirannya melayang entah kemana. Terlepas dari
larangan-larangan itu, Cakka merasa dia sangat berbeda dengan anak-anak yang
lainnya. Terutama dengan Ray, kakaknya sendiri. Tapi, Cakka tidak tahu
perbedaan apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Dia memiliki anggota tubuh
yang lengkap, dia juga tak kalah cerdas dari Ray. Walaupun tidak berprestasi di
bidang basket, dia juga berprestasi di bidang musik. Dulu, sebelum ia terpaksa
menghentikan semuanya karena larangan orang tuanya.
"Cakka?"
Cakka segera bangkit
dari tidurnya ketika lagi-lagi suara Ray terdengar di telinganya. Ia langsung
beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri kakak tersayangnya. Kemudian, menghela
nafasnya menatapnya.
"Ya, aku tahu." kata Ray sambil menatapnya iba. "Kau lelah
dengan semua ini. Kau lelah menjalani hidup yang tak berarti. Terlalu banyak
ombak yang harus kau hadapi, sementara kau hanya bisa diam. Kau bahkan mungkin
susah bernafas menghadapinya. Aku mengerti."
"Sudahlah,
Ray. Kau tak perlu mengasihani aku." kata Cakka datar. "Aku tahu, kau
satu-satunya orang yang perduli padaku. Selain beberapa teman dekatku. Tapi,
sungguh, aku tidak apa-apa."
"Kalau
saja aku tahu mengapa mereka melakukan itu, aku pasti membantumu." kata
Ray sambil menepuk sebelah pundak Cakka. Ia menundukkan kepalanya. "Tapi,
tidak. Aku tidak tahu alasan mereka melarangmu ini-itu."
"Ya
ya, aku tahu." kata Cakka malas. Ia menyingkirkan tangan Ray dari
pundaknya dan memegang pintu kamarnya. Ia tersenyum tipis ke arah kakaknya.
"Tidurlah, kau butuh banyak istirahat untuk pertandingan hari Sabtu nanti.
Tenang saja, aku akan mendukungmu, Ray."
Ray
mengangguk, kemudian segera meninggalkan Cakka.
Sementara
itu, Cakka mengambil buku tulis kecil dan sebuah pensil dari dalam laci
mejanya. Ia duduk di kursi belajar dan menghela nafas sebelum menulis. Kata per
kata ia tumpahkan sesuai dengan suasana hatinya sekarang. Berharap semua
kekesalannya berakhir setelah ia menulis. Tapi, sayang sekali. Lagi-lagi
keadaan tidak mendukungnya.
"Aduh!!"
teriak Cakka sambil memegangi tangannya. Pensil yang ia pegang tadi seketika
terjatuh ke meja. Dan selanjutnya ia hanya bisa pasrah dengan tangannya yang
seketika seolah-olah terperangkap sebongkah es. Kaku sekali.
---
Cakka
tersenyum melihat kakaknya berlari ke sana kemari di lapangan. Ya! Pada
akhirnya, dia bisa pergi ke sana tanpa ketahuan Ayah dan Bunda karena keduanya
sedang pergi. Ia tak perduli dengan ceramahan Ayah dan Bunda yang akan menanti
jika ia dan Ray sudah pulang nanti, yang penting dia bisa mendukung penuh kakak
tersayangnya itu dengan semangatnya. Walaupun tak sesemangat yang ia kira.
Entahlah.
Sejak tangannya terasa kaku, ia merasa aneh. Jari-jarinya terasa susah digerakkan.
Padahal, Cakka merasa dinginnya suhu kamar yang ia tempati selama ini sudah
cukup standar. Tak mungkin bisa membuat tubuhnya kedinginan sampai kaku.
Kakinya juga. Sejak tadi pagi, ia berjalan seperti orang pincang. Kaki kirinya
terasa susah diajak bekerja. Untung saja Ayah dan Bunda sedang tidak ada di
rumah, sehingga dia aman.
“Kalian
tidak akan bisa merebut bolaku!” Ray melakukan berbagai teknik mengecoh untuk
menghindar dari lawan-lawan yang mencoba menghadangnya, kemudian melempar bola
basketnya dengan cepat ke tangan teman satu timnya begitu ia sudah tidak jauh
lagi dari ring. Ray tersenyum dan berseru keras begitu temannya tersebut
menangkap bolanya. “Shoot!!”
“MASUK!!!!”
teriak salah seorang dari mereka dengan nyaring begitu bola basket yang temannya
lempar itu dengan mulusnya masuk ke dalam ring. Masuknya bola basket tersebut
mengakhiri pertandingan hari ini dengan kemenangan tim Ray.
Refleks,
Cakka langsung berdiri dan berteriak senang mengetahui bahwa tim kakaknya
memenangkan pertandingan. Tapi, dalam sekejap dia langsung terjatuh dengan
keras karena dia lupa bahwa kakinya sedang tidak baik. Kepalanya seketika
terbentur parah pada kursi yang ia duduki tadi. BRUK!!!! Suara itu membuat
semua orang yang ada di sana kaget bukan main. Terutama yang duduk di sekitar
tempat duduk Cakka dan juga... Raynald Putra.
"CAKKA!!!!"
Dengan cepat Ray langsung meninggalkan lapangan dan segera menghampiri adiknya.
Ia menerobos kerumunan orang yang menghalanginya dan mengangkat tubuh Cakka
yang tersungkur di tempat duduknya. Ia mengangkat tubuh Cakka agar duduk
kembali di tempat duduknya dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh. "Hei!
Cakka! Kau kenapa?! Cakka!"
Tapi,
Cakka sama sekali tidak menjawab. Ia tak sadarkan diri.
TO BE CONTINUED..
Penasaran? Baca sampai tamat ya!


cerita pendek yg bagus nih :D
BalasHapusvisit back: http://kindlyrics.blogspot.com/
good. mampir ke blog ane ya
BalasHapus