Begitu
mereka sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit.
Biru langsung segera turun dan membangunkan adiknya yang masih terlelap.
“Cakka, sudah sampai. Bangunlah, tidur di kamarmu akan lebih menyenangkan.”
“Hah?”
kata Cakka lirih sambil mengusap sudut matanya. Dengan setengah sadar, ia
segera mengambil tasnya dan turun dari mobil. Tanpa banyak bicara lagi, ia
segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua kakaknya di garasi. Begitu ia
masuk ke dalam, tampak Bunda sedang membuat teh di meja makan.
“Kau sudah
pulang? Mana kedua kakakmu?” tanya Bunda sambil tersenyum.
Cakka
tersenyum. “Masih di garasi, Bunda.”
“Kau
tampak lelah sekali, apa latihan hari ini sangat keras?” tanya Bunda lagi.
Cakka
mengangguk sambil menaruh tasnya di sofa. Bundanya memang tahu kalau Cakka dan
Biru mengikuti ekskul basket. “Ada pertandingan, tim kami menang tipis. Aku
sampai tertidur selama perjalanan.”
“Ya sudah,
tidurlah lagi di kamar jika kau masih lelah. Bunda akan memanggilmu jika makan
malam sudah tiba.” kata Bunda.
Cakka
tersenyum, kemudian langsung berjalan menuju kamar. Sementara itu, Elang dan
Biru baru saja muncul. Mereka berdua langsung menyalami Bunda dan tersenyum
kepadanya. Biru yang menangkap wangi teh yang ada di dekatnya langsung berkata,
“Bunda, aku juga ingin teh itu!”
“Ya, nanti
Bunda buatkan.” kata Bunda sambil tersenyum.
“Kalau
begitu, aku akan ada di kamar. Kuliahku banyak tugas.” pamit Elang kepada
mereka berdua dan langsung meninggalkan Bunda dan Biru. Berbeda dengan Biru
yang langsung duduk di kursi, disusul oleh Bunda. Setelah terdiam cukup lama,
Biru memecah keheningan di antara mereka.
“Ayah
pulang malam lagi?” tanya Biru sambil menatap Bundanya.
Bunda
mengangguk. “Seperti biasa, Bi.”
“Baguslah
kalau begitu, ada yang harus aku bicarakan. Bisa?” tanya Biru.
Bunda
mengangguk. Ia mencicipi teh yang ia buat sejenak kemudian menatap anak
tengahnya. Masih dengan senyuman lebar. Dia tampak sudah bisa menebak
kegelisahan putrinya. “Kau ingin berbicara tentang kegiatanmu dan Cakka?”
Biru
mengangguk. “Cakka memiliki potensi yang sangat tinggi dalam basket, kasihan
kalau bakatnya tidak bisa disalurkan hanya karena larangan Ayah. Tapi,
berbohong kepada Ayah akan membuat semuanya hancur.”
“Kau tahu
sendiri bagaimana sifat Ayah sejak dulu, Bi. Dia paling benci dengan bola
basket. Kalau kalian sampai melanggar aturannya, dia pasti marah. Bunda juga
tidak bisa membantu apa-apa untuk merubah pikirannya. Kau tahu sendiri dia
begitu keras kepala.”
“Tapi,
Ayah tidak memberikan penjelasan mengapa dia benci dengan bola basket, Bun.
Bahkan setelah Cakka meraih NEM tertinggi di sekolah dasarpun dia masih tetap
dengan pendiriannya.” kata Biru sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia
menghela napas pelan, kemudian memasang wajah cemberut. “Ayah begitu sulit
dimengerti.”
Bunda
tertawa kecil mendengarnya. “Pasti ada alasan di balik semua itu.”
“Bunda
tahu alasannya?”
Bunda
menggeleng. “Ayah sama sekali tidak pernah bercerita kepada Bunda.”
“Kalau
begitu, Bunda mau tidak membantuku
dan Cakka mencari tahu alasan mengapa Ayah tidak suka dengan basket?
Bagaimanapun juga, kami juga ingin memahami perasaan Ayah tentang hal ini.”
“Tidak
segampang itu kita bisa mengetahuinya, tapi Bunda akan berusaha.” kata Bunda
sambil tersenyum. “Untuk sementara ini, biarkan Bunda saja yang menutupi
kegiatan kalian. Tapi, kalau sampai ketahuan Ayah, kalian yang harus
menghadapinya sendiri.”
“Janji.
Terima kasih, Bunda.” kata Biru langsung memeluk Bunda. Dalam hatinya ia
berharap semuanya akan berjalan dengan lancar. Setidaknya sampai ia bisa lulus
ke SMA tahun depan. Bagaimanapun juga, ia mencintai basket, sama seperti
adiknya. Tapi, semua kegiatan yang dilakukan mereka tidak akan berjalan dengan
baik jika tidak didukung orang tua. Berbeda dengan Elang yang rela begitu saja
meninggalkan basket demi Ayah dan menggantikan jam basketnya dengan musik.
J L J
KRING!!!!
Suara
bunyi bel masuk sekolah yang lantang itu seketika mampu membuat semua murid
yang masih berada di luar segera masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
Termasuk Ray, teman sekelas dan sebangku Cakka. Ia langsung buru-buru
menghampiri kursinya dan mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan karena
lelah berlari.
Cakka
tersenyum kecil melihat sahabatnya yang terlihat begitu lelah. Pelipisnya
berkeringat akibat berlari ke kelas. Entah darimana dia, padahal tadi dia hanya
bilang ingin ke kantin. Dari kantin menuju kelas tidak akan memakan waktu lama.
Tapi, apapun alasannya, Cakka ingin memberinya sedikit keringanan. Ia mengambil
satu botol minumnya dari dalam tas dan memberikannya kepada Ray.
Tanpa
ragu-ragu, Ray langsung mengambil botol tersebut dan meneguk air di dalamnya
hingga tersisa setengah botol. Ia benar-benar butuh penyegaran setelah
melakukan ‘maraton’.
“Terima
kasih.” kata Ray setelah ia selesai minum. Ia menepuk pundak Cakka pelan
sebagai balasannya. “Kau tidak tahu betapa lelahnya aku, Kka. Tadi setelah
sarapan di kantin, aku pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sialnya aku
tidak bisa menemukan buku yang ingin kupinjam hingga bel berbunyi. Jarak dari
perpustakaan ke kelas kita sungguh jauh!”
“Memangnya
buku apa yang kau cari?” tanya Cakka.
“Buku
ensiklopedia. Aku senang membaca fakta-fakta unik di dunia untuk sekedar
hiburan.” kata Ray. “Tapi, omong-omong, apa pelajaran pertama kita hari ini?”
“Matematika.”
“Astaga,
pagi-pagi buta seperti ini sudah harus bergaul dengan angka-angka. Benar-benar
menyebalkan. Otakku bisa meledak!” keluh Ray. Ia langsung mengambil buku
matematikanya yang masih di dalam tas. Buku paket yang cukup besar itu ia taruh
di atas meja dan langsung ia timpa dengan tangan dan kepalanya. “Sepertinya
saat pulang nanti aku perlu main di lapangan.”
Cakka
hanya tertawa geli mendengarnya.
J L J
Seorang
guru tengah mengajar dengan semangat di kelas sembilan. Tanpa memperdulikan
murid-muridnya yang sudah mengantuk karena bosan mendengar penjelasan tentang
letak-letak geografis di dunia ini, ia terus berbicara. Walaupun tak ada murid
yang niat menjawab setiap kali ia bertanya, amarahnya sama sekali tidak
terpancing.
Tepat di
tengah kelas tersebut, duduk seorang gadis yang sedang sibuk mendengarkan.
Mungkin hanya dialah satu-satunya yang sangat berniat untuk mencatat seluruh
materi yang dijelaskan oleh gurunya itu. Lihat saja teman sebangkunya, wajahnya
sudah jelas menunjukkan bahwa dia sudah setengah sadar mendengarkan guru yang
mengajar di depan itu.
Gadis itu
menoleh ke arah teman sebangkunya setelah ia selesai mencatat. Dengan wajah
protes ia berbisik, “Vin, setidaknya kau mencatat agar kau tidak mengantuk
mendengarkannya.”
Alvin,
anak itu, hanya mengangguk-angguk tidak jelas mendengarkan ucapannya. Ia
mengucek-ngucek kedua matanya dan berusaha membukanya selebar mungkin. Tapi, semuanya sia-sia saja. Ia tetap saja
mengantuk.
“Kau sudah
sipit, tak perlu berusaha melebarkan mata.” bisik gadis itu lagi.
“Menyebalkan
kau, Bi. Tapi serius, guru IPS kita sekarang itu benar-benar berbakat
mendongeng. Aku terlalu mengantuk untuk menulis.” balas Alvin pelan. “Kalau aku
harus diajarkan dia sampai semester depan, kurasa aku akan tidur siang
berlebihan.”
“Ah, kau
saja yang suka tidur larut malam, makanya kau mengantuk berlebihan di saat jam
pelajaran.” kata Biru. “Lain kali tidurlah lebih awal supaya tidak seperti ini
lagi.”
“Ya,
terserah kau.” kata Alvin malas meladeni temannya itu. Ia menidurkan kepalanya
di meja. “Bagaimana kabar masalah kegiatan basketmu itu? Apa kau sudah
membicarakannya dengan orang tuamu?”
“Bunda
akan membantu kita menutupi semuanya dari Ayah.” kata Biru. Ya, Alvin memang
sudah tahu permasalahan Biru dan Cakka dengan orang tua mereka. Biru sempat
menceritakannya saat baru masuk ekskul basket. “Tapi, ini semua tetap saja
tidak benar.”
“Kau tak
punya pilihan lain. Itu yang membuat siasatmu menjadi benar.” kata Alvin.
“Lagipula, Ayahmu itu aneh sekali. Melarang tanpa alasan yang jelas. Kalau aku
jadi kau, mungkin aku tak akan baik-baik kepadanya. Enak saja melarangku bergaul
dengan duniaku.”
“Bagaimanapun
juga dia tetap Ayahku, tahu!”
“Ya, ya,
ya, terserah kau. Aku ingin tidur.” kata Alvin langsung terlelap.
Biru
menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Kemudian, ia memutuskan
untuk mengabaikan Alvin dan kembali serius mendengar ucapan guru IPS yang masih
tetap berbicara di depan. Tiga tahun ia berteman dengan Alvin, sikapnya sama
sekali tidak berubah. Tetap saja cuek dan tentu saja tukang tidur. Ia tidak
akan menanggung jika tiba-tiba seseorang memergokinya sedang tidur dan...
“ALVIN!!!!”
Biru
langsung menepuk dahinya pelan mendengar suara menggelegar itu. Kali ini Alvin
sudah tidak selamat. Benar kan dugaannya? Selamat menjalani hukuman, Malvine
Lim.
TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca terus sampai tamat ya!

Wah.. di blog ini banyak sekali cerpen nya.. Izin Copy ya
BalasHapus