Senin, 14 Juli 2014

Cerbung | Impian Bola Basket Part 1



DUK.. DUK.. DUK..
Suara pantulan tersebut terus menggema di dalam lapangan basket indoor sekolahnya. Siang itu merupakan ekstrakulikuler yang melelahkan. Masalahnya, Pak Jo yang mengajar ekstrakulikuler basket sekaligus guru olahraga mereka menambah jam ekskul demi melihat kemampuan masing-masing anak, terutama yang baru masuk ke dalam tim inti basket. Makanya, beliau memakai waktu hingga jam lima sore untuk pertandingan basket. Seperti biasa, tim inti basket sekolah maju untuk bertanding dengan beberapa siswa siswi lainnya yang berbakat dalam bidang olahraga basket. Pertandingan saat itu benar-benar heboh. Para murid yang tak ikut pertandingan menyemangati anak-anak basket yang berada di lapangan dengan semangat.

Waktu yang tersisa untuk pertandingan mereka hanya tinggal tiga puluh detik lagi. Tim basket yang memiliki skor lebih sedikit tampak berusaha keras untuk mengejar angka.
“Ayo! Semangat, CRAG Team! Semangat semuanya!”
CRAG Team merupakan nama tim inti basket sekolah tersebut. Anggota tim baru saja dipilih semenjak tahun ajaran dimulai karena banyak anggota tim inti basket yang lama sudah lulus ke SMA dan pindah sekolah. Seleksi yang dilakukan mempertimbangkan kemampuan, pengetahuan dan juga niat. Para anggota tim inti harus memiliki niat yang sangat kuat dalam mendalami basket, kemampuan yang tinggi dan juga wawasan luas tentang basket. Dengan seleksi yang cukup ketat oleh ketua ekstrakulikuler basket, terpilihlah sekitar sepuluh orang. Lima anggota tim, lima orang lainnya sebagai cadangan.
Chase Karayne merupakan salah satu anggota tim inti tersebut. Ia baru saja menyelesaikan MOS SMP dan langsung dinobatkan sebagai kapten tim basket setelah lulus dua kali seleksi. Dari semua anak-anak basket, laki-laki berambut pendek tersebut merupakan anak yang memiliki bakat dan niat yang terdalam. Dan semua anak-anak basket beserta pelatih tim basket mereka berharap ia bisa menjadi kapten yang baik untuk anak-anak basket lainnya.
Sekarang bola basket masih ada di tangan seorang laki-laki dari anggota CRAG Team. Namun, posisinya benar-benar tidak aman. Anggota tim lawan benar-benar menghadangnya di segala arah. Matanya melirik kanan-kiri sambil mendribble bola basketnya terus menerus. Berusaha mencari cara agar ia bisa mengoper bolanya kepada teman satu timnya. Anak itu bertubuh tinggi dengan kulitnya yang hitam manis.
“Rio! Berikan padaku!” Chase Karayne yang berdiri tak jauh darinya berteriak sambil melambaikan kedua tangannya kepada Rio.
Rio mengangguk samar. Ia segera memutar badannya menuju arah yang berlawanan dengan hadangan lawan-lawannya. Ia melakukan gerakan freestyle sejenak untuk mengecoh lawan dan langsung cepat-cepat melempar bola tersebut ke arah Cakka.
 “Cakka!” sahutnya keras.
Cakka, itulah panggilan dari Chase Karayne. Diambil dari tiga huruf dari kata Chase dan dua huruf dari Karayne dan diubah sedikit agar terlihat apik. Setelah mendapatkan bola basketnya, ia langsung membawa bola menjauhi lawan. Waktunya untuk mengimbangi skor tinggal sebentar lagi.
“Waktu tinggal sepuluh detik! Shoot, Kka!!” teriak anak lain yang berambut cepak ketika Cakka baru sampai di tengah lapangan. Namanya Raynald Putra. Ia sudah siap berdiri di dekat ring CRAG Team. Setelah teriakannya selesai, Cakka langsung menembak bola basket itu dari tempat jauh. Kalau bola itu masuk ke dalam ring, maka CRAG Team akan mendapatkan tiga poin. Semua yang ada di sana langsung terdiam. Mereka sama-sama berharap bola oranye tersebut masuk ke dalam ring agar CRAG Team bisa unggul dan menang. Tapi, begitu bola basket sampai di ring, ia justru berputar-putar di atas ring. Belum enggan untuk masuk. Semua anggota CRAG Team yang berada di lapangan beserta para penonton langsung berdoa dalam hati masing-masing.
8... 7... 6... 5... 4... 3.. 2.. 1... 0! PRIIIIIIIIIIIT.....!!!
Semua penonton langsung berteriak girang begitu peluit dibunyikan dengan nyaring. Anggota CRAG Team juga langsung berkumpul di tengah lapangan dan menyerbu Cakka. Mereka melompat-lompat girang dan berteriak-teriak senang. “Skor terakhir 70-69!! Kita menang guys!!!”
Cakka yang berada di tengah kerumunan teman-temannya hanya tertawa senang mendengar ucapan mereka. Ini adalah kemenangan pertama untuk tim basketnya. Ia benar-benar bersyukur memiliki bakat dalam olahraga basket. Dengan begitu, dia bisa membahagiakan teman-teman barunya di SMP.
Singkat penjelasan, CRAG Team terdiri dari lima orang. Sesuai dengan nama tim mereka, anggotanya terdiri dari Cakka, Rio, Ray, Alvin dan juga Gabriel. Cakka yang baru masuk kelas tujuh bersama Ray, Rio dan Gabriel yang merupakan saudara kembar di kelas delapan sementara Alvin sendiri di kelas sembilan. Namun, walaupun berbeda tingkat, mereka berlima bisa akrab dengan cepat setelah mengenal satu sama lain saat MOS dan seleksi tim basket.
“Anak-anak! Segera ke ruang ganti dan tukar baju basket kalian dengan baju olahraga! Yang lainnya boleh pulang!” Suara Pak Jo, guru olahraga mereka, tiba-tiba menggema di lapangan tersebut.
Kegaduhan yang terjadi langsung pelan-pelan mereda setelah anak-anak satu per satu keluar dari lapangan indoor termasuk anak-anak basket yang bertanding tadi. Mereka langsung mengambil botol minum mereka masing-masing dan segera meninggalkan lapangan. Anak-anak yang tidak ikut bertanding segera turun ke bawah sementara anak-anak basket segera pergi menuju ruang ganti yang tepat berada di sebelah lapangan indoor. Cakka dan teman-teman satu timnya sibuk masing-masing.
“Hei, tembakan bagus, anak baru!” kata seseorang yang menyaksikan pertandingan tadi. Ia baru saja masuk ke dalam ruang ganti laki-laki karena mendapati adik-adiknya belum keluar. Ellose Angga Karayne, atau Elang, dia adalah kakak Cakka yang sudah SMA dan mendalami seni musik. Dialah yang biasanya menjemput Biru, adiknya yang pertama, beserta Cakka, adiknya yang bungsu.
“Hei, dia punya nama! Namanya Cakka! Lagipula, apa yang kau lakukan disini, Kak?” protes Rio kepada Elang. Ia jelas mengenal kakak kelasnya tersebut karena saat kelas tiga SMP, Elang sering sekali menontonnya bertanding.
Elang hanya nyengir mendengar ucapan Rio. Kemudian, ia menepuk-nepuk punggung Cakka pelan. “Aku tahu namanya Cakka. Bukankah sekali-kali menjahili adik sendiri itu menyenangkan?”
“Ah, kau tak mengatakan kau memiliki adik laki-laki.” kata Rio. Wajahnya memerah karena ternyata dia yang salah. Ia bahkan tidak tahu kalau Cakka memiliki kakak.
Elang tertawa. Ia kembali menoleh ke arah Cakka. “Hei, aku tak menyangka kau memiliki bakat setinggi itu dalam basket. Pantas saja kau begitu menekuninya sejak kecil.”
Cakka yang sedang duduk di bangku panjang membongkar tasnya menoleh dan tersenyum sekilas kepadanya. Kemudian, ia segera sibuk kembali dengan tasnya. Ia sedang mencari baju olahraganya beserta beberapa perlengkapan yang sempat ia lepas sebelum jam olahraga. “Tak sebagus yang kau pikirkan, Kak.”
“Ah, kau terlalu merendah diri, Cakka. Tembakanmu merupakan tembakan paling hebat yang pernah kulihat. Jarang sekali melihat anak basket yang mampu mencetak angka dari jarak sejauh itu!” kata Ray yang sedang sibuk dengan loker di hadapan Cakka.
“Ya, kurasa pilihan Andrew tidak salah menjadikanmu sebagai kapten tim basket. Teknikmu dalam pertandingan benar-benar patut diacungkan jempol!” kata Alvin yang berada tak jauh dari mereka tiba-tiba datang dan duduk di samping Cakka. Ia memegang sebuah handuk di tangannya untuk menghapus peluh yang sudah membasahi pelipisnya.
“Dia lebih baik daripada Verrell.” kata Gabriel juga tiba-tiba datang menghampiri teman-temannya.
Rio, Ray dan Alvin mengangguk setuju dengan pendapat Gabriel. Kemudian, mereka kembali sibuk mengganti baju basket mereka. Berbeda dengan Cakka yang sudah selesai karena tak banyak bicara. Cakka sedang minum untuk menyegarkan tubuhnya.
“Kalian itu mengoceh saja, aku pulang dulu.” tiba-tiba Cakka bersuara. Ia segera memasukkan botol minumnya ke dalam tas. Ia segera berdiri dan hendak meninggalkan ruang ganti bersama kakaknya.
“Ya, sampai jumpa!” Keempat teman satu tim Cakka melambaikan tangan mereka sejenak kemudian langsung sibuk kembali memakai baju olahraga sambil mengobrol.
Saat Cakka dan Elang meninggalkan ruang ganti, ruang ganti perempuan yang tadinya berisik sekarang telah hening. Mereka semua pasti sudah pulang. Cakka dan Elang langsung turun ke bawah untuk mencari saudara mereka, Biru Putri Karayne. Elang menoleh ke arah adiknya, “Mungkin dia ada di kantin.”
Mereka bergegas menuju kantin yang berada di lantai bawah. Dan ternyata benar, Biru sedang bersama teman-temannya di kantin. Mungkin mereka sudah keluar duluan sebelum Cakka sehingga mereka pergi menuju kantin sembari menunggunya. Cakka dan Elang langsung menghampiri mereka.
“Kak!” seru Cakka sambil menepuk pundak kakaknya yang berambut hitam kecokelatan itu. Rambut panjangnya diikat ekor kuda.
Biru menoleh ke arahnya. “Hei, Kka! Ternyata kau sudah selesai.”
Cakka mengangguk. Kemudian, menatap ke arah teman-teman kakaknya satu per satu. Ia tersenyum ramah kepada mereka. Ternyata mereka adalah teman-teman basket kakaknya.
“Ah, benar. Cakka, ini adalah teman-temanku di tim inti basket putri. Mereka adalah Rika, Karin, Melvi dan Alia. Mereka semua teman-teman sekelasku. Kalau butuh bantuan, kami pasti membantu.” kata Biru mengenalkan teman-temannya.
Cakka mengangguk, kemudian menyalami satu-satu teman-teman kakaknya dan menyebutkan namanya. Keempat gadis itu juga melakukan yang sama. Mereka merasa senang bisa mengenal adik Biru sekaligus kapten tim basket tahun ini. Mereka juga berkenalan dengan Elang.
“Sayang sekali latihan tim inti basket putra putri harus dipisah.” kata Alia.
“Ya, sangat disayangkan, padahal kalau digabung kami pasti bisa banyak belajar darimu, Cakka. Kudengar kau sangat berbakat dalam basket.” kata Karin.
“Ya! Apalagi setelah melihatmu bertanding tadi di lapangan. Ternyata, Biru tidak salah. Kau memang benar-benar pantas menjadi kapten basket putra. Sama seperti kakakmu yang juga kapten.” kata Rika.
“Ah, biasa saja.” kata Cakka sambil tersenyum. Rasanya ia sudah terlalu banyak disanjung hari ini. “Kak, ayo kita pulang.”
Biru mengangguk. Ia langsung pamit kepada teman-temannya dan membawa kedua saudaranya pulang memakai mobil Elang. Biru duduk di depan bersama Elang, sementara Cakka duduk di belakang sendiri. Selama perjalanan, mereka tidak berbicara banyak. Elang sibuk menyetir, Biru sibuk dengan ponselnya sementara Cakka tertidur pulas karena kelelahan.
“Bi, kau sudah memiliki alasan untuk Ayah?” tanya Elang tiba-tiba memecah keheningan.
“Alasan apa?” tanya Biru sambil menoleh ke arah kakaknya.
“Kau tahu Ayah tidak suka kita bertiga pulang terlalu sore dari sekolah. Apalagi dengan alasan bermain basket. Ayah bisa marah besar.” kata Elang sambil tetap konsen menatap depan. Ayah mereka adalah seorang pengusaha sibuk. Jarang sekali dia bisa berkumpul dengan keluarga. Namun, ia selalu menanyakan kegiatan-kegiatan rutin Elang, Biru dan Cakka di sekolah demi menjauhkan mereka dari olahraga basket.
“Bukankah kita sudah sepakat untuk mengatakan bahwa aku dan Cakka memiliki jam tambahan sepulang sekolah?” Biru justru bertanya balik. “Atau apa menurutmu ada alasan yang lebih baik?”
“Untukmu yang sudah kelas tiga mungkin Ayah bisa percaya. Tapi, untuk Cakka yang baru masuk SMP, kurasa itu bukan alasan yang bagus.” kata Elang.
"Aku masih tidak mengerti mengapa Ayah tidak membolehkan kita bermain basket. Kasihan Cakka, dia memiliki potensi yang tinggi dalam olahraga. Sayang sekali jika tidak dikembangkan.” kata Biru. Ia melirik sebentar ke arah adiknya yang sudah tertidur nyenyak. “Andai saja dia bisa menyakinkan Ayah...”
“Tidak, Bi. Ayah adalah orang yang keras. Sekalipun Cakka yang membujuknya, dia tidak akan merubah pikirannya.” kata Elang. “Yang perlu kita tahu sekarang hanya alasan Ayah melarang kita semua bergaul dengan basket.”


TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca terus sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p