DUK..
DUK.. DUK..
Suara
pantulan tersebut terus menggema di dalam lapangan basket indoor sekolahnya. Siang itu merupakan ekstrakulikuler yang
melelahkan. Masalahnya, Pak Jo yang mengajar ekstrakulikuler basket sekaligus
guru olahraga mereka menambah jam ekskul demi melihat kemampuan masing-masing
anak, terutama yang baru masuk ke dalam tim inti basket. Makanya, beliau
memakai waktu hingga jam lima sore untuk pertandingan basket. Seperti biasa,
tim inti basket sekolah maju untuk bertanding dengan beberapa siswa siswi
lainnya yang berbakat dalam bidang olahraga basket. Pertandingan saat itu
benar-benar heboh. Para murid yang tak ikut pertandingan menyemangati anak-anak
basket yang berada di lapangan dengan semangat.
Waktu yang
tersisa untuk pertandingan mereka hanya tinggal tiga puluh detik lagi. Tim
basket yang memiliki skor lebih sedikit tampak berusaha keras untuk mengejar
angka.
“Ayo! Semangat,
CRAG Team! Semangat semuanya!”
CRAG Team
merupakan nama tim inti basket sekolah tersebut. Anggota tim baru saja dipilih
semenjak tahun ajaran dimulai karena banyak anggota tim inti basket yang lama
sudah lulus ke SMA dan pindah sekolah. Seleksi yang dilakukan mempertimbangkan
kemampuan, pengetahuan dan juga niat. Para anggota tim inti harus memiliki niat
yang sangat kuat dalam mendalami basket, kemampuan yang tinggi dan juga wawasan
luas tentang basket. Dengan seleksi yang cukup ketat oleh ketua ekstrakulikuler
basket, terpilihlah sekitar sepuluh orang. Lima anggota tim, lima orang lainnya
sebagai cadangan.
Chase
Karayne merupakan salah satu anggota tim inti tersebut. Ia baru saja
menyelesaikan MOS SMP dan langsung dinobatkan sebagai kapten tim basket setelah
lulus dua kali seleksi. Dari semua anak-anak basket, laki-laki berambut pendek
tersebut merupakan anak yang memiliki bakat dan niat yang terdalam. Dan semua
anak-anak basket beserta pelatih tim basket mereka berharap ia bisa menjadi
kapten yang baik untuk anak-anak basket lainnya.
Sekarang
bola basket masih ada di tangan seorang laki-laki dari anggota CRAG Team.
Namun, posisinya benar-benar tidak aman. Anggota tim lawan benar-benar
menghadangnya di segala arah. Matanya melirik kanan-kiri sambil mendribble bola basketnya terus menerus.
Berusaha mencari cara agar ia bisa mengoper bolanya kepada teman satu timnya.
Anak itu bertubuh tinggi dengan kulitnya yang hitam manis.
“Rio!
Berikan padaku!” Chase Karayne yang berdiri tak jauh darinya berteriak sambil
melambaikan kedua tangannya kepada Rio.
Rio
mengangguk samar. Ia segera memutar badannya menuju arah yang berlawanan dengan
hadangan lawan-lawannya. Ia melakukan gerakan freestyle sejenak untuk mengecoh lawan dan langsung cepat-cepat
melempar bola tersebut ke arah Cakka.
“Cakka!” sahutnya keras.
Cakka,
itulah panggilan dari Chase Karayne. Diambil dari tiga huruf dari kata Chase
dan dua huruf dari Karayne dan diubah sedikit agar terlihat apik. Setelah
mendapatkan bola basketnya, ia langsung membawa bola menjauhi lawan. Waktunya
untuk mengimbangi skor tinggal sebentar lagi.
“Waktu
tinggal sepuluh detik! Shoot, Kka!!”
teriak anak lain yang berambut cepak ketika Cakka baru sampai di tengah
lapangan. Namanya Raynald Putra. Ia sudah siap berdiri di dekat ring CRAG Team.
Setelah teriakannya selesai, Cakka langsung menembak bola basket itu dari
tempat jauh. Kalau bola itu masuk ke dalam ring, maka CRAG Team akan
mendapatkan tiga poin. Semua yang ada di sana langsung terdiam. Mereka
sama-sama berharap bola oranye tersebut masuk ke dalam ring agar CRAG Team bisa
unggul dan menang. Tapi, begitu bola basket sampai di ring, ia justru
berputar-putar di atas ring. Belum enggan untuk masuk. Semua anggota CRAG Team
yang berada di lapangan beserta para penonton langsung berdoa dalam hati
masing-masing.
8... 7...
6... 5... 4... 3.. 2.. 1... 0! PRIIIIIIIIIIIT.....!!!
Semua
penonton langsung berteriak girang begitu peluit dibunyikan dengan nyaring.
Anggota CRAG Team juga langsung berkumpul di tengah lapangan dan menyerbu Cakka.
Mereka melompat-lompat girang dan berteriak-teriak senang. “Skor terakhir
70-69!! Kita menang guys!!!”
Cakka yang
berada di tengah kerumunan teman-temannya hanya tertawa senang mendengar ucapan
mereka. Ini adalah kemenangan pertama untuk tim basketnya. Ia benar-benar
bersyukur memiliki bakat dalam olahraga basket. Dengan begitu, dia bisa
membahagiakan teman-teman barunya di SMP.
Singkat
penjelasan, CRAG Team terdiri dari lima orang. Sesuai dengan nama tim mereka,
anggotanya terdiri dari Cakka, Rio, Ray, Alvin dan juga Gabriel. Cakka yang
baru masuk kelas tujuh bersama Ray, Rio dan Gabriel yang merupakan saudara
kembar di kelas delapan sementara Alvin sendiri di kelas sembilan. Namun,
walaupun berbeda tingkat, mereka berlima bisa akrab dengan cepat setelah
mengenal satu sama lain saat MOS dan seleksi tim basket.
“Anak-anak!
Segera ke ruang ganti dan tukar baju basket kalian dengan baju olahraga! Yang
lainnya boleh pulang!” Suara Pak Jo, guru olahraga mereka, tiba-tiba menggema
di lapangan tersebut.
Kegaduhan
yang terjadi langsung pelan-pelan mereda setelah anak-anak satu per satu keluar
dari lapangan indoor termasuk
anak-anak basket yang bertanding tadi. Mereka langsung mengambil botol minum
mereka masing-masing dan segera meninggalkan lapangan. Anak-anak yang tidak
ikut bertanding segera turun ke bawah sementara anak-anak basket segera pergi
menuju ruang ganti yang tepat berada di sebelah lapangan indoor. Cakka dan teman-teman satu timnya sibuk masing-masing.
“Hei,
tembakan bagus, anak baru!” kata seseorang yang menyaksikan pertandingan tadi.
Ia baru saja masuk ke dalam ruang ganti laki-laki karena mendapati adik-adiknya
belum keluar. Ellose Angga Karayne, atau Elang, dia adalah kakak Cakka yang
sudah SMA dan mendalami seni musik. Dialah yang biasanya menjemput Biru,
adiknya yang pertama, beserta Cakka, adiknya yang bungsu.
“Hei, dia
punya nama! Namanya Cakka! Lagipula, apa yang kau lakukan disini, Kak?” protes
Rio kepada Elang. Ia jelas mengenal kakak kelasnya tersebut karena saat kelas
tiga SMP, Elang sering sekali menontonnya bertanding.
Elang
hanya nyengir mendengar ucapan Rio. Kemudian, ia menepuk-nepuk punggung Cakka
pelan. “Aku tahu namanya Cakka. Bukankah sekali-kali menjahili adik sendiri itu
menyenangkan?”
“Ah, kau
tak mengatakan kau memiliki adik laki-laki.” kata Rio. Wajahnya memerah karena
ternyata dia yang salah. Ia bahkan tidak tahu kalau Cakka memiliki kakak.
Elang
tertawa. Ia kembali menoleh ke arah Cakka. “Hei, aku tak menyangka kau memiliki
bakat setinggi itu dalam basket. Pantas saja kau begitu menekuninya sejak
kecil.”
Cakka yang
sedang duduk di bangku panjang membongkar tasnya menoleh dan tersenyum sekilas
kepadanya. Kemudian, ia segera sibuk kembali dengan tasnya. Ia sedang mencari
baju olahraganya beserta beberapa perlengkapan yang sempat ia lepas sebelum jam
olahraga. “Tak sebagus yang kau pikirkan, Kak.”
“Ah, kau
terlalu merendah diri, Cakka. Tembakanmu merupakan tembakan paling hebat yang
pernah kulihat. Jarang sekali melihat anak basket yang mampu mencetak angka
dari jarak sejauh itu!” kata Ray yang sedang sibuk dengan loker di hadapan
Cakka.
“Ya,
kurasa pilihan Andrew tidak salah menjadikanmu sebagai kapten tim basket.
Teknikmu dalam pertandingan benar-benar patut diacungkan jempol!” kata Alvin
yang berada tak jauh dari mereka tiba-tiba datang dan duduk di samping Cakka.
Ia memegang sebuah handuk di tangannya untuk menghapus peluh yang sudah
membasahi pelipisnya.
“Dia lebih
baik daripada Verrell.” kata Gabriel juga tiba-tiba datang menghampiri
teman-temannya.
Rio, Ray
dan Alvin mengangguk setuju dengan pendapat Gabriel. Kemudian, mereka kembali
sibuk mengganti baju basket mereka. Berbeda dengan Cakka yang sudah selesai
karena tak banyak bicara. Cakka sedang minum untuk menyegarkan tubuhnya.
“Kalian
itu mengoceh saja, aku pulang dulu.” tiba-tiba Cakka bersuara. Ia segera
memasukkan botol minumnya ke dalam tas. Ia segera berdiri dan hendak
meninggalkan ruang ganti bersama kakaknya.
“Ya,
sampai jumpa!” Keempat teman satu tim Cakka melambaikan tangan mereka sejenak
kemudian langsung sibuk kembali memakai baju olahraga sambil mengobrol.
Saat Cakka
dan Elang meninggalkan ruang ganti, ruang ganti perempuan yang tadinya berisik
sekarang telah hening. Mereka semua pasti sudah pulang. Cakka dan Elang
langsung turun ke bawah untuk mencari saudara mereka, Biru Putri Karayne. Elang
menoleh ke arah adiknya, “Mungkin dia ada di kantin.”
Mereka
bergegas menuju kantin yang berada di lantai bawah. Dan ternyata benar, Biru
sedang bersama teman-temannya di kantin. Mungkin mereka sudah keluar duluan
sebelum Cakka sehingga mereka pergi menuju kantin sembari menunggunya. Cakka
dan Elang langsung menghampiri mereka.
“Kak!”
seru Cakka sambil menepuk pundak kakaknya yang berambut hitam kecokelatan itu.
Rambut panjangnya diikat ekor kuda.
Biru
menoleh ke arahnya. “Hei, Kka! Ternyata kau sudah selesai.”
Cakka
mengangguk. Kemudian, menatap ke arah teman-teman kakaknya satu per satu. Ia
tersenyum ramah kepada mereka. Ternyata mereka adalah teman-teman basket
kakaknya.
“Ah,
benar. Cakka, ini adalah teman-temanku di tim inti basket putri. Mereka adalah
Rika, Karin, Melvi dan Alia. Mereka semua teman-teman sekelasku. Kalau butuh
bantuan, kami pasti membantu.” kata Biru mengenalkan teman-temannya.
Cakka
mengangguk, kemudian menyalami satu-satu teman-teman kakaknya dan menyebutkan
namanya. Keempat gadis itu juga melakukan yang sama. Mereka merasa senang bisa
mengenal adik Biru sekaligus kapten tim basket tahun ini. Mereka juga
berkenalan dengan Elang.
“Sayang
sekali latihan tim inti basket putra putri harus dipisah.” kata Alia.
“Ya,
sangat disayangkan, padahal kalau digabung kami pasti bisa banyak belajar
darimu, Cakka. Kudengar kau sangat berbakat dalam basket.” kata Karin.
“Ya!
Apalagi setelah melihatmu bertanding tadi di lapangan. Ternyata, Biru tidak
salah. Kau memang benar-benar pantas menjadi kapten basket putra. Sama seperti
kakakmu yang juga kapten.” kata Rika.
“Ah, biasa
saja.” kata Cakka sambil tersenyum. Rasanya ia sudah terlalu banyak disanjung
hari ini. “Kak, ayo kita pulang.”
Biru
mengangguk. Ia langsung pamit kepada teman-temannya dan membawa kedua
saudaranya pulang memakai mobil Elang. Biru duduk di depan bersama Elang,
sementara Cakka duduk di belakang sendiri. Selama perjalanan, mereka tidak
berbicara banyak. Elang sibuk menyetir, Biru sibuk dengan ponselnya sementara
Cakka tertidur pulas karena kelelahan.
“Bi, kau
sudah memiliki alasan untuk Ayah?” tanya Elang tiba-tiba memecah keheningan.
“Alasan
apa?” tanya Biru sambil menoleh ke arah kakaknya.
“Kau tahu
Ayah tidak suka kita bertiga pulang terlalu sore dari sekolah. Apalagi dengan
alasan bermain basket. Ayah bisa marah besar.” kata Elang sambil tetap konsen
menatap depan. Ayah mereka adalah seorang pengusaha sibuk. Jarang sekali dia
bisa berkumpul dengan keluarga. Namun, ia selalu menanyakan kegiatan-kegiatan
rutin Elang, Biru dan Cakka di sekolah demi menjauhkan mereka dari olahraga
basket.
“Bukankah
kita sudah sepakat untuk mengatakan bahwa aku dan Cakka memiliki jam tambahan
sepulang sekolah?” Biru justru bertanya balik. “Atau apa menurutmu ada alasan
yang lebih baik?”
“Untukmu
yang sudah kelas tiga mungkin Ayah bisa percaya. Tapi, untuk Cakka yang baru
masuk SMP, kurasa itu bukan alasan yang bagus.” kata Elang.
"Aku
masih tidak mengerti mengapa Ayah tidak membolehkan kita bermain basket.
Kasihan Cakka, dia memiliki potensi yang tinggi dalam olahraga. Sayang sekali
jika tidak dikembangkan.” kata Biru. Ia melirik sebentar ke arah adiknya yang
sudah tertidur nyenyak. “Andai saja dia bisa menyakinkan Ayah...”
“Tidak,
Bi. Ayah adalah orang yang keras. Sekalipun Cakka yang membujuknya, dia tidak
akan merubah pikirannya.” kata Elang. “Yang perlu kita tahu sekarang hanya
alasan Ayah melarang kita semua bergaul dengan basket.”
TO BE
CONTINUED...
Penasaran?
Baca terus sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p