Senin, 14 Juli 2014

Cerbung | Impian Bola Basket Part 2



Begitu mereka sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. Biru langsung segera turun dan membangunkan adiknya yang masih terlelap. “Cakka, sudah sampai. Bangunlah, tidur di kamarmu akan lebih menyenangkan.”
“Hah?” kata Cakka lirih sambil mengusap sudut matanya. Dengan setengah sadar, ia segera mengambil tasnya dan turun dari mobil. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua kakaknya di garasi. Begitu ia masuk ke dalam, tampak Bunda sedang membuat teh di meja makan.
“Kau sudah pulang? Mana kedua kakakmu?” tanya Bunda sambil tersenyum.
Cakka tersenyum. “Masih di garasi, Bunda.”
“Kau tampak lelah sekali, apa latihan hari ini sangat keras?” tanya Bunda lagi.
Cakka mengangguk sambil menaruh tasnya di sofa. Bundanya memang tahu kalau Cakka dan Biru mengikuti ekskul basket. “Ada pertandingan, tim kami menang tipis. Aku sampai tertidur selama perjalanan.”
“Ya sudah, tidurlah lagi di kamar jika kau masih lelah. Bunda akan memanggilmu jika makan malam sudah tiba.” kata Bunda.
Cakka tersenyum, kemudian langsung berjalan menuju kamar. Sementara itu, Elang dan Biru baru saja muncul. Mereka berdua langsung menyalami Bunda dan tersenyum kepadanya. Biru yang menangkap wangi teh yang ada di dekatnya langsung berkata, “Bunda, aku juga ingin teh itu!”
“Ya, nanti Bunda buatkan.” kata Bunda sambil tersenyum.
“Kalau begitu, aku akan ada di kamar. Kuliahku banyak tugas.” pamit Elang kepada mereka berdua dan langsung meninggalkan Bunda dan Biru. Berbeda dengan Biru yang langsung duduk di kursi, disusul oleh Bunda. Setelah terdiam cukup lama, Biru memecah keheningan di antara mereka.
“Ayah pulang malam lagi?” tanya Biru sambil menatap Bundanya.
Bunda mengangguk. “Seperti biasa, Bi.”
“Baguslah kalau begitu, ada yang harus aku bicarakan. Bisa?” tanya Biru.
Bunda mengangguk. Ia mencicipi teh yang ia buat sejenak kemudian menatap anak tengahnya. Masih dengan senyuman lebar. Dia tampak sudah bisa menebak kegelisahan putrinya. “Kau ingin berbicara tentang kegiatanmu dan Cakka?”
Biru mengangguk. “Cakka memiliki potensi yang sangat tinggi dalam basket, kasihan kalau bakatnya tidak bisa disalurkan hanya karena larangan Ayah. Tapi, berbohong kepada Ayah akan membuat semuanya hancur.”
“Kau tahu sendiri bagaimana sifat Ayah sejak dulu, Bi. Dia paling benci dengan bola basket. Kalau kalian sampai melanggar aturannya, dia pasti marah. Bunda juga tidak bisa membantu apa-apa untuk merubah pikirannya. Kau tahu sendiri dia begitu keras kepala.”
“Tapi, Ayah tidak memberikan penjelasan mengapa dia benci dengan bola basket, Bun. Bahkan setelah Cakka meraih NEM tertinggi di sekolah dasarpun dia masih tetap dengan pendiriannya.” kata Biru sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia menghela napas pelan, kemudian memasang wajah cemberut. “Ayah begitu sulit dimengerti.”
Bunda tertawa kecil mendengarnya. “Pasti ada alasan di balik semua itu.”
“Bunda tahu alasannya?”
Bunda menggeleng. “Ayah sama sekali tidak pernah bercerita kepada Bunda.”
“Kalau begitu,  Bunda mau tidak membantuku dan Cakka mencari tahu alasan mengapa Ayah tidak suka dengan basket? Bagaimanapun juga, kami juga ingin memahami perasaan Ayah tentang hal ini.”
“Tidak segampang itu kita bisa mengetahuinya, tapi Bunda akan berusaha.” kata Bunda sambil tersenyum. “Untuk sementara ini, biarkan Bunda saja yang menutupi kegiatan kalian. Tapi, kalau sampai ketahuan Ayah, kalian yang harus menghadapinya sendiri.”
“Janji. Terima kasih, Bunda.” kata Biru langsung memeluk Bunda. Dalam hatinya ia berharap semuanya akan berjalan dengan lancar. Setidaknya sampai ia bisa lulus ke SMA tahun depan. Bagaimanapun juga, ia mencintai basket, sama seperti adiknya. Tapi, semua kegiatan yang dilakukan mereka tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung orang tua. Berbeda dengan Elang yang rela begitu saja meninggalkan basket demi Ayah dan menggantikan jam basketnya dengan musik.


J L J

KRING!!!!
Suara bunyi bel masuk sekolah yang lantang itu seketika mampu membuat semua murid yang masih berada di luar segera masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Termasuk Ray, teman sekelas dan sebangku Cakka. Ia langsung buru-buru menghampiri kursinya dan mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan karena lelah berlari.
Cakka tersenyum kecil melihat sahabatnya yang terlihat begitu lelah. Pelipisnya berkeringat akibat berlari ke kelas. Entah darimana dia, padahal tadi dia hanya bilang ingin ke kantin. Dari kantin menuju kelas tidak akan memakan waktu lama. Tapi, apapun alasannya, Cakka ingin memberinya sedikit keringanan. Ia mengambil satu botol minumnya dari dalam tas dan memberikannya kepada Ray.
Tanpa ragu-ragu, Ray langsung mengambil botol tersebut dan meneguk air di dalamnya hingga tersisa setengah botol. Ia benar-benar butuh penyegaran setelah melakukan ‘maraton’.
“Terima kasih.” kata Ray setelah ia selesai minum. Ia menepuk pundak Cakka pelan sebagai balasannya. “Kau tidak tahu betapa lelahnya aku, Kka. Tadi setelah sarapan di kantin, aku pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sialnya aku tidak bisa menemukan buku yang ingin kupinjam hingga bel berbunyi. Jarak dari perpustakaan ke kelas kita sungguh jauh!”
“Memangnya buku apa yang kau cari?” tanya Cakka.
“Buku ensiklopedia. Aku senang membaca fakta-fakta unik di dunia untuk sekedar hiburan.” kata Ray. “Tapi, omong-omong, apa pelajaran pertama kita hari ini?”
“Matematika.”
“Astaga, pagi-pagi buta seperti ini sudah harus bergaul dengan angka-angka. Benar-benar menyebalkan. Otakku bisa meledak!” keluh Ray. Ia langsung mengambil buku matematikanya yang masih di dalam tas. Buku paket yang cukup besar itu ia taruh di atas meja dan langsung ia timpa dengan tangan dan kepalanya. “Sepertinya saat pulang nanti aku perlu main di lapangan.”
Cakka hanya tertawa geli mendengarnya.

J L J

Seorang guru tengah mengajar dengan semangat di kelas sembilan. Tanpa memperdulikan murid-muridnya yang sudah mengantuk karena bosan mendengar penjelasan tentang letak-letak geografis di dunia ini, ia terus berbicara. Walaupun tak ada murid yang niat menjawab setiap kali ia bertanya, amarahnya sama sekali tidak terpancing.
Tepat di tengah kelas tersebut, duduk seorang gadis yang sedang sibuk mendengarkan. Mungkin hanya dialah satu-satunya yang sangat berniat untuk mencatat seluruh materi yang dijelaskan oleh gurunya itu. Lihat saja teman sebangkunya, wajahnya sudah jelas menunjukkan bahwa dia sudah setengah sadar mendengarkan guru yang mengajar di depan itu.
Gadis itu menoleh ke arah teman sebangkunya setelah ia selesai mencatat. Dengan wajah protes ia berbisik, “Vin, setidaknya kau mencatat agar kau tidak mengantuk mendengarkannya.”
Alvin, anak itu, hanya mengangguk-angguk tidak jelas mendengarkan ucapannya. Ia mengucek-ngucek kedua matanya dan berusaha membukanya  selebar mungkin. Tapi, semuanya sia-sia saja. Ia tetap saja mengantuk.
“Kau sudah sipit, tak perlu berusaha melebarkan mata.” bisik gadis itu lagi.
“Menyebalkan kau, Bi. Tapi serius, guru IPS kita sekarang itu benar-benar berbakat mendongeng. Aku terlalu mengantuk untuk menulis.” balas Alvin pelan. “Kalau aku harus diajarkan dia sampai semester depan, kurasa aku akan tidur siang berlebihan.”
“Ah, kau saja yang suka tidur larut malam, makanya kau mengantuk berlebihan di saat jam pelajaran.” kata Biru. “Lain kali tidurlah lebih awal supaya tidak seperti ini lagi.”
“Ya, terserah kau.” kata Alvin malas meladeni temannya itu. Ia menidurkan kepalanya di meja. “Bagaimana kabar masalah kegiatan basketmu itu? Apa kau sudah membicarakannya dengan orang tuamu?”
“Bunda akan membantu kita menutupi semuanya dari Ayah.” kata Biru. Ya, Alvin memang sudah tahu permasalahan Biru dan Cakka dengan orang tua mereka. Biru sempat menceritakannya saat baru masuk ekskul basket. “Tapi, ini semua tetap saja tidak benar.”
“Kau tak punya pilihan lain. Itu yang membuat siasatmu menjadi benar.” kata Alvin. “Lagipula, Ayahmu itu aneh sekali. Melarang tanpa alasan yang jelas. Kalau aku jadi kau, mungkin aku tak akan baik-baik kepadanya. Enak saja melarangku bergaul dengan duniaku.”
“Bagaimanapun juga dia tetap Ayahku, tahu!”
“Ya, ya, ya, terserah kau. Aku ingin tidur.” kata Alvin langsung terlelap.
Biru menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Kemudian, ia memutuskan untuk mengabaikan Alvin dan kembali serius mendengar ucapan guru IPS yang masih tetap berbicara di depan. Tiga tahun ia berteman dengan Alvin, sikapnya sama sekali tidak berubah. Tetap saja cuek dan tentu saja tukang tidur. Ia tidak akan menanggung jika tiba-tiba seseorang memergokinya sedang tidur dan... “ALVIN!!!!”
Biru langsung menepuk dahinya pelan mendengar suara menggelegar itu. Kali ini Alvin sudah tidak selamat. Benar kan dugaannya? Selamat menjalani hukuman, Malvine Lim.

TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca terus sampai tamat ya!

1 komentar:

  1. Wah.. di blog ini banyak sekali cerpen nya.. Izin Copy ya

    BalasHapus

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p