Kamis, 17 Juli 2014

Cerpen | Kenangan Terindah



Iqbaal menopang dagu dengan tangan kanannya sambil menghela nafasnya di teras. Raut wajahnya saat itu sama sekali tidak bahagia. Bibirnya maju membentuk ekspresi cemberut. Pipinya yang kurus agak menggembung karenanya. Entahlah, Iqbaal merasa sangat sedih hari ini. Padahal, anak-anak yang lain sudah tak sabar ingin memulai acara mereka.

Perlahan-lahan ia keluarkan sebuah kertas dari dalam saku celananya. Ia tak pernah bosan membaca tulisan rapi yang terdapat di dalamnya. Tulisan Bunda. Ia menggigit bibirnya ke dalam dan menghela nafas lagi. Kemudian ia tatap langit cerah yang ada nan jauh di sana. Dimana tempat Bunda berada sekarang.
Ya, Bunda meninggalkannya saat Iqbaal masih duduk di kelas SD. Sudah hampir tujuh tahun yang lalu. Semenjak hari itu, Iqbaal hanya tinggal bersama Ayah yang begitu sibuk bekerja. Dan lagi-lagi, kesibukan Ayah membuatnya harus berada di sini. Di sebuah tempat yang sudah seperti rumahnya sendiri. Di sebuah tempat ia bisa mendapatkan kasih sayang orang tua. Di tempat ia bisa mendapatkan banyak teman. Namun, semuanya terasa berbeda. Mereka bukan keluarga Iqbaal yang sebenarnya.
Bunda harus pergi, Sayang. Kau harus menjaga dirimu baik-baik dan jangan pernah melawan Ayah. Karena mulai saat ini, Ayahmu yang akan menjagamu.
Iqbaal menopang dagunya lagi dengan kedua tangannya. Potongan dari surat Bunda tersebut terus terdengar di pikiran Iqbaal setiap kali dia melamun. Lewat surat itu, Bunda terasa masih hidup dan menasehatinya setiap waktu. Ingin rasanya dia menyangkal, namun tidak. Ia tidak bisa. Bagaimanapun juga, itu adalah pesan Bunda. Dia tak mungkin menolak keinginan malaikat yang selama ini berada di dalam hatinya.

“Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t'lah hilang
Darimu yang mampu menyanjungku...”

“Andai Bunda tahu Ayah meninggalkanku di sini, apa Bunda akan membiarkan semua ini terjadi?” tanya Iqbaal kepada langit dengan tatapan dalam. Berharap Bunda dapat mendengar dan menjawab keluh kesahnya.
Sejujurnya tempat ini tidak buruk. Sama sekali tidak. Dia justru mendapatkan kehidupan yang layak di sini. Namun, Iqbaal jelas akan lebih bahagia jika dia bisa tinggal dengan orang tua kandungnya. Walaupun sekarang dia adalah anak piatu. Tapi, ia tak dapat mengatakan hal itu kepada Ayah. Selain karena sibuk, Iqbaal tidak tega membiarkan Ayah khawatir dengan keadaannya.
“Baal?” tiba-tiba terdengar suara menghampirinya.
Iqbaal segera menoleh ke belakang. Ia diam saja melihat seorang laki-laki mungil yang sebaya dengannya menghampiri. Laki-laki itu segera duduk di samping Iqbaal.
“Kenapa kau melamun di sini?” tanyanya heran. “Apa kau tidak ingin bergabung dengan yang lain? Mereka semua sudah tak sabar untuk memulai acara hari Ibu.”
Iqbaal tetap diam. Kemudian, kembali menatap langit di luar sana. “Entahlah, Al. Setiap kali aku teringat dengan Bunda, aku ingin sekali menatap langit. Berharap aku bisa terbang mengunjunginya. Berharap aku bisa memeluk tubuhnya.”
Laki-laki itu terdiam. Ya, laki-laki itu jelas tahu bagaimana rasanya jika sedang teringat bahwa dirinya tak memiliki orang tua. Dia hanyalah anak yatim piatu. Lebih parah dari Iqbaal, dia tak tahu siapa orang tua kandungnya. Bundanya meninggal karena melahirkannya, sementara Ayahnya menyusul karena depresi kehilangan Bundanya. Tempat ini merupakan tempat dimana dia memulai hidupnya.
“Aldi...” kata Iqbaal pelan, membuat Aldi menoleh. “Aku tahu kehidupanmu jauh lebih sulit daripada aku. Tapi, apa kau tak pernah ingin tahu seperti apa Ayah dan Bundamu?”
Aldi diam, kemudian menatap ke arah depan. Ia menggelengkan kepalanya.
Iqbaal agak terkejut melihat jawabannya itu. “Kenapa?”
Aldi tersenyum. “Selama ini aku tak pernah memiliki petunjuk siapa mereka. Aku hanya tahu kalau mereka telah pergi, dan Pamanku menitipkanku di sini karena tak ada waktu untuk mengurus aku. Kupikir kalau aku bersikeras ingin mengetahui siapa mereka, aku akan merasa sedih.”
 Aldi menundukkan kepalanya. “Lagipula, aku mempunyai banyak teman di sini. Mereka semua sudah seperti saudaraku sendiri. Dan Miss Inca, dia sudah seperti Bundaku sendiri. Entahlah, aku hanya tak ingin menghancurkan kebahagiaanku yang sekarang.”
Iqbaal mengerutkan dahinya. “Menghancurkan... kebahagiaan?”
Aldi menoleh ke arah Iqbaal kembali, kemudian mengangguk. “Mereka sudah tenang di atas sana. Aku tidak boleh mengganggu mereka lagi. Aku yakin, siapapun mereka, mereka pasti adalah seorang Ayah dan Bunda yang sangat menyayangiku.”
Iqbaal diam saja. Ia kembali menundukkan kepalanya menatap surat Bunda yang masih digenggamnya sejak tadi. Ia sudah hafal dengan pesan-pesan Bunda yang tertulis di sana. Selain menghormati Ayah, Bunda juga berpesan agar dia harus tumbuh besar menjadi anak yang hebat dan pemberani.
Jangan pernah menangis ketika kau ingat dengan Bunda, karena Bunda akan selalu tersenyum ketika Bunda mengingatmu. Bunda sangat menyayangimu, Iqbaal.
Iqbaal membaca pelan sepotong kalimat terakhir yang tertulis dalam surat Bunda tersebut. Itu adalah satu-satunya pesan Bunda yang benar-benar ia turuti selama ini. Dia tidak menangis. Dia tak pernah membiarkan setetespun air mata jatuh karena mengingat Bunda tercinta. Tapi, rasa sedih masih hinggap di ranting pohon hatinya.
“Relakanlah Bundamu, Baal.” kata Aldi tiba-tiba.
Iqbaal hanya diam menatap Aldi.
Aldi tidak menatap balik, namun ia tersenyum. “Kau masih memiliki Ayah.”
“Tapi, aku juga ingin berada bersama Bunda.”
“Ya, aku juga, Baal. Jika aku bisa, aku juga ingin.”
Suasana hening seketika. Tidak ada yang berbicara lagi. Kedua sahabat itu menatap langit bersama-sama, sambil menunggu siang nanti, saat acara akan dimulai. Di tempat ini hanya mereka berdua yang masih memiliki kebiasaan merenung tentang orang tua mereka. Tidak, sebenarnya hanya Iqbaal lebih sering karena Ayah Iqbaal hanya datang melihatnya ketika dia pulang bekerja. Itupun kalau dia tidak lembur.

“Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu
Untuk mengenangmu...”

Suasana hening itu terus berlanjut hingga angin sepoi-sepoi datang menemani mereka. Rambut mereka yang sudah tersisir rapi segera menari-nari karena tertiup angin. Tapi, mereka tetap tidak ingin beranjak dari sana. Selain Iqbaal yang masih betah berada di teras, Aldi juga mengetahui bahwa Iqbaal masih belum siap untuk menjalani hari lagi di sini. Di panti asuhan tempat mereka tinggal. Sampai pada akhirnya...
“Iqbaal!”
Iqbaal yang merasa dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara dan langsung reflek berdiri. Aldi juga menoleh ke arahnya. Mereka berdua melihat seorang laki-laki paruh baya berjalan buru-buru menghampiri mereka. Iqbaal yang jelas mengenal pria tersebut langsung berlari menghampirinya.
“Ayah!” kata Iqbaal, langsung memeluk pria paruh baya tersebut.
“Iqbaal, Ayah baru saja mendapatkan telepon dari Miss Inca. Katanya hari ini akan ada acara hari Ibu dan Ayah harus datang.” kata Ayah sambil melepas pelukannya.
Iqbaal mengangguk. Kemudian, memeluk Ayah kembali. “Terima kasih, Yah. Dan maaf, selama ini aku selalu menganggap Ayah lebih mementingkan pekerjaan daripada aku. Aku menganggap Ayah membuang aku. Tapi, sekarang aku mengerti, Ayah meninggalkanku di sini karena ini adalah yang terbaik.”
Ayah mengangguk. “Maafkan Ayah juga karena telah meninggalkanmu di panti asuhan, Baal. Ayah tidak bermaksud membuangmu. Tapi, Ayah takut jika kau sendirian di rumah. Bagaimanapun juga, Bunda ingin Ayah menjagamu dengan baik.”
Iqbaal mengangguk. “Ayah sudah menjagaku dengan baik. Aku yang seharusnya menurut kepada Ayah. Mulai hari ini aku berjanji akan membahagiakan Ayah. Biarlah semua pesan Bunda dalam surat itu menjadi kenangan kita berdua tentang Bunda, Yah.”
Ayah tersenyum, kemudian memeluk sekali lagi anak semata wayangnya itu. Betapa bahagianya dia hari ini bisa melihat anaknya lebih awal daripada biasanya. Dalam hatinya dia berjanji akan lebih memperhatikan Iqbaal agar dia tidak merasa dibuang oleh orang tuanya sendiri.
Aldi hanya tersenyum melihat adegan mengharukan itu. Dia mungkin tidak bisa memeluk Ayah kandungnya seperti Iqbaal sekarang, tapi ia jelas bahagia melihat sahabatnya di panti bisa bertemu Ayahnya di pagi menjelang siang ini. Dari dulu, Aldi selalu yakin semua orang tua pasti menyayangi anaknya. Begitu juga dengan orang tua Iqbaal.

“Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan yang terindah dalam hidupku...”

THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Kalau mau request cerpen silahkan ya :)
Nantikan ceritaku selanjutnya!

7 komentar:

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p