Jumat, 18 Juli 2014

Mini Cerbung | Impossible Wish Part 1



Saat itu Cakka hanya diam mengunci mulutnya sambil menunggu Ayah mengatakan sesuatu. Sekarang sudah jam tujuh malam, ia baru saja pulang dari sekolah karena ada pelajaran tambahan. Lelahnya tubuh dan pikiran membuatnya tergiur untuk segera memeluk kasur dan terlelap. Namun, permintaan Ayah untuk datang ke ruang keluarga tak dapat ditolaknya.
Cakka melirik jam dinding yang dari tadi mengisi kesunyian. Sudah hampir sepuluh menit Ayah tidak membuka mulutnya. Ia tak mengerti, padahal tadi Ayah begitu ngotot menyuruhnya keluar. Namun, sekarang ia tampak tak bisa berbicara sepatah katapun. Raut wajahnya menunjukkan rasa tegang. Apakah telah terjadi sesuatu?

"Kka." Ayah akhirnya bersuara. Kepalanya yang tadi agak tertunduk ia angkat untuk menatap wajah anak semata wayangnya. Semoga saja ini artinya Ayah sudah siap untuk mengatakan semua yang ingin dibicarakannya. Cakka benar-benar ingin cepat tidur untuk menyuplai energi. Besok ia harus menghadapi ujian musik.
"Sebetulnya kau punya adik."
Mata Cakka segera membulat mendengarnya. Menunggu beberapa lama sampai empat kata keluar dari mulut Ayah cukup membuatnya terkejut. Rasa lelahnya lenyap begitu saja. Rasa ingin tidur segera berganti dengan rasa penasaran. Dengan ragu-ragu, Cakka menjawab,  "Adik?"
Ayah mengangguk pelan.
Cakka agak menundukkan kepalanya. Ia jelas sangat terkejut. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama tinggal berdua bersama Ayah, ia tak pernah merasa mempunyai saudara. Dulu ia tinggal bertiga dengan Bunda, namun sayang, kecelakaan merenggut seluruh jiwa raganya saat ia masih berumur tiga tahun. Makanya, ia hanya tinggal berdua dengan Ayah. Entah harus senang atau sedih mendengar hal ini.

J L J

Hari ini hari Sabtu. Itu artinya Cakka pulang pagi dari sekolahnya. Begitu sampai di rumah, Cakka langsung duduk di depan kanvas yang ditaruh dengan rapi di meja belajarnya. Wajahnya serius menatap hasil karyanya yang masih setengah jadi. Dengan hati-hati, Cakka menggunakan tangannya untuk menggoreskan semua ilham yang telah muncul di kepalanya. Duduk dan menggambar di sana memang sangat menyenangkan. Selain bisa menenangkan pikiran, ia juga bisa membuat hati yang gelisah menjadi lega. Setiap goresan yang ia tuangkan di kanvas itu mempunyai maknanya masing-masing.
Namun, kali ini pikirannya tak bisa benar-benar tenang. Bukannya merasa lega, namun masih ada rasa penasaran dalam dirinya. Ia teringat kembali dengan kata-kata Ayah kemarin. Setelah Ayah membongkar sedikit pikiran yang telah lama ia pendam itu, banyak pertanyaan yang tersirat di dalam benaknya. Seperti apa adiknya? Bagaimana sifatnya? Apa hobinya? Dia bersekolah dimana? Apa selama ini dia hidup dengan baik? Dan mengapa ia bisa-bisa tak mengetahui hal ini?
"Kenapa Ayah tak pernah memberitahuku?" Saat itu Cakka benar-benar ingin tahu. Ia sadar Ayah telah membohonginya sejak lama. Namun, itu tidak penting. Yang terpenting adalah dimana adiknya sekarang. Dan saat itu juga, Ayah tidak menceritakan semuanya dengan jelas.
"Mungkin sekarang kau belum bisa mengerti." katanya waktu itu. "Adikmu mirip sekali denganmu. Ia sangat suka dengan hal-hal seni. Andai saja dia tinggal bersama kita, mungkin kau akan akrab dengannya. Sayangnya, ia hanya tumbuh bersamamu sampai umur tiga tahun."
Cakka terdiam mendengarnya. Saat itu Cakka teringat kembali dengan pernyataannya saat masih kecil. Ia pernah berkata kalau rumah terlalu sepi jika hanya dia dan Ayah saja yang berhuni. Andai saja ada orang lain yang tinggal bersama mereka. Atas permintaan lamanya itu, Cakka memberanikan diri untuk bertanya, "Apa aku boleh mencarinya?"
Dan lagi-lagi, Ayah menjawabnya sambil tersenyum kecil dengan sebuah kalimat teka-teki, "Kau tak perlu mencarinya. Dia akan muncul di hadapanmu dengan sendirinya."
Cakka benar-benar tidak mengerti dengan jawaban Ayah itu. Ia sudah masuk ke dalam tingkat satu di SMA. Namun, rasanya ia masih terlalu kecil untuk mengerti teka-teki Ayah. Padahal, adiknya jelas tak mengenalnya setelah sekian lama tak bertemu. Lalu, bagaimana ia bisa menemukan adiknya tanpa melakukan pencarian?

J L J

Ray berjalan kaki sambil menghirup udara segar dari pagi yang cerah hari ini. Pagi ini ia ingin sekali mengunjungi taman untuk sekedar mencari pekerjaan. Ini baru jam sepuluh pagi, namun rumah Ray sudah sepi karena Bunda harus pergi bekerja pagi-pagi. Sementara Ray sudah kehilangan Ayah. Biasanya jam-jam seperti ini, ia memiliki banyak buku yang bisa ia baca. Namun, kali ini ia sedang bosan di rumah. Karena itu, Ray coba-coba menggunakan waktu untuk hal lain yang ada di luar. Taman itu sebetulnya tak ada nama. Namun, Ray sering menyebutnya dengan Taman Kebahagiaan.
Begitu Ray sampai di taman itu, Ray melihat kekosongan taman itu sendirian. Taman itu memang sering kosong di pagi hari. Akan lebih banyak orang pada sore hari. Tapi, itulah yang Ray suka. Ketenangan sering membuatnya merasa sangat damai. Pikiran yang membebani pikirannya selalu lenyap jika berhadapan dengan ketenangan. Ray juga sangat senang melihat bunga-bunga yang ada di sana.
Kali ini Ray tertarik dengan mawar-mawar putih yang sudah mekar di dekat ayunan. Ia mengambil satu dari kumpulan mawar itu. Kemudian, ia tersenyum menatapnya. Mawar itu pasti sangat senang, setiap hari pasti bisa bersama teman-temannya, beramai-ramai, bermekaran bersama. Berbeda dengannya yang hanya tinggal berdua dengan Bunda.
"Kakak."
Ray menoleh begitu mendengar suara anak kecil yang memanggilnya. Anak perempuan kecil tampak memegang ujung bajunya. Ia tersenyum menatap anak kecil itu, kemudian menyodorkan bunga mawar putih itu kepadanya. "Ini untukmu."
Anak kecil tersenyum lucu kepadanya sambil menerima bunga itu. Kemudian, ia menarik tangan Ray menuju sebuah ayunan yang ada di dekat mereka. "Dorongkan ayunannya, Kak! Noora sangat suka terbang dengan ayunan di sini!"
Ray tersenyum geli mendengarnya. Ia langsung mendorong ayunannya dari kecepatan yang rendah, kemudian semakin lama semakin cepat agar ia dapat terbang tinggi seperti yang diinginkannya. Ray tersenyum melihat keceriaan anak perempuan kecil itu begitu ia sampai di titik tertinggi. Ia benar-benar bahagia jika melihat orang lain bahagia seperti itu.
Setelah merasa dorongannya cukup, Ray mundur satu dua langkah, kemudian langsung celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang membuat perasaannya tersenyum selain gadis kecil tadi. Ah, itu dia! Ray segera menghampirinya di bangku panjang taman. Ia berjalan pelan-pelan ke arahnya dan tersenyum di hadapannya.
Orang itu adalah seorang laki-laki muda. Mungkin sebaya atau lebih tua beberapa tahun darinya. Wajahnya agak tertutup di balik kanvas, namun Ray jelas sudah menyadari kalau ia sejak tadi memperhatikannya. Ia mengintip sedikit goresan yang tertumpah di atasnya. Orang itu sampai kaget ketika menyadari ada seseorang yang memperhatikan gambarnya.
"Ah, maaf! Aku tak melihatmu ada di sini." katanya kaget, membuat Ray ingin tertawa geli. Lucu sekali wajah kagetnya. Sepertinya ia tak menyangka kalau objek yang ia jadikan sasaran akan menyadarinya.
"Gambarmu hebat." kata Ray sambil tersenyum.
"Terima kasih." kata Cakka sambil tersenyum malu. Kemudian, ia menaruh alat lukisnya sejenak dan  mengulurkan tangannya. "Padahal aku sudah berhati-hati, namun kau tetap bisa menyadari aku menjadikanmu sasaran. Maaf jika aku mengganggumu. Namaku Cakka."
"Ray."
"Duduklah. Aku bukan tipe orang yang menahan orang-orang demi kehebatan lukisanku." kata Cakka. Ray langsung duduk di sebelahnya, sementara Cakka melanjutkan lukisannya. "Karena sudah tertangkap basah, aku rasa aku harus menceritakan sesuatu padamu."
"Beberapa hari yang lalu, Ayah memberitahuku bahwa aku sebenarnya aku mempunyai seorang adik. Padahal, selama ini aku hanya tinggal berdua dengan Ayah." kata Cakka. "Sekarang aku sudah kelas SMA, namun aku baru mengetahuinya. Itupun Ayah tak menjelaskannya dengan jelas. Aku ingin mencarinya, namun Ayah justru berkata kalau dia akan muncul dengan sendirinya jika sudah waktunya."
Ray tersenyum mendengarnya. Dengan ragu-ragu, ia bertanya, "Bagaimana dengan Ibumu?"
"Aku tidak tahu siapa Bunda. Selama ini Ayah hanya berkata kalau Bunda mengalami kecelakaan dan meninggal saat aku tiga tahun. Makanya, tak heran aku tidak mengenalnya. Aku tak ingat bagaimana wajah Bunda."
Ray terdiam mendengar ucapan Cakka. Setelah itu, ia menundukkan kepalanya, tanda menyesal atas pertanyaannya. "Maaf."
Cakka menghentikan kegiatannya kemudian menoleh ke arah Ray. Ia tertawa kecil, kemudian menepuk pundak Ray pelan. "Kau tak perlu merasa bersalah. Aku sudah menerima takdirku hidup berdua dengan Ayah. Lagipula, aku sudah cukup bahagia hidup dengan banyak harapan yang indah. Namun, jika suatu saat mereka bisa terwujud, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini."
Ray tersenyum.

J L J

Hari ini Cakka bangun lebih pagi dari biasanya. Selain karena harus piket, Cakka juga ingin segera ke ruang musik untuk berlatih dengan gitarnya untuk yang terakhir kali sebelum ujian. Dengan cepat ia melahap roti bakar yang disiapkan oleh Ayah dan langsung berpamitan untuk pergi ke sekolahnya. Sekolahnya tak jauh dari rumah, ia berjalan kaki setiap hari untuk menghemat ongkos.
Sesampainya di sekolah, Cakka segera berjalan menuju kelasnya dan segera menaruh tas. Setelah itu, ia langsung membersihkan kelasnya agar terlihat lebih rapi. Setiap kolong meja ia periksa, kalau-kalau ada sampah yang tertinggal di dalamnya. Papan tulis ia hapus sampai bersih. Ia tulis tanggal hari ini di sudut papan tulis, kemudian ia juga merapikan barang-barang yang terlihat agak berantakan. Setelah itu, ia baru berjalan-jalan keliling sekolah sambil menunggu yang lainnya datang.
"Apa ini?" Cakka segera menghentikan kakinya ketika ia melihat sebuah pengumuman menarik di mading sekolah. Ia tatap sebuah kertas yang ditempel di ujung mading itu. Ternyata, sekolahnya akan mengadakan bazaar untuk memperingati ulang tahun sekolahnya yang ke 30. Akan ada banyak acara, games dan juga stand untuk jualan. Acaranya sama seperti tahun lalu, terbuka untuk umum. Melihat itu, Cakka pelan-pelan melirik ke arah tangannya yang menenteng sebuah kanvas kecil dan juga peralatan lukis. Tak lama setelah itu, ia tersenyum.
Cakka segera berjalan menuju suatu tempat dengan penuh gairah. Senyumannya tak sedikitpun pudar dari wajahnya. Ia naiki tangga sekolah dan segera memasuki satu ruangan yang terletak di lantai dua sekolahnya. Ia tahu gurunya pasti sudah datang. Sambil membuka pintu, ia langsung berseru memanggilnya, "Mr. Crafter!"
Mr. Crafter adalah seorang guru seni tingkat SMA di sekolahnya. Dan ia selalu duduk di ruang kesenian setiap pagi. Karena itu, Cakka sangat yakin kalau gurunya pasti akan ada di sana. Ia sedang duduk di dekat jendela dan langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang. Ia langsung tersenyum begitu melihat murid kesayangannya ada di hadapannya. "Ah, kau sudah datang rupanya. Rajin sekali."
"Yah, kau tau tugas seperti piket harus dijalankan dengan baik." jawab Cakka sambil tersenyum. "Mr., tadi aku tak sengaja melihat pengumuman tentang ulang tahun sekolah kita."
"Oh ya, semoga saja tahun ini tak kalah menarik dengan acara bazaar tahun lalu." kata Mr. Crafter berharap. "Kau pasti akan berpatisipasi untuk mengisi acara hiburan, bukan?"
Cakka menggeleng. "Kali ini aku mempunyai ide yang sangat hebat! Tentu saja, jika ruang kesenian belum dipesan untuk kegiatan apa-apa saat hari bazaar."
"Oh, tentu saja belum. Kami para guru masih menentukan acara apa saja yang akan diadakan untuk minggu depan. Memangnya kau sedang merencanakan apa?" tanya Mr. Crafter penasaran.
"Kau selalu bilang bahwa lukisan-lukisan tak kalah hebat dari Pablo Picasso. Jadi, bagaimana kalau aku ingin mengujinya dengan orang-orang luar?" kata Cakka sambil tersenyum. Ia tatap gurunya dengan penuh harap agar idenya dapat disetujui dan berjalan mulai minggu depan. Kata-katanya sedikit membuat Mr. Crafter berpikir, namun Cakka tetap sabar menunggu jawaban tanpa sedikitpun memudarkan senyumannya.

TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca terus sampai tamat ya!
Tuliskan komentar kalian di bawah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p