Saat itu
Cakka hanya diam mengunci mulutnya sambil menunggu Ayah mengatakan sesuatu.
Sekarang sudah jam tujuh malam, ia baru saja pulang dari sekolah karena ada
pelajaran tambahan. Lelahnya tubuh dan pikiran membuatnya tergiur untuk segera
memeluk kasur dan terlelap. Namun, permintaan Ayah untuk datang ke ruang
keluarga tak dapat ditolaknya.
Cakka
melirik jam dinding yang dari tadi mengisi kesunyian. Sudah hampir sepuluh
menit Ayah tidak membuka mulutnya. Ia tak mengerti, padahal tadi Ayah begitu
ngotot menyuruhnya keluar. Namun, sekarang ia tampak tak bisa berbicara sepatah
katapun. Raut wajahnya menunjukkan rasa tegang. Apakah telah terjadi sesuatu?
"Kka."
Ayah akhirnya bersuara. Kepalanya yang tadi agak tertunduk ia angkat untuk
menatap wajah anak semata wayangnya. Semoga saja ini artinya Ayah sudah siap
untuk mengatakan semua yang ingin dibicarakannya. Cakka benar-benar ingin cepat
tidur untuk menyuplai energi. Besok ia harus menghadapi ujian musik.
"Sebetulnya
kau punya adik."
Mata Cakka
segera membulat mendengarnya. Menunggu beberapa lama sampai empat kata keluar
dari mulut Ayah cukup membuatnya terkejut. Rasa lelahnya lenyap begitu saja.
Rasa ingin tidur segera berganti dengan rasa penasaran. Dengan ragu-ragu, Cakka
menjawab, "Adik?"
Ayah
mengangguk pelan.
Cakka agak
menundukkan kepalanya. Ia jelas sangat terkejut. Bagaimana tidak? Setelah
sekian lama tinggal berdua bersama Ayah, ia tak pernah merasa mempunyai
saudara. Dulu ia tinggal bertiga dengan Bunda, namun sayang, kecelakaan
merenggut seluruh jiwa raganya saat ia masih berumur tiga tahun. Makanya, ia
hanya tinggal berdua dengan Ayah. Entah harus senang atau sedih mendengar hal
ini.
J L J
Hari ini
hari Sabtu. Itu artinya Cakka pulang pagi dari sekolahnya. Begitu sampai di
rumah, Cakka langsung duduk di depan kanvas yang ditaruh dengan rapi di meja
belajarnya. Wajahnya serius menatap hasil karyanya yang masih setengah jadi.
Dengan hati-hati, Cakka menggunakan tangannya untuk menggoreskan semua ilham
yang telah muncul di kepalanya. Duduk dan menggambar di sana memang sangat
menyenangkan. Selain bisa menenangkan pikiran, ia juga bisa membuat hati yang
gelisah menjadi lega. Setiap goresan yang ia tuangkan di kanvas itu mempunyai
maknanya masing-masing.
Namun,
kali ini pikirannya tak bisa benar-benar tenang. Bukannya merasa lega, namun
masih ada rasa penasaran dalam dirinya. Ia teringat kembali dengan kata-kata
Ayah kemarin. Setelah Ayah membongkar sedikit pikiran yang telah lama ia pendam
itu, banyak pertanyaan yang tersirat di dalam benaknya. Seperti apa adiknya?
Bagaimana sifatnya? Apa hobinya? Dia bersekolah dimana? Apa selama ini dia
hidup dengan baik? Dan mengapa ia bisa-bisa tak mengetahui hal ini?
"Kenapa
Ayah tak pernah memberitahuku?" Saat itu Cakka benar-benar ingin tahu. Ia
sadar Ayah telah membohonginya sejak lama. Namun, itu tidak penting. Yang
terpenting adalah dimana adiknya sekarang. Dan saat itu juga, Ayah tidak
menceritakan semuanya dengan jelas.
"Mungkin
sekarang kau belum bisa mengerti." katanya waktu itu. "Adikmu mirip
sekali denganmu. Ia sangat suka dengan hal-hal seni. Andai saja dia tinggal
bersama kita, mungkin kau akan akrab dengannya. Sayangnya, ia hanya tumbuh
bersamamu sampai umur tiga tahun."
Cakka
terdiam mendengarnya. Saat itu Cakka teringat kembali dengan pernyataannya saat
masih kecil. Ia pernah berkata kalau rumah terlalu sepi jika hanya dia dan Ayah
saja yang berhuni. Andai saja ada orang lain yang tinggal bersama mereka. Atas
permintaan lamanya itu, Cakka memberanikan diri untuk bertanya, "Apa aku
boleh mencarinya?"
Dan
lagi-lagi, Ayah menjawabnya sambil tersenyum kecil dengan sebuah kalimat
teka-teki, "Kau tak perlu mencarinya. Dia akan muncul di hadapanmu dengan
sendirinya."
Cakka
benar-benar tidak mengerti dengan jawaban Ayah itu. Ia sudah masuk ke dalam
tingkat satu di SMA. Namun, rasanya ia masih terlalu kecil untuk mengerti
teka-teki Ayah. Padahal, adiknya jelas tak mengenalnya setelah sekian lama tak
bertemu. Lalu, bagaimana ia bisa menemukan adiknya tanpa melakukan pencarian?
J L J
Ray
berjalan kaki sambil menghirup udara segar dari pagi yang cerah hari ini. Pagi
ini ia ingin sekali mengunjungi taman untuk sekedar mencari pekerjaan. Ini baru
jam sepuluh pagi, namun rumah Ray sudah sepi karena Bunda harus pergi bekerja
pagi-pagi. Sementara Ray sudah kehilangan Ayah. Biasanya jam-jam seperti ini,
ia memiliki banyak buku yang bisa ia baca. Namun, kali ini ia sedang bosan di
rumah. Karena itu, Ray coba-coba menggunakan waktu untuk hal lain yang ada di
luar. Taman itu sebetulnya tak ada nama. Namun, Ray sering menyebutnya dengan
Taman Kebahagiaan.
Begitu Ray
sampai di taman itu, Ray melihat kekosongan taman itu sendirian. Taman itu
memang sering kosong di pagi hari. Akan lebih banyak orang pada sore hari.
Tapi, itulah yang Ray suka. Ketenangan sering membuatnya merasa sangat damai.
Pikiran yang membebani pikirannya selalu lenyap jika berhadapan dengan
ketenangan. Ray juga sangat senang melihat bunga-bunga yang ada di sana.
Kali ini
Ray tertarik dengan mawar-mawar putih yang sudah mekar di dekat ayunan. Ia
mengambil satu dari kumpulan mawar itu. Kemudian, ia tersenyum menatapnya.
Mawar itu pasti sangat senang, setiap hari pasti bisa bersama teman-temannya,
beramai-ramai, bermekaran bersama. Berbeda dengannya yang hanya tinggal berdua
dengan Bunda.
"Kakak."
Ray
menoleh begitu mendengar suara anak kecil yang memanggilnya. Anak perempuan
kecil tampak memegang ujung bajunya. Ia tersenyum menatap anak kecil itu,
kemudian menyodorkan bunga mawar putih itu kepadanya. "Ini untukmu."
Anak kecil
tersenyum lucu kepadanya sambil menerima bunga itu. Kemudian, ia menarik tangan
Ray menuju sebuah ayunan yang ada di dekat mereka. "Dorongkan ayunannya,
Kak! Noora sangat suka terbang dengan ayunan di sini!"
Ray
tersenyum geli mendengarnya. Ia langsung mendorong ayunannya dari kecepatan
yang rendah, kemudian semakin lama semakin cepat agar ia dapat terbang tinggi
seperti yang diinginkannya. Ray tersenyum melihat keceriaan anak perempuan
kecil itu begitu ia sampai di titik tertinggi. Ia benar-benar bahagia jika
melihat orang lain bahagia seperti itu.
Setelah
merasa dorongannya cukup, Ray mundur satu dua langkah, kemudian langsung
celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu yang membuat
perasaannya tersenyum selain gadis kecil tadi. Ah, itu dia! Ray segera
menghampirinya di bangku panjang taman. Ia berjalan pelan-pelan ke arahnya dan
tersenyum di hadapannya.
Orang itu
adalah seorang laki-laki muda. Mungkin sebaya atau lebih tua beberapa tahun
darinya. Wajahnya agak tertutup di balik kanvas, namun Ray jelas sudah
menyadari kalau ia sejak tadi memperhatikannya. Ia mengintip sedikit goresan
yang tertumpah di atasnya. Orang itu sampai kaget ketika menyadari ada
seseorang yang memperhatikan gambarnya.
"Ah,
maaf! Aku tak melihatmu ada di sini." katanya kaget, membuat Ray ingin
tertawa geli. Lucu sekali wajah kagetnya. Sepertinya ia tak menyangka kalau
objek yang ia jadikan sasaran akan menyadarinya.
"Gambarmu
hebat." kata Ray sambil tersenyum.
"Terima
kasih." kata Cakka sambil tersenyum malu. Kemudian, ia menaruh alat
lukisnya sejenak dan mengulurkan
tangannya. "Padahal aku sudah berhati-hati, namun kau tetap bisa menyadari
aku menjadikanmu sasaran. Maaf jika aku mengganggumu. Namaku Cakka."
"Ray."
"Duduklah.
Aku bukan tipe orang yang menahan orang-orang demi kehebatan lukisanku."
kata Cakka. Ray langsung duduk di sebelahnya, sementara Cakka melanjutkan
lukisannya. "Karena sudah tertangkap basah, aku rasa aku harus
menceritakan sesuatu padamu."
"Beberapa
hari yang lalu, Ayah memberitahuku bahwa aku sebenarnya aku mempunyai seorang
adik. Padahal, selama ini aku hanya tinggal berdua dengan Ayah." kata
Cakka. "Sekarang aku sudah kelas SMA, namun aku baru mengetahuinya. Itupun
Ayah tak menjelaskannya dengan jelas. Aku ingin mencarinya, namun Ayah justru
berkata kalau dia akan muncul dengan sendirinya jika sudah waktunya."
Ray
tersenyum mendengarnya. Dengan ragu-ragu, ia bertanya, "Bagaimana dengan
Ibumu?"
"Aku
tidak tahu siapa Bunda. Selama ini Ayah hanya berkata kalau Bunda mengalami
kecelakaan dan meninggal saat aku tiga tahun. Makanya, tak heran aku tidak
mengenalnya. Aku tak ingat bagaimana wajah Bunda."
Ray
terdiam mendengar ucapan Cakka. Setelah itu, ia menundukkan kepalanya, tanda
menyesal atas pertanyaannya. "Maaf."
Cakka
menghentikan kegiatannya kemudian menoleh ke arah Ray. Ia tertawa kecil,
kemudian menepuk pundak Ray pelan. "Kau tak perlu merasa bersalah. Aku
sudah menerima takdirku hidup berdua dengan Ayah. Lagipula, aku sudah cukup
bahagia hidup dengan banyak harapan yang indah. Namun, jika suatu saat mereka
bisa terwujud, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini."
Ray
tersenyum.
J L J
Hari ini
Cakka bangun lebih pagi dari biasanya. Selain karena harus piket, Cakka juga
ingin segera ke ruang musik untuk berlatih dengan gitarnya untuk yang terakhir
kali sebelum ujian. Dengan cepat ia melahap roti bakar yang disiapkan oleh Ayah
dan langsung berpamitan untuk pergi ke sekolahnya. Sekolahnya tak jauh dari
rumah, ia berjalan kaki setiap hari untuk menghemat ongkos.
Sesampainya
di sekolah, Cakka segera berjalan menuju kelasnya dan segera menaruh tas.
Setelah itu, ia langsung membersihkan kelasnya agar terlihat lebih rapi. Setiap
kolong meja ia periksa, kalau-kalau ada sampah yang tertinggal di dalamnya.
Papan tulis ia hapus sampai bersih. Ia tulis tanggal hari ini di sudut papan
tulis, kemudian ia juga merapikan barang-barang yang terlihat agak berantakan.
Setelah itu, ia baru berjalan-jalan keliling sekolah sambil menunggu yang
lainnya datang.
"Apa
ini?" Cakka segera menghentikan kakinya ketika ia melihat sebuah
pengumuman menarik di mading sekolah. Ia tatap sebuah kertas yang ditempel di
ujung mading itu. Ternyata, sekolahnya akan mengadakan bazaar untuk
memperingati ulang tahun sekolahnya yang ke 30. Akan ada banyak acara, games
dan juga stand untuk jualan. Acaranya sama seperti tahun lalu, terbuka untuk
umum. Melihat itu, Cakka pelan-pelan melirik ke arah tangannya yang menenteng
sebuah kanvas kecil dan juga peralatan lukis. Tak lama setelah itu, ia
tersenyum.
Cakka
segera berjalan menuju suatu tempat dengan penuh gairah. Senyumannya tak
sedikitpun pudar dari wajahnya. Ia naiki tangga sekolah dan segera memasuki
satu ruangan yang terletak di lantai dua sekolahnya. Ia tahu gurunya pasti
sudah datang. Sambil membuka pintu, ia langsung berseru memanggilnya, "Mr.
Crafter!"
Mr. Crafter
adalah seorang guru seni tingkat SMA di sekolahnya. Dan ia selalu duduk di
ruang kesenian setiap pagi. Karena itu, Cakka sangat yakin kalau gurunya pasti
akan ada di sana. Ia sedang duduk di dekat jendela dan langsung menoleh begitu
mendengar suara seseorang. Ia langsung tersenyum begitu melihat murid
kesayangannya ada di hadapannya. "Ah, kau sudah datang rupanya. Rajin
sekali."
"Yah,
kau tau tugas seperti piket harus dijalankan dengan baik." jawab Cakka
sambil tersenyum. "Mr., tadi aku tak sengaja melihat pengumuman tentang
ulang tahun sekolah kita."
"Oh
ya, semoga saja tahun ini tak kalah menarik dengan acara bazaar tahun
lalu." kata Mr. Crafter berharap. "Kau pasti akan berpatisipasi untuk
mengisi acara hiburan, bukan?"
Cakka
menggeleng. "Kali ini aku mempunyai ide yang sangat hebat! Tentu saja,
jika ruang kesenian belum dipesan untuk kegiatan apa-apa saat hari
bazaar."
"Oh,
tentu saja belum. Kami para guru masih menentukan acara apa saja yang akan
diadakan untuk minggu depan. Memangnya kau sedang merencanakan apa?" tanya
Mr. Crafter penasaran.
"Kau
selalu bilang bahwa lukisan-lukisan tak kalah hebat dari Pablo Picasso. Jadi,
bagaimana kalau aku ingin mengujinya dengan orang-orang luar?" kata Cakka
sambil tersenyum. Ia tatap gurunya dengan penuh harap agar idenya dapat
disetujui dan berjalan mulai minggu depan. Kata-katanya sedikit membuat Mr.
Crafter berpikir, namun Cakka tetap sabar menunggu jawaban tanpa sedikitpun
memudarkan senyumannya.
TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca terus sampai tamat ya!
Tuliskan komentar kalian di bawah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p