Rabu, 16 Juli 2014

Cerpen | Adikku Sayang



“Ray! Cepat kembali atau kau akan menyesal!”
Cakka tak henti–hentinya mengejar adiknya yang benar-benar mengganggu ketenangannya di dalam rumah. Niatnya untuk segera tidur setelah menginjakkan kakinya di rumah hancur sudah ketika dia dikejutkan dengan kamar rapinya sudah menjadi kapal pecah. Padahal, badan Cakka sudah pegal-pegal karena baru selesai bermain bola bersama temannya.

“Hahaha... Bereskan sendiri kamarmu! Ayah dan Bunda sudah tiba!” kata Ray sambil tertawa keras melihat kakaknya yang cemberut sekaligus manyun karena melihat kamarnya yang berantakan.
“Ah, kau selalu mengganggu hidupku!” kata Cakka sambil masuk ke kamar. Dia segera merapikan kembali semua barang ke tempat semula agar dia bisa cepat-cepat tidur. “Dosa apa aku harus memiliki adik menyebalkan seperti dia. Aku jadi malas ikut makan malam! Mungkin bertemu dengannya sekali lagi akan membuatku meledak!”
Ray tertawa kecil melihat kakaknya yang kesal. Kemudian, Ray langsung berjalan ke ruang makan untuk melihat menu makanan hari ini. Begitu melihat makanan kesukaannya terhidangkan di meja, ia langsung tersenyum lebar. “Bunda memang tahu kesukaan Ray!”
Bunda tertawa mendengar ucapan anak bungsunya. “Tentu saja. Hari ini juga ada ayam untuk kakakmu. Kau tidak memanggilnya turun? Kita akan segera memulai makan malam.”
“Dia bermain bola seharian bersama Iqbaal, sepertinya akan langsung tidur setelah dia membereskan kamarnya.” kata Ray sambil menahan tawa. “Lalu, bagaimana dengan Ayah?”
“Ayah akan turun sebentar lagi.” kata Bunda sambil tersenyum.
Ray manggut-manggut mengerti. Kemudian, dia kembali menatap ke arah lantai atas. Belum ada tanda-tanda kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi, Ray sangat yakin kalau sebentar lagi kakaknya pasti akan berteriak dengan apa yang diperbuatnya. Mengingat semua yang telah dilakukannya kepada kamar Cakka, Ray benar-benar merasa geli.
“RAAAAYY!!! KAU APAKAN BARANG-BARANG BERHARGAKU?!”
Ray langsung tertawa mendengar suara Cakka yang tiba–tiba menggema sampai ke ruang makan. Tampaknya Cakka sudah membongkar kamarnya dengan baik. Ray langsung segera pergi ke kamar Cakka diiringi dengan tatapan Bunda yang keheranan melihat tingkah anak bungsunya. Ya, tadi Ray sempat merusak beberapa barang Cakka. Dan tentu ide jahilnya tak pernah habis untuk membuat rumah menjadi heboh.
Begitu sampai di kamar Cakka, Ray langsung tertawa melihat wajah panik Cakka. Dia tampak memandang adiknya dengan tatapan membunuh. Masalahnya, barang-barang yang dirusak Ray itu benar-benar ia butuhkan sehari-hari. “Kau apakan ponsel dan komikku? Bukankah kau yang paling tahu kalau aku butuh dua benda itu setiap hari?!”
Cakka pikir Ray mungkin akan merasa bersalah jika dia marah. Tapi tidak. Dia salah. Tanpa rasa bersalah, Ray justru menjawab santai. “Aku memakai ponselmu sebentar ketika kau sedang pergi. Bukan salahku kalau dia tiba-tiba error, bukan?”
“Lalu, komik?” tanya Cakka sambil menahan emosinya.
“Kau sudah membaca komik-komik itu bertahun-tahun. Kertas-kertas di dalamnya sudah hampir sobek dan aku tidak sengaja menariknya terlalu kencang saat membacanya.”
“Sudah, lebih baik kau turun dan katakan pada Bunda kalau aku tidak ikut makan malam! Kepalaku sudah terlalu pusing menghadapimu!”
“Sudah, lebih baik kau turun dan katakan pada Bunda kalau aku tidak ikut makan malam! Kepalaku sudah terlalu pusing menghadapimu!” kata Cakka mendengus sebal. Tanpa banyak bicara lagi dia langsung mendorong tubuh Ray keluar kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Ia benar-benar butuh istirahat hari ini. Ray hanya tertawa kecil melihatnya. Kemudian, dia langsung pergi menuju ruang makan kembali.
“Ayah!” kata Ray sambil tersenyum melihat Ayah telah duduk di kursi sambil menunggu jam makan. “Hari kerja yang menyenangkan?”
Ayah tersenyum, kemudian mengangguk. “Tentu saja, Ray. Bagaimana denganmu? Kau tidak menyusahkan Bunda dan Cakka, bukan? Panggillah kakakmu untuk turun makan.”
“Aku selalu menjadi anak baik, Yah.” kata Ray sambil tertawa. “Cakka ingin segera tidur. Dia bilang tidak ingin ikut makan malam.”
“Ah, Ayah tahu kau masih sering menyusahkan kakakmu.”
Ray nyengir. “Menyusahkan Cakka itu sangat menyenangkan, Yah!”
“Kebiasaanmu itu harus dihilangkan, Ray. Kau adalah saudara Cakka satu-satunya, seharusnya kau akur dengannya. Ingat, hukum karma masih berlaku.” nasehat Bunda.
Ray tersenyum lebar memamerkan giginya sambil menunjukkan peace dengan tangannya. Ya, itulah jurusnya jika sudah dimarahi oleh Ayah dan Bunda. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi dengan wajah memelas. Tapi, semua orang di rumah juga tahu kalau cepat atau lambat Ray pasti menjaili Cakka lagi.
“Baiklah, ayo kita mulai makan. Jatah Cakka bisa disimpan untuk besok.”
“Oke!”

---

Iqbaal hanya menggelengkan kepalanya melihat wajah Cakka yang begitu kusut ketika dia datang ke rumahnya. Bahkan nada bicaranya juga ketus. Bertahun-tahun menjadi sahabat Cakka sudah membuatnya hafal dengan tabiat sahabatnya tersebut. Pasti dia mempunyai masalah. Dan masalahnya itu selalu masalah yang sama. Sejak dia menginjakkan kaki di rumah Iqbaal tadi, dia terus menceritakan kejahilan Ray kemarin tanpa henti. Tapi, Iqbaal bukannya membantu, namun justru meledeknya. “Bukankah kau bisa membeli yang baru jika dia merusaknya? Keluargamu itu sudah seperti mesin ATM, tahu!”
Cakka melotot mendengar saran Iqbaal. “Itu benar-benar saran paling tidak bermutu yang pernah kudengar dari seorang calon ustad.”
 Iqbaal tertawa mendengarnya. Ya, dia memang bercita-cita menjadi ustad. Namun, kadang-kadang dia juga suka bercanda dengan sahabatnya itu. Ia tepuk pundak Cakka pelan untuk menenangkan sahabatnya. “Lebih baik kau berdoa agar Ray meminta maaf kepadamu nanti, Kka.”
 “Amin!”

----

Betapa terkejutnya Cakka ketika dia melihat Ray sedang diam sambil menundukkan kepalanya saat dia pulang. Pasalnya, anak itu tak pernah bisa diam. Namun, sekarang dia hanya diam di kamarnya. Yang lebih mengejutkannya lagi, terdengar suara isakan pelan dari adiknya tersebut. Pelan-pelan ia hampiri adiknya itu dan duduk di sampingnya. “Ray, kau menangis?”
Ray menggeleng cepat. “Jangan panggil aku Ray kalau aku menangis!”
Cakka diam. Padahal, sudah terlihat jelas bahwa adiknya itu sedang tidak dalam keadaan baik. Ia tepuk pundak pelan. Kemudian, dia melirik ke arah benda yang sedang dipegang adiknya kuat-kuat. “Apa ponselmu rusak?”
Ray mengangguk.
“Boleh kulihat?” tanya Cakka sambil mengulurkan tangannya. Setelah menerima ponsel Ray, ia langsung mencoba menekan semua tombol yang mungkin bisa memperbaiki ponsel adiknya. Cakka bahkan mencabut baterainya, tapi tetap saja nihil. Ia menghela nafas, kemudian menoleh ke arah adiknya kembali. “Apa yang terjadi, Ray?”
“Aku tak sengaja menendangnya sampai jatuh ke lantai.”
Cakka diam. Dia menaruh kembali ponsel milik Ray ke atas meja kemudian langsung pergi meninggalkan kamar Ray. Beberapa saat kemudian, dia kembali sambil membawa sesuatu di tangannya. Dia kembali duduk di samping adiknya dna menyodorkan benda tersebut kepada adiknya.
Ray yang melihatnya hanya terdiam. Tak mengerti maksudnya.
“Pakailah.” kata Cakka sambil tersenyum. “IPhone ini untukmu sementara. Sampai aku berhasil memiliki cukup uang untuk membelikanmu ponsel yang baru.”
“Tapi... bagaimana denganmu?” tanya Ray enggan menerimanya.
“Kau bukannya tak tahu kalau aku memiliki banyak ponsel. Selain IPhone, aku masih memiliki ponsel yang kau rusak tempo hari, juga tablet. Kau tak perlu khawatir denganku.” kata Cakka. Ia segera menaruh ponsel tersebut ke tangan Ray. Ray sampai tak bisa berkata-kata.
Cakka menatap Ray heran. “Kenapa?”
Ray membuang mukanya menatap ke arah lain. “Aku selalu tertawa melihatmu menderita. Tapi, kau justru menolongku ketika aku butuh bantuan.”
Cakka tersenyum. “Ya, kau memang menyebalkan. Kau selalu membuatku emosi dengan segala kejahilanmu. Tapi, sampai detik ini, kau tetap adikku satu-satunya. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu seperti ini. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menolongmu ketika kau kesusahan, bukan? Maaf kalau aku sering memarahimu.”
 Mata Ray berkaca-kaca mendengar ucapan Cakka. Kemudian, dia langsung memeluk kakaknya. Kini dia benar-benar menyesal karena telah menyusahkan kakaknya selama ini. Barang-barang yang dirusakinya sudah tak terhitung lagi. Ray benar-benar merasa beruntung memiliki kakak yang baik seperti Cakka. “Kenapa kau yang minta maaf? Aku yang seharusnya minta maaf padamu! Aku yang jahat!”
Cakka kaget mendengar suara tangisan Ray. Kemudian, tersenyum kecil sambil memeluk adiknya. Baru pertama kali dia mendengar Ray menangis karena perbuatannya sendiri. Cakka mengusap punggung Ray dengan lembut. “Ray, kau adalah adikku yang kusayangi. Semua memiliki barang berharga sebanyak apapun, tak akan membuat aku merasa lebih beruntung daripada memiliki adik sepertimu.”
Suasana haru langsung menguasai mereka selama Ray menangis. Kemudian, saat mereka melepaskan pelukan, kaki Cakka tak sengaja menyentuh sesuatu. Cakka melirik ke arah benda itu. Ray juga ikut menoleh ke arah benda itu sambil mengusap wajahnya yang kini udah basah sama air mata. Terlihat IPad Cakka telah ada di sana dalam keadaan tidak bernyawa. Dia nyengir menatap Cakka. Kemudian, langsung kabur.
“Jangan kabur kau, Raynald Putraa!” teriak Cakka sambil mengejar adiknya.
“Hahaha.. maafkan aku Cakkaa!” teriak Ray sambil kabur keluar rumah. Tapi kini dia tertawa bahagia. Sudah tidak ada lagi sifat jahilnya yang dulu selalu menyusahkan kakaknya. Cakkapun begitu. Dia sudah tak marah lagi dengan hal-hal kecil seperti itu. Ia sadar, selama ini harta karun yang harus seharusnya dia jaga dari apapun adalah Raynald Putra, adik kandungnya sendiri.

THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Nantikan ceritaku selanjutnya!

2 komentar:

  1. huh setelah saya baca.. cerpennya cukup bagus sob .. lanjutkan... mau baca yg lain dulu saya

    BalasHapus

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p