“Ray!
Cepat kembali atau kau akan menyesal!”
Cakka tak
henti–hentinya mengejar adiknya yang benar-benar mengganggu ketenangannya di
dalam rumah. Niatnya untuk segera tidur setelah menginjakkan kakinya di rumah
hancur sudah ketika dia dikejutkan dengan kamar rapinya sudah menjadi kapal
pecah. Padahal, badan Cakka sudah pegal-pegal karena baru selesai bermain bola
bersama temannya.
“Hahaha...
Bereskan sendiri kamarmu! Ayah dan Bunda sudah tiba!” kata Ray sambil tertawa
keras melihat kakaknya yang cemberut sekaligus manyun karena melihat kamarnya
yang berantakan.
“Ah, kau
selalu mengganggu hidupku!” kata Cakka sambil masuk ke kamar. Dia segera merapikan
kembali semua barang ke tempat semula agar dia bisa cepat-cepat tidur. “Dosa
apa aku harus memiliki adik menyebalkan seperti dia. Aku jadi malas ikut makan
malam! Mungkin bertemu dengannya sekali lagi akan membuatku meledak!”
Ray
tertawa kecil melihat kakaknya yang kesal. Kemudian, Ray langsung berjalan ke
ruang makan untuk melihat menu makanan hari ini. Begitu melihat makanan
kesukaannya terhidangkan di meja, ia langsung tersenyum lebar. “Bunda memang
tahu kesukaan Ray!”
Bunda
tertawa mendengar ucapan anak bungsunya. “Tentu saja. Hari ini juga ada ayam
untuk kakakmu. Kau tidak memanggilnya turun? Kita akan segera memulai makan
malam.”
“Dia
bermain bola seharian bersama Iqbaal, sepertinya akan langsung tidur setelah
dia membereskan kamarnya.” kata Ray sambil menahan tawa. “Lalu, bagaimana
dengan Ayah?”
“Ayah akan
turun sebentar lagi.” kata Bunda sambil tersenyum.
Ray
manggut-manggut mengerti. Kemudian, dia kembali menatap ke arah lantai atas.
Belum ada tanda-tanda kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi, Ray sangat
yakin kalau sebentar lagi kakaknya pasti akan berteriak dengan apa yang
diperbuatnya. Mengingat semua yang telah dilakukannya kepada kamar Cakka, Ray
benar-benar merasa geli.
“RAAAAYY!!!
KAU APAKAN BARANG-BARANG BERHARGAKU?!”
Ray
langsung tertawa mendengar suara Cakka yang tiba–tiba menggema sampai ke ruang
makan. Tampaknya Cakka sudah membongkar kamarnya dengan baik. Ray langsung
segera pergi ke kamar Cakka diiringi dengan tatapan Bunda yang keheranan
melihat tingkah anak bungsunya. Ya, tadi Ray sempat merusak beberapa barang
Cakka. Dan tentu ide jahilnya tak pernah habis untuk membuat rumah menjadi
heboh.
Begitu
sampai di kamar Cakka, Ray langsung tertawa melihat wajah panik Cakka. Dia
tampak memandang adiknya dengan tatapan membunuh. Masalahnya, barang-barang
yang dirusak Ray itu benar-benar ia butuhkan sehari-hari. “Kau apakan ponsel
dan komikku? Bukankah kau yang paling tahu kalau aku butuh dua benda itu setiap
hari?!”
Cakka
pikir Ray mungkin akan merasa bersalah jika dia marah. Tapi tidak. Dia salah.
Tanpa rasa bersalah, Ray justru menjawab santai. “Aku memakai ponselmu sebentar
ketika kau sedang pergi. Bukan salahku kalau dia tiba-tiba error, bukan?”
“Lalu,
komik?” tanya Cakka sambil menahan emosinya.
“Kau sudah
membaca komik-komik itu bertahun-tahun. Kertas-kertas di dalamnya sudah hampir
sobek dan aku tidak sengaja menariknya terlalu kencang saat membacanya.”
“Sudah,
lebih baik kau turun dan katakan pada Bunda kalau aku tidak ikut makan malam!
Kepalaku sudah terlalu pusing menghadapimu!”
“Sudah,
lebih baik kau turun dan katakan pada Bunda kalau aku tidak ikut makan malam!
Kepalaku sudah terlalu pusing menghadapimu!” kata Cakka mendengus sebal. Tanpa
banyak bicara lagi dia langsung mendorong tubuh Ray keluar kamarnya dan menutup
pintu dengan keras. Ia benar-benar butuh istirahat hari ini. Ray hanya tertawa
kecil melihatnya. Kemudian, dia langsung pergi menuju ruang makan kembali.
“Ayah!”
kata Ray sambil tersenyum melihat Ayah telah duduk di kursi sambil menunggu jam
makan. “Hari kerja yang menyenangkan?”
Ayah
tersenyum, kemudian mengangguk. “Tentu saja, Ray. Bagaimana denganmu? Kau tidak
menyusahkan Bunda dan Cakka, bukan? Panggillah kakakmu untuk turun makan.”
“Aku
selalu menjadi anak baik, Yah.” kata Ray sambil tertawa. “Cakka ingin segera
tidur. Dia bilang tidak ingin ikut makan malam.”
“Ah, Ayah
tahu kau masih sering menyusahkan kakakmu.”
Ray
nyengir. “Menyusahkan Cakka itu sangat menyenangkan, Yah!”
“Kebiasaanmu
itu harus dihilangkan, Ray. Kau adalah saudara Cakka satu-satunya, seharusnya
kau akur dengannya. Ingat, hukum karma masih berlaku.” nasehat Bunda.
Ray
tersenyum lebar memamerkan giginya sambil menunjukkan peace dengan tangannya. Ya, itulah jurusnya jika sudah dimarahi
oleh Ayah dan Bunda. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi dengan wajah
memelas. Tapi, semua orang di rumah juga tahu kalau cepat atau lambat Ray pasti
menjaili Cakka lagi.
“Baiklah,
ayo kita mulai makan. Jatah Cakka bisa disimpan untuk besok.”
“Oke!”
---
Iqbaal
hanya menggelengkan kepalanya melihat wajah Cakka yang begitu kusut ketika dia
datang ke rumahnya. Bahkan nada bicaranya juga ketus. Bertahun-tahun menjadi
sahabat Cakka sudah membuatnya hafal dengan tabiat sahabatnya tersebut. Pasti
dia mempunyai masalah. Dan masalahnya itu selalu masalah yang sama. Sejak dia
menginjakkan kaki di rumah Iqbaal tadi, dia terus menceritakan kejahilan Ray
kemarin tanpa henti. Tapi, Iqbaal bukannya membantu, namun justru meledeknya. “Bukankah
kau bisa membeli yang baru jika dia merusaknya? Keluargamu itu sudah seperti
mesin ATM, tahu!”
Cakka
melotot mendengar saran Iqbaal. “Itu benar-benar saran paling tidak bermutu yang
pernah kudengar dari seorang calon ustad.”
Iqbaal tertawa mendengarnya. Ya, dia
memang bercita-cita menjadi ustad. Namun, kadang-kadang dia juga suka bercanda
dengan sahabatnya itu. Ia tepuk pundak Cakka pelan untuk menenangkan
sahabatnya. “Lebih baik kau berdoa agar Ray meminta maaf kepadamu nanti, Kka.”
“Amin!”
----
Betapa
terkejutnya Cakka ketika dia melihat Ray sedang diam sambil menundukkan
kepalanya saat dia pulang. Pasalnya, anak itu tak pernah bisa diam. Namun,
sekarang dia hanya diam di kamarnya. Yang lebih mengejutkannya lagi, terdengar
suara isakan pelan dari adiknya tersebut. Pelan-pelan ia hampiri adiknya itu
dan duduk di sampingnya. “Ray, kau menangis?”
Ray
menggeleng cepat. “Jangan panggil aku Ray kalau aku menangis!”
Cakka
diam. Padahal, sudah terlihat jelas bahwa adiknya itu sedang tidak dalam
keadaan baik. Ia tepuk pundak pelan. Kemudian, dia melirik ke arah benda yang
sedang dipegang adiknya kuat-kuat. “Apa ponselmu rusak?”
Ray
mengangguk.
“Boleh
kulihat?” tanya Cakka sambil mengulurkan tangannya. Setelah menerima ponsel
Ray, ia langsung mencoba menekan semua tombol yang mungkin bisa memperbaiki ponsel
adiknya. Cakka bahkan mencabut baterainya, tapi tetap saja nihil. Ia menghela
nafas, kemudian menoleh ke arah adiknya kembali. “Apa yang terjadi, Ray?”
“Aku tak
sengaja menendangnya sampai jatuh ke lantai.”
Cakka
diam. Dia menaruh kembali ponsel milik Ray ke atas meja kemudian langsung pergi
meninggalkan kamar Ray. Beberapa saat kemudian, dia kembali sambil membawa
sesuatu di tangannya. Dia kembali duduk di samping adiknya dna menyodorkan
benda tersebut kepada adiknya.
Ray yang
melihatnya hanya terdiam. Tak mengerti maksudnya.
“Pakailah.”
kata Cakka sambil tersenyum. “IPhone ini untukmu sementara. Sampai aku berhasil
memiliki cukup uang untuk membelikanmu ponsel yang baru.”
“Tapi...
bagaimana denganmu?” tanya Ray enggan menerimanya.
“Kau
bukannya tak tahu kalau aku memiliki banyak ponsel. Selain IPhone, aku masih
memiliki ponsel yang kau rusak tempo hari, juga tablet. Kau tak perlu khawatir
denganku.” kata Cakka. Ia segera menaruh ponsel tersebut ke tangan Ray. Ray
sampai tak bisa berkata-kata.
Cakka
menatap Ray heran. “Kenapa?”
Ray
membuang mukanya menatap ke arah lain. “Aku selalu tertawa melihatmu menderita.
Tapi, kau justru menolongku ketika aku butuh bantuan.”
Cakka
tersenyum. “Ya, kau memang menyebalkan. Kau selalu membuatku emosi dengan
segala kejahilanmu. Tapi, sampai detik ini, kau tetap adikku satu-satunya. Aku
tidak akan membiarkan siapapun membuatmu seperti ini. Sudah menjadi tanggung
jawabku untuk menolongmu ketika kau kesusahan, bukan? Maaf kalau aku sering
memarahimu.”
Mata Ray berkaca-kaca mendengar ucapan
Cakka. Kemudian, dia langsung memeluk kakaknya. Kini dia benar-benar menyesal
karena telah menyusahkan kakaknya selama ini. Barang-barang yang dirusakinya
sudah tak terhitung lagi. Ray benar-benar merasa beruntung memiliki kakak yang
baik seperti Cakka. “Kenapa kau yang minta maaf? Aku yang seharusnya minta maaf padamu! Aku yang jahat!”
Cakka
kaget mendengar suara tangisan Ray. Kemudian, tersenyum kecil sambil memeluk
adiknya. Baru pertama kali dia mendengar Ray menangis karena perbuatannya
sendiri. Cakka mengusap punggung Ray dengan lembut. “Ray, kau adalah adikku
yang kusayangi. Semua memiliki barang berharga sebanyak apapun, tak akan
membuat aku merasa lebih beruntung daripada memiliki adik sepertimu.”
Suasana
haru langsung menguasai mereka selama Ray menangis. Kemudian, saat mereka
melepaskan pelukan, kaki Cakka tak sengaja menyentuh sesuatu. Cakka melirik ke
arah benda itu. Ray juga ikut menoleh ke arah benda itu sambil mengusap
wajahnya yang kini udah basah sama air mata. Terlihat IPad Cakka telah ada di
sana dalam keadaan tidak bernyawa. Dia nyengir menatap Cakka. Kemudian,
langsung kabur.
“Jangan
kabur kau, Raynald Putraa!” teriak Cakka sambil mengejar adiknya.
“Hahaha..
maafkan aku Cakkaa!” teriak Ray sambil kabur keluar rumah. Tapi kini dia
tertawa bahagia. Sudah tidak ada lagi sifat jahilnya yang dulu selalu
menyusahkan kakaknya. Cakkapun begitu. Dia sudah tak marah lagi dengan hal-hal
kecil seperti itu. Ia sadar, selama ini harta karun yang harus seharusnya dia
jaga dari apapun adalah Raynald Putra, adik kandungnya sendiri.
THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Nantikan ceritaku selanjutnya!

huh setelah saya baca.. cerpennya cukup bagus sob .. lanjutkan... mau baca yg lain dulu saya
BalasHapusHuah keren kak fanc!
BalasHapus