Iqbaal
menopang dagu dengan tangan kanannya sambil menghela nafasnya di teras. Raut
wajahnya saat itu sama sekali tidak bahagia. Bibirnya maju membentuk ekspresi
cemberut. Pipinya yang kurus agak menggembung karenanya. Entahlah, Iqbaal
merasa sangat sedih hari ini. Padahal, anak-anak yang lain sudah tak sabar
ingin memulai acara mereka.
Perlahan-lahan
ia keluarkan sebuah kertas dari dalam saku celananya. Ia tak pernah bosan
membaca tulisan rapi yang terdapat di dalamnya. Tulisan Bunda. Ia menggigit
bibirnya ke dalam dan menghela nafas lagi. Kemudian ia tatap langit cerah yang
ada nan jauh di sana. Dimana tempat Bunda berada sekarang.
Ya, Bunda
meninggalkannya saat Iqbaal masih duduk di kelas SD. Sudah hampir tujuh tahun
yang lalu. Semenjak hari itu, Iqbaal hanya tinggal bersama Ayah yang begitu
sibuk bekerja. Dan lagi-lagi, kesibukan Ayah membuatnya harus berada di sini.
Di sebuah tempat yang sudah seperti rumahnya sendiri. Di sebuah tempat ia bisa
mendapatkan kasih sayang orang tua. Di tempat ia bisa mendapatkan banyak teman.
Namun, semuanya terasa berbeda. Mereka bukan keluarga Iqbaal yang sebenarnya.
Bunda harus pergi, Sayang. Kau harus menjaga
dirimu baik-baik dan jangan pernah melawan Ayah. Karena mulai saat ini, Ayahmu
yang akan menjagamu.
Iqbaal
menopang dagunya lagi dengan kedua tangannya. Potongan dari surat Bunda
tersebut terus terdengar di pikiran Iqbaal setiap kali dia melamun. Lewat surat
itu, Bunda terasa masih hidup dan menasehatinya setiap waktu. Ingin rasanya dia
menyangkal, namun tidak. Ia tidak bisa. Bagaimanapun juga, itu adalah pesan
Bunda. Dia tak mungkin menolak keinginan malaikat yang selama ini berada di
dalam hatinya.
“Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t'lah hilang
Darimu yang mampu menyanjungku...”
“Andai
Bunda tahu Ayah meninggalkanku di sini, apa Bunda akan membiarkan semua ini
terjadi?” tanya Iqbaal kepada langit dengan tatapan dalam. Berharap Bunda dapat
mendengar dan menjawab keluh kesahnya.
Sejujurnya
tempat ini tidak buruk. Sama sekali tidak. Dia justru mendapatkan kehidupan
yang layak di sini. Namun, Iqbaal jelas akan lebih bahagia jika dia bisa
tinggal dengan orang tua kandungnya. Walaupun sekarang dia adalah anak piatu.
Tapi, ia tak dapat mengatakan hal itu kepada Ayah. Selain karena sibuk, Iqbaal
tidak tega membiarkan Ayah khawatir dengan keadaannya.
“Baal?”
tiba-tiba terdengar suara menghampirinya.
Iqbaal
segera menoleh ke belakang. Ia diam saja melihat seorang laki-laki mungil yang
sebaya dengannya menghampiri. Laki-laki itu segera duduk di samping Iqbaal.
“Kenapa
kau melamun di sini?” tanyanya heran. “Apa kau tidak ingin bergabung dengan
yang lain? Mereka semua sudah tak sabar untuk memulai acara hari Ibu.”
Iqbaal
tetap diam. Kemudian, kembali menatap langit di luar sana. “Entahlah, Al. Setiap
kali aku teringat dengan Bunda, aku ingin sekali menatap langit. Berharap aku
bisa terbang mengunjunginya. Berharap aku bisa memeluk tubuhnya.”
Laki-laki
itu terdiam. Ya, laki-laki itu jelas tahu bagaimana rasanya jika sedang
teringat bahwa dirinya tak memiliki orang tua. Dia hanyalah anak yatim piatu.
Lebih parah dari Iqbaal, dia tak tahu siapa orang tua kandungnya. Bundanya
meninggal karena melahirkannya, sementara Ayahnya menyusul karena depresi
kehilangan Bundanya. Tempat ini merupakan tempat dimana dia memulai hidupnya.
“Aldi...”
kata Iqbaal pelan, membuat Aldi menoleh. “Aku tahu kehidupanmu jauh lebih sulit
daripada aku. Tapi, apa kau tak pernah ingin tahu seperti apa Ayah dan
Bundamu?”
Aldi diam,
kemudian menatap ke arah depan. Ia menggelengkan kepalanya.
Iqbaal
agak terkejut melihat jawabannya itu. “Kenapa?”
Aldi
tersenyum. “Selama ini aku tak pernah memiliki petunjuk siapa mereka. Aku hanya
tahu kalau mereka telah pergi, dan Pamanku menitipkanku di sini karena tak ada
waktu untuk mengurus aku. Kupikir kalau aku bersikeras ingin mengetahui siapa
mereka, aku akan merasa sedih.”
Aldi menundukkan kepalanya. “Lagipula,
aku mempunyai banyak teman di sini. Mereka semua sudah seperti saudaraku
sendiri. Dan Miss Inca, dia sudah seperti Bundaku sendiri. Entahlah, aku hanya
tak ingin menghancurkan kebahagiaanku yang sekarang.”
Iqbaal
mengerutkan dahinya. “Menghancurkan... kebahagiaan?”
Aldi
menoleh ke arah Iqbaal kembali, kemudian mengangguk. “Mereka sudah tenang di
atas sana. Aku tidak boleh mengganggu mereka lagi. Aku yakin, siapapun mereka,
mereka pasti adalah seorang Ayah dan Bunda yang sangat menyayangiku.”
Iqbaal
diam saja. Ia kembali menundukkan kepalanya menatap surat Bunda yang masih
digenggamnya sejak tadi. Ia sudah hafal dengan pesan-pesan Bunda yang tertulis
di sana. Selain menghormati Ayah, Bunda juga berpesan agar dia harus tumbuh
besar menjadi anak yang hebat dan pemberani.
Jangan pernah menangis ketika kau ingat dengan
Bunda, karena Bunda akan selalu tersenyum ketika Bunda mengingatmu. Bunda
sangat menyayangimu, Iqbaal.
Iqbaal
membaca pelan sepotong kalimat terakhir yang tertulis dalam surat Bunda
tersebut. Itu adalah satu-satunya pesan Bunda yang benar-benar ia turuti selama
ini. Dia tidak menangis. Dia tak pernah membiarkan setetespun air mata jatuh karena
mengingat Bunda tercinta. Tapi, rasa sedih masih hinggap di ranting pohon
hatinya.
“Relakanlah
Bundamu, Baal.” kata Aldi tiba-tiba.
Iqbaal
hanya diam menatap Aldi.
Aldi tidak
menatap balik, namun ia tersenyum. “Kau masih memiliki Ayah.”
“Tapi, aku
juga ingin berada bersama Bunda.”
“Ya, aku
juga, Baal. Jika aku bisa, aku juga ingin.”
Suasana
hening seketika. Tidak ada yang berbicara lagi. Kedua sahabat itu menatap
langit bersama-sama, sambil menunggu siang nanti, saat acara akan dimulai. Di
tempat ini hanya mereka berdua yang masih memiliki kebiasaan merenung tentang
orang tua mereka. Tidak, sebenarnya hanya Iqbaal lebih sering karena Ayah
Iqbaal hanya datang melihatnya ketika dia pulang bekerja. Itupun kalau dia
tidak lembur.
“Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu
Untuk mengenangmu...”
Suasana
hening itu terus berlanjut hingga angin sepoi-sepoi datang menemani mereka.
Rambut mereka yang sudah tersisir rapi segera menari-nari karena tertiup angin.
Tapi, mereka tetap tidak ingin beranjak dari sana. Selain Iqbaal yang masih
betah berada di teras, Aldi juga mengetahui bahwa Iqbaal masih belum siap untuk
menjalani hari lagi di sini. Di panti asuhan tempat mereka tinggal. Sampai pada
akhirnya...
“Iqbaal!”
Iqbaal
yang merasa dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara dan langsung reflek
berdiri. Aldi juga menoleh ke arahnya. Mereka berdua melihat seorang laki-laki
paruh baya berjalan buru-buru menghampiri mereka. Iqbaal yang jelas mengenal
pria tersebut langsung berlari menghampirinya.
“Ayah!”
kata Iqbaal, langsung memeluk pria paruh baya tersebut.
“Iqbaal,
Ayah baru saja mendapatkan telepon dari Miss Inca. Katanya hari ini akan ada
acara hari Ibu dan Ayah harus datang.” kata Ayah sambil melepas pelukannya.
Iqbaal
mengangguk. Kemudian, memeluk Ayah kembali. “Terima kasih, Yah. Dan maaf,
selama ini aku selalu menganggap Ayah lebih mementingkan pekerjaan daripada
aku. Aku menganggap Ayah membuang aku. Tapi, sekarang aku mengerti, Ayah
meninggalkanku di sini karena ini adalah yang terbaik.”
Ayah
mengangguk. “Maafkan Ayah juga karena telah meninggalkanmu di panti asuhan,
Baal. Ayah tidak bermaksud membuangmu. Tapi, Ayah takut jika kau sendirian di
rumah. Bagaimanapun juga, Bunda ingin Ayah menjagamu dengan baik.”
Iqbaal
mengangguk. “Ayah sudah menjagaku dengan baik. Aku yang seharusnya menurut
kepada Ayah. Mulai hari ini aku berjanji akan membahagiakan Ayah. Biarlah semua
pesan Bunda dalam surat itu menjadi kenangan kita berdua tentang Bunda, Yah.”
Ayah
tersenyum, kemudian memeluk sekali lagi anak semata wayangnya itu. Betapa
bahagianya dia hari ini bisa melihat anaknya lebih awal daripada biasanya.
Dalam hatinya dia berjanji akan lebih memperhatikan Iqbaal agar dia tidak
merasa dibuang oleh orang tuanya sendiri.
Aldi hanya
tersenyum melihat adegan mengharukan itu. Dia mungkin tidak bisa memeluk Ayah
kandungnya seperti Iqbaal sekarang, tapi ia jelas bahagia melihat sahabatnya di
panti bisa bertemu Ayahnya di pagi menjelang siang ini. Dari dulu, Aldi selalu
yakin semua orang tua pasti menyayangi anaknya. Begitu juga dengan orang tua
Iqbaal.
“Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan yang terindah dalam hidupku...”
THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Kalau mau request cerpen silahkan ya :)
Nantikan ceritaku selanjutnya!

Cerpennya bagus, kalau bisa buatin cerpen tentang kehidupanku :D
BalasHapusKayak apa tuh? :D
Hapusijin share ya gan bagus bnget critanya ! terus sukses
BalasHapusIya makasihhh :D
Hapushihih, ceritanya bagus :D
BalasHapusshare gak ya?? follback ea kk
BalasHapusShare donggg :D
Hapus