Rabu, 23 Juli 2014

Cerpen | Kenangan Terakhir [2 Minggu Bersamamu]




Cakka P.O.V

Bagiku, musik adalah jiwaku. Semua yang aku lakukan dalam hidup ini, harus disertai dengan musik. Jangan heran. Aku terlahir dari keluarga musisi. Ayah adalah mantan gitaris yang cukup hebat, saat muda sering sekali mendapatkan prestasi dalam bidang musik dan juga pernah membuat sebuah album berisi lagu-lagu alunan gitar yang berhasil ia ciptakan. Ibu adalah seorang penulis lagu, lagu-lagunya pernah mendunia saat ia masih menginjak umur 18 tahun. Dan kakak laki-lakiku mempunyai grup band yang cukup terkenal. Tentu saja, dengan lingkungan seperti itu, Aku juga ingin 'bersinar' seperti keluargaku.
Aku berjalan menelusuri toko buku yang baru saja kudatangi sambil mendengarkan musik. Biasa, untuk mencari buku-buku lagu untuk sekedar menjernihkan otak setelah ia menjalani sekolah. Tahun ini aku mulai duduk di bangku SMA. Kelas IPS.
Sambil bersenandung sendiri dengan alunan musik yang kudengarkan di headset yang aku kenakan, aku terus berjalan sampai aku tiba di deretan buku bagian musik. Biasanya di sana banyak sekali buku lagu-lagu yang bisa kupakai sebagai 'alat penenang' hati. Yang tidak tersegel tentunya. Terlihat kurang kerjaan, namun pemilik toko jelas tak pernah keberatan jika aku hanya melihat-lihat saja. Mereka justru sudah sangat senang jika ada pelanggan datang.
Sejujurnya aku tak suka sekolah. Masuk kelas IPS juga tidak atas persetujuan orang tua. Belakangan ini hubunganku dengan keluarga agak kurang baik. Dan tentu saja, toko buku ini selalu menjadi tempatku bersembunyi dari semua masalah itu.
Senyumku merekah melihat buku-buku musik yang ada di sana. Sudah berapa lama aku tidak datang kemari? Banyak sekali buku-buku baru yang belum pernah kubaca sebelumnya. Dan seperti biasa, aku menemukan satu buku yang sangat kusukai. Ah! Ada satu lagu yang membuatku tertarik di dalamnya. Mungkin aku bisa menyanyikannya sejenak...



---

Ray P.O.V

Aku menghela napas dengan lega saat aku sampai di hadapan tempat itu. Senyumku merekah begitu aku melihat bangunan besar yang sudah lama kurindukan. Ah, syukurlah aku bisa menginjakkan kakiku lagi di sini. Sudah hampir dua bulan aku tak bisa kemana-mana, dan inilah kesempatanku untuk bersenang-senang lagi. Demi Ayah. Demi mimpiku untuk menjadi seorang pelukis yang terkenal.
Kumantapkan langkah kakiku masuk ke dalam tempat itu dan segera mencari tempat yang biasanya kuhampiri. Tentu saja rak bagian buku-buku menggambar! Aku sangat menyukai segala bentuk seni rupa, dan aku ingin menekuni semua tekniknya. Terlebih lagi seni rupa dengan pensil warna dan juga cat acrylic. Kedua teknik menggambar itu yang sedang kutekuni sekarang.
Aku tersenyum ketika melihat berbagai contoh-contoh gambar yang diberikan di berbagai buku seni rupa itu. Ah, betapa indahnya seni gambar di dunia ini. Mereka terlihat simpel, namun di dalamnya selalu tersimpan makna yang begitu berarti untuk hidup ini. Sama seperti yang telah banyak Ayah ciptakan, setiap karya memiliki arti yang indah. 
TIK...
Aku tersentak sejenak ketika buku yang sedang kupegang tiba-tiba ternoda dengan sebuah cairan yang menetes. Ah, lagi-lagi. Dia selalu mengganggu ketika aku sedang bersenang-senang. Untung saja aku tak memiliki kebiasaan membaca buku-buku yang tak tersegel plastik, sehingga tak pernah ada buku yang tak sengaja kunodai dengan cairan itu. Aku akan sangat merasa bersalah jika itu terjadi.
Cepat-cepat aku ambil tisu dari dalam kantung celanaku dan membersihkan buku itu agar bersih kembali. Aku juga langsung cepat-cepat menutup sumber cairan itu menetes dengan tisuku agar buku itu tak ternodai lagi.

"Bila kau mulai lelah berjalan, dan berfikir untuk menyerah, nyanyikanlah lagi mimpimu, kau akan bertahan...."

Tunggu. Suara itu indah sekali. Aku belum pernah mendengar seseorang bisa bernyanyi dengan begitu indah selain Ibu. Kutaruh kembali buku yang sedang kubaca itu, kemudian aku langsung pelan-pelan mencoba mencari darimana sumber suara itu. Ingin sekali aku mengenal orang yang mempunyai suara indah seperti dia. Pasti akan sangat menyenangkan.

"Nyalakanlah asa di hati, harapanmu tak boleh mati, gapailah mimpimu, keajaiban pasti terjadi...."

Suara itu lagi. Lagu itu. Aku tau lagu itu! Lagu itu sering dinyanyikan Ibu untukku ketika aku sedang putus asa maupun jika ingin tidur. Kupercepat langkah kakiku menuju sumber suara itu. Rasanya seperti berasal dari dua rak di seberang rak dimana aku berdiri. Benar saja, aku melihat seseorang sedang berdiri di sana sambil membaca buku, dan mulutnya bersenandung indah hingga membuatku bisa tertarik. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, memakai baju casual dan memakai headset di kepalanya. Siapa dia?

"Gapai mimpimu, jangan pernah berhenti sampai kau temukan apa yang kau cari..."

"Nyanyianmu indah sekali." 
Orang itu tampak terkejut ketika mendengar suaraku. Ia berhenti bersenandung dan menoleh ke arahku. Ia tak menjawab. Ia hanya melihatku dari ujung rambut sampai kakiku. Berkali-kali. Ah, apa ada yang salah dari diriku?
"Kau siapa?" Orang itu mengernyitkan dahi dan bertanya. 
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Langsung kuulurkan tanganku kepadanya. "Ray saja cukup. Kau?"
Orang itu membalas uluran tanganku, masih dengan pandangan heran. "Cakka Leorion."

---

Author P.O.V

Cakka tengah menuliskan sebuah lagu ketika ia teringat kembali dengan kejadian tempo hari di toko buku. Perkenalan singkat itu benar-benar terekam di memorinya dengan baik. Padahal, ia pun belum begitu mengenal siapa sebenarnya anak itu. Dan setiap kali ia mengingatnya, ia selalu tersenyum kecil. 
Kata orang, setiap kejadian terjadi karena suatu alasan. Namun, Cakka masih tak mengerti, apa alasan di balik pertemuannya dengan laki-laki mungil seperti Ray di toko buku waktu itu? Takdir kah? Mereka bahkan saling bertukar cerita setelah mengetahui bahwa mereka ternyata menekuni bidang seni. Walaupun dalam bentuk yang berbeda. Mereka bahkan berjanji akan bertemu lagi lusa untuk sekedar bermain-main. Katanya, Ray ingin sekali Cakka menemaninya saat melukis.
Namun, kenyataannya Cakka merasa Ray adalah laki-laki yang menyenangkan. Anak itu polos sekali. Dia selalu mengatakan apa yang benar-benar ia rasakan dalam hatinya. Ia juga duduk di bangku SMA, namun hatinya masih sepolos anak sekolah dasar. Atau mungkin, ia memang benar-benar anak yang sangat jujur dan malaikat.

---

Hari ini Cakka dan Ray duduk di pinggir danau yang ada lumayan jauh dari kota Jogjakarta untuk menghabiskan waktu bersama. Ralat, sebetulnya Ray yang mengajak Cakka untuk pergi ke sana, karena ia ingin melukis sebuah pemandangan danau yang indah. Cakka tentu tak bisa menolak kemauan laki-laki mungil yang satu ini. Entah kenapa, ia merasa harus membahagiakannya. Apalagi, katanya lukisan danau itu untuk seseorang. Setelah lukisannya jadi, ia harus segera memberikannya kepada orang yang sangat ia sayang. 
Cakka membawa gitar bersamanya. Selain untuk menemani Ray, Cakka juga ingin memainkan alunan-alunan singkat di pinggir danau itu, karena ia jelas tahu memainkan alat musik di sana sangat menyenangkan. Ia pernah mencobanya, dan hatinya selalu berhasil tenang kembali.
"Kau selalu membawa gitarmu kemana-mana?" tanya Ray, sambil melukis di depan kanvasnya.
"Aku tidak mungkin meninggalkan teman sejatiku, kawan." jawab Cakka sambil tersenyum. Tangannya tetap sibuk memetik-metik senar. "Kau juga pasti selalu membawa alat lukismu kemana-mana, kan?"
"Ah, aku jarang keluar. Aku lebih memilih untuk melukis di teras rumah." kata Ray. "Hei, minggu depan aku memiliki acara keluarga di rumah. Jam dua siang. Aku akan senang jika kamu mau ikut."
Cakka menghentikan petikannya dan menoleh ke arah Ray yang sibuk dengan kanvasnya. Lukisannya sudah setengah jadi. "Orang asing sepertiku boleh mengikuti acara keluargamu?" 
"Kau terlalu merendah diri. Semua yang kukenal adalah sahabatku. Jadi, kenapa tidak? Keluargaku pasti senang bisa mengenalmu." Ray tersenyum saat mengatakannya, sampai ia meneteskan cairan merah lagi. Darah. 
"Hei, kau kenapa?" kata Cakka kaget menatap Ray. "Hidungmu berdarah. Wajahmu pucat pula."
"Ah, maaf. Sudah biasa. Mungkin hanya kecapekan." kata Ray nyengir sambil mengambil tisu untuk segera membersihkan hidungnya dari darah yang ia tumpahkan. "Lagipula, kadang-kadang berguna juga, jika cat merahku sudah habis. Aku bisa memakainya."
"Apa? Kau melukis dengan darah itu?" kata Cakka tak percaya. "Kau ini seperti tak mampu membeli cat saja. Akan lebih baik jika kamu membeli yang baru."
Namun, Ray hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya. Ia melirik jam tangannya sejenak, kemudian segera membereskan alat-alat lukisnya. "Ayo kita pulang. Hari sudah mau gelap. Ayah dan Ibu pasti mencariku jika aku keluar terlalu lama."
"Memangnya kau anak kecil tak boleh keluar sendirian lama-lama?" kata Cakka lagi-lagi heran dengan temannya yang satu ini. Sungguh, sebenarnya anak ini agak aneh. Cakka tidak mengerti akan sifatnya. Penuh misteri sekali bocah mungil satu ini.
Ray tersenyum lagi, "Mereka menyayangiku, Cakka."

---

Walaupun terdengar aneh, namun harus diakui, Cakka sangat menanti hari untuk bertemu dengan Ray lagi minggu depan. Selain karena ia mulai merasa Ray adalah teman dekatnya, ia juga masih penasaran dengan semua kata-kata Ray yang begitu misterius. Tentang perkenalan mereka, tentang cat merahnya, juga tentang larangan orang tuanya. Rasa-rasanya Ray menyimpan hal-hal rahasia di dalam setiap kalimatnya.
Setelah ditunggu sekian lama, akhirnya hari itu tiba juga. Minggu! Sekitar jam dua kurang lima belas menit Cakka segera berangkat dengan kaus putihnya dirangkap kemeja biru kotak-kotak, beserta celana panjang pensil hitam. Seperti biasa, ia menggantungkan headsetnya di leher, dan juga gitarnya di bahu. Rumah Ray tidak terlalu jauh dari rumahnya. Karena itu, ia berjalan dengan santai.
Namun, begitu sampai di rumah Ray, ternyata rumahnya sepi. Tidak ada tanda-tanda bahwa di rumahnya sedang ada acara. Bahkan batang hidung Ray pun tak terlihat. Cakka sampai heran melihatnya. Bagaimana mungkin Ray membohonginya soal acara keluarga itu? Ah, padahal ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan bocah mungil itu lagi.
"Cakka?"
Cakka kaget sesaat begitu mendengar seseorang memanggilnya dari belakang. Ia melihat seorang Ibu dan seorang Bapak begitu ia membalikkan badannya. Ia langsung menyapa. "Tante, Om. Ayah dan Ibu Ray, ya? Maaf sudah masuk tanpa izin, Tan, Om. Ray mengundangku ke sini hari ini. Katanya ada acara."
Mereka berdua tersenyum, kemudian mengangguk. "Mari ikut kami, biar kami jelaskan semuanya tentang Ray."
Cakka diam saja, kemudian langsung mengikuti mereka. Ayah dan Ibu Ray membawa pergi dengan mobil mereka. Bertiga saja dengan beberapa barang yang ada di bagasi. Tanpa ada Ray. Membingungkan sekali, terlebih lagi orang tuanya mengatakan bahwa mereka akan menjelaskan semuanya tentang anak mereka. Memangnya ada apa dengan Ray?
Begitu sampai di tempat tujuan, Cakka turun dari mobil dalam diam sementara Ayah dan Ibu Ray mengambil beberapa barang di bagasi mobil mereka. Tubuhnya tiba-tiba merinding melihat tempat dimana orang tua Ray membawanya. Tempat ini sepi. Tempat ini merupakan tempat peristirahatan. Ini tidak mungkin merupakan tempat acara yang dimaksud Ray. Untuk apa mereka mengadakan acara di tempat peristirahatan seram seperti ini? Banyak makam begini. Firasat Cakka menjadi tidak enak.
Tak lama kemudian, Ayah dan Ibu Ray mengajak Cakka untuk masuk ke dalam tempat peristirahatan itu. Mereka berdua membawa Cakka ke salah satu makam yang ada di sana. Kemudian, membiarkan Cakka melihat makam itu. Cakka sempat kaget, kemudian ia langsung syok. Tidak mungkin!!!!!!!!!!!
"Tante... Om..." kata Cakka dengan terbata-bata. Rasanya ingin berbicara, namun lidahnya tiba-tiba kelu.
"Ray, anak bungsu kami, merupakan anak yang sangat baik. Ia disenangi banyak orang di sekolahnya. Teman-temannya juga banyak. Sejak kecil, ia sangat penurut, dan dia sudah jelas berambisi untuk menjadi pelukis yang sangat hebat seperti Ayahnya. Sayang sekali hidupnya telah diatur dan terpaksa terbatasi oleh penyakit leukimia yang dideritanya sejak kelas tiga SD." kata Ibu Ray mulai bercerita.
"Dulu, saat ia masih kelas enam SD, ia sempat sembuh karena kemauannya yang sangat tinggi untuk segera pulih. Namun, kanker itu menyerang dengan lebih ganas lagi dari yang sebelumnya saat ia beranjak dewasa. Dan ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap bisa menjadi orang yang kuat dan sehat seperti orang lain. Namun, kondisinya sukar sekali membaik. Semakin hari, kondisinya justru menurun. Sampai ia meminta kami untuk memberinya waktu di luar rumah sakit selama dua minggu. Untuk membuat kenangan terakhir dalam hidupnya, karena ia sadar waktunya tak akan lama lagi." Ayah Ray menambahkan.
"Dengan segala pertimbangan dan permohonan kepada Dokter, saat itu juga Ray bisa keluar dari rumah sakit. Ia juga bisa kembali melukis di luar rumah. Selain di teras rumah kami. Kemudian, dia juga bertemu denganmu di toko buku. Ia senang sekali berteman denganmu, Cakka." kata Ibu Ray. "Lagu yang kamu nyanyikan di toko buku itu, adalah lagu yang sering Tante nyanyikan untuknya, jika dia sedang butuh semangat. Mungkin itu juga yang membuat Ray tertarik untuk berteman denganmu."
"Jadi.. karena itu Ray tak boleh terlalu lama berada di luar rumah? Karena itu, dia sering mimisan? Karena itu... dia lebih memilih untuk melukis di teras rumah daripada di luar? Karena itu... dia ingin berteman denganku?" tanya Cakka sambil menatap makam yang ada di hadapannya. Ia masih belum percaya kalau tempat peristirahatan yang ada di hadapannya ini adalah tempat peristirahatan Ray.
"Selama ini banyak teman-temannya yang mengunjungi dan menghibur dia jika dia menginap di rumah sakit. Tapi, Ray ingin sekali mempunyai kenangan indah yang terakhir bersama orang yang spesial. Yang bisa membuatnya senang di hari-hari terakhirnya. Dan orang itu adalah kamu, Cakka." kata Ibu Ray lagi.
"Ray mengajakmu untuk datang ke rumah karena ia berfirasat bahwa hari ini mungkin ia sudah tiada." kata Ayah Ray. Ia mengulurkan kedua tangannya yang memegang barang kepada Cakka. "Ini ada titipan dari Ray untukmu."
Cakka segera berdiri dan menerima sekantung plastik besar dan juga sebuah amplop surat. "Terima kasih, Om. Saya ikut berduka atas hal ini. Padahal, Ray adalah orang yang sangat menyenangkan. Aku senang berteman dengannya. Dua minggu jelas bukan waktu yang cukup untuk berada di sisinya."
"Bicaralah padanya, Kka. Kami berdua pamit dulu." kata Ibu Ray sambil tersenyum. Kemudian, orang tua Ray langsung meninggalkan Cakka di sana. 
Cakka berlutut di sebelah makam Ray sambil memegang barang-barang yang ia terima dari orang tua bocah mungil itu. Ia tersenyum sedih menatapnya, kemudian segera bersuara, "Kau ini bodoh sekali. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau mempunyai penyakit yang begitu serius seperti leukimia? Padahal, katamu aku adalah sahabatmu!"
"Apa kau sengaja ingin menghancurkan kebahagiaanku saat ingin bermain-main dengan sahabatku, Ray? Makanya, kau memakai cara seperti ini untuk memberitahu soal kondisimu? Sekarang aku ingin memukulmu tau!" Air mata Cakka perlahan-lahan menetes.
Cakka diam sejenak, kemudian membuka sekantung plastik besar yang ia terima. Isi kantung plastik itu adalah sebuah kanvas besar. Pasti lukisan yang telah dibuat oleh Ray. Cakka tahu itu. Ia tarik kanvas itu keluar dari plastik dan melihat gambarnya. Ternyata sebuah lukisan yang telah dibuat Ray dengan sangat bagus. Sebuah lukisan danau yang indah. Terdapat dua orang yang tersenyum di pinggiran danau itu. Persis seperti Cakka dan Ray tempo hari, ketika mereka ke danau.
Cakka tersenyum sejenak, kemudian mengelus batu nisan Ray. "Jangan pernah lupakan aku, brother..."

---

Dear Cakka Leorion,
Maafkan aku, teman. Karena aku telah tidak jujur padamu. Aku hanya tak ingin kau bersedih ketika tau kondisiku seperti apa. Selama ini aku sudah banyak menghabiskan waktuku sia-sia di rumah sakit karena penyakit yang kuderita. Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan sebelum aku pergi. 
Dear Cakka Leorion,
Terima kasih ya, karena kamu sudah membuatku senang selama beberapa pertemuan kita. Aku senang sekali bisa berteman dengan seniman hebat sepertimu. Alunan musik yang kau mainkan selalu indah. Aku yakin, nanti kau pasti bisa sukses! Aku harap, kau ingin mewujudkan impianku dengan bekerja keras untuk menjadi seniman yang terbaik! Seperti yang kau inginkan! 
Dear Cakka Leorion,
Jangan pernah lupakan persahabatan singkat kita. Mungkin bagiku, persahabatan kita adalah sebuah kenangan indah terakhir yang pernah kurasakan, namun untukmu, jadikanlah persahabatan kita sebagai kenangan indah yang akan abadi selamanya di hatimu! Janji ya! 

Aku sangat bahagia bisa mengenalmu, terima kasih Cakka!

Selamat tinggal,
Raynald Putra


THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Nantikan ceritaku selanjutnya!

2 komentar:

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p