Cakka P.O.V
Bagiku, musik
adalah jiwaku. Semua yang aku lakukan dalam hidup ini, harus disertai dengan
musik. Jangan heran. Aku terlahir dari keluarga musisi. Ayah adalah mantan
gitaris yang cukup hebat, saat muda sering sekali mendapatkan prestasi dalam
bidang musik dan juga pernah membuat sebuah album berisi lagu-lagu alunan gitar
yang berhasil ia ciptakan. Ibu adalah seorang penulis lagu, lagu-lagunya pernah
mendunia saat ia masih menginjak umur 18 tahun. Dan kakak laki-lakiku mempunyai
grup band yang cukup terkenal. Tentu saja, dengan lingkungan seperti itu, Aku
juga ingin 'bersinar' seperti keluargaku.
Aku berjalan
menelusuri toko buku yang baru saja kudatangi sambil mendengarkan musik. Biasa,
untuk mencari buku-buku lagu untuk sekedar menjernihkan otak setelah ia
menjalani sekolah. Tahun ini aku mulai duduk di bangku SMA. Kelas IPS.
Sambil bersenandung
sendiri dengan alunan musik yang kudengarkan di headset yang aku kenakan, aku
terus berjalan sampai aku tiba di deretan buku bagian musik. Biasanya di sana
banyak sekali buku lagu-lagu yang bisa kupakai sebagai 'alat penenang' hati.
Yang tidak tersegel tentunya. Terlihat kurang kerjaan, namun pemilik toko jelas
tak pernah keberatan jika aku hanya melihat-lihat saja. Mereka justru sudah
sangat senang jika ada pelanggan datang.
Sejujurnya aku tak
suka sekolah. Masuk kelas IPS juga tidak atas persetujuan orang tua. Belakangan
ini hubunganku dengan keluarga agak kurang baik. Dan tentu saja, toko buku ini
selalu menjadi tempatku bersembunyi dari semua masalah itu.
Senyumku merekah
melihat buku-buku musik yang ada di sana. Sudah berapa lama aku tidak datang
kemari? Banyak sekali buku-buku baru yang belum pernah kubaca sebelumnya. Dan
seperti biasa, aku menemukan satu buku yang sangat kusukai. Ah! Ada satu lagu
yang membuatku tertarik di dalamnya. Mungkin aku bisa menyanyikannya sejenak...
---
Ray P.O.V
Aku menghela napas
dengan lega saat aku sampai di hadapan tempat itu. Senyumku merekah begitu aku
melihat bangunan besar yang sudah lama kurindukan. Ah, syukurlah aku bisa
menginjakkan kakiku lagi di sini. Sudah hampir dua bulan aku tak bisa kemana-mana,
dan inilah kesempatanku untuk bersenang-senang lagi. Demi Ayah. Demi mimpiku
untuk menjadi seorang pelukis yang terkenal.
Kumantapkan langkah
kakiku masuk ke dalam tempat itu dan segera mencari tempat yang biasanya
kuhampiri. Tentu saja rak bagian buku-buku menggambar! Aku sangat menyukai
segala bentuk seni rupa, dan aku ingin menekuni semua tekniknya. Terlebih lagi
seni rupa dengan pensil warna dan juga cat acrylic. Kedua teknik menggambar itu
yang sedang kutekuni sekarang.
Aku tersenyum
ketika melihat berbagai contoh-contoh gambar yang diberikan di berbagai buku
seni rupa itu. Ah, betapa indahnya seni gambar di dunia ini. Mereka terlihat
simpel, namun di dalamnya selalu tersimpan makna yang begitu berarti untuk
hidup ini. Sama seperti yang telah banyak Ayah ciptakan, setiap karya memiliki
arti yang indah.
TIK...
Aku tersentak
sejenak ketika buku yang sedang kupegang tiba-tiba ternoda dengan sebuah cairan
yang menetes. Ah, lagi-lagi. Dia selalu mengganggu ketika aku sedang
bersenang-senang. Untung saja aku tak memiliki kebiasaan membaca buku-buku yang
tak tersegel plastik, sehingga tak pernah ada buku yang tak sengaja kunodai
dengan cairan itu. Aku akan sangat merasa bersalah jika itu terjadi.
Cepat-cepat aku
ambil tisu dari dalam kantung celanaku dan membersihkan buku itu agar bersih
kembali. Aku juga langsung cepat-cepat menutup sumber cairan itu menetes dengan
tisuku agar buku itu tak ternodai lagi.
"Bila kau
mulai lelah berjalan, dan berfikir untuk menyerah, nyanyikanlah lagi mimpimu,
kau akan bertahan...."
Tunggu. Suara itu
indah sekali. Aku belum pernah mendengar seseorang bisa bernyanyi dengan begitu
indah selain Ibu. Kutaruh kembali buku yang sedang kubaca itu, kemudian aku
langsung pelan-pelan mencoba mencari darimana sumber suara itu. Ingin sekali
aku mengenal orang yang mempunyai suara indah seperti dia. Pasti akan sangat
menyenangkan.
"Nyalakanlah
asa di hati, harapanmu tak boleh mati, gapailah mimpimu, keajaiban pasti
terjadi...."
Suara itu lagi.
Lagu itu. Aku tau lagu itu! Lagu itu sering dinyanyikan Ibu untukku ketika aku
sedang putus asa maupun jika ingin tidur. Kupercepat langkah kakiku menuju
sumber suara itu. Rasanya seperti berasal dari dua rak di seberang rak dimana
aku berdiri. Benar saja, aku melihat seseorang sedang berdiri di sana sambil
membaca buku, dan mulutnya bersenandung indah hingga membuatku bisa tertarik.
Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi, memakai baju casual dan memakai headset
di kepalanya. Siapa dia?
"Gapai
mimpimu, jangan pernah berhenti sampai kau temukan apa yang kau cari..."
"Nyanyianmu
indah sekali."
Orang itu tampak
terkejut ketika mendengar suaraku. Ia berhenti bersenandung dan menoleh ke
arahku. Ia tak menjawab. Ia hanya melihatku dari ujung rambut sampai kakiku.
Berkali-kali. Ah, apa ada yang salah dari diriku?
"Kau
siapa?" Orang itu mengernyitkan dahi dan bertanya.
Aku tersenyum
mendengar ucapannya. Langsung kuulurkan tanganku kepadanya. "Ray saja
cukup. Kau?"
Orang itu membalas
uluran tanganku, masih dengan pandangan heran. "Cakka Leorion."
---
Author P.O.V
Cakka tengah
menuliskan sebuah lagu ketika ia teringat kembali dengan kejadian tempo hari di
toko buku. Perkenalan singkat itu benar-benar terekam di memorinya dengan baik.
Padahal, ia pun belum begitu mengenal siapa sebenarnya anak itu. Dan setiap
kali ia mengingatnya, ia selalu tersenyum kecil.
Kata orang, setiap
kejadian terjadi karena suatu alasan. Namun, Cakka masih tak mengerti, apa
alasan di balik pertemuannya dengan laki-laki mungil seperti Ray di toko buku
waktu itu? Takdir kah? Mereka bahkan saling bertukar cerita setelah mengetahui
bahwa mereka ternyata menekuni bidang seni. Walaupun dalam bentuk yang berbeda.
Mereka bahkan berjanji akan bertemu lagi lusa untuk sekedar bermain-main.
Katanya, Ray ingin sekali Cakka menemaninya saat melukis.
Namun, kenyataannya
Cakka merasa Ray adalah laki-laki yang menyenangkan. Anak itu polos sekali. Dia
selalu mengatakan apa yang benar-benar ia rasakan dalam hatinya. Ia juga duduk
di bangku SMA, namun hatinya masih sepolos anak sekolah dasar. Atau mungkin, ia
memang benar-benar anak yang sangat jujur dan malaikat.
---
Hari ini Cakka dan
Ray duduk di pinggir danau yang ada lumayan jauh dari kota Jogjakarta untuk
menghabiskan waktu bersama. Ralat, sebetulnya Ray yang mengajak Cakka untuk
pergi ke sana, karena ia ingin melukis sebuah pemandangan danau yang indah.
Cakka tentu tak bisa menolak kemauan laki-laki mungil yang satu ini. Entah
kenapa, ia merasa harus membahagiakannya. Apalagi, katanya lukisan danau itu
untuk seseorang. Setelah lukisannya jadi, ia harus segera memberikannya kepada
orang yang sangat ia sayang.
Cakka membawa gitar
bersamanya. Selain untuk menemani Ray, Cakka juga ingin memainkan alunan-alunan
singkat di pinggir danau itu, karena ia jelas tahu memainkan alat musik di sana
sangat menyenangkan. Ia pernah mencobanya, dan hatinya selalu berhasil tenang
kembali.
"Kau selalu
membawa gitarmu kemana-mana?" tanya Ray, sambil melukis di depan
kanvasnya.
"Aku tidak
mungkin meninggalkan teman sejatiku, kawan." jawab Cakka sambil tersenyum.
Tangannya tetap sibuk memetik-metik senar. "Kau juga pasti selalu membawa
alat lukismu kemana-mana, kan?"
"Ah, aku
jarang keluar. Aku lebih memilih untuk melukis di teras rumah." kata Ray.
"Hei, minggu depan aku memiliki acara keluarga di rumah. Jam dua siang.
Aku akan senang jika kamu mau ikut."
Cakka menghentikan
petikannya dan menoleh ke arah Ray yang sibuk dengan kanvasnya. Lukisannya
sudah setengah jadi. "Orang asing sepertiku boleh mengikuti acara
keluargamu?"
"Kau terlalu
merendah diri. Semua yang kukenal adalah sahabatku. Jadi, kenapa tidak?
Keluargaku pasti senang bisa mengenalmu." Ray tersenyum saat
mengatakannya, sampai ia meneteskan cairan merah lagi. Darah.
"Hei, kau
kenapa?" kata Cakka kaget menatap Ray. "Hidungmu berdarah. Wajahmu
pucat pula."
"Ah, maaf.
Sudah biasa. Mungkin hanya kecapekan." kata Ray nyengir sambil mengambil
tisu untuk segera membersihkan hidungnya dari darah yang ia tumpahkan.
"Lagipula, kadang-kadang berguna juga, jika cat merahku sudah habis. Aku
bisa memakainya."
"Apa? Kau
melukis dengan darah itu?" kata Cakka tak percaya. "Kau ini seperti
tak mampu membeli cat saja. Akan lebih baik jika kamu membeli yang baru."
Namun, Ray hanya
tersenyum tipis mendengar ucapannya. Ia melirik jam tangannya sejenak, kemudian
segera membereskan alat-alat lukisnya. "Ayo kita pulang. Hari sudah mau
gelap. Ayah dan Ibu pasti mencariku jika aku keluar terlalu lama."
"Memangnya kau
anak kecil tak boleh keluar sendirian lama-lama?" kata Cakka lagi-lagi
heran dengan temannya yang satu ini. Sungguh, sebenarnya anak ini agak aneh.
Cakka tidak mengerti akan sifatnya. Penuh misteri sekali bocah mungil satu ini.
Ray tersenyum lagi,
"Mereka menyayangiku, Cakka."
---
Walaupun terdengar
aneh, namun harus diakui, Cakka sangat menanti hari untuk bertemu dengan Ray
lagi minggu depan. Selain karena ia mulai merasa Ray adalah teman dekatnya, ia
juga masih penasaran dengan semua kata-kata Ray yang begitu misterius. Tentang
perkenalan mereka, tentang cat merahnya, juga tentang larangan orang tuanya.
Rasa-rasanya Ray menyimpan hal-hal rahasia di dalam setiap kalimatnya.
Setelah ditunggu
sekian lama, akhirnya hari itu tiba juga. Minggu! Sekitar jam dua kurang lima
belas menit Cakka segera berangkat dengan kaus putihnya dirangkap kemeja biru
kotak-kotak, beserta celana panjang pensil hitam. Seperti biasa, ia menggantungkan
headsetnya di leher, dan juga gitarnya di bahu. Rumah Ray tidak terlalu jauh
dari rumahnya. Karena itu, ia berjalan dengan santai.
Namun, begitu
sampai di rumah Ray, ternyata rumahnya sepi. Tidak ada tanda-tanda bahwa di
rumahnya sedang ada acara. Bahkan batang hidung Ray pun tak terlihat. Cakka
sampai heran melihatnya. Bagaimana mungkin Ray membohonginya soal acara
keluarga itu? Ah, padahal ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan bocah mungil
itu lagi.
"Cakka?"
Cakka kaget sesaat
begitu mendengar seseorang memanggilnya dari belakang. Ia melihat seorang Ibu
dan seorang Bapak begitu ia membalikkan badannya. Ia langsung menyapa.
"Tante, Om. Ayah dan Ibu Ray, ya? Maaf sudah masuk tanpa izin, Tan, Om.
Ray mengundangku ke sini hari ini. Katanya ada acara."
Mereka berdua
tersenyum, kemudian mengangguk. "Mari ikut kami, biar kami jelaskan
semuanya tentang Ray."
Cakka diam saja,
kemudian langsung mengikuti mereka. Ayah dan Ibu Ray membawa pergi dengan mobil
mereka. Bertiga saja dengan beberapa barang yang ada di bagasi. Tanpa ada Ray.
Membingungkan sekali, terlebih lagi orang tuanya mengatakan bahwa mereka akan
menjelaskan semuanya tentang anak mereka. Memangnya ada apa dengan Ray?
Begitu sampai di
tempat tujuan, Cakka turun dari mobil dalam diam sementara Ayah dan Ibu Ray
mengambil beberapa barang di bagasi mobil mereka. Tubuhnya tiba-tiba merinding
melihat tempat dimana orang tua Ray membawanya. Tempat ini sepi. Tempat ini
merupakan tempat peristirahatan. Ini tidak mungkin merupakan tempat acara yang
dimaksud Ray. Untuk apa mereka mengadakan acara di tempat peristirahatan seram
seperti ini? Banyak makam begini. Firasat Cakka menjadi tidak enak.
Tak lama kemudian,
Ayah dan Ibu Ray mengajak Cakka untuk masuk ke dalam tempat peristirahatan itu.
Mereka berdua membawa Cakka ke salah satu makam yang ada di sana. Kemudian,
membiarkan Cakka melihat makam itu. Cakka sempat kaget, kemudian ia langsung
syok. Tidak mungkin!!!!!!!!!!!
"Tante...
Om..." kata Cakka dengan terbata-bata. Rasanya ingin berbicara, namun
lidahnya tiba-tiba kelu.
"Ray, anak
bungsu kami, merupakan anak yang sangat baik. Ia disenangi banyak orang di
sekolahnya. Teman-temannya juga banyak. Sejak kecil, ia sangat penurut, dan dia
sudah jelas berambisi untuk menjadi pelukis yang sangat hebat seperti Ayahnya.
Sayang sekali hidupnya telah diatur dan terpaksa terbatasi oleh penyakit
leukimia yang dideritanya sejak kelas tiga SD." kata Ibu Ray mulai
bercerita.
"Dulu, saat ia
masih kelas enam SD, ia sempat sembuh karena kemauannya yang sangat tinggi
untuk segera pulih. Namun, kanker itu menyerang dengan lebih ganas lagi dari
yang sebelumnya saat ia beranjak dewasa. Dan ia sudah berusaha sekuat tenaga
untuk tetap bisa menjadi orang yang kuat dan sehat seperti orang lain. Namun,
kondisinya sukar sekali membaik. Semakin hari, kondisinya justru menurun.
Sampai ia meminta kami untuk memberinya waktu di luar rumah sakit selama dua
minggu. Untuk membuat kenangan terakhir dalam hidupnya, karena ia sadar
waktunya tak akan lama lagi." Ayah Ray menambahkan.
"Dengan segala
pertimbangan dan permohonan kepada Dokter, saat itu juga Ray bisa keluar dari
rumah sakit. Ia juga bisa kembali melukis di luar rumah. Selain di teras rumah
kami. Kemudian, dia juga bertemu denganmu di toko buku. Ia senang sekali
berteman denganmu, Cakka." kata Ibu Ray. "Lagu yang kamu nyanyikan di
toko buku itu, adalah lagu yang sering Tante nyanyikan untuknya, jika dia
sedang butuh semangat. Mungkin itu juga yang membuat Ray tertarik untuk
berteman denganmu."
"Jadi.. karena
itu Ray tak boleh terlalu lama berada di luar rumah? Karena itu, dia sering
mimisan? Karena itu... dia lebih memilih untuk melukis di teras rumah daripada
di luar? Karena itu... dia ingin berteman denganku?" tanya Cakka sambil
menatap makam yang ada di hadapannya. Ia masih belum percaya kalau tempat
peristirahatan yang ada di hadapannya ini adalah tempat peristirahatan Ray.
"Selama ini
banyak teman-temannya yang mengunjungi dan menghibur dia jika dia menginap di
rumah sakit. Tapi, Ray ingin sekali mempunyai kenangan indah yang terakhir
bersama orang yang spesial. Yang bisa membuatnya senang di hari-hari
terakhirnya. Dan orang itu adalah kamu, Cakka." kata Ibu Ray lagi.
"Ray
mengajakmu untuk datang ke rumah karena ia berfirasat bahwa hari ini mungkin ia
sudah tiada." kata Ayah Ray. Ia mengulurkan kedua tangannya yang memegang
barang kepada Cakka. "Ini ada titipan dari Ray untukmu."
Cakka segera
berdiri dan menerima sekantung plastik besar dan juga sebuah amplop surat.
"Terima kasih, Om. Saya ikut berduka atas hal ini. Padahal, Ray adalah
orang yang sangat menyenangkan. Aku senang berteman dengannya. Dua minggu jelas
bukan waktu yang cukup untuk berada di sisinya."
"Bicaralah
padanya, Kka. Kami berdua pamit dulu." kata Ibu Ray sambil tersenyum. Kemudian,
orang tua Ray langsung meninggalkan Cakka di sana.
Cakka berlutut di
sebelah makam Ray sambil memegang barang-barang yang ia terima dari orang tua
bocah mungil itu. Ia tersenyum sedih menatapnya, kemudian segera bersuara,
"Kau ini bodoh sekali. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau mempunyai
penyakit yang begitu serius seperti leukimia? Padahal, katamu aku adalah
sahabatmu!"
"Apa kau
sengaja ingin menghancurkan kebahagiaanku saat ingin bermain-main dengan sahabatku,
Ray? Makanya, kau memakai cara seperti ini untuk memberitahu soal kondisimu?
Sekarang aku ingin memukulmu tau!" Air mata Cakka perlahan-lahan menetes.
Cakka diam sejenak,
kemudian membuka sekantung plastik besar yang ia terima. Isi kantung plastik itu
adalah sebuah kanvas besar. Pasti lukisan yang telah dibuat oleh Ray. Cakka
tahu itu. Ia tarik kanvas itu keluar dari plastik dan melihat gambarnya.
Ternyata sebuah lukisan yang telah dibuat Ray dengan sangat bagus. Sebuah
lukisan danau yang indah. Terdapat dua orang yang tersenyum di pinggiran danau
itu. Persis seperti Cakka dan Ray tempo hari, ketika mereka ke danau.
Cakka tersenyum
sejenak, kemudian mengelus batu nisan Ray. "Jangan pernah lupakan aku, brother..."
---
Dear Cakka Leorion,
Maafkan aku, teman.
Karena aku telah tidak jujur padamu. Aku hanya tak ingin kau bersedih ketika
tau kondisiku seperti apa. Selama ini aku sudah banyak menghabiskan waktuku
sia-sia di rumah sakit karena penyakit yang kuderita. Aku hanya ingin merasakan
kebahagiaan sebelum aku pergi.
Dear Cakka Leorion,
Terima kasih ya,
karena kamu sudah membuatku senang selama beberapa pertemuan kita. Aku senang
sekali bisa berteman dengan seniman hebat sepertimu. Alunan musik yang kau
mainkan selalu indah. Aku yakin, nanti kau pasti bisa sukses! Aku harap, kau
ingin mewujudkan impianku dengan bekerja keras untuk menjadi seniman yang
terbaik! Seperti yang kau inginkan!
Dear Cakka Leorion,
Jangan pernah
lupakan persahabatan singkat kita. Mungkin bagiku, persahabatan kita adalah
sebuah kenangan indah terakhir yang pernah kurasakan, namun untukmu, jadikanlah
persahabatan kita sebagai kenangan indah yang akan abadi selamanya di hatimu!
Janji ya!
Aku sangat bahagia
bisa mengenalmu, terima kasih Cakka!
Selamat tinggal,
Raynald Putra
THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Nantikan ceritaku selanjutnya!

nice cerpen (y) sangat menyetuh hati
BalasHapusaw aw aw :D nyentuh bgt ceritanya
BalasHapus