Senin, 02 Februari 2015

Cerbung | The Real Him Part 5


Ujian biologi di kelas Cakka pagi ini berlangsung agak bising dengan beberapa anak yang sesekali mengeluarkan suara putus asa. Entah karena memang tak bisa mengerjakan atau merasa sebal karena meja mereka dipisah dari teman sebangku. Soal-soal yang keluar memang selalu susah, bahkan setelah mereka belajar susah payah, pasti ada saja yang menhancurkan semua kerja keras mereka. Entah satu atau dua soal. Apalagi kalau soal ujiannya pilihan ganda dan esai. Benar-benar menjauhkan nilai sempurna dari mereka.

Tapi, di samping hal itu, ada satu murid yang dari tadi tenang-tenang saja mengerjakan soal. Siapa lagi kalau bukan Cakka. Ia sudah selesai dari tadi. Semua soal-soal ia hajar habis dengan jawaban yang lengkap. Dan sejak tadi ia hanya tersenyum meremehkan melihat teman-temannya yang masih pusing bagaimana caranya agar dapat menyelesaikan ujian tersebut. Deva, Rio, bahkan Ray juga masih belum selesai mengerjakannya. Dan saat itulah Cakka langsung diam-diam melakukan aksinya.
Dari dalam saku celananya, Cakka mengambil sebuah kertas kecil yang sudah terlipat dua. Kemudian, melihat ke meja guru sejenak, memastikan Ibu Inca sedang tidak memperhatikan. Setelah beberapa saat, ia baru menoleh ke arah Deva yang duduk di belakang.
Cakka tertawa tanpa suara melihat ke arah ketua kelasnya itu. Kemudian, perlahan-lahan melempar kertas tersebut ke arahnya. Begitu kertas itu sukses mendarat di pelipis Deva, ia langsung buru-buru bersikap biasa agar tak dicurigai teman-temannya.
“Aduh!” bisik Deva spontan begitu kertas itu sukses mengenainya, untuk saja tidak mengakibatkan teman-teman yang lain beserta Ibu Inca menoleh ke arahnya. Kalau tidak, habis dia. Ia melihat sekeliling, mencoba mencari siapa yang melemparkan kertas tersebut kepadanya, namun tak ditemukan satupun murid yang mencurigakan. Kemudian, pelan-pelan ia membuka lipatan kertas itu.
Contekan?! batin Deva syok melihat apa yang tertulis di kertas tersebut. Hampir semua jawaban ujian biologi tertulis di sana. Ini pasti orang iseng! Siapa sih yang punya kertas ini? Mau menyontek kok ngajak-ngajak! Mengganggu konsentrasi Deva aja.
“Ehem.” Sebelum Deva sempat menyimpan kertas itu di saku, Ibu Inca telah berdiri di hadapannya sambil melipat tangannya di depan dada. Wajahnya sudah mengerut parah, siap menghajar siapapun yang berani menyontek dalam ujiannya.
“Kemarikan kertas itu,” kata Ibu Inca datar sambil mengulurkan tangannya.
“Kertas... kertas apa?” tanya Deva gugup.
“Jangan pura-pura, Deva Arraville, cepat kemarikan kertas yang kamu pegang itu.” kata Ibu Inca membuang Deva bungkam. Laki-laki itu langsung menyerahkan kertas tersebut kepada gurunya tanpa perlawanan.
Deva diam saja, membiarkan gurunya membuka lipatan kertas itu. Semua mata telah melihat ke arahnya, seolah-olah bahwa dia memang bersalah. Sia-sia saja jika dia melawan. Yang lebih membuatnya kesal, ia sekilas melihat Cakka telah tersenyum sinis ke arahnya. Uh, ini pasti ulahnya! Kalau saja di sini sedang tak di kelas, ia pasti sudah menghajarnya habis-habisan.
“Kamu menyontek?” tanya Ibu Inca dengan garang.
Deva menggelengkan kepalanya. “Tidak, Bu.”
“Lalu, kertas ini apa? Kamu masih ingin mengelak di samping bukti ini?” tanya Ibu Inca. “Kamu itu ketua kelas, Deva. Kamu harus memberikan contoh kepada teman-temanmu yang lain. Bukan menyontek seperti ini! Memangnya kamu nggak belajar apa?”
Deva diam saja mendengarnya.
“Sudah, Ibu tak mau memperpanjang lagi. Sekarang kamu ikut Ibu ke ruangan Ibu Ira. Kamu harus dihukum,” kata Ibu Inca. Ia menoleh ke arah anak-anak yang lain. “Kalian jangan ada yang ribut. Ibu akan menyuruh guru lain untuk menjaga kalian.”
“Baik, Buu,” kata anak-anak satu kelas.
Ibu Inca berjalan keluar kelas diikuti oleh Deva. Sepeninggalan mereka berdua, semua anak-anak langsung kembali dengan kesibukan mereka masing-masing. Sementara itu, Cakka langsung menidurkan kepalanya cuek di atas meja. Bermaksud tidur karena misinya sudah selesai. Semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.
Ray menoleh ke arah Cakka. “Hei, lo kok malah tidur sih? Udah selesai?”
“Ah, berisik lo, Ray.” sahut Cakka dari balik kedua tangannya.
Ray hanya menggelengkan kepalanya dan kembali mengerjakan ujiannya yang masih tersisa beberapa nomor karena seorang guru telah datang untuk menjaga kelas mereka.

J L J

“Masuk.”
Deva dan Ibu Inca langsung memasuki ruangan begitu terdengar suara tegas Ibu Ira dari dalam. Saat itu, Ibu Ira sempat heran melihat Deva bisa berada di ruangannya sekarang. Apalagi setelah mendengar bahwa ternyata Deva sudah menyontek di UAS hari ini. Pasalnya, Pasalnya, anak yang sering melanggar peraturan hingga masuk ke ruangannya itu Cakka. Tak ada yang lain. Setelah mempersilahkan Ibu Inca untuk keluar terlebih dahulu, Ibu Ira mempersilahkan Deva untuk duduk di hadapannya.
“Benar kamu menyontek saat UAS tadi?” tanya Ibu Ira sambil membetulkan kacamatanya.
“Kalau saya bilang itu nggak bener, apa Ibu akan percaya?” tanya Deva ragu-ragu. Kepalanya masih tertunduk. Jujur, walaupun dia tidak bersalah, tapi dibawa ke ruang kepala sekolah itu sudah cukup memalukan baginya.
“Kalau begitu coba ceritain bagaimana kejadiannya.” kata Ibu Ira.
“Tadi saya dilempar kertas dari depan, Bu. Saya nggak tahu kertas itu punya siapa. Tapi, kalau saya boleh menebak, Cakka yang melemparnya,” kata Deva.
“Kenapa kamu bisa tahu kalau itu punya Cakka?”
“Karena dia sendiri yang senyum-senyum pas saya dimarahi sama Ibu Inca. Saya rasa dia yang membuat contekan itu dan sengaja melempar ke meja saya, supaya saya yang kena marah. Bukan dia,” kata Deva. “Tapi, saya nggak bisa memaksa Ibu untuk percaya kepada saya, saya tahu Ibu nggak ada di saat kejadian itu berlangsung.”
Ibu menghela nafasnya pelan. “Kalau begitu, coba kamu panggil Cakka kemari.”
“Baik, Bu.” Deva segera bangkit dari tempat duduknya dan segera ke kelas untuk memanggil Cakka. Saat ia tiba di sana, ternyata ujian belum selesai. Cakka juga terlihat merem melek di mejanya. Mungkin mengantuk karena tak tahu harus berbuat apa hingga waktu selesai. Deva yang tadinya ingin mengajak Cakka langsung, jadi tak enak hati.
“Ada apa, Deva?” tanya Ibu Inca.
“Ibu Ira menyuruh saya untuk memanggil Cakka, Bu.” jawab Deva seadanya.
Ibu Inca menoleh ke arah Cakka. “Kka, kamu sudah selesai?”
Cakka mengangguk.
“Ya sudah, ikut Deva ke ruangan Ibu Ira sekarang.”
Tanpa banyak bicara, Cakka segera bangkit dari kursinya dan mengikuti Deva keluar kelas.
Sepanjang perjalanan, Deva diam saja. Ia membiarkan Cakka bergaul dengan dunianya sendiri hingga sampai ke ruangan Ibu Ira. Ia sudah terlalu kesal karena perbuatannya di kelas. Kalau saja tadi ia tak dilempari kertas, ia pasti sedang mengerjakan ujian sekarang. Entahlah, mungkin sekarang, kertas ujiannya sudah disobek oleh Ibu Inca. Menyebalkan.
“Permisi, Bu.” kata Deva setelah mengetuk pintu dulu ruangan Ibu Ira. Ia masuk disusul dengan Cakka di belakangnya.
“Oh ya, masuk, Deva, Cakka. Silahkan duduk,” kata Ibu Ira yang langsung dituruti oleh keduanya. “Oke, sekarang kita bicara cepat aja ya. Tadi Deva bilang, kamu yang melempar kertas contekan itu ke mejanya? Apa itu benar, Cakka?”
“Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa?” tanya Cakka cuek.
“Cakka, jawaban macam apa itu? Kamu tinggal jawab iya atau tidak, bukan malah bertanya balik.” kata Ibu Ira sambil mengernyitkan dahinya.
“Kalaupun saya jawab enggak, Ibu pasti lebih percaya ceritanya Deva, kan?” tanya Cakka lagi. “Anggap saja saya yang melakukannya. Ibu tinggal menghukum saya, dan melepaskan Deva. Dengan begitu, masalah langsung beres.”
“Cakka, jaga sikapmu. Walaupun saya sering menghukum kamu, tapi bukan berarti setiap masalah yang ada, saya wajib menghukum kamu, kan? Saya hanya melihat masalah dengan adil. Kalau kamu pantas dihukum, ya saya hukum. Kalau enggak, ya enggak.”
“Masa?” tanya Cakka dengan tatapan menyelidik.
“Hei, lo nggak usah ngomong berbelit-belit gitu deh, Kka. Tinggal ngaku aja sama perbuatan lo, susah banget sih!” kata Deva akhirnya dengan kesal.
“Memangnya lo ada bukti kalau gue yang punya kertas itu, hah? Ada?” balas Cakka sama kesalnya. “Kalau lo dendam sama gue, lo nggak usah bawa-bawa gue saat keadaan kayak begini!”
“Harusnya gue yang bilang begitu sama lo! Bukannya lo yang selalu melampiaskan kekesalan lo sama orang lain? Lo pasti ngerasa lo diganggu sama orang lain, terus lo lampiasin ke gue lewat kertas contekan itu, iya kan?!” kata Deva sambil mendorong sebelah bahu Cakka.
“Eh, nggak usah pake dorong juga!” kata Cakka sambil mendorong Deva balik.
“Sudah, sudah!” kata Ibu Ira tegas, sukses membuat keduanya diam. “Kalian ini kok malah berantem di ruangan saya? Sudah, kalau kalian berdua nggak ada yang mau mengaku siapa yang membuat contekan itu, kalian berdua saja yang dihukum. Mulai hari sampai lusa, kalian Ibu skors!”
“Yah, tapi, bagaimana dengan UAS kami, Bu?” tanya Deva tak terima.
“UAS kalian dua hari ke depan akan Ibu kasih nilai nol. Nggak ada tapi-tapian, itu hukuman buat kalian karena sudah tak disiplin di sekolah ini.” kata Ibu Ira. “Sekarang, Deva kembali ke kelas. Cakka tetap di sini.”
Deva segera beranjak dari kursinya, kemudian langsung keluar tanpa melihat ke arah Cakka lagi. Ia sudah terlalu kesal dengan anak itu. Berani-beraninya membuat tiga mata pelajarannya memiliki nilai UAS nol karena perbuatannya. Kalau saja Cakka bukan teman sekelasnya, ia sudah menghajarnya habis-habisan karena sikapnya itu.
Cakka juga sama kesalnya dengan Deva, walaupun memang dia dalang dari semua ini, Deva kan tak perlu marah-marah seperti itu. Memang kenyataannya semua orang di dunia ini tak ada yang percaya padanya. Kalaupun dia tidak bersalah, para guru dan teman-temannya juga pasti akan memilih orang lain untuk dibenarkan. Bukan dirinya. Lagipula, salah sendiri, kenapa Deva justru meladeni kertas yang ia lempar itu!
Ibu Ira berdehem keras. “Chase Karayne. Saya tidak ingin menceramahi kamu, tapi saya sangat kecewa dengan perbuatan kamu ini. Melakukan sabotase agar teman sekelasmu sendiri dihukum? Kamu tidak malu sama diri kamu sendiri?”
“Malu? Untuk apa malu?” tanya Cakka. “Nggak bakal ada yang peduli juga.”
“Bukannya Ibu pernah bilang sama kamu, kita para guru bukan benci sama kamu, kita justru senang karena kamu cerdas. Cuma kami nggak suka sama kelakuan buruk kamu yang seperti ini. Apa kamu nggak bisa mengerti?”
Cakka menatap wajah Ibu Ira datar. “Jadi sekarang Ibu menuduh saya juga seperti Deva?”
“Bukannya tadi kamu yang bilang kalau anggap aja ini semua perbuatan kamu?” tanya Ibu Ira membuat Cakka bungkam. Ibu Ira menghela nafasnya lagi. “Kka, asal kamu tahu, dengan kamu bersikap seperti ini, kamu bukan cuma membuat kami kesal, tapi kamu juga sudah melanggar misi sekolah.”
Cakka mengangkat alisnya, meminta penjelasan.
“MIFI. Kamu tahu nggak kenapa sekolah kita dinamakan seperti itu?” tanya Ibu Ira. “Mungkin bagi orang lain nama itu aneh buat dijadikan nama sekolah, tapi MIFI itu ada maknanya.”
“Lalu saya harus peduli?” tanya Cakka datar.
“Tentu harus. MIFI adalah singkatan dari empat ciri yang akan kita bangun di sekolah ini. Anak-anak yang lulus dari sini harus memiliki moral yang baik, kecerdasan yang tinggi, memiliki kepercayaan satu sama lain dan juga mandiri. Dengan begitu, kalian pasti akan sukses. Itu misi kami. Moral, Intelligence, Faith and Independent. Seharusnya kamu tahu itu.”
Cakka tetap diam mendengarnya.
Ibu Ira membetulkan kacamatanya sejenak. “Kalau kamu nggak bisa mengubah sikap kamu yang buruk, kamu sudah mencoreng nama sekolah kami, Cakka. Jadi, saya harap kamu mau bekerja sama dengan kami untuk menjadi anak yang lebih baik, oke?”

J L J

“Terus jadinya lo diskors tiga hari gara-gara dia?” tanya Rio setelah mendengar cerita Deva di kantin. Saat itu, mereka sedang makan bersama karena sedang istirahat siang. Rio yang mendengar cerita Deva tentang kertas contekan tadi jadi tak habis pikir dengan perbuatan Cakka.
“Ya iya, lagian dia pakai nggak mau ngaku. Kan gue kesel jadinya. Eh, Ibu Ira malah ngehukum gue juga,” kata Deva sambil cemberut. Sebelah tangannya menopang dagunya. “Gue sih nggak apa-apa dihukum. Tapi, kalau UAS gue sampai nol? Aduh, gue bisa habis sama bokap gue, Yo!”
“Gila! Gue nggak nyangka, Cakka segitunya banget sama kita,” kata Rio. Kemudian ia menoleh ke arah Ray yang sibuk melahap makanan di sebelahnya. “Ray, lo mending hati-hati deh. Kalau Cakka udah begini nih, biasanya anak-anak yang lain juga. Gue juga mungkin bisa kena. Secara tadi pagi gue udah gangguin dia.”
“Ah, lo mah udah masuk daftar nomor satu kali buat balas dendam. Memangnya lo ngapain dia lagi sih? Perasaan lo hobi banget gangguin dia.” tanya Deva sambil menyuap bakso ke dalam mulutnya.
“Nggak ada kok, gue cuma ngajak dia belajar aja, daripada dia sendiri di taman. Kan seru kalau belajar bareng,” kata Rio. “Tapi, nggak tahu tuh, tadi pagi kayaknya mood dia lagi buruk banget. Anak-anak SD sampai takut gara-gara dia neriakin gue, tahu nggak?”
“Ih, kasihan banget,” kata Deva sambil menggelengkan kepalanya.
“Oh ya, terus Cakka dimana sekarang?” tanya Rio.
Deva mengangkat kedua bahunya. “Mana gue tahu, tadi gue keluar duluan. Diceramahin dulu kali sama Ibu Ira. Habis itu palingan dia langsung cabut. Lo kayak nggak tahu dia aja, Yo.”
Rio manggut-manggut mengerti.
Deva menoleh ke arah Ray. “Ray, coba lo ngomong sama dia deh. Lo kan selama ini jadi temen sebangku dia, siapa tahu lebih ngerti bagaimana caranya ngadepin dia. Kayaknya belakangan gue lihat lo lumayan akrab sama dia.”
“Oh iya, bener. Gue tuh dari kemarin mau nanya sama lo soal itu, tapi lupa terus! Lo kok bisa sih akrab sama laki-laki bunglon, es campur kayak dia? Kayaknya lo orang pertama deh yang tahan deket-deket sama Cakka.” kata Rio.
“Heh, lo kira Cakka apaan? Masa es campur sih?” tanya Deva heran.
“Iya, habisnya dia kan dingin gitu kayak es. Tapi, kadang-kadang bisa manis juga.” kata Rio asal sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Deva langsung menjitak temannya itu dengan lumayan keras. Teori konyol.
Ray tertawa melihat kedua temannya. “Udah, biar gue yang tangani nanti. Bukan Ray namanya kalau nggak bisa menaklukkan semua orang. Kalau gue nggak bisa ngadepin Cakka, sia-sia dong gue jadi anak psikolog?”
“Lah, lo psikolog, Ray?” tanya Deva tertarik.
“Bukan gue, tapi...,” kata Ray, kemudian menoleh ke arah langit. Perlahan-lahan ia tersenyum dan berkata pelan. “...nyokap gue.”

J L J

BRAK!
Bunda sangat kaget ketika mendengar suara pintu depan dibanting oleh seseorang. Dengan cepat ia meninggalkan dapur dan melihat siapa yang barusan membanting pintu depannya. Matanya membesar melihat anak bungsunya sibuk membuka sepatu dengan wajah yang datar di depan rumah.
“Cakka?” kata Bunda heran. Ia melirik jam dinding sejenak, kemudian menatap ke arah anak bungsunya kembali. “Ini masih jam sepuluh loh, kamu kok bisa udah pulang? Ada apa?”
“Ya bisa lah,” seru Cakka datar. Ia langsung menerobos Bunda ke dalam dan masuk ke dalam kamarnya tanpa banyak bicara.
Bunda langsung mengikuti anaknya masuk ke dalam. “Kamu nggak membuat masalah lagi kan di sekolah? Atau kamu ada masalah? Bunda khawatir sama kamu, Nak. Cerita aja sama Bunda.”
“Apaan sih? Bunda kepo banget,” kata Cakka. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Sebelum ia menutup pintu, ia menyempatkan diri untuk berkata kepada Bunda. “Udahlah, aku mau tidur. Bunda jangan ganggu aku deh.”
Brak. Pintu kamar Cakka langsung tertutup setelah itu. Bunda yang masih di depan kamar anaknya hanya menggelengkan kepalanya, sudah terlalu kebal dengan sikap anaknya itu. “Ya sudah, kalau nanti kamu lapar, Bunda udah membuat makanan kesukaan kamu di meja. Kamu tinggal ambil aja.”
Tak ada sahutan dari dalam.
Bunda menghela nafas, kemudian langsung meninggalkan kamar Cakka. Kalau sudah begini, anaknya pasti sama sekali tak mau diganggu. Mau ada masalah atau tidak, biarlah nanti di saat yang tepat baru ditanyakan. Bagaimanapun mood Cakka suka naik-turun, mau tak mau orang-orang di sekitarnya harus mengerti kalau tidak mau didamprat anaknya yang cuek itu.

J L J

Tiga hari diskors bukan berarti Cakka berdiam diri saja di rumah. Selain harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan keluarganya mengapa ia tak masuk sekolah, ia juga mempersiapkan sesuatu untuk kegiatannya jika dia sudah kembali bersekolah nanti. Ia benar-benar kesal keluarganya itu seolah-olah tak senang ia berada di rumah. Mereka selalu menuduh-nuduhnya membuat masalah jika ada hal yang tidak wajar terjadi.
Pagi itu, Cakka bangun pagi sekali dan langsung buru-buru membersihkan badannya dengan ceria agar bisa pergi ke sekolah dengan cepat. Tanpa menyentuh sarapannya sama sekali, ia langsung menggantung tasnya di pundak dan segera memakai sepatunya di pintu depan. Elang dan Biru yang melihat tingkah adik bungsu mereka itu langsung saling pandang.
“Kenapa mukanya cerah begitu?” tanya Biru heran.
“Entah, lagi kesurupan kali.” kata Elang asal.
“Hus, kamu jangan ngomong sembarangan, Elang,” nasihat Bunda. “Itu adik kamu sendiri loh. Bagus dong kalau dia ceria begitu, daripada datar tanpa ekspresi kayak biasanya. Malah kayak orang stres, kan?”
“Yah, Bunda malah ikut-ikut ngatain,” kata Ayah sambil menutup korannya.
Bunda hanya nyengir mendengarnya.
“Tapi, kalian harus bersyukur, Lang, Bi. Bener kata Bunda, lebih baik Cakka senang begitu daripada mukanya muram. Mukanya terlihat lebih seger, terus juga bisa sekalian biar Cakka kelihatan warisin ganteng dari Ayahnya.” kata Ayah sambil tertawa.
“Ayah sama aja!” kata Elang dan Biru kompak. Kemudian, mereka tertawa bersama.
“Udah, udah, nanti sarapannya Cakka kamu bawain aja ya, Bi,” kata Bunda.
“Beres deh, Bunda.” kata Biru mengacungkan jempol kepada Bunda.
Sementara keluarganya masih tertawa-tawa, Cakka sudah sampai di sekolahnya. Dengan riangnya ia tersenyum kepada semua orang yang ditemui pagi ini, hingga membuat banyak murid mengiranya dia sedang tak waras. Cakka, laki-laki bunglon tanpa ekspresi itu? Tersenyum? Benar-benar keajaiban Tuhan!
Bahkan Ray juga nyengir melihat sikap teman sebangkunya itu begitu ia sampai di kelas. Ia sampai kaget tiba-tiba Cakka menyapanya dengan ucapan selamat pagi. Walaupun ia percaya orang bisa berubah, tapi tidak dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, bukan? Kalau diibaratkan dari sepuluh orang, mungkin hanya satu orang yang mengalaminya.
“Lo habis makan obat? Seneng amat,” kata Ray sambil tersenyum.
“Enak aja, lo kira gue nggak waras? Jahat lo!” kata Cakka sambil menjitak kepala Ray.
Ray nyengir. “Sikap lo hari ini kayak habis makan obat fiks ceria empat-empat. Dari orang yang murung langsung jadi ceria selamanya. Manjur tuh kayaknya, lo jadi senyum terus. Hahaha...”
“Lo jangan ngancurin mood gue dong!” kata Cakka tiba-tiba tegas lagi.
“Iya iya, maaf. Dibecandain aja marah sih,” kata Ray sambil tertawa. “Tapi, serius? Lo kenapa sih? Ngapain aja lo selama diskors kemarin? Gue kan penasaran. Lo tiba-tiba bisa berubah begini, kayak bukan lo aja.”
“Sini,” kata Cakka menyuruh Ray untuk mendekat. Begitu Ray mendekatkan telinganya, Cakka langsung berbisik. “Gue ada misi tersembunyi. Pokoknya lo diem dan nikmati aja misi gue hari ini. Jangan sekali-sekalinya lo halangi gue, oke?”
Ray kembali nyengir. “Ternyata lo belum berubah.”
Cakka hanya tertawa mendengarnya.
Misi Cakka dimulai sudah menjelang masuk sekolah. Untungnya target yang ia incar bergerak sesuai kemauannya. Ia masuk di saat detik-detik sebelum bel masuk berbunyi. Jadi, ia bisa dengan bebasnya memasang perangkap untuk targetnya tersebut. Ia juga memberitahu teman-teman sekelas agar tidak memberitahu si target bahwa ada perangkap yang akan menghampirinya. Tadinya mereka keberatan, tapi dengan bujukan Cakka, akhirnya ia mengiyakan juga. Ray yang melihat tingkah Cakka itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Entah harus senang atau tidak. Tapi, melihat Cakka ceria seperti itu, rasanya berbeda dengan melihat Cakka yang cuek kemarin-kemarin.
“Eh, Ray!” kata Deva menepuk pundak Ray ketika temannya itu masih sibuk melihat tingkah Cakka. “Kenapa tuh si Cakka? Kayaknya dari tadi ramai banget deh. Di luar pada heboh, teriak-teriak keajaiban gitu.”
“Lo baru dateng, Va? Cakka nggak apa-apa kok, cuma ide jahilnya lagi keluar aja.” kata Ray.
“Ide jahil? Mau ngapain?” tanya Deva kaget. “Bukan gue kan targetnya?”
Ray tertawa. “Gue rasa bukan. Lihat ajalah nanti, yang penting dia waras, kan?”
Akhirnya, Deva ikut tertawa. “Benar juga.”
KRING!!! Tak terasa bel telah berbunyi, bertepatan dengan si target masuk ke dalam kelas. Rio! Karena sudah dikejar waktu, akhirnya ia buru-buru duduk di tempat duduknya dan menyiapkan buku pelajaran pertama. Tapi, sebelum ia sempat melakukan itu, tiba-tiba ia merasa kebelet. Akhirnya, dia memutuskan untuk ke toilet dulu. Anehnya, dia justru tak bisa berdiri dari kursinya. Sebesar apapun usaha yang dia kerjakan, tetap saja ia tak bisa berdiri.
Teman-teman sekelas yang melihat tingkah Rio itu. Apalagi Cakka. Ia sudah cekikikan di tempatnya. Sampai akhirnya...
PREEEET! Satu kelas langsung tertawa ngakak mendengar suara tersebut. Celana Rio akhirnya sobek! Dengan malunya ia langsung menutupi celananya dengan jaketnya dan langsung pergi sana. Untung saja dia membawa jaket, kalau tidak?
Dengan nafas yang berat ia langsung berteriak dengan wajah yang merah padam, “WOY! SIAPA YANG NEMPELIN LEM DI BANGKU GUE?!”

TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p