Hari ini genap tiga bulan Ray bersekolah di SMA MIFI. Setelah beradaptasi
lebih banyak dengan sekolah barunya, Ray sudah bisa hafal dimana letak-letak
tempat yang harus ia kunjungi. Ray sudah cukup nyaman bersekolah di sana.
Menurutnya, SMA MIFI tak kalah seru dengan sekolahnya yang ada di Bekasi.
Teman-teman yang ada di SMA MIFI ini semuanya dapat menerimanya dengan baik.
Bahkan ia juga bisa akrab dengan beberapa kakak dan adik kelasnya berkat ikut
dalam ekskul band. Tapi, sejauh ini, Ray masih belum bisa akrab dengan Cakka.
Laki-laki itu masih seperti bunglon, kadang-kadang baik, kadang-kadang juga
kejam. Sepertinya dia masih dendam soal ekskul waktu itu.
Pagi ini adalah pagi pertama Ray harus bersiap-siap belajar. Pasalnya,
minggu depan sudah mulai ujian akhir, ia tak ingin gagal di mata pelajaran
apapun. Makanya, Ray berangkat lebih awal dan belajar di kelas, ditemani dengan
anak-anak yang sedang sibuk piket. Sesekali Ray menopang kepalanya dengan
sebelah tangan. Materi ulangan minggu depan banyak sekali, rasanya rumus matematika
yang harus ia hafalkan tak akan pernah habisnya.
Krek... terdengar suara pintu terbuka di sela-sela ia sedang belajar.
Seorang laki-laki masuk ke dalam dan hendak menuju kursinya yang ada di
belakang. Namun, begitu menyadari Ray sudah sibuk belajar di kursinya, ia
memutuskan untuk menghampirinya dulu.
“Ray!” sahutnya riang, langsung duduk di kursi kosong yang ada di depan
Ray. “Ciyee, pagi-pagi udah rajin belajar aja nih, mentang-mentang mau ujian.
Awas, nanti sakit kepala loh, Ray.”
Ray mengangkat kepalanya dan tersenyum. “Pagi, Deva. Lo dateng pagi hari
ini?”
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. “Biasanya kalau udah mau ujian, gue
memang selalu dateng pagi buat nanya-nanya soal yang gue nggak bisa sama guru.
Lumayan kan persiapan sedikit, sekalian bantuin yang pada piket.”
“Oh, begitu,” kata Ray. “Ya udah, kalau begitu kita belajar bareng aja.”
“Boleh, tapi gue ke Pak Duta dulu ya? Nanti gue balik lagi,” kata Deva. Ia
beranjak dari kursinya dan menaruh tasnya di kursi miliknya, kemudian keluar
dari kelas membawa buku cetak dan buku tulis pelajaran Pak Duta. Sementara Ray
kembali sibuk menghafal rumus.
Setelah membaca-baca dan menghabiskan beberapa kertas HVS untuk menghafal,
Ray membalikkan halaman buku paketnya ke bagian uji kompetensi. Di sana ada
berpuluh-puluh soal yang bisa ia kerjakan ulang. Atau lebih tepatnya, baru mau
ia kerjakan sekarang sih, karena selama pelajaran berlangsung, ada sebagian
soal yang lupa ia tanyakan pada teman-teman sekelas karena ketinggalan. Dan ia
tidak ingin merepotkan guru-guru jika ia bertanya dari awal, padahal mereka sudah
mengerjakan semuanya.
“Dua log enam...” sahut Ray pelan sambil menulis. “Terus dibagi... Hmm,
dikali...”
“Nah, ini ketemu. Kalau soal yang ini...”
BRUK. Suara itu tiba-tiba mengagetkan Ray yang sedang mengerjakan soal. Ray
sudah tahu tanpa harus menoleh. Itu pasti Cakka. Selama tiga bulan di sekolah
ini, mendengarkan suara tas dibanting itu sudah menjadi kegiatan rutinnya.
Namun, sampai sekarang Ray masih belum menahan rasa kagetnya jika teman
sebangkunya itu datang.
Cakka tampak duduk dengan cuek dan diam saja di sana, seolah-olah tak
menganggap bahwa di sebelahnya ada orang. Wajahnya tetap datar seperti
biasanya. Kedua tangannya ia lipat di atas meja, matanya lurus ke depan, entah
sedang melihat apa. Tapi, yang jelas tingkahnya tersebut membuat Ray heran.
“Lo kenapa?” tanya Ray akhirnya.
Cakka bergeming. Ia melirik ke arah Ray dari sudut matanya.
“Tumben banget lo dateng pagi, mau belajar juga? Belajar bareng yuk,” kata
Ray tanpa bermaksud menyinggung. “Gue ada beberapa soal yang gue perlu tanyain
sama lo. Gue pusing sama logaritma nih.”
Cakka kembali menatap ke arah depan. Ia mendengus. “Lo mau pusing kek, ada
yang nggak ngerti kek, bukan urusan gue, kan?”
Ray tersenyum. “Iya, memang bukan urusan lo. Tapi, gue mau minta tolong
aja. Dari dulu lo kan selalu bisa menjawab pertanyaan guru-guru, mungkin lo
bisa ngebantuin gue. Minggu depan kan udah ujian, Kka.”
“Ya udah sih, ujian ya ujian aja? Terus kenapa?” tanya Cakka.
“Ya kan—“
“Lo nggak bisa ya pagi-pagi nggak gangguin gue?” tanya Cakka lagi sebelum
Ray berbicara lagi kepadanya. Ia benar-benar tak tahan jika teman sebangkunya
itu sudah bawel. Jangan-jangan bergaul dengan Rio membuatnya tertular virus
cerewet. Bikin Cakka pusing aja sih.
Ray bungkam seketika mendengarnya. Ia menatap Cakka yang langsung beranjak
dari kursinya. Sebelum benar-benar meninggalkan kelas, Cakka bersuara kepada
teman sebangkunya itu,“Udahlah, males banget gue pagi-pagi debat sama lo.
Ternyata lo nggak cuma nyebelin ya? Sok rajin juga ternyata pake belajar di
sekolah. Ganggu hidup gue aja.” Setelah itu, dia langsung pergi keluar kelas.
Ray tertawa kecil, kemudian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cakka.
Kemudian, ia segera kembali belajar. Namun, sebelum itu, ia juga menyambut Deva
yang baru saja kembali. Teman dekatnya tersebut langsung duduk kembali di
depannya.
“Cakka udah dateng?” tanya Deva sambil melirik tas besar yang ada di meja
Cakka.
Ray mengangguk. “Biasa. Diajak ngomong langsung keluar.”
“Hahaha... sabar ya, Ray,” kata Deva sambil meletakkan buku paketnya di
atas meja. “Oh iya, tadi gue dapet banyak pelajaran loh dari Pak Duta. Sekarang
gue tinggal ngerjain soal aja biar hafal rumus.”
“Beneran? Kalau begitu, kita kerjain sama-sama ya? Gue tadi ngerjain uji
kompetensi tapi ada yang nggak ngerti. Gue nggak jago-jago banget nih
hitung-hitungan.” kata Ray sambil tersenyum.
Deva tertawa. “Sama, gue juga kali. Gue lebih jago seni rupa. Tapi, gue
bakal bantu lo sebisanya kok.”
“Makasih, Va,” kata Ray senang. “Ya udah, ayo kita mulai.”
“Yuk.”
Sementara Deva dan Ray sibuk belajar di kelas, Cakka yang baru saja keluar
itu memutuskan untuk pergi ke taman sekolah yang sebenarnya diperuntukkan untuk
anak-anak SD. Di sana ada banyak bunga yang tumbuh, permainan anak-anak seperti
perosotan, ayunan dan lain-lain. Namun, yang sering dipakai oleh anak-anak SMP
SMA adalah ayunannya. Kadang-kadang jika butuh tempat yang nyaman selain di
kelas, mereka pasti duduk di sana.
SMA MIFI memang bukan SMA saja. Sekolah tersebut memiliki jenjang
pendidikan dari KB sampai SMA. Hanya saja penyebutannya berbeda-beda,
tergantung murid-muridnya. Kalau murid-murid seperti Cakka menyebutnya SMA
MIFI, murid yang masih SMP mungkin menyebutnya SMP MIFI. Begitu seterusnya.
Intinya sekolah Cakka itu sekolah umum.
Saat itu, taman masih sepi. Hanya ada beberapa anak kecil yang sedang
bermain di sana. Untung saja ayunannya sedang nganggur, sehingga Cakka bisa
duduk dengan tenang di sana tanpa harus galak terhadap anak-anak kecil.
“Huh...” desah Cakka ketika ia sudah duduk di sana. Ia menyandarkan
tubuhnya santai, kemudian menutup matanya untuk istirahat. Paling tidak ia bisa
tenang di sana, tanpa siapapun yang mengganggunya.
Semenjak Ray masuk ke dalam ekskul yang sama dengan ekskulnya, anak itu
memang sering sekali mengajaknya bicara. Ia juga sering menunjukkan bakatnya
dalam dram kepada anak-anak ekskul band yang lain sehingga banyak yang ingin
bermain musik dengannya. Sampai sekarang, anak itu sudah mendapatkan banyak
teman dari ekskul. Dan Cakka sama sekali tak suka dengan sikapnya. Ia selalu
mengganggunya ketika ia sedang tak ingin berbicara, sok tahu tentang hal-hal
yang dibutuhkannya, suka pamer pula. Bahkan teman-teman MIFI Band juga kagum
padanya. Dan sekarang kalau Cakka galak sedikit padanya, Anka langsung melotot
ke arahnya, seolah-olah Cakka sudah melakukan kesalahan besar. Deva, Rio dan
semua orang yang sudah mengganggunya selama ini jadi berpihak pada Ray. Pokoknya,
semenjak Ray masuk ke sekolah ini, semuanya berantakan!
Jangan pikir kalau Cakka iri kepada teman sebangkunya itu. Cakka sama
sekali tidak memiliki perasaan ingin dipuji-puji, diajak bermain musik oleh
banyak orang maupun kehilangan orang-orang yang selama ini ada di dekatnya.
Karena faktanya hampir semua orang di sekolah tak ia anggap teman, sekalipun
mereka sering berbicara padanya. Lagipula, bukan hanya pada Ray saja dia galak.
Pada Deva, Rio dan lain-lain juga dia galak. Dan Cakka memiliki berbagai alasan
kenapa dia seperti itu.
“Cakkaa!” kata Rio tiba-tiba muncul di sebelah Cakka dan menepuk pundaknya
cepat.
Cakka menghela nafasnya kasar begitu pundaknya terasa ditepuk. Tanpa
menurunkan kepalanya dari sandaran kursi, ia langsung bersuara dengan nada datar.
“Pergi lo.”
“Yah, gue baru nyamperin udah disuruh balik aja sih,” kata Rio manyun.
“Lagian lo ngapain sih di sini? Bukannya di kelas. Lo duduk sama Ray, tetep aja
kayak begini ya? Contoh tuh dia, pagi-pagi udah belajar sama Deva. Gabung yuk?”
Cakka bergeming mendengar ucapan Rio. Malas menjawab.
“Eh, Kka, ayolah belajar. Kan kata Pak Duta, untuk mendapatkan nilai bagus,
kita harus bekerja keras. Karena sukses itu satu persen bakat, sembilan puluh
sembilan persen kerja keras. Lumayan loh kalau kita bisa sama-sama dapet nilai
bagus.”
Cakka mendengus pelan. Kemudian, ia menoleh ke arah Rio.
“Heh, kayak lo rajin aja. Udah pergi lo, gue lagi nggak mau diganggu.” kata
Cakka kesal. Kemudian, langsung menyandarkan kepalanya lagi di
sandaran kursi ayunan, bermaksud untuk tidur. Tapi, Rio masih saja berkicau.
“Lagian itu bukan kata-katanya Pak Duta. Tapi, Thomas Alva Edison.”
“Yah, justru itu gue pengen rajin nih demi ujian akhir. Kok gue malah
diusir sih, gue kan cuma—“
“PERGI NGGAK LO?!” seru Cakka nyaring, membuat Rio bungkam. Bahkan
anak-anak kecil yang sedang asyik bermain juga ikut kaget dan melihat Cakka
dengan takut. Rio sampai menghela nafas menyadari hal itu.
“Gila lo, liat tuh anak-anak pada takut sama lo,” kata Rio sambil
menggelengkan kepalanya. “Kalau lo nggak mau diajak belajar ya biasa aja dong.
Nggak usah marah-marah. Lo PMS tiap hari?”
Cakka menoleh ke arah Rio lagi, kali ini dengan mata tajam.
Rio hanya cengengesan menatap Cakka yang sudah siap memangsanya kapan saja.
Ia menepuk-nepuk pundak Cakka pelan. “Kalau begitu, gue balik dulu ya. Lo
jangan lama-lama di sini, bentar lagi masuk!”
Rio langsung beranjak dari ayunan dan meninggalkan Cakka sendirian.
Cakka menghela nafas dan menggelengkan kepalanya menatap kepergian Rio.
Heran, anak itu tak pernah bosan mengganggunya dengan sikap soknya itu. Apa-apa
berpepatah, kayak dia bijak aja.
Cakka menekuk wajahnya cukup lama, sampai akhirnya ia memiliki satu ide
untuk mengerjai teman-temannya. Ia segera tersenyum sinis. “Tunggu aja lo
semua, kalian bakal ngerasain akibat karena udah ngegangguin gue.”
Ia beranjak dari ayunan tersebut dan kembali ke kelas, diiringi oleh
tatapan-tatapan ketakutan dari anak-anak yang tadi melihatnya teriak.
Sesampainya di kelas, Cakka melihat teman sebangkunya masih belajar dengan Deva
dan Rio. Mereka masih sibuk membahas pelajaran matematika.
“Eh, udah balik lo? Gue baru aja mau nyamperin lo keluar,” kata Ray begitu
menyadari teman sebangkunya telah duduk di sampingnya kembali.
“Hm.” jawab Cakka cuek. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa sih, cuma bentar lagi masuk. Gue pengen nyari aja lo
kemana,” kata Ray nyengir.
Cakka diam saja mendengarnya. Alasan yang benar-benar tak penting.
“Eh, Ray, gue balik dulu ya,” kata Deva, disusul dengan high five bersama Ray.
Sepeninggalan Deva, Ray kembali menoleh ke arah Cakka. “Eh, omong-omong,
ekskul band di sini kalau selama ujian tetep latihan atau vakum?”
“Vakum,” jawab Cakka singkat. “Kenapa?”
“Nggak, gue pengen tahu aja. Kalau tetep latihan ya bagus, kalau nggak, gue
pengen pake ruang musiknya buat latihan-latihan sendiri. Anggep aja pemanasan
sebelum belajar di rumah.” kata Ray sambil tersenyum.
Cakka mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Ray. Satu lagi keanehan
muncul. Waktu itu, Ray merasa tidak enak jika keliling sekolah dalam keadaan
ramai. Sekarang, dia ingin latihan dram di sekolah sebelum belajar buat ujian?
Heran, mimpi apa Cakka bisa memiliki teman sebangku yang begitu aneh seperti
Ray.
“Gue nggak bisa latihan di rumah, Kka,” kata Ray lagi seolah membaca
pikirannya.
Cakka diam sejenak menatap Ray. “Kenapa?”
“Ada beberapa alasan yang memaksa gue cuma bisa latihan di sekolah.” kata
Ray tersenyum.
Cakka diam saja. Ia membuang mukanya sejenak, membuat suasana hening untuk
beberapa detik sebelum akhirnya dia menoleh lagi ke arah Ray yang sudah sibuk
mempersiapkan buku-buku pelajaran pertama. “Mau gue temenin?”
Ray berhenti sejenak untuk menatap Cakka. “Serius?”
“Mau nggak?” tanya Cakka lagi melihat teman sebangkunya diam.
Ray mengangguk. Ia menepuk pundak Cakka pelan. “Kita main musik bareng aja
sekalian.”
“Terserah lo deh.” kata Cakka langsung membuka tas dan sibuk mengeluarkan
buku-buku yang ia perlukan untuk beberapa pelajaran yang ada hari ini.
Ray nyengir melihat tingkah Cakka itu. Tadi sebelum ia keluar kelas,
perasaan dia marah-marah nggak jelas, tapi barusan dia tampak begitu jinak.
Walaupun ia belum lama mengenal Cakka, tapi rasanya mengganjal jika teman
sebangkunya tersebut menawarkan diri untuk menemaninya. Mungkin Cakka tidak
sejutek yang Deva atau teman-teman lainnya pikirkan.
J L J
Hari ini hari ujian akhir pertama. Dan tentu saja Ray mengerjakannya dengan
baik ia sudah mempersiapkan semua mata pelajaran lebih awal. Setiap soal yang
muncul di ujian matematika tadi benar-benar ia hajar habis dengan lancar.
Setelah ujian selesai, ia hanya berharap ia tak salah hitung karena soal-soal
yang keluar banyak yang ‘beranak’. Kalau saja ia salah menghitung di soal
pertama, ia pasti akan mengacaukan soal-soal berikutnya. Tapi, ia sudah cukup
yakin rumus-rumus yang ia gunakan sudah tepat.
“Lo tenang aja, lo pasti dapet nilai bagus, Ray,” kata Deva saat sudah jam pulang.
“Mendingan lo bisa semua, gue tadi ada beberapa rumus yang lupa. Jadinya gue
cuma bisa pasrah aja deh sama nilai gue.”
“Lo aja pasrah, gimana gue, Dev?” sahut Rio menjitak kepala Deva.
“Lo sih udah dipastikan gagal, Yo,” kata Deva sambil tertawa. Rio langsung
manyun mendengarnya.
Ray tertawa. “Udah, udah. Yang penting kan kita udah berusaha. Kalaupun
nanti kita gagal, masih ada semester dua, kan? Kalau lo jatuh tujuh kali,
bangkit delapan kali, Yo. Percaya aja sama diri sendiri kalau lo tuh bisa.”
“Tuh, denger kata Ray!” kata Deva. “Harus percaya diri.”
“Alah, lo sendiri tadi pasrah!” kata Rio, sukses membuat Deva nyengir.
“Ya udah, lo pada langsung pulang kan? Gue mau ke ruang musik dulu. Ada
urusan,” kata Ray sambil tersenyum. “Besok pagi lagi aja kita belajar bareng,
oke?”
“Sip, Ray, ya udah kita pulang dulu,” kata Deva. “Yuk, Rio, cabut.”
Kedua teman sekelas Ray tersebut langsung meninggalkan kelas. Ray menggelengkan
kepalanya sejenak kemudian kembali menoleh ke arah bangku yang ada di
sebelahnya. Cakka masih sibuk membereskan barangnya. “Kka, udah selesai belum?”
Cakka tidak menjawab, ia tetap sibuk membereskan barang-barangnya sampai
akhirnya ia menggantungkan tasnya di pundak. “Yuk.”
“Oke.”
Mereka berdua langsung keluar kelas dan pergi menuju ruang musik. Masih
ingat janji mereka bukan? Cakka dengan tiba-tibanya menawarkan diri untuk
menemani Ray di ruang musik. Makanya, tadi Ray mengobrol dengan Rio dan Deva sembari
menunggu Cakka yang masih beres-beres.
Sesampainya di ruang musik, Ray langsung menaruh tasnya di pinggir dan
menghampiri dram yang ada di sana sementara Cakka duduk saja di kursi sambil
memainkan handphone-nya. Ray mengetes
tersebut sejenak, baru setelah itu ia memainkannya dengan penuh semangat.
Sekitar lima belas menit, Ray memainkan dram itu sendirian. Ia juga memukul
dram tersebut sesuai seleranya sendiri, bukan membawakan lagu-lagu yang pernah
ia latih. Dengan kedua tangannya yang memegang stik dram, ia mengalirkan
emosinya kepada alat musik pukul tersebut sampai ia puas. Namun, yang menjadi
masalah adalah Cakka tidak bereaksi selama ia memainkan dramnya. Laki-laki itu
tetap sibuk dengan handphone-nya,
entah sedang sibuk apa dengan alat komunikasinya itu.
“Kka, ayolah main bareng gue. Lebih asyik kali kalau diiringi gitar.” kata
Ray semangat.
“Hm?” seru Cakka menoleh ke arah Ray. Kemudian, kembali sibuk dengan handphone-nya lagi.
“Yah, dia sibuk lagi kan sama hapenya,” kata Ray sambil menggelengkan
kepalanya. Ia menyingkir dari kursinya dan menghampiri temannya tersebut. “Lo
lagi sibuk ngapain sih? Main hape terus. Kayak lo punya banyak temen aja.”
Cakka langsung spontan menoleh ke arah Ray dengan tatapan kesal. “Apa lo
bilang?”
Ray nyengir, kemudian mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. “Peace,
Kka. Udah ayo main. Lagu apa aja deh, atau lo main melodi juga nggak apa-apa.
Daripada gue main sendirian terus lonya bengong nggak jelas di sini.”
“Siapa yang bengong sih? Sok tahu banget lo perasaan jadi orang. Nggak ah,
main aja lo sana sendiri.” kata Cakka sebal.
“Atau lo takut kalah jago sama gue?” tanya Ray sambil tersenyum.
Cakka menghela nafasnya kemudian beranjak dari kursinya. “Heh, jangan mentang-mentang
lo udah lama sekolah di sini, lo jadi belagu ya. Lo berani sama gue sekarang,
hah? Lo berani nantang gue?”
“Oke, bagaimana kalau kita taruhan?” tanya Ray menaikkan alisnya. “Kita
main endless. Main musik non-stop.
Nggak usah pake lagu, kita freestyle
aja, asal nyambung. Gue pake dram, lo pake gitar. Siapa yang bertahan lebih
lama, dia yang menang. Kalau gue menang, besok gue traktir lo sepuasnya deh di
kantin. Kalau lo menang, terserah lo deh mau ngapain gue.”
“Oke, siapa takut!” kata Cakka.
Ray tersenyum. Kemudian, langsung kembali ke posisinya di belakang dram.
Cakka juga langsung mengambil gitarnya yang memang sering ia tinggal di ruang
musik. Keduanya bersiap-siap dengan alat musik masing-masing, kemudian langsung
memulai taruhan mereka setelah aba-aba Ray.
“Satu... Dua... Tiga!” kata Ray langsung menggebuk dramnya dengan penuh
semangat. Diikuti oleh Cakka yang memainkan melodinya dengan lincah.
Mungkin kalau sekarang banyak orang, pasti ruang musik bisa berubah menjadi
seperti stadion bola yang penuh dengan supporter. Cakka dan Ray terus memainkan
alat musik mereka dengan rasa pantang menyerah. Sesekali mereka saling menatap
satu sama lain, mencoba sekedar melihat keadaan. Dan ternyata hingga lima belas
menit lebih, semangat mereka sama sekali tidak menurun. Dari lagu yang lambat,
sedang hingga sampai ke lagu dengan tempo cepatpun mereka masih terlihat asyik
dengan alat musik masing-masing. Hingga akhirnya, ternyata mereka justru
berhenti di waktu yang bersamaan.
Ray menoleh ke arah Cakka. Cakka juga menatap Ray balik. Kemudian, mereka
langsung tertawa bersama. Lucu. Awalnya taruhan, bahkan tak ada yang mau
mengalah, tapi ujung-ujungnya mereka berdua yang kalah.
“Oke, oke, taruhan kita dibatalin aja,” kata Ray sambil tertawa lucu. Ia
menyingkir dari tempatnya dan menghampiri Cakka. “Kita berdua yang kalah.
Lagipula, tadi gue bikin taruhan itu biar bisa mancing lo main doang, kok.
Haha.”
“Sialan!” kata Cakka sambil menggelengkan kepalanya. “Norak banget sih lo?”
“Kalau nggak begitu,
lo nggak bakal mau main sama gue, kan?" kata Ray sambil memamerkan
giginya. “Kalau temen beda karakter, cara deketinnya beda dong.”
"Dasar homo.
Jangan-jangan lo suka sama gue ya? Sampe segitunya!" kata Cakka langsung
menjitak kepala Ray.
Ray hanya nyengir dan mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya kembali agar
Cakka tidak mengamuk dan memangsanya. Ray sudah mengira-ngira semenjak ia kenal
dengan teman sebangkunya ini, dan ternyata ia benar. Kelemahan Cakka adalah dia
paling tidak mau orang menantangnya karena dia merasa paling benar atas hal
apapun.
"Tenang, bro. Gue normal kok!”
“Masa?”
“Ya udah kalau nggak percaya,” kata Ray balik menjitak Cakka. Ia berjalan
mengambil tasnya dan menggantungkannya di pundak. “Gue mau balik, harus belajar
buat besok. Lo kalau masih di sini, gue tinggal nggak apa-apa, kan?”
“Enak aja, gue kan belum mau pulang, taruh tas lo lagi!” kata Cakka.
Ray mengernyitkan dahinya heran.
“Lo mau temenan sama gue, kan? Itu berarti lo harus masuk ke dalam dunia
gue, dimana lo harus nurutin semua kemauan gue,” kata Cakka. “Gue belum mau
pulang. Gue masih mau main di sini. Jadi, mendingan lo balik ke tempat duduk
lo. Se-ka-rang.”
Ray tertawa. “Bilang aja lo ketagihan main sama gue. Pake banyak alesan
lagi.”
“Berisik lo, cepetan balik!” kata Cakka datar. “Atau nggak lo nggak boleh
pulang.”
Ray tertawa lagi. Kemudian, ia langsung menaruh tasnya kembali dan kembali
ke posisinya di belakang dram. Dengan aba-abanya, mereka kembali bermain musik
bersama sepuasnya. Sesekali Ray melirik ke arah Cakka di sela-sela lagu,
menatap teman barunya yang terlalu unik. Lihat, tadi ia bahkan bersikap
menyebalkan kepadanya, sekarang dia sendiri yang ketagihan bermain musik
bersamanya. Biarlah, sehari ini dia mengurangi jam belajarnya sedikit.
TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

keep writing ya
BalasHapus