Rabu, 14 Januari 2015

Cerbung | The Real Him Part 1


Kalau berbicara soal Cakka, mungkin sebagian besar orang yang mengenalnya akan menjawab dia adalah seorang lelaki menyebalkan dan aneh. Ia yang tercipta lengkap dengan lima indera sama sekali tak menggunakan keberuntungannya dengan baik. Terutama mulutnya. Kalau kata orang, dia itu terlalu hemat berbicara. Satu kata yang keluar dari mulutnya terasa berjuta-juta harganya. Tapi sekalinya berbicara panjang, bisa menusuk perasaan orang.

Hampir semua orang tak bisa menebak kepribadiannya, kadang-kadang dia bisa menjadi pria yang sangat baik, namun ia juga bisa menjadi pria yang sangat kejam jika dia mau. Ia hidup sebagai anak SMA yang berubah-ubah seperti bunglon. Dan karena itulah tak semua orang bisa berkomunikasi dengannya. Sebagian besar yang telah mengenalnya justru memilih untuk menjauh, tak tahan dengan sikap cuek yang begitu melekat dalam dirinya. Bahkan kakak-kakaknya sendiri kadang-kadang lelah menghadapinya.
TOK... TOK... TOK...
“Cakka!” kata seseorang dari luar kamar. “Ini udah jam berapa?! Bangun!!”
“Ngg...” Si pemilik kamar yang masih tertidur nyenyak itu justru bergerak-gerak di tempat tidur, merasa tidurnya terganggu. Tanpa memperdulikan suara tersebut, ia kembali memeluk gulingnya dan tetap bermain-main di alam mimpinya.
“Cakka!” terdengar suara orang itu lagi luar kamar. Setelah itu, ia langsung membuka pintu kamar dan mengguncang-guncang tubuh adiknya yang begitu lelap tertidur. Entah jam berapa ia tidur tadi malam. Kebiasaan insomnianya pasti kambuh lagi.
“Ngg...” lagi-lagi hanya itu saja erangan yang keluar dari mulut Cakka.
Orang itu menghela nafasnya putus asa. Ia melirik jam weker milik adiknya sejenak, kemudian mengomel kembali. “Aduh, lima menit lagi lo telat, tahu! Memangnya lo mau diceramahin Bu Ira lagi?!”
“Ah, sudahlah, Bi, lo membuang-buang tenaga,” kata seseorang dari ambang pintu. Orang yang sedari tadi merecoki Cakka itu langsung menoleh ke arahnya. “Lo kan udah tahu bagaimana tabiat Cakka, mendingan kita berangkat duluan aja.”
“Memangnya lo nggak khawatir sama dia, Kak? Kalau dia begini terus, dia bisa-bisa nggak naik kelas gara-gara catatan kasusnya.” kata Biru lelah. Ia menghampiri kakak sulungnya itu dengan wajah cemberut.
“Ah, nggak bakal ngaruh, Bi. Nilai-nilai Cakka itu di atas rata-rata, prestasi musiknya segudang. Jangankan tinggal kelas, ngeluarin Cakka dari sekolah aja kepsek mikir dua kali,” kata Elang sambil tertawa. “Udah, kita berangkat aja. Entar itu tugas Bunda buat bangunin dia.”
Biru menghela nafas lagi, kemudian mengikuti langkah Elang keluar rumah. “Ya udah.”
Begitulah keadaan rumah Cakka setiap hari. Biru, anak kedua di keluarga itu, selalu saja ribet jika melihat adiknya bangun kesiangan. Menurutnya akan sangat bahaya jika Cakka tak cepat-cepat menghapus sifat buruknya tersebut. Namun, bagi si anak sulung, Elang, adik bungsu mereka itu belum tentu mendengarkan mereka kalau mereka merecokinya. Lebih baik ia angkat tangan dan menyerahkan tugas itu kepada Bunda. Tugasnya sebagai kakak hanya terus mengingatkannya secara baik-baik. Kalau dia tetap ngotot, ya urusan dia.

J L J

“Sini kamu.”
Cakka melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tanpa banyak bicara. Hawa ruangan ini sudah tak asing lagi. Tak seperti anak-anak lain yang selalu tegang jika masuk ke sini, Cakka justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap wanita paruh baya berkacamata yang duduk di hadapannya.
“Duduk.”
“Saya rasa tak perlu,” kata Cakka singkat. “Cukup katakan apa hukuman saya kali ini.”
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya. “Chase Karayne, kamu adalah salah satu siswa terpintar di sekolah ini. Kamu pasti tahu apa akibat kalau siswa SMA MIFI melanggar peraturan sekolah.”
Cakka diam saja.
“Kamu harus tahu, Kka, hampir tak ada siswa yang secerdas kamu di sekolah ini,” kata beliau lagi. “Dan saya hanya berharap kamu mengerti harapan kami semua. Ubah sifat burukmu itu. Minimal tidak terlambat datang ke sekolah agar saya tak terpaksa mengeluarkan kamu.”
Cakka mengangkat alis. “Kalau saya nggak mau?”
Wanita paruh baya itu menatap anak didiknya diam.
“Bu Ira, menghukum saya itu gampang. Tinggal suruh saya bersihin kamar mandi, saya akan melakukannya. Paling saya nggak ikut kelas sampai siang,” kata Cakka lagi. “Mau terlambat atau nggak, sama sekali nggak akan ngaruh ke nilai-nilai saya.”
“Mungkin kamu harus diingatkan kalau buku kasus termasuk perhitungan saat kenaikan kelas,” kata Ibu Ira. “Nilai-nilai yang di atas rata-rata tidak akan menyelamatkan laporan sikap yang buruk.”
“Kalau kalian tidak berniat membantu pendidikan saya, kenapa harus mikir dua kali untuk ngeluarin saya dari sekolah ini?” tanya Cakka cuek. “Saya bisa cari sekolah lain.”
Ibu Ira menghela nafas. “Hari ini kamu lari keliling lapangan lima belas kali ya?”
Cakka mengangguk. Ia langsung membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan tersebut. Begitu bayangannya hilang, Ibu Ira langsung memegang kepalanya. Pusing harus bagaimana menghadapi anak didiknya yang satu itu. Kalau saja ia tak cepat-cepat mengakhiri pembicaraan, mungkin sampai sekolah usai ia masih ada di hadapannya. Dia memang berbeda dari siswa lainnya. Dia juga yang membuat SMA MIFI bisa dikenal banyak orang. Itu yang membuatnya sulit kehilangan muridnya yang bandel tersebut.

J L J

Lari keliling lapangan lima belas kali bukanlah kendala bagi Cakka. Selain aktif ikut dalam musik dan cerdas cermat, dia juga senang dengan olahraga basket. Latihan fisik yang berat sudah menjadi kegiatannya. Hukuman ini tak bisa dibilang hukuman. Kalau harus disebut hukuman, mungkin bagi Cakka ini adalah hukuman yang terlalu cetek. Berlari seperti ini justru menguntungkan bagi tubuh atletisnya. Jika disuruh memilih, Cakka lebih ingin melakukan hukuman-hukuman menantang seperti membersihkan tong sampah satu gedung atau membersihkan kamar mandi.
Bukan soal malu. Cakka tak pernah memikirkan akan merasa malu jika anak-anak melihat atau menertawakannya sedang menjalankan hukuman di lapangan seperti sekarang. Toh mereka tak tahu apa yang dia rasakan. Tapi hukuman berat yang harus ia jalankan itu yang membuatnya semangat.
Cakka melirik jam tangannya setelah ia meraib habis hukumannya. Jam dua belas siang, tepat empat jam ia menjalani hukuman. Biar saja kelamaan. Ia tak akan sudi berlari non-stop di lapangan basket sekolahnya yang begitu besar. Lebih baik tiap dua kali lari ia istirahat dulu di pinggir, toh tak ada guru yang mengawasinya. Lagipula, kalau begini, dia bisa langsung ke kantin dan membeli makanan.
“Mi ayam satu.” sahut Cakka kepada penjual mi ayam di kantin. Setelah itu, ia langsung ‘menaruh’ tas ranselnya di salah satu kursi, disusul oleh dirinya yang juga ikut duduk di sana. Sambil menunggu pesanannya datang, ia memasang penyumbat telinga. Mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.
Selama ia sibuk sendiri, tak ada yang akan bisa mengganggunya. Termasuk para warga kantin. Kalau mereka sudah melihat Cakka mengangguk-angguk sendiri, mereka tidak akan memanggilnya. Apapun alasannya. Seperti penjual mi ayam sekarang.
Beliau hanya tersenyum melihat kelakuan Cakka yang agak aneh dan segera menaruh semangkuk mi ayam yang di pesan anak itu. Hanya dengan satu tepukan pada bahunya, Cakka pasti akan segera kembali ke bumi. Pluk, pluk!
Cakka menoleh ke arah penjual mi ayam yang ternyata sudah kembali ke tempatnya. Ia baru sadar kalau makanan yang ia kehendaki sudah ada di hadapannya. Tanpa banyak basa basi lagi, ia langsung melahap mi ayam tersebut dengan penuh semangat. Ia sudah lapar dari tadi karena tak sempat sarapan di rumah. Paling setelah ini, dia akan masuk di pelajaran terakhir. Pelajaran musik!

J L J

“Hah? Keliling lapangan lima belas kali? Serius lo?” tanya Rio ketika Cakka sudah sampai di kelas saat pergantian pelajaran ke pelajaran musik.
Cakka diam saja mendengar ucapannya. Ia tetap sibuk dengan gitar yang ada di pangkuannya. Walaupun Rio lumayan kepo dengan kehidupannya, sejujurnya dia tak bisa dibilang sahabat Cakka. Mereka berteman bukan karena pernah sebangku atau bagaimana. Cakka hanya pernah membantunya dalam tugas matematika. Cakka juga tidak mengerti kenapa semenjak itu Rio sering SKSD. Sok Kenal Sok Deket.
“Gila, kalau gue yang disuruh kayak gitu, gue pasti udah pingsan, Kka. Apalagi dengan perut kosong. Lo kan pasti nggak sarapan tadi pagi gara-gara telat. Dateng jam berapa sih lo tadi?” tanya teman sekelasnya itu.
Cakka tetap saja sibuk dengan gitarnya. Tangannya masih sibuk lincah dengan not-not gitar yang ia mainkan. Ia sama sekali malas menggubris Rio yang cerewet.
“Kka, gue nggak mau ngomong sama tembok, kali!” kata Rio lagi berusaha sabar.
“Ya udah jangan ngomong sama tembok. Ribet amat!” kata Cakka kesal. “Nggak ada yang nyuruh lo ngomong sama gue juga.”
“Yaelah, Kka, ngomong itu penting kali, Kka. Kita ini makhluk sosial, selalu membutuhkan orang lain. Kalau kita nggak komunikasi, gimana lo bisa berkembang jadi lebih baik? Kata Pak Duta kan---” tanya Rio terputus karena Cakka langsung menutup kedua telinganya. Ia paling malas mendengar apapun dari laki-laki satu itu jika dia sudah mulai berceramah tak jelas.

J L J

Elang baru saja ingin masuk ke dalam kamarnya ketika melihat batang hidung adik bungsunya telah muncul di rumah. Rambut dan seragam sekolahnya berantakan. Tak perlu ditanya lagi, anak itu pasti sedang badmood.
“Habis dari lapangan lo?” tanya Elang langsung menghentikan langkah kakinya.
“Kalau iya kenapa, kalau enggak, kenapa?” tanyanya cuek.
Ia menghela nafas menatap punggung adiknya yang sedikitpun tak berniat untuk berbalik menghadapnya. “Memangnya nggak boleh nanya? Tadi Bunda khawatir sama lo, tahu. Biru apalagi. Lo bisa nggak sih berhenti membuat mereka khawatir?”
Cakka menghela nafasnya, kemudian berbalik badan untuk mendekati kakaknya. “Kenapa nggak lo aja yang bilang sama mereka untuk berhenti khawatirin gue? Gue nggak suka dikepoin.”
“Mereka kepo karena mereka care sama lo,” kata Elang lagi. “Lain kali kalau mau pulang telat tuh kabarin, setidaknya Bunda sama Biru nggak bingung lo ada dimana. Mereka juga bukannya melarang lo pulang telat kan?”
“Terserah lo. Gue capek. Dan gue udah di alam mimpi kalau dari tadi lo nggak ngegangguin gue. Udah, lo masuk aja ke kamar lo. Gue tuh ngantuk tahu.” kata Cakka. Badannya berbalik, kembali berjalan menuju kamar sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
“Lo nggak makan? Tadi gue udah nyisain lauk buat lo.” tanya Elang.
“Lo nggak denger apa gue ngantuk? Males gue makan malem. Kasih ke kucing aja sana makanannya.” kata Cakka cuek, kemudian langsung menghilang di balik pintu kamarnya.
Elang menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya tersebut. Perasaan tadi Bunda mengatakan bahwa ia tidur sampai jam delapan pagi, di sekolah juga dia pasti tidur lagi. Dijamin itu. Dan sekarang dia sudah mengantuk lagi. Benar-benar seperti beruang yang berhibernasi. Ia tak habis pikir kenapa ia bisa memiliki adik cuek yang hobinya blusukan kemana-mana seperti Cakka.
“Kenapa lo, Kak?” tanya Biru tiba-tiba muncul. Ia baru saja habis dari kamar mandi.
“Nggak apa-apa, biasa ngurusin adik kita itu. Baru pulang dia,” kata Elang.
“Hah?” kata Biru kaget. Ia menoleh ke arah jam dinding yang ada di dekat mereka sejenak kemudian berucap kembali. “Gila, jam tujuh malem. Abis darimana dia jam segini baru pulang?”
“Palingan dari lapangan,” kata Elang sambil mengangkat bahunya. “Eh, lo udah ngerjain PR belum? Susun buku? Jangan sampe kita juga ikut membuat Bunda khawatir. Cakka saja sudah cukup.”
“Tinggal kerja PR doang, lo sendiri memangnya udah ngerjain PR? Nyuruh-nyuruh gue doang lo, Kak, bisanya.” balas Biru, sukses membuat Elang nyengir kuda.
“Belum sih,” katanya. “Tadi abis ngegitar di kamar.”
Biru mendengus. “Ngegitar melulu, memangnya ada kompetisi lagi band lo?”
“Memangnya cuma saat kompetisi doang gue harus latihan gitar? Ampun deh lo,” kata Elang sambil menjitak dahi adik perempuannya. “Band gue itu dibuat supaya kita bisa mengembangkan bakat kita masing-masing. Tanpa latihan gue mau berkembang darimana?”
“Hadeh, banyak bawel lo, Kak. Udah sana, kerjain PR lo!”
“Perasaan bawelan lo daripada gue, Bi.” kata Elang menggelengkan kepala.
“Ish, udah, gue mau beres-beres dulu. Besok gue pulang telat, ada latihan jujitsu besok.” kata Biru sambil mendorong kakaknya ke kamar. Jujitsu adalah olahraga bela diri dari Jepang. Ia mengambil ekskul jujitsu di sekolah karena ia sangat ingin menjaga dirinya sendiri. Ia tak mau menjadi perempuan yang terlalu merasa seperti putri raja. Perempuan yang selalu dilayani, perempuan yang selalu melakukan segalanya seperti putri solo, semua itu benar-benar menjijikan di matanya walaupun dia perempuan. Baginya mau perempuan maupun laki-laki, tetap harus tahu bagaimana caranya mandiri.

TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p