Kalau berbicara soal Cakka, mungkin sebagian besar orang yang mengenalnya
akan menjawab dia adalah seorang lelaki menyebalkan dan aneh. Ia yang tercipta
lengkap dengan lima indera sama sekali tak menggunakan keberuntungannya dengan
baik. Terutama mulutnya. Kalau kata orang, dia itu terlalu hemat berbicara.
Satu kata yang keluar dari mulutnya terasa berjuta-juta harganya. Tapi
sekalinya berbicara panjang, bisa menusuk perasaan orang.
Hampir semua orang tak bisa menebak kepribadiannya, kadang-kadang dia bisa menjadi
pria yang sangat baik, namun ia juga bisa menjadi pria yang sangat kejam jika
dia mau. Ia hidup sebagai anak SMA yang berubah-ubah seperti bunglon. Dan
karena itulah tak semua orang bisa berkomunikasi dengannya. Sebagian besar yang
telah mengenalnya justru memilih untuk menjauh, tak tahan dengan sikap cuek
yang begitu melekat dalam dirinya. Bahkan kakak-kakaknya sendiri kadang-kadang
lelah menghadapinya.
TOK... TOK... TOK...
“Cakka!” kata seseorang dari luar kamar. “Ini udah jam berapa?! Bangun!!”
“Ngg...” Si pemilik kamar yang masih tertidur nyenyak itu justru
bergerak-gerak di tempat tidur, merasa tidurnya terganggu. Tanpa memperdulikan
suara tersebut, ia kembali memeluk gulingnya dan tetap bermain-main di alam
mimpinya.
“Cakka!” terdengar suara orang itu lagi luar kamar. Setelah itu, ia
langsung membuka pintu kamar dan mengguncang-guncang tubuh adiknya yang begitu
lelap tertidur. Entah jam berapa ia tidur tadi malam. Kebiasaan insomnianya
pasti kambuh lagi.
“Ngg...” lagi-lagi hanya itu saja erangan yang keluar dari mulut Cakka.
Orang itu menghela nafasnya putus asa. Ia melirik jam weker milik adiknya
sejenak, kemudian mengomel kembali. “Aduh, lima menit lagi lo telat, tahu! Memangnya
lo mau diceramahin Bu Ira lagi?!”
“Ah, sudahlah, Bi, lo membuang-buang tenaga,” kata seseorang dari ambang
pintu. Orang yang sedari tadi merecoki Cakka itu langsung menoleh ke arahnya.
“Lo kan udah tahu bagaimana tabiat Cakka, mendingan kita berangkat duluan aja.”
“Memangnya lo nggak khawatir sama dia, Kak? Kalau dia begini terus, dia
bisa-bisa nggak naik kelas gara-gara catatan kasusnya.” kata Biru lelah. Ia
menghampiri kakak sulungnya itu dengan wajah cemberut.
“Ah, nggak bakal ngaruh, Bi. Nilai-nilai Cakka itu di atas rata-rata, prestasi
musiknya segudang. Jangankan tinggal kelas, ngeluarin Cakka dari sekolah aja
kepsek mikir dua kali,” kata Elang sambil tertawa. “Udah, kita berangkat aja.
Entar itu tugas Bunda buat bangunin dia.”
Biru menghela nafas lagi, kemudian mengikuti langkah Elang keluar rumah.
“Ya udah.”
Begitulah keadaan rumah Cakka setiap hari. Biru, anak kedua di keluarga
itu, selalu saja ribet jika melihat adiknya bangun kesiangan. Menurutnya akan
sangat bahaya jika Cakka tak cepat-cepat menghapus sifat buruknya tersebut.
Namun, bagi si anak sulung, Elang, adik bungsu mereka itu belum tentu
mendengarkan mereka kalau mereka merecokinya. Lebih baik ia angkat tangan dan
menyerahkan tugas itu kepada Bunda. Tugasnya sebagai kakak hanya terus
mengingatkannya secara baik-baik. Kalau dia tetap ngotot, ya urusan dia.
J L J
“Sini kamu.”
Cakka melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tanpa banyak bicara. Hawa
ruangan ini sudah tak asing lagi. Tak seperti anak-anak lain yang selalu tegang
jika masuk ke sini, Cakka justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana
dan menatap wanita paruh baya berkacamata yang duduk di hadapannya.
“Duduk.”
“Saya rasa tak perlu,” kata Cakka singkat. “Cukup katakan apa hukuman saya
kali ini.”
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya. “Chase Karayne, kamu adalah salah
satu siswa terpintar di sekolah ini. Kamu pasti tahu apa akibat kalau siswa SMA
MIFI melanggar peraturan sekolah.”
Cakka diam saja.
“Kamu harus tahu, Kka, hampir tak ada siswa yang secerdas kamu di sekolah
ini,” kata beliau lagi. “Dan saya hanya berharap kamu mengerti harapan kami
semua. Ubah sifat burukmu itu. Minimal tidak terlambat datang ke sekolah agar
saya tak terpaksa mengeluarkan kamu.”
Cakka mengangkat alis. “Kalau saya nggak mau?”
Wanita paruh baya itu menatap anak didiknya diam.
“Bu Ira, menghukum saya itu gampang. Tinggal suruh saya bersihin kamar
mandi, saya akan melakukannya. Paling saya nggak ikut kelas sampai siang,” kata
Cakka lagi. “Mau terlambat atau nggak, sama sekali nggak akan ngaruh ke
nilai-nilai saya.”
“Mungkin kamu harus diingatkan kalau buku kasus termasuk perhitungan saat
kenaikan kelas,” kata Ibu Ira. “Nilai-nilai yang di atas rata-rata tidak akan
menyelamatkan laporan sikap yang buruk.”
“Kalau kalian tidak berniat membantu pendidikan saya, kenapa harus mikir
dua kali untuk ngeluarin saya dari sekolah ini?” tanya Cakka cuek. “Saya bisa
cari sekolah lain.”
Ibu Ira menghela nafas. “Hari ini kamu lari keliling lapangan lima belas
kali ya?”
Cakka mengangguk. Ia langsung membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan
tersebut. Begitu bayangannya hilang, Ibu Ira langsung memegang kepalanya.
Pusing harus bagaimana menghadapi anak didiknya yang satu itu. Kalau saja ia
tak cepat-cepat mengakhiri pembicaraan, mungkin sampai sekolah usai ia masih
ada di hadapannya. Dia memang berbeda dari siswa lainnya. Dia juga yang membuat
SMA MIFI bisa dikenal banyak orang. Itu yang membuatnya sulit kehilangan
muridnya yang bandel tersebut.
J L J
Lari keliling lapangan lima belas kali bukanlah kendala bagi Cakka. Selain
aktif ikut dalam musik dan cerdas cermat, dia juga senang dengan olahraga
basket. Latihan fisik yang berat sudah menjadi kegiatannya. Hukuman ini tak
bisa dibilang hukuman. Kalau harus disebut hukuman, mungkin bagi Cakka ini
adalah hukuman yang terlalu cetek. Berlari seperti ini justru menguntungkan
bagi tubuh atletisnya. Jika disuruh memilih, Cakka lebih ingin melakukan
hukuman-hukuman menantang seperti membersihkan tong sampah satu gedung atau
membersihkan kamar mandi.
Bukan soal malu. Cakka tak pernah memikirkan akan merasa malu jika
anak-anak melihat atau menertawakannya sedang menjalankan hukuman di lapangan
seperti sekarang. Toh mereka tak tahu apa yang dia rasakan. Tapi hukuman berat
yang harus ia jalankan itu yang membuatnya semangat.
Cakka melirik jam tangannya setelah ia meraib habis hukumannya. Jam dua
belas siang, tepat empat jam ia menjalani hukuman. Biar saja kelamaan. Ia tak
akan sudi berlari non-stop di lapangan basket sekolahnya yang begitu besar.
Lebih baik tiap dua kali lari ia istirahat dulu di pinggir, toh tak ada guru
yang mengawasinya. Lagipula, kalau begini, dia bisa langsung ke kantin dan
membeli makanan.
“Mi ayam satu.” sahut Cakka kepada penjual mi ayam di kantin. Setelah itu,
ia langsung ‘menaruh’ tas ranselnya di salah satu kursi, disusul oleh dirinya
yang juga ikut duduk di sana. Sambil menunggu pesanannya datang, ia memasang
penyumbat telinga. Mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.
Selama ia sibuk sendiri, tak ada yang akan bisa mengganggunya. Termasuk para
warga kantin. Kalau mereka sudah melihat Cakka mengangguk-angguk sendiri,
mereka tidak akan memanggilnya. Apapun alasannya. Seperti penjual mi ayam
sekarang.
Beliau hanya tersenyum melihat kelakuan Cakka yang agak aneh dan segera
menaruh semangkuk mi ayam yang di pesan anak itu. Hanya dengan satu tepukan
pada bahunya, Cakka pasti akan segera kembali ke bumi. Pluk, pluk!
Cakka menoleh ke arah penjual mi ayam yang ternyata sudah kembali ke
tempatnya. Ia baru sadar kalau makanan yang ia kehendaki sudah ada di
hadapannya. Tanpa banyak basa basi lagi, ia langsung melahap mi ayam tersebut
dengan penuh semangat. Ia sudah lapar dari tadi karena tak sempat sarapan di
rumah. Paling setelah ini, dia akan masuk di pelajaran terakhir. Pelajaran
musik!
J L J
“Hah? Keliling lapangan lima belas kali? Serius lo?” tanya Rio ketika Cakka
sudah sampai di kelas saat pergantian pelajaran ke pelajaran musik.
Cakka diam saja mendengar ucapannya. Ia tetap sibuk dengan gitar yang ada
di pangkuannya. Walaupun Rio lumayan kepo dengan kehidupannya, sejujurnya dia
tak bisa dibilang sahabat Cakka. Mereka berteman bukan karena pernah sebangku
atau bagaimana. Cakka hanya pernah membantunya dalam tugas matematika. Cakka
juga tidak mengerti kenapa semenjak itu Rio sering SKSD. Sok Kenal Sok Deket.
“Gila, kalau gue yang disuruh kayak gitu, gue pasti udah pingsan, Kka.
Apalagi dengan perut kosong. Lo kan pasti nggak sarapan tadi pagi gara-gara
telat. Dateng jam berapa sih lo tadi?” tanya teman sekelasnya itu.
Cakka tetap saja sibuk dengan gitarnya. Tangannya masih sibuk lincah dengan
not-not gitar yang ia mainkan. Ia sama sekali malas menggubris Rio yang
cerewet.
“Kka, gue nggak mau ngomong sama tembok, kali!” kata Rio lagi berusaha
sabar.
“Ya udah jangan ngomong sama tembok. Ribet amat!” kata Cakka kesal. “Nggak
ada yang nyuruh lo ngomong sama gue juga.”
“Yaelah, Kka, ngomong itu penting kali, Kka. Kita ini makhluk sosial,
selalu membutuhkan orang lain. Kalau kita nggak komunikasi, gimana lo bisa
berkembang jadi lebih baik? Kata Pak Duta kan---” tanya Rio terputus karena
Cakka langsung menutup kedua telinganya. Ia paling malas mendengar apapun dari
laki-laki satu itu jika dia sudah mulai berceramah tak jelas.
J L J
Elang baru saja ingin masuk ke dalam kamarnya ketika melihat batang hidung
adik bungsunya telah muncul di rumah. Rambut dan seragam sekolahnya berantakan.
Tak perlu ditanya lagi, anak itu pasti sedang badmood.
“Habis dari lapangan lo?” tanya Elang langsung menghentikan langkah
kakinya.
“Kalau iya kenapa, kalau enggak, kenapa?” tanyanya cuek.
Ia menghela nafas menatap punggung adiknya yang sedikitpun tak berniat
untuk berbalik menghadapnya. “Memangnya nggak boleh nanya? Tadi Bunda khawatir
sama lo, tahu. Biru apalagi. Lo bisa nggak sih berhenti membuat mereka
khawatir?”
Cakka menghela nafasnya, kemudian berbalik badan untuk mendekati kakaknya.
“Kenapa nggak lo aja yang bilang sama mereka untuk berhenti khawatirin gue? Gue
nggak suka dikepoin.”
“Mereka kepo karena mereka care sama
lo,” kata Elang lagi. “Lain kali kalau mau pulang telat tuh kabarin, setidaknya
Bunda sama Biru nggak bingung lo ada dimana. Mereka juga bukannya melarang lo
pulang telat kan?”
“Terserah lo. Gue capek. Dan gue udah di alam mimpi kalau dari tadi lo
nggak ngegangguin gue. Udah, lo masuk aja ke kamar lo. Gue tuh ngantuk tahu.”
kata Cakka. Badannya berbalik, kembali berjalan menuju kamar sambil
menggaruk-garuk tengkuknya.
“Lo nggak makan? Tadi gue udah nyisain lauk buat lo.” tanya Elang.
“Lo nggak denger apa gue ngantuk? Males gue makan malem. Kasih ke kucing
aja sana makanannya.” kata Cakka cuek, kemudian langsung menghilang di balik
pintu kamarnya.
Elang menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya tersebut. Perasaan tadi
Bunda mengatakan bahwa ia tidur sampai jam delapan pagi, di sekolah juga dia
pasti tidur lagi. Dijamin itu. Dan sekarang dia sudah mengantuk lagi.
Benar-benar seperti beruang yang berhibernasi. Ia tak habis pikir kenapa ia
bisa memiliki adik cuek yang hobinya blusukan kemana-mana seperti Cakka.
“Kenapa lo, Kak?” tanya Biru tiba-tiba muncul. Ia baru saja habis dari
kamar mandi.
“Nggak apa-apa, biasa ngurusin adik kita itu. Baru pulang dia,” kata Elang.
“Hah?” kata Biru kaget. Ia menoleh ke arah jam dinding yang ada di dekat
mereka sejenak kemudian berucap kembali. “Gila, jam tujuh malem. Abis darimana
dia jam segini baru pulang?”
“Palingan dari lapangan,” kata Elang sambil mengangkat bahunya. “Eh, lo
udah ngerjain PR belum? Susun buku? Jangan sampe kita juga ikut membuat Bunda
khawatir. Cakka saja sudah cukup.”
“Tinggal kerja PR doang, lo sendiri memangnya udah ngerjain PR?
Nyuruh-nyuruh gue doang lo, Kak, bisanya.” balas Biru, sukses membuat Elang
nyengir kuda.
“Belum sih,” katanya. “Tadi abis ngegitar di kamar.”
Biru mendengus. “Ngegitar melulu, memangnya ada kompetisi lagi band lo?”
“Memangnya cuma saat kompetisi doang gue harus latihan gitar? Ampun deh
lo,” kata Elang sambil menjitak dahi adik perempuannya. “Band gue itu dibuat supaya
kita bisa mengembangkan bakat kita masing-masing. Tanpa latihan gue mau
berkembang darimana?”
“Hadeh, banyak bawel lo, Kak. Udah sana, kerjain PR lo!”
“Perasaan bawelan lo daripada gue, Bi.” kata Elang menggelengkan kepala.
“Ish, udah, gue mau beres-beres dulu. Besok gue pulang telat, ada latihan
jujitsu besok.” kata Biru sambil mendorong kakaknya ke kamar. Jujitsu adalah
olahraga bela diri dari Jepang. Ia mengambil ekskul jujitsu di sekolah karena
ia sangat ingin menjaga dirinya sendiri. Ia tak mau menjadi perempuan yang
terlalu merasa seperti putri raja. Perempuan yang selalu dilayani, perempuan
yang selalu melakukan segalanya seperti putri solo, semua itu benar-benar
menjijikan di matanya walaupun dia perempuan. Baginya mau perempuan maupun
laki-laki, tetap harus tahu bagaimana caranya mandiri.
TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p