Selasa, 11 November 2014

Cerbung | Impian Bola Basket Part 21


Sesampainya di rumah, Cakka, Biru dan teman-teman mereka langsung disambut hangat oleh Bunda dan juga Ayah yang kebetulan sedang ada di rumah. Kedua orang tua mereka benar-benar kaget namun gembira melihat segerombolan anak-anak masuk ke dalam rumah. Baru kali ini Cakka dan Biru membawa teman-teman mereka berdelapan sekaligus. Apalagi saat mereka mengetahui bahwa mereka akan belajar bersama. Benar-benar membanggakan.

Selama berjam-jam mereka mengerjakan kesibukan masing-masing. Alvin, Rika dan Alia tampak berdiri di sekitar komputer, memperhatikan Biru mengetik. Sesekali juga memberikan ide untuknya. Sementara itu, Cakka dan yang lainnya mengelilingi meja belajar yang cukup besar untuk belajar matematika dan IPS. Buku-buku paket dan kotak pensil tampak berantakan di meja.
“Yel, bagaimana kau mendapatkan nilai x di soal ini?” tanya Cakka sambil menunjukkan soal yang tak ia mengerti. Yang ditanya langsung menggeser buku tulisnya dan mengajarkan Cakka pelan-pelan.
“Gunung vulkanik!” kata Rio kepada Ray yang sedang belajar IPS. “Oke, sebaiknya sekarang kau hafalkan jenis-jenis bentang alam. Delta, tanjung dan sebagainya.  Kemudian, jenis-jenis patahan juga. Nanti akan kutanya.”
“Ah, banyak sekali, Yo. Bosan sekali aku,” kata Ray sambil menopang dagu dengan sebelah tangan. “Kepalaku sudah mau pecah. Bisakah kita istirahat dulu?”
Rio menggelengkan kepalanya. Ia menutup buku tulisnya, lalu mengeluh. “Bukankah tadi kita sudah beristirahat? Ini sudah sore. Kau ingin pulang jam berapa kalau mengulur waktu terus? Tengah malam?”
Ray nyengir mendengarnya.
Krek...
“Mari minum jus jeruknya...,” tiba-tiba Bunda datang sambil membawa satu baki penuh dengan jus jeruk. Begitu mereka semua melihat para penyengar itu, mereka langsung menyerbu Bunda dan mengambil jatah masing-masing.
“Terima kasih, Tante!” kata teman-teman Cakka bergantian.
“Tante, ada makanan tidak? Atau nasi goreng yang waktu itu juga enak!” tanya Ray dengan wajah tak berdosa. Ia langsung mendapatkan jitakan dari teman-temannya. Benar-benar tak tahu malu!
Bunda justru tertawa melihatnya. “Ternyata kalian lapar ya? Kalau begitu, biar Tante buatkan makan malam untuk kalian. Nanti kalian bisa makan bersama Cakka dan Biru. Kalian belajarlah dulu.”
“Horee!” sorak mereka gembira. Mereka langsung kembali ke tempat masing-masing dan kembali belajar dan membuat tugas dengan semangat. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat agar tidak kelelahan.
Begitu jarum pendek menunjukkan angka lima tepat, suasana kamar Cakka tiba-tiba berubah menjadi gaduh. Yang tadinya kamar itu berubah menjadi tempat belajar bersama sekarang berubah lagi menjadi tempat hangout. Cakka tampak berbaring di tempat tidur, Alvin duduk di karpet, Ray tetap duduk di kursinya dan lain-lain. Posisi mereka semua menyebar dan saling bercanda tawa di sana. Sesekali mereka juga mengungkit-ungkit pertandingan kemarin, bahkan Pak Jo sebagai bahan bercandaan. Apalagi kalau bukan membicarakan basket.
“Anak-anak?” Bunda tiba-tiba datang di sela-sela obrolan mereka. “Makan malam sudah jadi. Apa kalian ingin makan sekarang? Elang sudah menunggu di bawah.”
“Kalau begitu, ayo kita makan dulu, teman-teman! Setelah itu, kita bisa langsung pulang dan istirahat. Kita harus menyimpan energi untuk hari Senin agar tetap sehat!” kata Alvin. Ia menoleh ke arah sang tuan rumah. “Tidak apa-apa, bukan, Cakka?”
Cakka tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya.
“Hore! Makan!” seru Ray sambil mengangkat kedua tangannya semangat.
“Ah, berisik kau, Ray! Makan terus pikiranmu!” kata Gabriel sambil menjitak temannya, membuat si pemilik kepala mengerucutkan bibirnya. Gabriel sampai tertawa melihatnya.
“Hei, sudah, sudah. Ayo kalian makan dulu. Bunda sudah menyiapkan banyak lauk untuk kalian yang sudah bekerja keras hari ini,” kata Elang begitu mereka sampai di ruang makan. “Lihat, ada ayam bakar, ikan, sayur, udang mayones, kentang goreng dan teman-temannya. Kalian tinggal pilih sesuka kalian.”
YES!” seru mereka kompak. Hari itu benar-benar menjadi hari yang sangat seru dan menyenangkan bagi mereka. Lucu juga, karena meja makan Cakka tidak cukup untuk sepuluh orang ditambah Elang dan Bunda, mereka harus bergantian. Tapi, hebatnya, mereka tetap tidak mengeluh dan menunggu dengan sabar. Apalagi dengan adanya hiburan dari Ray yang mendapatkan giliran akhir, ia terus mengusap perutnya yang minta diisi. Mereka semua tertawa melihatnya.

J L J

“Bagus!” teriak Pak Jo ketika Cakka berhasil melakukan lay-up kiri dengan baik saat ekskul basket. Ia mengacungkan jempol kepadanya. “Oke, giliranmu Gabriel!”
Gabriel maju dari pinggir lapangan, sementara Cakka kembali ke barisan. Ya, sekarang mereka sedang bergantian melakukan lay-up untuk melatih teknik kaki agar mereka semua tambah mahir. Bukan hanya tim inti saja, teman-teman mereka di ekskul basket putra juga ikut serta dalam latihan tersebut. Dan dari sekian banyak anak basket yang sudah maju, hampir semuanya sudah tahu bagaimana caranya melakukan lay-up. Bagaimana kakinya, tangannya dan lain-lain. Hanya saja mereka masih perlu banyak latihan untuk benar-benar mahir dalam teknik tersebut.
Latihan itu berlangsung selama setengah jam. Setelah berlatih berkali-kali, Pak Jo langsung mengumpulkan mereka di tengah lapangan untuk latihan menembak. Masing-masing dari mereka harus bisa melakukan tembakan dua angka sampai tiga angka. Dan kesempatan mereka hanya lima kali. Dua kali untuk jarak dekat, tiga kali untuk jarak jauh. Sementara satu orang sedang latihan, yang lainnya duduk di pinggir lapangan menyemangati sambil menunggu giliran.
“Silahkan, Alvin.” kata Pak Jo mempersilahkan Alvin mulai.
Alvin mengangguk. Ia segera mendribel bola yang sudah ada di tangannya kemudian melempar bola menuju ring. Dengan lima kali kesempatan, ia bisa memasukkan dua kali jarak dekat dan satu kali jarak jauh. Setelah itu, ada Cakka yang dapat memasukkan empat kali berturut-turut. Sayang tembakan terakhir hanya mengenai bibir ring. Kemudian, Ray, Rio, Gabriel, anak-anak yang lain, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul setengah empat.
“Baiklah! Sebelum latihan hari ini ditutup, Bapak ingin mengumumkan sesuatu yang menarik untuk kalian semua.” kata Pak Jo sambil tersenyum. “Kalian pasti bingung bukan, mengapa latihan hari ini berbeda dari biasanya? Bapak sengaja tidak memberitahu dulu, supaya kalian bersemangat latihan.”
“Memangnya ada apa, Pak?” tanya Rio penasaran.
Pak Jo tersenyum mendengar pertanyaan Rio. Ia melihat satu per satu anak-anak basket yang juga memasang wajah penasaran. Ia menghela nafasnya sejenak, kemudian langsung berkata, “Jadi, sebenarnya Bapak ingin melihat kemampuan kalian masing-masing. Dari kalian semua, Bapak akan memilih tiga puluh orang anak untuk ikut serta dalam turnamen beberapa bulan ke depan. Turnamen Basket antar SMP Se-Jakarta!”
“Huaa!” seru semua anak basket. Wajah lelah mereka seketika berubah cerah.
“Benarkah?!” kata Ray dengan wajah gembira. “Wah, turnamen besar seperti itu kan biasanya dipantau pelatih nasional!”
“Astaga! Keren sekali!” kata anak yang lain.
“Tenang, tenang! Tenang semua!” kata Pak Jo sambil tertawa melihat rasa antusias anak-anaknya. “Perhatian, kalau kalian ingin menjadi salah satu dari tiga puluh anak itu, kalian harus berlatih keras untuk Senin depan. Karena Senin depan, Bapak akan mengadakan pertandingan saat ekskul. Dan dari sana Bapak akan memilih tiga puluh anak tersebut. Mengerti?”
“Mengerti, Pak!”
“Oke, kalian boleh pulang sekarang!”
Semua anak-anak basket langsung bubar dan segera membereskan barang-barang mereka. Kali ini sama sekali tak ada yang mengeluh lelah. Bahkan Ray juga masih sangat semangat. Kabar yang dibawa oleh Pak Jo benar-benar memberikan sebongkah energi ke dalam tubuh mereka. Bukan hanya tim basket putra saja, tim basket putri juga ternyata dilatih untuk ikut dalam turnamen itu. Cakka dan teman-temannya terus menebarkan senyuman sampai mereka berpisah. Bahkan Elang yang menjemput juga sampai heran melihat adik-adiknya.
“Ada apa kalian tersenyum terus?” tanyanya sambil nyengir.
Namun, Cakka dan Biru hanya tertawa menanggapinya.

J L J

Ceklek!
Cakka menutup pintu kamar mandi setelah ia selesai membersihkan badannya. Dengan wajah yang cerah dan rambut yang sudah wangi kembali, ia melipat handuknya dan menggantungkannya lagi di gantungan handuk. Kemudian, ia segera membereskan buku-bukunya untuk pelajaran besok. Buku pelajaran yang tak diperlukan harus ia keluarkan agar tidak memberatkan tasnya. Tak lupa juga ia bersihkan mejanya dari barang-barang yang berantakan.
Ia lirik jam dindingnya sejenak. Ternyata, sudah hampir jam tujuh. Untungnya, Cakka sering belajar bersama teman-temannya. Jadi, PR yang harus ia kerjakan dalam waktu dekat ini, sudah selesai semuanya. Itu artinya, tugasnya hari ini tinggal makan malam bersama keluarga dan beristirahat sampai besok pagi!
“Cakka?”
Cakka yang baru selesai menutup tasnya langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum ketika melihat Ayah tengah tersenyum kepadanya di ambang pintu kamar. Ia langsung menghampiri beliau dengan ceria.
“Kau tampaknya senang sekali.” kata Ayah.
Cakka menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “Kak Biru mungkin sudah cerita.”
Ayah tertawa kecil melihat tingkah anaknya. Ia mengacak-acak rambut Cakka dengan sayang, hingga si pemilik rambut tertawa-tawa, membiarkan rambutnya yang baru saja disisir rapi kembali berantakan karena perilaku Ayah.
“Kka.” kata Ayah setelah puas mengusili anaknya. “Ayah sudah memberikanmu kesempatan untuk bermain basket. Jangan kau sia-siakan kebaikan Ayah. Kau harus berjuang dengan keras untuk turnamen itu. Oke?”
Cakka tersenyum. “Ya. Terima kasih, Ayah.”
Ayah mengangguk mantap. Kemudian, ia tarik anak bungsunya tersebut ke dalam pelukannya. Ia elus punggung Cakka pelan-pelan, paling tidak ia bisa menebus sedikit kasih sayang yang selama ini tak pernah ia berikan kepada Cakka. Juga menebus kesalahannya selama ini kepada keluarga.
Cakka tersenyum di dalam pelukan Ayah. Sama seperti para pengintip yang ada di balik tembok, Biru dan Elang. Mereka tampak tersenyum haru melihat Ayah dan Cakka. Belum pernah mereka melihat keduanya sangat akrab seperti itu. Benar-benar sebuah keajaiban bagi mereka.

J L J

Gabriel dan Rio menghela nafasnya bersamaan sambil menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur masing-masing yang bersebelahan. Kedua tangan mereka diletakkan di bawah kepala masing-masing. Mereka masih saja tersenyum sejak pulang dari sekolah tadi.
“Turnamen basket Se-Jakarta.” kata Gabriel sambil menatap langit-langit.
“Ya. Turnamen besar itu. Sangat menyenangkan, bukan?” kata Rio.
“Tentu saja. Turnamen itu berbeda daripada pertandingan dengan sekolah Verrell kemarin. Satu Jakarta akan bertanding. Dan kita harus berusaha mengalahkan mereka semua.” kata Gabriel. Ia menghela nafas lagi dan menoleh ke arah saudara kembarnya. “Petualangan kita akan dimulai lagi, Yo.”
Rio menatap balik. Ia ikut tersenyum. “Ya. Petualangan yang akan sangat seru.”
“Mungkin saja harapan Ray untuk bisa sampai ke NBL bisa terkabul.”
“Semoga saja. Kalau bisa, aku juga ingin bersama-sama kalian semua hingga ke tingkat nasional. Bahkan sampai ke luar negeri juga.” kata Rio lagi.
“Apa maksudmu kalau bisa? Kita pasti bisa. Bukankah kita selalu bersama? Asal kita tetap satu tim, kita bisa melakukan apapun. Semuanya pasti akan baik-baik saja, Yo.” kata Gabriel.
Rio tertawa kecil. “Ya, kau benar, Yel.”
“Sudahlah, ayo kita tidur. Ini sudah malam. Kita harus sekolah besok.”
“Ayo. Selamat malam, Yel.”
“Ya, selamat malam, Yo.” Gabriel dan Rio membalikkan badan mereka ke arah yang berbeda dan segera memeluk guling. Tak lama kemudian, keduanya langsung terlelap.

J L J

Hari ini adalah hari pertama ulangan umum bagi para siswa SMP Idola. Ya, sejak pagi tadi mereka telah sibuk membolak-balikkan halaman buku paket untuk mengulang materi yang sudah mereka pelajari. Mereka benar-benar ingin mendapatkan nilai yang bagus di ulangan kali ini, terlebih anak-anak yang dari awal masuk sekolah belum mendapatkan nilai yang cukup tinggi untuk mendapatkan rapor dan ranking yang bagus di akhir semester ganjil.
“Hei, kau mengerti materi ini? Bisa ajari aku?”
“Kau jago dalam fisika, bukan? Tolong bantu kami!”
“Bagaimana kalau kau membantuku dalam kimia, nanti aku akan membantumu dalam geografi?”
“Ayo kita bahas soal ini, teman-teman!”
Begitulah kira-kira suara yang terdengar di koridor sekolah setiap lantai sekarang. Anak-anak SMA tampak sibuk bekerja kelompok untuk membahas soal bersama, sedangkan anak-anak SMP ada yang sibuk mencari bantuan untuk mengerti materi tertentu, ada juga yang belajar sendiri dengan tenang. Berbeda dengan SD yang belajar di kelas masing-masing.
Cakka sendiri tidak termasuk dalam tiga kategori tersebut. Ia lebih memilih untuk belajar di kelas dengan tenang bersama Ray. Sejak mereka datang ke sekolah tadi, Cakka langsung membuka buku paketnya dan ditaruh di antara mejanya dengan meja Ray untuk membahas soal uji kompetensi. Mereka mencari jawabannya bersama-sama dan langsung mempelajarinya. Dan jika ada salah satu dari mereka ada yang tak mengerti, maka yang lainnya akan menjelaskan.
“Soal terakhir, Kka. Apa fungsi manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi?” kata Ray membacakan soal nomor sepuluh. “Kalau begitu, kau cari manusia sebagai makhluk ekonomi. Aku akan mencari yang sosial.”
Cakka mengangguk. Kemudian, keduanya langsung sibuk kembali.
Kira-kira begitulah kegiatan mereka sampai dua minggu ke depan. Di sekolah, di pinggir lapangan, bahkan di rumah mereka terus membaca buku pelajaran, mengulang-ulang semua materi yang telah mereka pelajari bersama-sama. Yang sudah senior juga tak jera-jera mengajari Cakka dan Ray. Bahkan kadang-kadang Elang juga ikut mengajari mereka semua jika sedang belajar di rumah Cakka. Tak heran begitu ulangan selesai, rapor Cakka dan teman-temannya sangat berseri-seri. Nilai ulangan umum kali ini tak ada yang di bawah tujuh puluh.
Setelah ulangan umum selesai, mereka semua memiliki waktu satu bulan libur panjang. Cakka dan teman-temannya tentu tidak hanya bersantai-santai. Mereka rutin berkumpul di lapangan basket dua minggu sekali untuk latihan. Rencana Pak Jo memilih tiga puluh orang sebelum ulangan umum waktu itu akhirnya tertunda sampai semester depan karena Pak Jo takut akan mengganggu jam belajar. Ah, Pak Jo bisa saja membuat anak-anaknya semakin penasaran dengan turnamen besar itu. Apalagi Cakka dan teman-temannya. Ikut turnamen Se-Jakarta? Benar-benar awal langkah impian mereka!
“Oke, sampai jumpa!” seru Ray dan teman-teman ketika Cakka dan Biru berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sore itu, mereka baru saja selesai melakukan 2 on 2. Keringat telah membasahi tubuh hingga pakaian mereka. Olahraga sore itu benar-benar menghabiskan banyak tenaga.
“Jangan lupa, dua minggu lagi!” kata Alvin sambil melambaikan tangannya.
Cakka tersenyum dan mengangguk kepada Alvin. Ia melambaikan tangannya kembali kepadanya dan segera menyusul kakaknya yang telah meninggalkan lapangan duluan. Biasa, ia sudah tak tahan ingin merasakan dinginnya AC mobil Ayah. Ya, sekarang beliau sering sekali mengantarkan anak-anaknya ke lapangan jika sedang ada waktu senggang.
“Sudah siap?” tanya Ayah sambil memegang setir mobil.
Cakka segera memasang sabuk pengaman dan menganggukkan kepalanya. Sementara Biru menyandarkan tubuhnya di jok belakang, langsung berniat tidur di sana. Ayah langsung menjalankan mobilnya menuju rumah.

J L J

“Aku datang!!”
Cakka, Gabriel, Rio dan Alvin berteriak senang dari dalam kolam berenang ketika Ray tiba-tiba berlari dari pinggir dan menceburkan diri. Ya, selain latihan, tentu saja mereka juga bersenang-senang bersama. Bagaimanapun juga, mereka perlu hiburan di sela-sela kerja keras mereka mengejar impian, bukan? Makanya, hari ini mereka memutuskan untuk pergi ke Atlantis untuk menjernihkan otak.
“Lompatan bagus, Ray!” seru Gabriel begitu kepala Ray muncul dari air.
“Ya! Terlalu bagus hingga membuatku basah kuyup!” tambah Rio.
Ray tertawa melihat rambut Rio yang sudah menutup setengah wajahnya karena terkena banyak cipratan air yang ia ciptakan. “Ah, tidak ada orang yang pergi berenang untuk badan kering, Yo!”
“Sudah, sudah! Bagaimana kalau kita lomba saja?” tanya Alvin. Ia menunjuk ke arah ujung kolam berenang yang nan jauh di sana. “Dari sini ke ujung sana! Yang sampai di sana duluan, akan kutraktir saat pulang nanti!”
“Siapa takut?”
Mereka berlima langsung bersiap-siap di tempatnya masing-masing. Dengan aba-aba yang diucapkan oleh Alvin, mereka langsung berenang secepat mungkin agar dapat sampai terlebih dahulu di ujung kolam yang berkedalaman satu setengah meter tersebut. Biru, Elang, Bunda dan Ayah yang melihat mereka dari pinggir hanya tersenyum. Sesekali Biru juga menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik beserta teman-temannya itu.
“Ah, kau cepat sekali, Cakka!” kata Gabriel ketika ia sudah sampai. Tak disangka, ternyata Cakka sudah duduk di pinggir kolam sambil menunggu teman-teman yang lain. Pada akhirnya, diurutkan dari pemenang pertama adalah Cakka, Gabriel, Alvin, Rio dan yang terakhir adalah Ray. Itu artinya, Cakka yang akan mendapatkan traktiran dari Alvin. Pupus sudah harapan Gabriel, Rio dan Ray untuk mendapatkan makanan gratis. Namun, mereka tidak sedih. Mereka justru tertawa karena tiba-tiba Ray mengakui satu hal tentang dirinya.
“Ah, aku kan susah berenang!” kata Ray sambil manyun.
“Kenapa kau tak bilang dari awal, Ray?” tanya Rio sambil tertawa.
“Lalu, bagaimana kau bisa sampai ke sini tadi?” tanya Gabriel tersenyum-senyum.
“Makanya, jangan terlalu banyak makan! Berat kan badanmu!” kata Alvin.
“Ah, jangan menertawakanku! Aku menggunakan caraku sendiri! Yang penting aku bisa sampai di sini, bukan?” kata Ray. Bibirnya masih betah maju lima senti karena jadi bahan tertawaan.
Cakka hanya tertawa geli melihat teman-temannya.

J L J

“Seseorang?”
Ayah menganggukkan kepalanya ketika Cakka menunjukkan wajah bingungnya. Ia menepuk pundak Cakka pelan dan tersenyum. Anak bungsunya itu tampak penasaran dengan ucapannya. Malam itu adalah malam terakhir dia libur panjang. Mulai besok ia akan memasuki semester genap di kelas tujuh. Tidak seperti orang tua lain yang menyemangati anaknya untuk terus belajar sebelum ia menghadapi semester baru, Ayah justru mengatakan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan prestasi belajarnya.
“Siapa, Yah?” tanya Cakka ingin tahu.
“Nanti kau akan tahu. Kau pasti senang mengenalnya,” kata Ayah sambil tersenyum. “Kau siap-siaplah setelah latihan basket. Setelah Ayah pulang dan makan malam, kita langsung pergi ke rumahnya. Oke?”
Cakka manggut-manggut mengerti.
“Sudah, jam tidurmu sudah hampir tiba. Lebih baik kau siap-siap untuk menjadi pelajar lagi besok. Liburanmu sudah berakhir, jagoan.” kata Ayah sambil menepuk-nepuk pundak Cakka.
Cakka tertawa kecil mendengar ucapan Ayah, kemudian langsung pamit dan menutup pintu kamarnya. Ayah yang sedari tadi hanya berdiri di ambang pintu berbicara dengan anak bungsunya langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat juga.




TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p