Sesampainya di rumah,
Cakka, Biru dan teman-teman mereka langsung disambut hangat oleh Bunda dan juga
Ayah yang kebetulan sedang ada di rumah. Kedua orang tua mereka benar-benar
kaget namun gembira melihat segerombolan anak-anak masuk ke dalam rumah. Baru
kali ini Cakka dan Biru membawa teman-teman mereka berdelapan sekaligus.
Apalagi saat mereka mengetahui bahwa mereka akan belajar bersama. Benar-benar
membanggakan.
Selama berjam-jam
mereka mengerjakan kesibukan masing-masing. Alvin, Rika dan Alia tampak berdiri
di sekitar komputer, memperhatikan Biru mengetik. Sesekali juga memberikan ide
untuknya. Sementara itu, Cakka dan yang lainnya mengelilingi meja belajar yang
cukup besar untuk belajar matematika dan IPS. Buku-buku paket dan kotak pensil
tampak berantakan di meja.
“Yel, bagaimana kau
mendapatkan nilai x di soal ini?” tanya Cakka sambil menunjukkan soal yang tak
ia mengerti. Yang ditanya langsung menggeser buku tulisnya dan mengajarkan
Cakka pelan-pelan.
“Gunung vulkanik!”
kata Rio kepada Ray yang sedang belajar IPS. “Oke, sebaiknya sekarang kau
hafalkan jenis-jenis bentang alam. Delta, tanjung dan sebagainya. Kemudian, jenis-jenis patahan juga.
Nanti akan kutanya.”
“Ah, banyak sekali,
Yo. Bosan sekali aku,” kata Ray sambil menopang dagu dengan sebelah tangan.
“Kepalaku sudah mau pecah. Bisakah kita istirahat dulu?”
Rio menggelengkan
kepalanya. Ia menutup buku tulisnya, lalu mengeluh. “Bukankah tadi kita sudah
beristirahat? Ini sudah sore. Kau ingin pulang jam berapa kalau mengulur waktu
terus? Tengah malam?”
Ray nyengir
mendengarnya.
Krek...
“Mari minum jus
jeruknya...,” tiba-tiba Bunda datang sambil membawa satu baki penuh dengan jus
jeruk. Begitu mereka semua melihat para penyengar itu, mereka langsung menyerbu
Bunda dan mengambil jatah masing-masing.
“Terima kasih,
Tante!” kata teman-teman Cakka bergantian.
“Tante, ada makanan
tidak? Atau nasi goreng yang waktu itu juga enak!” tanya Ray dengan wajah tak
berdosa. Ia langsung mendapatkan jitakan dari teman-temannya. Benar-benar tak
tahu malu!
Bunda justru tertawa
melihatnya. “Ternyata kalian lapar ya? Kalau begitu, biar Tante buatkan makan
malam untuk kalian. Nanti kalian bisa makan bersama Cakka dan Biru. Kalian
belajarlah dulu.”
“Horee!” sorak mereka
gembira. Mereka langsung kembali ke tempat masing-masing dan kembali belajar
dan membuat tugas dengan semangat. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk
beristirahat agar tidak kelelahan.
Begitu jarum pendek
menunjukkan angka lima tepat, suasana kamar Cakka tiba-tiba berubah menjadi
gaduh. Yang tadinya kamar itu berubah menjadi tempat belajar bersama sekarang
berubah lagi menjadi tempat hangout.
Cakka tampak berbaring di tempat tidur, Alvin duduk di karpet, Ray tetap duduk
di kursinya dan lain-lain. Posisi mereka semua menyebar dan saling bercanda
tawa di sana. Sesekali mereka juga mengungkit-ungkit pertandingan kemarin,
bahkan Pak Jo sebagai bahan bercandaan. Apalagi kalau bukan membicarakan
basket.
“Anak-anak?” Bunda
tiba-tiba datang di sela-sela obrolan mereka. “Makan malam sudah jadi. Apa
kalian ingin makan sekarang? Elang sudah menunggu di bawah.”
“Kalau begitu, ayo
kita makan dulu, teman-teman! Setelah itu, kita bisa langsung pulang dan
istirahat. Kita harus menyimpan energi untuk hari Senin agar tetap sehat!” kata
Alvin. Ia menoleh ke arah sang tuan rumah. “Tidak apa-apa, bukan, Cakka?”
Cakka tersenyum,
kemudian menggelengkan kepalanya.
“Hore! Makan!” seru
Ray sambil mengangkat kedua tangannya semangat.
“Ah, berisik kau,
Ray! Makan terus pikiranmu!” kata Gabriel sambil menjitak temannya, membuat si
pemilik kepala mengerucutkan bibirnya. Gabriel sampai tertawa melihatnya.
“Hei, sudah, sudah.
Ayo kalian makan dulu. Bunda sudah menyiapkan banyak lauk untuk kalian yang
sudah bekerja keras hari ini,” kata Elang begitu mereka sampai di ruang makan.
“Lihat, ada ayam bakar, ikan, sayur, udang mayones, kentang goreng dan
teman-temannya. Kalian tinggal pilih sesuka kalian.”
“YES!” seru mereka kompak. Hari itu benar-benar menjadi hari yang
sangat seru dan menyenangkan bagi mereka. Lucu juga, karena meja makan Cakka
tidak cukup untuk sepuluh orang ditambah Elang dan Bunda, mereka harus
bergantian. Tapi, hebatnya, mereka tetap tidak mengeluh dan menunggu dengan
sabar. Apalagi dengan adanya hiburan dari Ray yang mendapatkan giliran akhir,
ia terus mengusap perutnya yang minta diisi. Mereka semua tertawa melihatnya.
J L J
“Bagus!” teriak Pak
Jo ketika Cakka berhasil melakukan lay-up
kiri dengan baik saat ekskul basket. Ia mengacungkan jempol kepadanya.
“Oke, giliranmu Gabriel!”
Gabriel maju dari
pinggir lapangan, sementara Cakka kembali ke barisan. Ya, sekarang mereka
sedang bergantian melakukan lay-up
untuk melatih teknik kaki agar mereka semua tambah mahir. Bukan hanya tim inti
saja, teman-teman mereka di ekskul basket putra juga ikut serta dalam latihan
tersebut. Dan dari sekian banyak anak basket yang sudah maju, hampir semuanya
sudah tahu bagaimana caranya melakukan lay-up.
Bagaimana kakinya, tangannya dan lain-lain. Hanya saja mereka masih perlu
banyak latihan untuk benar-benar mahir dalam teknik tersebut.
Latihan itu
berlangsung selama setengah jam. Setelah berlatih berkali-kali, Pak Jo langsung
mengumpulkan mereka di tengah lapangan untuk latihan menembak. Masing-masing
dari mereka harus bisa melakukan tembakan dua angka sampai tiga angka. Dan
kesempatan mereka hanya lima kali. Dua kali untuk jarak dekat, tiga kali untuk
jarak jauh. Sementara satu orang sedang latihan, yang lainnya duduk di pinggir
lapangan menyemangati sambil menunggu giliran.
“Silahkan, Alvin.”
kata Pak Jo mempersilahkan Alvin mulai.
Alvin mengangguk. Ia
segera mendribel bola yang sudah ada di tangannya kemudian melempar bola menuju
ring. Dengan lima kali kesempatan, ia
bisa memasukkan dua kali jarak dekat dan satu kali jarak jauh. Setelah itu, ada
Cakka yang dapat memasukkan empat kali berturut-turut. Sayang tembakan terakhir
hanya mengenai bibir ring. Kemudian, Ray, Rio, Gabriel, anak-anak yang lain,
hingga akhirnya jam menunjukkan pukul setengah empat.
“Baiklah! Sebelum
latihan hari ini ditutup, Bapak ingin mengumumkan sesuatu yang menarik untuk
kalian semua.” kata Pak Jo sambil tersenyum. “Kalian pasti bingung bukan,
mengapa latihan hari ini berbeda dari biasanya? Bapak sengaja tidak memberitahu
dulu, supaya kalian bersemangat latihan.”
“Memangnya ada apa,
Pak?” tanya Rio penasaran.
Pak Jo tersenyum
mendengar pertanyaan Rio. Ia melihat satu per satu anak-anak basket yang juga
memasang wajah penasaran. Ia menghela nafasnya sejenak, kemudian langsung
berkata, “Jadi, sebenarnya Bapak ingin melihat kemampuan kalian masing-masing.
Dari kalian semua, Bapak akan memilih tiga puluh orang anak untuk ikut serta
dalam turnamen beberapa bulan ke depan. Turnamen Basket antar SMP Se-Jakarta!”
“Huaa!” seru semua
anak basket. Wajah lelah mereka seketika berubah cerah.
“Benarkah?!” kata Ray
dengan wajah gembira. “Wah, turnamen besar seperti itu kan biasanya dipantau
pelatih nasional!”
“Astaga! Keren
sekali!” kata anak yang lain.
“Tenang, tenang!
Tenang semua!” kata Pak Jo sambil tertawa melihat rasa antusias anak-anaknya.
“Perhatian, kalau kalian ingin menjadi salah satu dari tiga puluh anak itu,
kalian harus berlatih keras untuk Senin depan. Karena Senin depan, Bapak akan
mengadakan pertandingan saat ekskul. Dan dari sana Bapak akan memilih tiga
puluh anak tersebut. Mengerti?”
“Mengerti, Pak!”
“Oke, kalian boleh
pulang sekarang!”
Semua anak-anak basket
langsung bubar dan segera membereskan barang-barang mereka. Kali ini sama
sekali tak ada yang mengeluh lelah. Bahkan Ray juga masih sangat semangat.
Kabar yang dibawa oleh Pak Jo benar-benar memberikan sebongkah energi ke dalam
tubuh mereka. Bukan hanya tim basket putra saja, tim basket putri juga ternyata
dilatih untuk ikut dalam turnamen itu. Cakka dan teman-temannya terus
menebarkan senyuman sampai mereka berpisah. Bahkan Elang yang menjemput juga
sampai heran melihat adik-adiknya.
“Ada apa kalian tersenyum
terus?” tanyanya sambil nyengir.
Namun, Cakka dan Biru
hanya tertawa menanggapinya.
J L J
Ceklek!
Cakka menutup pintu
kamar mandi setelah ia selesai membersihkan badannya. Dengan wajah yang cerah
dan rambut yang sudah wangi kembali, ia melipat handuknya dan menggantungkannya
lagi di gantungan handuk. Kemudian, ia segera membereskan buku-bukunya untuk
pelajaran besok. Buku pelajaran yang tak diperlukan harus ia keluarkan agar
tidak memberatkan tasnya. Tak lupa juga ia bersihkan mejanya dari barang-barang
yang berantakan.
Ia lirik jam
dindingnya sejenak. Ternyata, sudah hampir jam tujuh. Untungnya, Cakka sering
belajar bersama teman-temannya. Jadi, PR yang harus ia kerjakan dalam waktu
dekat ini, sudah selesai semuanya. Itu artinya, tugasnya hari ini tinggal makan
malam bersama keluarga dan beristirahat sampai besok pagi!
“Cakka?”
Cakka yang baru
selesai menutup tasnya langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia tersenyum
ketika melihat Ayah tengah tersenyum kepadanya di ambang pintu kamar. Ia
langsung menghampiri beliau dengan ceria.
“Kau tampaknya senang
sekali.” kata Ayah.
Cakka menggaruk-garuk
tengkuknya yang tidak gatal. “Kak Biru mungkin sudah cerita.”
Ayah tertawa kecil
melihat tingkah anaknya. Ia mengacak-acak rambut Cakka dengan sayang, hingga si
pemilik rambut tertawa-tawa, membiarkan rambutnya yang baru saja disisir rapi
kembali berantakan karena perilaku Ayah.
“Kka.” kata Ayah
setelah puas mengusili anaknya. “Ayah sudah memberikanmu kesempatan untuk
bermain basket. Jangan kau sia-siakan kebaikan Ayah. Kau harus berjuang dengan
keras untuk turnamen itu. Oke?”
Cakka tersenyum. “Ya.
Terima kasih, Ayah.”
Ayah mengangguk
mantap. Kemudian, ia tarik anak bungsunya tersebut ke dalam pelukannya. Ia elus
punggung Cakka pelan-pelan, paling tidak ia bisa menebus sedikit kasih sayang
yang selama ini tak pernah ia berikan kepada Cakka. Juga menebus kesalahannya
selama ini kepada keluarga.
Cakka tersenyum di
dalam pelukan Ayah. Sama seperti para pengintip yang ada di balik tembok, Biru
dan Elang. Mereka tampak tersenyum haru melihat Ayah dan Cakka. Belum pernah
mereka melihat keduanya sangat akrab seperti itu. Benar-benar sebuah keajaiban
bagi mereka.
J L J
Gabriel dan Rio
menghela nafasnya bersamaan sambil menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur
masing-masing yang bersebelahan. Kedua tangan mereka diletakkan di bawah kepala
masing-masing. Mereka masih saja tersenyum sejak pulang dari sekolah tadi.
“Turnamen basket
Se-Jakarta.” kata Gabriel sambil menatap langit-langit.
“Ya. Turnamen besar
itu. Sangat menyenangkan, bukan?” kata Rio.
“Tentu saja. Turnamen
itu berbeda daripada pertandingan dengan sekolah Verrell kemarin. Satu Jakarta
akan bertanding. Dan kita harus berusaha mengalahkan mereka semua.” kata
Gabriel. Ia menghela nafas lagi dan menoleh ke arah saudara kembarnya.
“Petualangan kita akan dimulai lagi, Yo.”
Rio menatap balik. Ia
ikut tersenyum. “Ya. Petualangan yang akan sangat seru.”
“Mungkin saja harapan
Ray untuk bisa sampai ke NBL bisa terkabul.”
“Semoga saja. Kalau
bisa, aku juga ingin bersama-sama kalian semua hingga ke tingkat nasional.
Bahkan sampai ke luar negeri juga.” kata Rio lagi.
“Apa maksudmu kalau
bisa? Kita pasti bisa. Bukankah kita selalu bersama? Asal kita tetap satu tim,
kita bisa melakukan apapun. Semuanya pasti akan baik-baik saja, Yo.” kata
Gabriel.
Rio tertawa kecil.
“Ya, kau benar, Yel.”
“Sudahlah, ayo kita
tidur. Ini sudah malam. Kita harus sekolah besok.”
“Ayo. Selamat malam,
Yel.”
“Ya, selamat malam,
Yo.” Gabriel dan Rio membalikkan badan mereka ke arah yang berbeda dan segera
memeluk guling. Tak lama kemudian, keduanya langsung terlelap.
J L J
Hari ini adalah hari
pertama ulangan umum bagi para siswa SMP Idola. Ya, sejak pagi tadi mereka
telah sibuk membolak-balikkan halaman buku paket untuk mengulang materi yang
sudah mereka pelajari. Mereka benar-benar ingin mendapatkan nilai yang bagus di
ulangan kali ini, terlebih anak-anak yang dari awal masuk sekolah belum
mendapatkan nilai yang cukup tinggi untuk mendapatkan rapor dan ranking yang
bagus di akhir semester ganjil.
“Hei, kau mengerti
materi ini? Bisa ajari aku?”
“Kau jago dalam
fisika, bukan? Tolong bantu kami!”
“Bagaimana kalau kau
membantuku dalam kimia, nanti aku akan membantumu dalam geografi?”
“Ayo kita bahas soal
ini, teman-teman!”
Begitulah kira-kira
suara yang terdengar di koridor sekolah setiap lantai sekarang. Anak-anak SMA
tampak sibuk bekerja kelompok untuk membahas soal bersama, sedangkan anak-anak
SMP ada yang sibuk mencari bantuan untuk mengerti materi tertentu, ada juga
yang belajar sendiri dengan tenang. Berbeda dengan SD yang belajar di kelas
masing-masing.
Cakka sendiri tidak
termasuk dalam tiga kategori tersebut. Ia lebih memilih untuk belajar di kelas
dengan tenang bersama Ray. Sejak mereka datang ke sekolah tadi, Cakka langsung
membuka buku paketnya dan ditaruh di antara mejanya dengan meja Ray untuk
membahas soal uji kompetensi. Mereka mencari jawabannya bersama-sama dan
langsung mempelajarinya. Dan jika ada salah satu dari mereka ada yang tak
mengerti, maka yang lainnya akan menjelaskan.
“Soal terakhir, Kka.
Apa fungsi manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi?” kata Ray membacakan
soal nomor sepuluh. “Kalau begitu, kau cari manusia sebagai makhluk ekonomi.
Aku akan mencari yang sosial.”
Cakka mengangguk.
Kemudian, keduanya langsung sibuk kembali.
Kira-kira begitulah
kegiatan mereka sampai dua minggu ke depan. Di sekolah, di pinggir lapangan,
bahkan di rumah mereka terus membaca buku pelajaran, mengulang-ulang semua
materi yang telah mereka pelajari bersama-sama. Yang sudah senior juga tak
jera-jera mengajari Cakka dan Ray. Bahkan kadang-kadang Elang juga ikut
mengajari mereka semua jika sedang belajar di rumah Cakka. Tak heran begitu
ulangan selesai, rapor Cakka dan teman-temannya sangat berseri-seri. Nilai
ulangan umum kali ini tak ada yang di bawah tujuh puluh.
Setelah ulangan umum
selesai, mereka semua memiliki waktu satu bulan libur panjang. Cakka dan
teman-temannya tentu tidak hanya bersantai-santai. Mereka rutin berkumpul di
lapangan basket dua minggu sekali untuk latihan. Rencana Pak Jo memilih tiga
puluh orang sebelum ulangan umum waktu itu akhirnya tertunda sampai semester
depan karena Pak Jo takut akan mengganggu jam belajar. Ah, Pak Jo bisa saja
membuat anak-anaknya semakin penasaran dengan turnamen besar itu. Apalagi Cakka
dan teman-temannya. Ikut turnamen Se-Jakarta? Benar-benar awal langkah impian
mereka!
“Oke, sampai jumpa!”
seru Ray dan teman-teman ketika Cakka dan Biru berpamitan untuk pulang terlebih
dahulu. Sore itu, mereka baru saja selesai melakukan 2 on 2. Keringat telah
membasahi tubuh hingga pakaian mereka. Olahraga sore itu benar-benar
menghabiskan banyak tenaga.
“Jangan lupa, dua
minggu lagi!” kata Alvin sambil melambaikan tangannya.
Cakka tersenyum dan
mengangguk kepada Alvin. Ia melambaikan tangannya kembali kepadanya dan segera
menyusul kakaknya yang telah meninggalkan lapangan duluan. Biasa, ia sudah tak
tahan ingin merasakan dinginnya AC mobil Ayah. Ya, sekarang beliau sering
sekali mengantarkan anak-anaknya ke lapangan jika sedang ada waktu senggang.
“Sudah siap?” tanya
Ayah sambil memegang setir mobil.
Cakka segera memasang
sabuk pengaman dan menganggukkan kepalanya. Sementara Biru menyandarkan
tubuhnya di jok belakang, langsung berniat tidur di sana. Ayah langsung
menjalankan mobilnya menuju rumah.
J L J
“Aku datang!!”
Cakka, Gabriel, Rio
dan Alvin berteriak senang dari dalam kolam berenang ketika Ray tiba-tiba
berlari dari pinggir dan menceburkan diri. Ya, selain latihan, tentu saja
mereka juga bersenang-senang bersama. Bagaimanapun juga, mereka perlu hiburan
di sela-sela kerja keras mereka mengejar impian, bukan? Makanya, hari ini
mereka memutuskan untuk pergi ke Atlantis untuk menjernihkan otak.
“Lompatan bagus,
Ray!” seru Gabriel begitu kepala Ray muncul dari air.
“Ya! Terlalu bagus
hingga membuatku basah kuyup!” tambah Rio.
Ray tertawa melihat
rambut Rio yang sudah menutup setengah wajahnya karena terkena banyak cipratan
air yang ia ciptakan. “Ah, tidak ada orang yang pergi berenang untuk badan
kering, Yo!”
“Sudah, sudah!
Bagaimana kalau kita lomba saja?” tanya Alvin. Ia menunjuk ke arah ujung kolam
berenang yang nan jauh di sana. “Dari sini ke ujung sana! Yang sampai di sana
duluan, akan kutraktir saat pulang nanti!”
“Siapa takut?”
Mereka berlima
langsung bersiap-siap di tempatnya masing-masing. Dengan aba-aba yang diucapkan
oleh Alvin, mereka langsung berenang secepat mungkin agar dapat sampai terlebih
dahulu di ujung kolam yang berkedalaman satu setengah meter tersebut. Biru,
Elang, Bunda dan Ayah yang melihat mereka dari pinggir hanya tersenyum.
Sesekali Biru juga menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik beserta
teman-temannya itu.
“Ah, kau cepat
sekali, Cakka!” kata Gabriel ketika ia sudah sampai. Tak disangka, ternyata
Cakka sudah duduk di pinggir kolam sambil menunggu teman-teman yang lain. Pada
akhirnya, diurutkan dari pemenang pertama adalah Cakka, Gabriel, Alvin, Rio dan
yang terakhir adalah Ray. Itu artinya, Cakka yang akan mendapatkan traktiran
dari Alvin. Pupus sudah harapan Gabriel, Rio dan Ray untuk mendapatkan makanan
gratis. Namun, mereka tidak sedih. Mereka justru tertawa karena tiba-tiba Ray
mengakui satu hal tentang dirinya.
“Ah, aku kan susah berenang!” kata Ray sambil manyun.
“Kenapa kau tak bilang dari awal, Ray?” tanya Rio sambil
tertawa.
“Lalu, bagaimana kau
bisa sampai ke sini tadi?” tanya Gabriel tersenyum-senyum.
“Makanya, jangan
terlalu banyak makan! Berat kan badanmu!” kata Alvin.
“Ah, jangan
menertawakanku! Aku menggunakan caraku sendiri! Yang penting aku bisa sampai di
sini, bukan?” kata Ray. Bibirnya masih betah maju lima senti karena jadi bahan
tertawaan.
Cakka hanya tertawa
geli melihat teman-temannya.
J L J
“Seseorang?”
Ayah menganggukkan
kepalanya ketika Cakka menunjukkan wajah bingungnya. Ia menepuk pundak Cakka
pelan dan tersenyum. Anak bungsunya itu tampak penasaran dengan ucapannya.
Malam itu adalah malam terakhir dia libur panjang. Mulai besok ia akan memasuki
semester genap di kelas tujuh. Tidak seperti orang tua lain yang menyemangati
anaknya untuk terus belajar sebelum ia menghadapi semester baru, Ayah justru
mengatakan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan prestasi
belajarnya.
“Siapa, Yah?” tanya
Cakka ingin tahu.
“Nanti kau akan tahu.
Kau pasti senang mengenalnya,” kata Ayah sambil tersenyum. “Kau siap-siaplah
setelah latihan basket. Setelah Ayah pulang dan makan malam, kita langsung
pergi ke rumahnya. Oke?”
Cakka manggut-manggut
mengerti.
“Sudah, jam tidurmu
sudah hampir tiba. Lebih baik kau siap-siap untuk menjadi pelajar lagi besok.
Liburanmu sudah berakhir, jagoan.” kata Ayah sambil menepuk-nepuk pundak Cakka.
Cakka tertawa kecil
mendengar ucapan Ayah, kemudian langsung pamit dan menutup pintu kamarnya. Ayah
yang sedari tadi hanya berdiri di ambang pintu berbicara dengan anak bungsunya
langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat juga.
TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p