Selasa, 30 September 2014

Cerbung | Impian Bola Basket Part 16


“Dia hanya tak ingin merepotkan orang lain. Makanya dia tak pernah bercerita kepada kalian semua.” kata Biru, sehari sebelum ulang tahun Cakka tiba. Siang itu dia diam-diam berkumpul dengan teman-teman tim basket putra. “Aku tahu di dalam hatinya banyak beban yang memberatkannya.”

“Beban berat apa, Kak?” tanya Gabriel dan Rio hampir bersamaan.
“Beban keluarga, selama ini dia tak pernah diizinkan bermain basket oleh Ayahnya. Sejak kecil, dia selalu dimarahi kalau dia bermain dengan bola basket. Tapi, dia masih terus bermain sampai sekarang atas dukungan Bunda dan kedua kakaknya.” kata Alvin menjelaskan.
“Kau tahu soal ini, Vin?” tanya Ray kaget. Ia tatap Alvin dengan pandangan heran.
Alvin mengangguk. “Biru pernah bercerita kepadaku di kelas, sejak kita berdua kelas tiga. Dan dia yang menyuruhku merahasiakannya dari kalian. Ia takut kalian akan keberatan memiliki kapten basket yang bermasalah. Seperti halnya Verrell dulu.”
“Kita tidak akan melakukannya, Vin. Ini beda kasus. Kami tak suka Verrell menjadi kapten karena dia memang tidak pantas menjadi pemimpin kita. Berbeda dengan Cakka yang hanya tidak didukung keluarga.” kata Gabriel.
“Ya. Kenapa kau harus takut?” tanya Rio heran.
Alvin menggeleng. “Kalian bertiga baru kenal dengan Cakka semenjak dia masuk sekolah kita. Aku ingin menyakinkan kalian bahwa Cakka adalah kapten yang tepat untuk menjadi pemimpin kita. Dan aku hanya ingin memastikan kejadian dulu tidak terulang lagi.”
“Kejadian dulu?” tanya Ray. “Ada apa, Vin?”
“Tidak perlu dibahas. Aku yakin Gabriel dan Rio pasti tahu persis apa yang kubicarakan. Dan aku berharap kalian tidak mengulanginya lagi kepada Cakka.” kata Alvin.
“Ya, kami mengerti, Vin.” kata Gabriel dan Rio hampir bersamaan.
“Oke. Aku harap kalian berempat bisa menyimpan cerita ini rapat-rapat. Aku tak ingin Cakka tahu kalau aku sudah bercerita kepada kalian. Ia terlalu mandiri. Aku yakin kalian juga pasti merasakan perubahan Cakka selama ini. Jadi, kuharap kalian mengerti.”

J L J

Begitulah kira-kira yang diceritakan Biru sebelum mereka merayakan ulang tahun Cakka tempo hari. Ya, mereka semua sudah mengetahui masalah Cakka dengan Ayah jauh sebelum mereka melihat sendiri bagaimana seramnya Ayah menolak anaknya bermain basket. Ternyata, beban Cakka selama ini jauh lebih berat daripada yang mereka perkirakan. Dan mereka benar-benar tidak percaya Cakka masih bisa tersenyum di atas cobaan-cobaan yang harus ia lewati itu.
Semenjak Ayah mengusir teman-teman Cakka dari rumah, Cakka terlihat berbeda. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakannya. Sikap pendiamnya sudah memuncak. Ia tak akan bicara jika merasa tidak perlu. Ia juga sering melamun ketika melihat anak-anak yang lain bermain basket. Kejadian hari itu sepertinya benar-benar membuatnya terpukul.
Tadi pagi Biru sempat bercerita kepada Alvin, setelah dia, Gabriel, Rio dan Ray pulang dari belajar bersama, Cakka mengurungkan dirinya di kamar. Ia hanya keluar jika memang ia merasa benar-benar perlu keluar. Tak ada yang tahu apa yang dia lakukan di dalam sana. Tapi, Biru yakin Cakka hanya perlu waktu untuk menenangkan dirinya, setelah apa yang ia hadapi kemarin.
Ayah yang tadinya ingin menginap di rumah untuk beberapa hari, membatalkan rencananya dan segera pergi dari rumah ketika pagi tiba. Entah kapan dia akan pulang lagi ke rumah. Wajah marah yang ditunjukkannya saat keluar dari rumah hampir menunjukkan bahwa dia tak ingin pulang lagi.
Semuanya menjadi kacau. Biru benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ayah hingga dia tidak bisa memberikan toleransi kepada adiknya untuk bebas melakukan hobinya dalam bidang basket. Ia benar-benar ingin tahu sebenarnya apa yang mengganggu pikirannya. Seandainya Cakka tahu alasannya, Biru yakin Cakka pasti bisa mencoba mengerti perasaan Ayah.
Sore itu, Biru sengaja pergi ke rumah Alvin untuk memeriksa keadaan. Dan kebetulan, ternyata Gabriel, Rio dan Ray juga berada di sana. Mereka berempat sedang berkumpul di kamar Alvin, entah membicarakan apa. Tapi, saat Biru masuk ke sana, keadaannya sangat hening.
“Kau datang juga, Bi?” kata Alvin kaget ketika melihat teman sekelasnya muncul di balik pintu kamarnya.
“Aku pikir aku ingin memeriksa keadaan setelah kejadian kemarin. Ternyata, kalian bertiga juga ada di sini.” kata Biru langsung mengambil tempat duduk di sebelah Alvin yang duduk di karpet. “Ayah kita langsung kembali ke Eropa tadi pagi karena kesal. Cakka masih mengurung diri di kamar.”
“Aku yakin Cakka sangat sedih dengan perlakuan Ayahnya kemarin.” kata Ray paham. “Kalau Ayahku berani-beraninya memukul Ibu, aku juga pasti akan merasa sakit hati.”
“Terlebih lagi jika beliau tidak mendukung keinginannya menjadi pebasket.” kata Rio. “Kalau begini caranya, aku tidak yakin kita bisa bersama-sama masuk seleksi DBL.”
“Justru itu tujuanku dan Biru merahasiakan cerita itu dari kalian. Kami bertiga tahu kalau kalian sangat berambisi menjadi salah satu dari tim di DBL dan NBL. Kalau kalian tahu masalah ini lebih awal, kalian pasti akan tidak semangat dengan CRAG Team. Kalau sudah begini, kalian tidak terlalu kecewa, bukan?”
Gabriel, Rio, Ray mengangguk. “Thanks, Vin.”
Alvin tersenyum.
“Aku harap mulai sekarang kalian terus mendukung Cakka. Dia butuh banyak motivasi untuk semangat bermain basket. Dan hanya kalian yang bisa melakukannya.” kata Biru. “Buktikan padaku kalau kalian adalah sahabat-sahabat sejati Cakka.”
“Siap laksanakan, kapten!” kata Alvin, Gabriel, Rio dan Ray pura-pura hormat kepada Biru.
J L J

Jam sudah menunjukkan angka enam sore. Cakka masih betah duduk di tempat tidurnya sambil melamun. Kedua kaki yang ia tekuk masih ia ikat dengan kedua tangannya semenjak ia pulang sekolah tadi. Tatapannya belum bergerak sesentipun dari jendela kamarnya. Perasaannya masih bercampur aduk, rasa sedih, kaget, marah, kecewa bergejolak tak menentu. Kejadian kemarin masih menari-nari di pikirannya, membuat kepalanya masih terasa pusing.
Pertandingan tinggal dua minggu lagi. Itu yang ada di pikirannya sekarang. Tidak lebih dari empat belas hari lagi ia akan bertanding di sekolah SMPN 1 melawan Verrell, kapten tim basket sekolahnya sebelum dia masuk. Entahlah, Cakka bahkan tak yakin semuanya akan baik-baik saja dengan keadaan seperti ini.
Sekarang Alvin, Gabriel, Rio dan Ray telah mengetahui semuanya. Mereka pasti kaget melihat bagaimana kerasnya Ayah menentang pergaulannya dengan anak-anak basket. Entahlah. Persahabatan mereka yang telah terjalin cukup lama sekarang menjadi terasa hambar. Padahal, Cakka menyembunyikan semua ini bukan tanpa alasan. Selain karena tak ingin melibatkan orang lain ke dalam masalahnya, ia hanya ingin terus berteman dengan mereka berempat. Semenjak masuk SMP, mereka sudah menjadi sahabat-sahabat baiknya.
Harinya di sekolah pagi ini juga terasa berbeda. Keceriaan teman-temannya terasa berkurang. Mereka tidak seceria biasanya. Tapi, untungnya mereka masih sudi berteman dengannya. Kata-kata Ray di sekolah tadi benar-benar membuatnya bimbang.
Kka, kau tidak apa-apa?
Pertanyaan Ray itu tidak Cakka jawab tadi pagi. Sejujurnya, ia ingin mengatakan baik-baik saja. Tapi, teman-temannya pasti tidak akan percaya. Pendiriannya agar tidak melibatkan mereka lebih jauh lagi ke dalam masalahnya membuat mulutnya terkunci. Jika dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja, mereka pasti akan lebih prihatin lagi kepadanya. Dan Cakka tidak mau itu terjadi. Ia tak ingin dikasihani orang lain.
“Cakka....”
Cakka menoleh ke arah pintu kamarnya ketika mendengar suara Bunda di balik pintu. Ia diam sejenak sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya. Dipikir-pikir, sudah lama juga ia tak keluar kamar. Sudah berjam-jam ia tak bergerak dari kamarnya.
Krek...
Senyuman Bunda terlihat ketika ia membuka pintu. Kedua tangannya memegang sebuah baki berisi makanan dan minuman untuknya. “Bagaimana keadaan pipimu? Bunda membuat makanan kesukaanmu. Bunda pikir kau pasti lapar setelah beristirahat.”
Cakka diam sejenak. Ia menghela nafasnya, kemudian tersenyum manis. “Sudah lebih baik, terima kasih, Bunda.  Tapi, aku tidak lapar. Lebih baik nanti makan bersama Kak Biru dan Kak Elang saja.”
“Tapi, sejak kemarin kau selalu menyisakan makananmu.”
“Percayalah padaku, aku tidak apa-apa, Bunda.” kata Cakka yakin.
Bunda terdiam sejenak, kemudian dia tersenyum. Ia masuk ke dalam dan menaruh baki makanan tersebut di meja belajar Cakka. Kemudian, dia berbalik menatap anaknya. “Bunda tahu kau sangat sedih karena perlakuan Ayah kemarin. Bunda tidak akan mengganggumu untuk sementara. Tidak apa-apa jika kau mau makan di kamar.”
Cakka tersenyum. Ia mengangguk pelan.
Bunda mengelus kepala anak bungsunya. “Kka, selama ini Ayah jarang berada di rumah. Mungkin kemarin dia sedang lelah, makanya dia bisa emosi kepadamu. Jangan masukkan kata-kata kasarnya ke dalam hatimu ya. Sebenarnya, Ayah sayang padamu.”
Cakka mengangguk. “Cakka mengerti, Bunda.”
“Bukan hanya itu saja. Kau juga harus terus menggapai mimpimu. Kau memiliki kakak-kakak yang selalu mendukungmu. Kau juga memiliki teman-teman yang sangat baik kepadamu. Putus asa tidak akan ada di kamusmu, bukan?”
Cakka tersenyum.

J L J

“Jadi, bagaimana dengan keadaan adikmu?” tanya Mike ketika sedang berada di kantin kampus. Ia merasa kasihan mendengar cerita Elang tentang kejadian buruk yang terjadi di rumah sahabatnya itu. Walaupun dia tidak menyaksikan secara langsung, ia seperti bisa merasakan bagaimana seramnya keadaan jika dia berada di posisi Elang ataupun adiknya.
Elang mengangkat bahunya sekilas sambil mengunyah makanannya. “Beberapa hari ini ia berubah banyak. Ia lebih banyak mengurungkan diri di kamar. Padahal, pekan ulangannya sudah selesai. Biasanya dia lebih sering bermain dengan teman-temannya.”
“Pasti berat.” kata Mike menopang dagu dengan sebelah tangan. “Dia serba salah. Jika dia bersikeras menggapai mimpinya, ia akan mengecewakan ayah kalian. Tapi, jika dia berhenti, itu juga tidak adil untuknya.”
Elang tersenyum menatap Mike. “Ya. Aku hanya berharap Ayah segera sadar bahwa dia memiliki anak yang luar biasa seperti adikku, atau setidaknya terbuka kepada kami semua tentang pemikirannya.”
Mike manggut-manggut. Ia menyeruput es jeruk yang dipesannya sejenak kemudian menjawab. “Aku mengerti. Tapi, mendengar ceritamu membuatku merasa beruntung tidak memiliki Ayah yang keras. Orang tuaku memberiku cukup kebebasan untuk menjalani hidupku, asal masih ada di jalan positif. Dulu kau juga dilarang bergaul dengan dunia basket, kan?”
Elang mengangguk. “Dulu aku pernah bergaul dengan basket hingga menjadi bagian dari hidupku. Aku sering melampiaskan semua kekesalan di lapangan. Tapi, semenjak Ayah melarang, aku hanya bisa diam-diam menonton dari pinggir. Rasanya sakit sekali tak bisa ikut bermain dengan teman-temanku. Tapi, akhirnya aku bisa merelakannya dengan bermain musik.”
“Kau bisa begitu saja melupakan cita-citamu begitu saja karena bermain musik?”
Elang menggeleng. “Tidak juga. Awal-awal aku bermain musik, aku juga sering gatal untuk pergi ke lapangan dan bermain basket. Tapi, aku tidak ingin membuat Ayah kecewa. Apalagi aku sadar, aku adalah anak sulung. Selain ingin menjadi anak yang berbakti, aku tak ingin adik-adikku mencontoh perilaku buruk. Aku harus bisa mengajari adik-adikku untuk menjadi anak-anak yang baik.”
“Tapi, bukankah perilaku Cakka sekarang juga termasuk buruk?” tanya Mike bingung. “Ia tidak mendengarkan nasehat ayah kalian untuk berhenti bermain basket.”
“Kau tidak akan mengatakan itu kalau kau mengerti bagaimana beratnya beban Cakka sekarang, Mike. Aneh kau.” kata Elang sambil menggelengkan kepalanya. Ia menatap ke arah depan. “Dia berbeda denganku. Jauh berbeda.”
Mike mengerutkan dahinya. “Apa yang berbeda? Aku tidak mengerti.”
“Ada beberapa hal yang mengharuskan dia tetap terus maju. Pertama, dia adalah pekerja keras, lebih daripada aku. Kedua, perjuangannya sudah terlalu lama untuk dihentikan. Ketiga, dia adalah seorang kapten basket. Ia bukan tipe orang yang melepaskan tanggung jawab begitu saja.” kata Elang. Ia menunduk sejenak sebelum ia melanjutkan ucapannya. “Bagiku, dia bukan melawan. Dia hanya pantang menyerah. Jika nanti Ayah telah terbuka kepadanya, aku yakin dia juga akan mengerti dan mengutamakan perasaan Ayah daripada cita-citanya. Itulah yang aku inginkan.”
“Lalu, mengapa kau tidak melakukan hal yang sama dulu?” tanya Mike.
“Karena aku bukan Cakka. Aku bukan pekerja keras yang tidak gampang dipatahkan semangatnya seperti Cakka. Sejak kecil, aku selalu takut jika orang tuaku marah. Aku selalu diam dan menuruti mereka tanpa banyak bicara.”
“Ah, ternyata kau pengecut untuk berpendapat!” ledek Mike sambil tertawa.
Elang ikut tertawa, kemudian menempeleng kepala Mike dari samping mendengarnya. “Jahat sekali kau mengatakan aku pengecut. Aku hanya tidak ingin membuat orang tuaku marah. Bukan seperti anak yang terlalu pengecut untuk berbicara kritis.”
 “Aduh! Keras sekali jitakanmu! Aku bercanda!” kata Mike sambil mengusap pelipisnya. “Sudahlah, kita lanjutkan lagi besok. Setelah ini kau harus ambil nilai musik, kan? Lebih baik kau cepat selesaikan makananmu dan latihan di kelas. Kelasku juga akan segera mulai!”
“Ya, baiklah!” 

TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p