“Dia hanya tak ingin merepotkan orang lain. Makanya dia
tak pernah bercerita kepada kalian semua.” kata Biru, sehari sebelum ulang
tahun Cakka tiba. Siang itu dia diam-diam berkumpul dengan teman-teman tim
basket putra. “Aku tahu di dalam hatinya banyak beban yang memberatkannya.”
“Beban berat apa, Kak?” tanya Gabriel dan Rio hampir
bersamaan.
“Beban keluarga, selama ini dia tak pernah diizinkan
bermain basket oleh Ayahnya. Sejak kecil, dia selalu dimarahi kalau dia bermain
dengan bola basket. Tapi, dia masih terus bermain sampai sekarang atas dukungan
Bunda dan kedua kakaknya.” kata Alvin menjelaskan.
“Kau tahu soal ini, Vin?” tanya Ray kaget. Ia tatap Alvin
dengan pandangan heran.
Alvin mengangguk. “Biru pernah bercerita kepadaku di
kelas, sejak kita berdua kelas tiga. Dan dia yang menyuruhku merahasiakannya
dari kalian. Ia takut kalian akan keberatan memiliki kapten basket yang
bermasalah. Seperti halnya Verrell dulu.”
“Kita tidak akan melakukannya, Vin. Ini beda kasus. Kami
tak suka Verrell menjadi kapten karena dia memang tidak pantas menjadi pemimpin
kita. Berbeda dengan Cakka yang hanya tidak didukung keluarga.” kata Gabriel.
“Ya. Kenapa kau harus takut?” tanya Rio heran.
Alvin menggeleng. “Kalian bertiga baru kenal dengan Cakka
semenjak dia masuk sekolah kita. Aku ingin menyakinkan kalian bahwa Cakka
adalah kapten yang tepat untuk menjadi pemimpin kita. Dan aku hanya ingin
memastikan kejadian dulu tidak terulang lagi.”
“Kejadian dulu?” tanya Ray. “Ada apa, Vin?”
“Tidak perlu dibahas. Aku yakin Gabriel dan Rio pasti
tahu persis apa yang kubicarakan. Dan aku berharap kalian tidak mengulanginya
lagi kepada Cakka.” kata Alvin.
“Ya, kami mengerti, Vin.” kata Gabriel dan Rio hampir
bersamaan.
“Oke. Aku harap kalian berempat bisa menyimpan cerita ini
rapat-rapat. Aku tak ingin Cakka tahu kalau aku sudah bercerita kepada kalian.
Ia terlalu mandiri. Aku yakin kalian juga pasti merasakan perubahan Cakka
selama ini. Jadi, kuharap kalian mengerti.”
J L J
Begitulah kira-kira
yang diceritakan Biru sebelum mereka merayakan ulang tahun Cakka tempo hari.
Ya, mereka semua sudah mengetahui masalah Cakka dengan Ayah jauh sebelum mereka
melihat sendiri bagaimana seramnya Ayah menolak anaknya bermain basket.
Ternyata, beban Cakka selama ini jauh lebih berat daripada yang mereka
perkirakan. Dan mereka benar-benar tidak percaya Cakka masih bisa tersenyum di
atas cobaan-cobaan yang harus ia lewati itu.
Semenjak Ayah
mengusir teman-teman Cakka dari rumah, Cakka terlihat berbeda. Dan hanya
orang-orang tertentu saja yang bisa merasakannya. Sikap pendiamnya sudah
memuncak. Ia tak akan bicara jika merasa tidak perlu. Ia juga sering melamun
ketika melihat anak-anak yang lain bermain basket. Kejadian hari itu sepertinya
benar-benar membuatnya terpukul.
Tadi pagi Biru sempat
bercerita kepada Alvin, setelah dia, Gabriel, Rio dan Ray pulang dari belajar
bersama, Cakka mengurungkan dirinya di kamar. Ia hanya keluar jika memang ia
merasa benar-benar perlu keluar. Tak ada yang tahu apa yang dia lakukan di
dalam sana. Tapi, Biru yakin Cakka hanya perlu waktu untuk menenangkan dirinya,
setelah apa yang ia hadapi kemarin.
Ayah yang tadinya
ingin menginap di rumah untuk beberapa hari, membatalkan rencananya dan segera
pergi dari rumah ketika pagi tiba. Entah kapan dia akan pulang lagi ke rumah.
Wajah marah yang ditunjukkannya saat keluar dari rumah hampir menunjukkan bahwa
dia tak ingin pulang lagi.
Semuanya menjadi
kacau. Biru benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ayah hingga dia
tidak bisa memberikan toleransi kepada adiknya untuk bebas melakukan hobinya
dalam bidang basket. Ia benar-benar ingin tahu sebenarnya apa yang mengganggu
pikirannya. Seandainya Cakka tahu alasannya, Biru yakin Cakka pasti bisa
mencoba mengerti perasaan Ayah.
Sore itu, Biru
sengaja pergi ke rumah Alvin untuk memeriksa keadaan. Dan kebetulan, ternyata
Gabriel, Rio dan Ray juga berada di sana. Mereka berempat sedang berkumpul di
kamar Alvin, entah membicarakan apa. Tapi, saat Biru masuk ke sana, keadaannya
sangat hening.
“Kau datang juga,
Bi?” kata Alvin kaget ketika melihat teman sekelasnya muncul di balik pintu
kamarnya.
“Aku pikir aku ingin
memeriksa keadaan setelah kejadian kemarin. Ternyata, kalian bertiga juga ada
di sini.” kata Biru langsung mengambil tempat duduk di sebelah Alvin yang duduk
di karpet. “Ayah kita langsung kembali ke Eropa tadi pagi karena kesal. Cakka
masih mengurung diri di kamar.”
“Aku yakin Cakka
sangat sedih dengan perlakuan Ayahnya kemarin.” kata Ray paham. “Kalau Ayahku
berani-beraninya memukul Ibu, aku juga pasti akan merasa sakit hati.”
“Terlebih lagi jika
beliau tidak mendukung keinginannya menjadi pebasket.” kata Rio. “Kalau begini
caranya, aku tidak yakin kita bisa bersama-sama masuk seleksi DBL.”
“Justru itu tujuanku
dan Biru merahasiakan cerita itu dari kalian. Kami bertiga tahu kalau kalian
sangat berambisi menjadi salah satu dari tim di DBL dan NBL. Kalau kalian tahu
masalah ini lebih awal, kalian pasti akan tidak semangat dengan CRAG Team.
Kalau sudah begini, kalian tidak terlalu kecewa, bukan?”
Gabriel, Rio, Ray
mengangguk. “Thanks, Vin.”
Alvin tersenyum.
“Aku harap mulai
sekarang kalian terus mendukung Cakka. Dia butuh banyak motivasi untuk semangat
bermain basket. Dan hanya kalian yang bisa melakukannya.” kata Biru. “Buktikan
padaku kalau kalian adalah sahabat-sahabat sejati Cakka.”
“Siap laksanakan,
kapten!” kata Alvin, Gabriel, Rio dan Ray pura-pura hormat kepada Biru.
J L J
Jam sudah menunjukkan
angka enam sore. Cakka masih betah duduk di tempat tidurnya sambil melamun.
Kedua kaki yang ia tekuk masih ia ikat dengan kedua tangannya semenjak ia
pulang sekolah tadi. Tatapannya belum bergerak sesentipun dari jendela
kamarnya. Perasaannya masih bercampur aduk, rasa sedih, kaget, marah, kecewa
bergejolak tak menentu. Kejadian kemarin masih menari-nari di pikirannya,
membuat kepalanya masih terasa pusing.
Pertandingan tinggal
dua minggu lagi. Itu yang ada di pikirannya sekarang. Tidak lebih dari empat
belas hari lagi ia akan bertanding di sekolah SMPN 1 melawan Verrell, kapten
tim basket sekolahnya sebelum dia masuk. Entahlah, Cakka bahkan tak yakin
semuanya akan baik-baik saja dengan keadaan seperti ini.
Sekarang Alvin,
Gabriel, Rio dan Ray telah mengetahui semuanya. Mereka pasti kaget melihat
bagaimana kerasnya Ayah menentang pergaulannya dengan anak-anak basket.
Entahlah. Persahabatan mereka yang telah terjalin cukup lama sekarang menjadi terasa
hambar. Padahal, Cakka menyembunyikan semua ini bukan tanpa alasan. Selain
karena tak ingin melibatkan orang lain ke dalam masalahnya, ia hanya ingin
terus berteman dengan mereka berempat. Semenjak masuk SMP, mereka sudah menjadi
sahabat-sahabat baiknya.
Harinya di sekolah
pagi ini juga terasa berbeda. Keceriaan teman-temannya terasa berkurang. Mereka
tidak seceria biasanya. Tapi, untungnya mereka masih sudi berteman dengannya.
Kata-kata Ray di sekolah tadi benar-benar membuatnya bimbang.
Kka, kau tidak apa-apa?
Pertanyaan Ray itu
tidak Cakka jawab tadi pagi. Sejujurnya, ia ingin mengatakan baik-baik saja.
Tapi, teman-temannya pasti tidak akan percaya. Pendiriannya agar tidak
melibatkan mereka lebih jauh lagi ke dalam masalahnya membuat mulutnya terkunci.
Jika dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja, mereka pasti akan lebih prihatin
lagi kepadanya. Dan Cakka tidak mau itu terjadi. Ia tak ingin dikasihani orang
lain.
“Cakka....”
Cakka menoleh ke arah
pintu kamarnya ketika mendengar suara Bunda di balik pintu. Ia diam sejenak
sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya. Dipikir-pikir, sudah lama juga ia tak
keluar kamar. Sudah berjam-jam ia tak bergerak dari kamarnya.
Krek...
Senyuman Bunda
terlihat ketika ia membuka pintu. Kedua tangannya memegang sebuah baki berisi
makanan dan minuman untuknya. “Bagaimana keadaan pipimu? Bunda membuat makanan
kesukaanmu. Bunda pikir kau pasti lapar setelah beristirahat.”
Cakka diam sejenak.
Ia menghela nafasnya, kemudian tersenyum manis. “Sudah lebih baik, terima
kasih, Bunda. Tapi, aku tidak
lapar. Lebih baik nanti makan bersama Kak Biru dan Kak Elang saja.”
“Tapi, sejak kemarin
kau selalu menyisakan makananmu.”
“Percayalah padaku,
aku tidak apa-apa, Bunda.” kata Cakka yakin.
Bunda terdiam
sejenak, kemudian dia tersenyum. Ia masuk ke dalam dan menaruh baki makanan
tersebut di meja belajar Cakka. Kemudian, dia berbalik menatap anaknya. “Bunda
tahu kau sangat sedih karena perlakuan Ayah kemarin. Bunda tidak akan
mengganggumu untuk sementara. Tidak apa-apa jika kau mau makan di kamar.”
Cakka tersenyum. Ia
mengangguk pelan.
Bunda mengelus kepala
anak bungsunya. “Kka, selama ini Ayah jarang berada di rumah. Mungkin kemarin
dia sedang lelah, makanya dia bisa emosi kepadamu. Jangan masukkan kata-kata
kasarnya ke dalam hatimu ya. Sebenarnya, Ayah sayang padamu.”
Cakka mengangguk.
“Cakka mengerti, Bunda.”
“Bukan hanya itu
saja. Kau juga harus terus menggapai mimpimu. Kau memiliki kakak-kakak yang
selalu mendukungmu. Kau juga memiliki teman-teman yang sangat baik kepadamu.
Putus asa tidak akan ada di kamusmu, bukan?”
Cakka tersenyum.
J L J
“Jadi, bagaimana
dengan keadaan adikmu?” tanya Mike ketika sedang berada di kantin kampus. Ia
merasa kasihan mendengar cerita Elang tentang kejadian buruk yang terjadi di
rumah sahabatnya itu. Walaupun dia tidak menyaksikan secara langsung, ia
seperti bisa merasakan bagaimana seramnya keadaan jika dia berada di posisi
Elang ataupun adiknya.
Elang mengangkat
bahunya sekilas sambil mengunyah makanannya. “Beberapa hari ini ia berubah
banyak. Ia lebih banyak mengurungkan diri di kamar. Padahal, pekan ulangannya
sudah selesai. Biasanya dia lebih sering bermain dengan teman-temannya.”
“Pasti berat.” kata
Mike menopang dagu dengan sebelah tangan. “Dia serba salah. Jika dia bersikeras
menggapai mimpinya, ia akan mengecewakan ayah kalian. Tapi, jika dia berhenti,
itu juga tidak adil untuknya.”
Elang tersenyum
menatap Mike. “Ya. Aku hanya berharap Ayah segera sadar bahwa dia memiliki anak
yang luar biasa seperti adikku, atau setidaknya terbuka kepada kami semua
tentang pemikirannya.”
Mike manggut-manggut.
Ia menyeruput es jeruk yang dipesannya sejenak kemudian menjawab. “Aku
mengerti. Tapi, mendengar ceritamu membuatku merasa beruntung tidak memiliki
Ayah yang keras. Orang tuaku memberiku cukup kebebasan untuk menjalani hidupku,
asal masih ada di jalan positif. Dulu kau juga dilarang bergaul dengan dunia
basket, kan?”
Elang mengangguk.
“Dulu aku pernah bergaul dengan basket hingga menjadi bagian dari hidupku. Aku
sering melampiaskan semua kekesalan di lapangan. Tapi, semenjak Ayah melarang,
aku hanya bisa diam-diam menonton dari pinggir. Rasanya sakit sekali tak bisa
ikut bermain dengan teman-temanku. Tapi, akhirnya aku bisa merelakannya dengan
bermain musik.”
“Kau bisa begitu saja
melupakan cita-citamu begitu saja karena bermain musik?”
Elang menggeleng.
“Tidak juga. Awal-awal aku bermain musik, aku juga sering gatal untuk pergi ke
lapangan dan bermain basket. Tapi, aku tidak ingin membuat Ayah kecewa. Apalagi
aku sadar, aku adalah anak sulung. Selain ingin menjadi anak yang berbakti, aku
tak ingin adik-adikku mencontoh perilaku buruk. Aku harus bisa mengajari
adik-adikku untuk menjadi anak-anak yang baik.”
“Tapi, bukankah
perilaku Cakka sekarang juga termasuk buruk?” tanya Mike bingung. “Ia tidak
mendengarkan nasehat ayah kalian untuk berhenti bermain basket.”
“Kau tidak akan
mengatakan itu kalau kau mengerti bagaimana beratnya beban Cakka sekarang,
Mike. Aneh kau.” kata Elang sambil menggelengkan kepalanya. Ia menatap ke arah
depan. “Dia berbeda denganku. Jauh berbeda.”
Mike mengerutkan
dahinya. “Apa yang berbeda? Aku tidak mengerti.”
“Ada beberapa hal
yang mengharuskan dia tetap terus maju. Pertama, dia adalah pekerja keras,
lebih daripada aku. Kedua, perjuangannya sudah terlalu lama untuk dihentikan.
Ketiga, dia adalah seorang kapten basket. Ia bukan tipe orang yang melepaskan
tanggung jawab begitu saja.” kata Elang. Ia menunduk sejenak sebelum ia
melanjutkan ucapannya. “Bagiku, dia bukan melawan. Dia hanya pantang menyerah.
Jika nanti Ayah telah terbuka kepadanya, aku yakin dia juga akan mengerti dan
mengutamakan perasaan Ayah daripada cita-citanya. Itulah yang aku inginkan.”
“Lalu, mengapa kau
tidak melakukan hal yang sama dulu?” tanya Mike.
“Karena aku bukan
Cakka. Aku bukan pekerja keras yang tidak gampang dipatahkan semangatnya
seperti Cakka. Sejak kecil, aku selalu takut jika orang tuaku marah. Aku selalu
diam dan menuruti mereka tanpa banyak bicara.”
“Ah, ternyata kau
pengecut untuk berpendapat!” ledek Mike sambil tertawa.
Elang ikut tertawa,
kemudian menempeleng kepala Mike dari samping mendengarnya. “Jahat sekali kau
mengatakan aku pengecut. Aku hanya tidak ingin membuat orang tuaku marah. Bukan
seperti anak yang terlalu pengecut untuk berbicara kritis.”
“Aduh! Keras sekali jitakanmu! Aku
bercanda!” kata Mike sambil mengusap pelipisnya. “Sudahlah, kita lanjutkan lagi
besok. Setelah ini kau harus ambil nilai musik, kan? Lebih baik kau cepat
selesaikan makananmu dan latihan di kelas. Kelasku juga akan segera mulai!”
“Ya, baiklah!”
TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya! :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p