Cakka tersenyum lebar melihat ke atas sambil terus memanjat pohon besar
yang cukup jauh dari rumahnya. Hari ini adalah hari libur, ia tak mau
menyia-nyiakan waktu kosongnya tanpa memanjat berbagai pohon yang ia temui.
Selain karena menyenangkan, ia juga ingin menjadi pemanjat pohon yang handal.
Bagi Cakka, mahir memanjat pohon bisa membuatnya berguna di kemudian hari. Selain
meningkatkan stamina, dia juga jadi berani. Lagipula, dia sangat suka
fotografi. Ia senang memotret dari atas pohon.
Begitu ia sampai di atas, dia segera duduk di ranting besar. Tingkat
kesenangannya semakin tinggi ketika dia bisa melihat pemandangan indah di
hadapannya. Karena ia tinggal di sebuah rumah yang dekat dengan pegunungan, ia
bisa melihat bagaimana indahnya pemandangan gunung dari sana. Dengan cepat ia
langsung mengambil kameranya dan memotret.
“Sudah kuduga kamu ada di sini!”
Cakka terdiam ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Suaranya sudah
jelas tak asing. Seseorang yang selalu mengganggu waktu indahnya memandang alam.
Seseorang yang menyebabkan ia tak bisa bermain lama-lama di luar. Cakka segera
menoleh ke bawah. Benar dugaannya. Dia datang lagi. Pasti dia lagi yang
mengatakan kepada Bunda kalau Cakka pergi memanjat pohon lagi. Padahal, Cakka
sudah beberapa kali pergi secara diam-diam. Tapi, tetap saja ketahuan. Mungkin
karena selama ini dia dan Cakka selalu bersama, mereka sudah pasti hafal dengan
sifat masing-masing.
“Chase Karayne! Cepat turun atau kamu akan dalam bahaya!”
Cakka merengut mendengar ucapannya. Dengan cepat, Cakka segera turun dari
pohon itu dan menghadapnya dengan wajah cemberut. “Tak bisakah kamu tidak
menggangguku saat menikmati alam, Ellose Karayne? Sehari saja?”
Ia segera menjitak Cakka dengan telunjuknya. “Aku tidak akan mengganggumu
jika ini bukan amanah orang tua, adikku tersayang. Lagipula, hobimu berbahaya
sekali.”
“Aku sudah terlatih untuk memanjat pohon. Sekalipun aku memanjat pohon yang
tinggi, aku tidak pernah terjatuh, kan? Lalu, apa yang kamu khawatirkan, Mas?”
Ellose Karayne atau yang akrab dipanggil Elang, menaruh kedua tangannya di
pinggangnya. “Kamu adalah adikku satu-satunya. Dan aku tidak ingin terjadi
apa-apa denganmu. Dan asal kamu tahu, Bunda jauh lebih khawatir daripada aku,
tahu! Makanya dia menyuruhku mencarimu.”
Cakka menghela napasnya. “Padahal, aku hanya ingin memotret keindahan alam.
Kalian semua tahu, aku sangat suka melihat alam. Aku sangat bersyukur kita
tinggal di rumah yang terletak di dekat pegunungan.”
“Oke, terserah kamu. Yang penting sekarang, kamu harus pulang. Kamu tahu?
Ini sudah hampir jam enam. Dan seharusnya kamu sudah mandi dan bersiap-siap
makan malam. Lihat, bajumu kotor sekali.” katanya sambil menggandeng tangan
Cakka dan menariknya pulang.
Cakka hanya diam membiarkan dirinya ditarik pulang kakaknya. Kalau nada
bicara Elang sudah menyebalkan seperti itu, biasanya Bunda pasti sudah
menyuruhnya untuk cepat pulang. Mau bagaimana lagi, Elang sangat menurut pada
Ayah dan Bunda. Berbeda dengan Cakka yang suka melawan jika menyangkut hal
memanjat pohon.
Begitu sampai di rumah, Ayah dan Bunda yang sudah ada di ruang makan
langsung menyambut mereka dengan senang. Kekhawatiran mereka lenyap seketika.
Hembusan nafas lega langsung keluar dari mulut mereka ketika melihat Cakka
baik-baik saja. Elang segera bergabung dengan mereka berdua, sementara Cakka
langsung segera mandi untuk bersiap makan malam. Setelah Cakka selesai mandi,
iapun juga bergabung dengan mereka. Dan bisa dipastikan, Ayah dan Bunda
langsung berceramah tentang kelakuannya.
“Cakka, lain kali kalau mau keluar harus izin pada Bunda dulu. Kalau kamu
tiba-tiba hilang, Bunda juga yang takut kamu kenapa-kenapa.” nasehat Ayah.
“Bagaimana kalau kamu jatuh? Siapa yang akan mengobatimu?”
“Iya, Bunda juga sudah bilang, kalau kamu ingin memotret pemandangan, Bunda
dan Ayah bisa mengajakmu ke tempat yang indah. Tidak harus memanjat pohon,
kan?” kata Bunda ikut menambahkan. “Lagipula, bukannya kamu phobia ketinggian?”
“Berbaktilah kepada mereka jika kamu bosan mendengar mereka menceramahimu
terus seperti ini.” kata Elang juga ikut menyahut. Ah, dia tentu yang paling
tahu kalau Cakka paling tidak suka diceramahi.
Cakka diam saja mendengar ceramahan Ayah dan Bunda. Mereka sudah sering
sekali mengatakan hal itu kepadanya. Cakka sudah hafal dengan ceramahan mereka.
Memang, memotret tidak harus dari atas pohon, dan dia juga phobia ketinggian.
Tapi pemandangan yang bisa dilihat dari atas pohon jauh lebih indah daripada
dari bawah. Sebagai pecinta seni fotografi, bagaimana Cakka menolak untuk
menghasilkan gambar yang begitu bagus? Justru karena terlalu sering memanjat
pohon, Cakka sudah tidak terlalu takut lagi berada di tempat tinggi.
Keesokkan harinya, Cakka kembali pergi diam-diam untuk mencari pohon lagi
untuk ia panjat. Kalau bisa yang lebih tinggi daripada kemarin. Ia ingin
membuktikan bahwa dia akan baik-baik saja jika memanjat pohon yang tinggi.
Tidak akan ada kejadian jatuh atau apapun yang akan mengkhawatirkan
keluarganya. Kali ini dia memanjat pohon yang jaraknya lebih dekat dari rumah.
Tapi, dia tidak membawa kameranya hari ini. Ia hanya ingin memetik buah mangga
yang sudah matang di sana. Dan saat itu, belum sempat Cakka selesai dengan
urusannya, Elang sudah ada di bawah memanggilnya.
“Chase Karayne! Cepat turun! Astaga, kamu itu tak pernah mendengarkan apa
kata Bunda dan Ayah. Mereka kan sudah bilang kalau kamu tidak boleh memanjat
pohon tinggi!” kata Elang sambil menggelengkan kepalanya. Apa dia tidak sadar
bergelantungan pada pohon seperti itu akan membuatnya terjatuh jika tidak
hati-hati?
“Ellose Karayne! Diamlah sebentar! Aku hanya ingin memetik buah mangga ini!
Bukankah bisa dimakan saat makan malam nanti?” tanya Cakka sambil tersenyum
tanpa merasa bersalah.
“Turun, Cakka! Mangga itu bukan milikmu!”
Kali ini Cakka benar-benar tidak mendengarkan. Ia mengulurkan tangan
kanannya, berusaha meraih buah mangga itu. Jarak buah itu tampak agak jauh
darinya, tapi dengan sedikit dorongan, mangga itu sudah ada di tangannya.
Kemudian, ia menoleh ke arah kakaknya. Ia melemparkan mangga itu kepadanya.
“Tangkap, Mas!”
Elang langsung menangkap mangga itu dengan cepat. Dasar, Cakka. Ada-ada
saja kelakuannya. Padahal, ia sudah berumur dua belas tahun. Tapi, masih saja
berbuat aneh. Elang tidak akan bertanggung jawab jika nanti pemilik rumah
mengetahui adiknya memetik mangganya tanpa izin.
“Sudah, cepat turun!” Elang kembali menyahut.
“Iya, sebentar!” Cakka menoleh ke bawah dan pelan-pelan turun ke bawah.
Tapi, karena tidak hati-hati, salah satu kaki Cakka tiba-tiba terpeleset dan
membuat Cakka kehilangan keseimbangan dan terlepas dari pohon. “AAAAAA!!!!”
Elang jelas panik ketika mendapati Cakka jatuh. Ia langsung siaga dan
menangkap adiknya. Mangga yang dipetik Cakka tadi ia taruh sembarangan di
pinggir jalan. Untung saja badan Cakka tidak terlalu besar, sehingga ia masih
kuat menggendongnya. “Kamu tidak apa-apa?”
Cakka menggeleng, masih dengan wajah pucat, ia turun dari gendongan
kakaknya. Kemudian, langsung mengambil mangga yang ditaruh di pinggir jalan
oleh kakaknya tadi. “Tidak, tidak apa-apa, Mas. Makasih.”
“Baru dinasehati kemarin, sudah kejadian, kan? Makanya, dengarlah kata-kata
Ayah dan Bunda. Mereka paling tahu mana kegiatan yang membahayakan keselamatan
kita.”
“Iya, maaf!” kata Cakka dengan wajah cemberut. “Ya sudah, ayo pulang.”
“Ayo.”
Mereka langsung segera melangkah pergi, hendak meninggalkan pohon itu, tapi
sepertinya mereka kurang beruntung. Karena tiba-tiba ada seseorang keluar dari
rumah yang memelihara pohon mangga itu. Parahnya, dia melihat Cakka memegang
sebuah mangga di tangannya. “Hei, kalian mencuri manggaku ya!”
Cakka dan Elang yang mendengar suara galak sang pemilik rumah segera
menoleh. Mereka melihat seorang laki-laki tengah menatap tajam ke arah mereka.
Wajah mereka berdua langsung takut seketika. Lalu... “KABUR!!!!”
THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Kalau mau request cerpen silahkan ya :)
Nantikan ceritaku selanjutnya!

mangga itu ..ternyata ooh ternyata...cakka dan elang mengincar mangga yang bukan miliknya......
BalasHapuskeep happy blogging always...salam dari Makassar :-)
Salam juga dari Jakarta :-)
Hapusaku sedikit banyak belajar dari cerpen2 kakak
BalasHapuskalau ada waktu boleh baca ini ---> http://catatansihujan.blogspot.com/2014/08/aku-kembali.html
comment ya :)