Senin, 21 Juli 2014

Cerpen | Sahabat Loker Part 1



Iqbaal Dhiafakhri, anak itu tengah duduk di pinggir lapangan sambil bersandar pada tiang penyangga atap koridor sambil melamun. Telinganya mendengar suara canda tawa teman-temannya, hidungnya mencium bau aroma persahabatan, hatinya seakan-akan bisa merasakan bagaimana indahnya memiliki teman dekat. Benar-benar menggiurkan seperti kue tar besar buatan Ibu. Padahal, sejak dia duduk di bangku SMP, dia benar-benar tak memiliki satupun teman.

Ya. Teman-temannya di SMP benar-benar suka mempermainkannya. Tak jarang dia dikerjai oleh teman-teman sekelasnya. Bahkan dia pernah dimasukkan ke dalam tong sampah saat kelas tujuh dahulu. Padahal, dulu dia tidak melakukan apa-apa yang membuat mereka kesal. Benar-benar membingungkan. Namun, dia sama sekali tidak ingin membalas perbuatan itu. Percuma.
Memang, terkadang Iqbaal suka mendengar teman-temannya berbicara kalau Iqbaal hanyalah anak aneh yang masuk ke dalam sekolah mereka. Iqbaal hanya memakai seragam sekolahnya seperti biasa, dimasukkan ke dalam celana dan memakai kacamata. Dia juga adalah tipe orang yang suka belajar hal-hal baru. Terutama dalam pelajaran. Tak jarang dia mengajak teman-teman sekelasnya untuk belajar bersama. Tapi, entahlah. Mereka selalu menolak. Mereka bilang, belajar terus akan membuat mereka bosan. Dan setelah itu, mereka menjauhinya. Iqbaal sama sekali tidak mengerti.
Seperti sekarang. Banyak anak-anak yang menjauh ketika melewati dimana tempat dia duduk. Tentu saja, siapa yang mau dekat dengan anak yang baru saja mencium tong sampah? Aroma busuk yang ada di dalamnya masih menyengat. Pagi hari tadi Iqbaal benar-benar menjadi korban innocent lagi. Baru selangkah ia masuk ke dalam kelas, ia langsung diserbu oleh teman-temannya dan membuatnya seperti ini. Kepalanya bahkan masih terasa pusing sampai sekarang.
Ia mengibas-ngibaskan rambutnya sejenak, berusaha merapikan rambutnya yang telah berantakan. kemudian, ia sisir sejenak dengan memakai tangannya. Setelah itu, dia mengambil sebuah kertas dan pensil dari tas yang sejak tadi bermanja-manja di pangkuannya. Ia menyingkirkan tasnya dari pangkuannya, kemudian mulai menulis sesuatu.

Dear Someone,
Kau mungkin tak mengenal aku. Mungkin kau hanya mengenal wujudku yang sama sekali tidak terpandang di sekolah ini. Namun, ini hanyalah tulisan kecil yang mewakili harapan besarku untuk memiliki teman. Aku hanya seorang pelajar yang pendiam, aku tidak suka berbuat nakal seperti teman-temanku. Aku hanya suka belajar dan menulis kapanpun aku mau. Tapi, semua itu tak akan bisa kugapai tanpa dukungan seorang sahabat. Entahlah.

Maaf jika harapanku mengganggumu,
I.D

---

Ia mendapatkan ide itu saat dia membereskan bukunya. Saat itu, kelas benar-benar kosong dan dia merasa benar-benar butuh teman. Dia sudah terlalu sering memandang teman-temannya yang tengah bermain di lapangan bersama sahabat mereka masing-masing. Berpikir dan bertanya-tanya sendiri, kapan dia bisa melakukan itu juga? Dan iapun memutuskan untuk meletakkan sebuah kertas di sebuah loker. Tak perduli itu loker siapa.
Berhari-hari Iqbaal melalui harinya dengan tabah. Dia tetap saja diam melihat teman-temannya yang mengucilkan dan menjadikan dirinya korban tetap untuk kejahilan mereka. Yang terpenting sekarang adalah ia senang memiliki seorang teman khayalan. Ya, surat yang tempo hari dia tulis itulah yang sengaja ia taruh di loker sekolah. Loker bernomor 219 yang tak sengaja terbuka saat itu mendorongnya untuk menaruh tulisannya di sana.
Sebenarnya ia tak berharap banyak. Ia sudah duduk di bangku kelas delapan dan sampai detik ini belum ada yang sudi menjadi teman yang benar-benar dekat dengannya. Ia tak bisa menyakinkan dirinya sendiri bahwa teman berloker 219 itu menanggapinya. Tapi, tidak. Tulisan yang dia berikan tanpa alasan itu dibalas olehnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui tulisan apa yang ada di dalamnya.

Dear I.D,
Semua orang pasti memiliki teman. Mungkin kau hanya belum menemukannya. Dari sekian milyaran penduduk di Indonesia, pasti banyak yang mau menjadi temanmu. Namun, mungkin tidak di sekolah ini. Akupun pernah mengalaminya, dan aku berhasil memiliki banyak teman sekarang.

Dear I.D,
Rasanya menyenangkan mempunyai teman pena sepertimu. Aku sampai sengaja membiarkan lokerku terbuka agar kau bisa menaruh tulisanmu. Kau sama sekali tidak membosankan seperti yang dikatakan teman-temanmu. Mungkin mereka hanya belum bisa melihat kelebihan yang ada di dalam dirimu.

Itu hanyalah sepenggal-dua penggal kalimat yang dia ucapkan dalam suratnya. Setiap kali Iqbaal mendapati sebuah kertas terlipat rapi di lokernya, ia selalu tersenyum. Teman penanya tersebut telah mengubah hidupnya menjadi lebih terasa bahagia. Tapi, di balik kebahagiaan itu tetap saja muncul harapan untuk memiliki teman. Teman yang sesungguhnya. Teman yang benar-benar berwujud nyata. Teman yang akan selalu ada di sampingnya kapanpun dia butuh, seperti teman-teman yang lain.
   
---

"Taruh tas kalian di atas meja! Akan ada razia! Kami akan memeriksa tas kalian satu per satu!" seru Ibu Aliyah, wali kelas Iqbaal. Ia datang bersama beberapa guru lain dan kepala sekolah. Semua anak yang ada di kelas Iqbaal langsung berdiri dan menaruh tas mereka masing-masing di atas meja. Begitu juga dengan Iqbaal.
Selama pemeriksaan terjadi, semua murid tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Mereka semua harus menunggu di luar sehingga tidak ada kecurangan yang terjadi. Cukup lama mereka harus menunggu. Mungkin sampai dua puluh menit. Tapi, bagi mereka yang mempunyai teman berbicara pasti terasa biasa saja. Berbeda dengan Iqbaal yang hanya sendirian. Pemandangan canda tawa teman-temannya sudah seperti makanannya sehari-hari.
Tak lama kemudian, Ibu Aliyah keluar dan menghampiri Iqbaal. Dia menatap Iqbaal dengan wajah yang tak bisa Iqbaal artikan. Begitu sampai di hadapannya, Ibu Aliyah langsung menarik tanganku dan berkata, "Ikutlah ke dalam kelas."
Iqbaal hanya terdiam mendengar ucapan Ibu Aliyah. Namun, di dalam hatinya, ia menebak-nebak apa yang terjadi sehingga ia harus ikut ke dalam, sementara yang lainnya tidak. Pertanyaan yang tersimpan di benaknya tersebut terjawab ketika Ibu Aliyah menunjukkan isi bagian depan tas Iqbaal. Di sana terdapat beberapa kotak rokok bertengger di dalamnya. Lagi-lagi Iqbaal hanya bisa diam.
"Kau merokok?" tanya Ibu Aliyah dengan pandangan menyelidik.
Iqbaal menggeleng.
"Kalau kau tidak merokok, bagaimana rokok-rokok tersebut ada di tasmu?" tanya Pak Kuko, kepala sekolah. Wajahnya yang terlihat siap memangsa Iqbaal membuatnya menundukkan kepalanya.
"Jawab, Iqbaal." kata Ibu Aliyah lagi. Namun, Iqbaal tetap saja tidak membuka mulutnya. Dia sudah tahu tak ada gunanya ia mengatakan kalau barang-barang itu bukan miliknya. Dia tidak mempunyai bukti untuk menyakinkan mereka.

TO BE CONTINUED..
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p