Iqbaal
Dhiafakhri, anak itu tengah duduk di pinggir lapangan sambil bersandar pada
tiang penyangga atap koridor sambil melamun. Telinganya mendengar suara canda
tawa teman-temannya, hidungnya mencium bau aroma persahabatan, hatinya
seakan-akan bisa merasakan bagaimana indahnya memiliki teman dekat. Benar-benar
menggiurkan seperti kue tar besar buatan Ibu. Padahal, sejak dia duduk di
bangku SMP, dia benar-benar tak memiliki satupun teman.
Ya.
Teman-temannya di SMP benar-benar suka mempermainkannya. Tak jarang dia
dikerjai oleh teman-teman sekelasnya. Bahkan dia pernah dimasukkan ke dalam
tong sampah saat kelas tujuh dahulu. Padahal, dulu dia tidak melakukan apa-apa
yang membuat mereka kesal. Benar-benar membingungkan. Namun, dia sama sekali
tidak ingin membalas perbuatan itu. Percuma.
Memang,
terkadang Iqbaal suka mendengar teman-temannya berbicara kalau Iqbaal hanyalah
anak aneh yang masuk ke dalam sekolah mereka. Iqbaal hanya memakai seragam
sekolahnya seperti biasa, dimasukkan ke dalam celana dan memakai kacamata. Dia
juga adalah tipe orang yang suka belajar hal-hal baru. Terutama dalam
pelajaran. Tak jarang dia mengajak teman-teman sekelasnya untuk belajar
bersama. Tapi, entahlah. Mereka selalu menolak. Mereka bilang, belajar terus
akan membuat mereka bosan. Dan setelah itu, mereka menjauhinya. Iqbaal sama
sekali tidak mengerti.
Seperti
sekarang. Banyak anak-anak yang menjauh ketika melewati dimana tempat dia
duduk. Tentu saja, siapa yang mau dekat dengan anak yang baru saja mencium tong
sampah? Aroma busuk yang ada di dalamnya masih menyengat. Pagi hari tadi Iqbaal
benar-benar menjadi korban innocent lagi. Baru selangkah ia masuk ke dalam
kelas, ia langsung diserbu oleh teman-temannya dan membuatnya seperti ini.
Kepalanya bahkan masih terasa pusing sampai sekarang.
Ia
mengibas-ngibaskan rambutnya sejenak, berusaha merapikan rambutnya yang telah
berantakan. kemudian, ia sisir sejenak dengan memakai tangannya. Setelah itu,
dia mengambil sebuah kertas dan pensil dari tas yang sejak tadi bermanja-manja
di pangkuannya. Ia menyingkirkan tasnya dari pangkuannya, kemudian mulai
menulis sesuatu.
Dear Someone,
Kau mungkin tak mengenal aku. Mungkin kau hanya
mengenal wujudku yang sama sekali tidak terpandang di sekolah ini. Namun, ini
hanyalah tulisan kecil yang mewakili harapan besarku untuk memiliki teman. Aku
hanya seorang pelajar yang pendiam, aku tidak suka berbuat nakal seperti
teman-temanku. Aku hanya suka belajar dan menulis kapanpun aku mau. Tapi, semua
itu tak akan bisa kugapai tanpa dukungan seorang sahabat. Entahlah.
Maaf jika harapanku mengganggumu,
I.D
---
Ia
mendapatkan ide itu saat dia membereskan bukunya. Saat itu, kelas benar-benar
kosong dan dia merasa benar-benar butuh teman. Dia sudah terlalu sering
memandang teman-temannya yang tengah bermain di lapangan bersama sahabat mereka
masing-masing. Berpikir dan bertanya-tanya sendiri, kapan dia bisa melakukan
itu juga? Dan iapun memutuskan untuk meletakkan sebuah kertas di sebuah loker.
Tak perduli itu loker siapa.
Berhari-hari
Iqbaal melalui harinya dengan tabah. Dia tetap saja diam melihat teman-temannya
yang mengucilkan dan menjadikan dirinya korban tetap untuk kejahilan mereka.
Yang terpenting sekarang adalah ia senang memiliki seorang teman khayalan. Ya,
surat yang tempo hari dia tulis itulah yang sengaja ia taruh di loker sekolah.
Loker bernomor 219 yang tak sengaja terbuka saat itu mendorongnya untuk menaruh
tulisannya di sana.
Sebenarnya
ia tak berharap banyak. Ia sudah duduk di bangku kelas delapan dan sampai detik
ini belum ada yang sudi menjadi teman yang benar-benar dekat dengannya. Ia tak
bisa menyakinkan dirinya sendiri bahwa teman berloker 219 itu menanggapinya.
Tapi, tidak. Tulisan yang dia berikan tanpa alasan itu dibalas olehnya. Dan
betapa terkejutnya ia ketika mengetahui tulisan apa yang ada di dalamnya.
Dear I.D,
Semua orang pasti memiliki teman. Mungkin kau
hanya belum menemukannya. Dari sekian milyaran penduduk di Indonesia, pasti
banyak yang mau menjadi temanmu. Namun, mungkin tidak di sekolah ini. Akupun
pernah mengalaminya, dan aku berhasil memiliki banyak teman sekarang.
Dear I.D,
Rasanya menyenangkan mempunyai teman pena
sepertimu. Aku sampai sengaja membiarkan lokerku terbuka agar kau bisa menaruh
tulisanmu. Kau sama sekali tidak membosankan seperti yang dikatakan
teman-temanmu. Mungkin mereka hanya belum bisa melihat kelebihan yang ada di
dalam dirimu.
Itu
hanyalah sepenggal-dua penggal kalimat yang dia ucapkan dalam suratnya. Setiap
kali Iqbaal mendapati sebuah kertas terlipat rapi di lokernya, ia selalu
tersenyum. Teman penanya tersebut telah mengubah hidupnya menjadi lebih terasa
bahagia. Tapi, di balik kebahagiaan itu tetap saja muncul harapan untuk
memiliki teman. Teman yang sesungguhnya. Teman yang benar-benar berwujud nyata.
Teman yang akan selalu ada di sampingnya kapanpun dia butuh, seperti
teman-teman yang lain.
---
"Taruh
tas kalian di atas meja! Akan ada razia! Kami akan memeriksa tas kalian satu
per satu!" seru Ibu Aliyah, wali kelas Iqbaal. Ia datang bersama beberapa
guru lain dan kepala sekolah. Semua anak yang ada di kelas Iqbaal langsung
berdiri dan menaruh tas mereka masing-masing di atas meja. Begitu juga dengan
Iqbaal.
Selama
pemeriksaan terjadi, semua murid tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas.
Mereka semua harus menunggu di luar sehingga tidak ada kecurangan yang terjadi.
Cukup lama mereka harus menunggu. Mungkin sampai dua puluh menit. Tapi, bagi
mereka yang mempunyai teman berbicara pasti terasa biasa saja. Berbeda dengan
Iqbaal yang hanya sendirian. Pemandangan canda tawa teman-temannya sudah seperti
makanannya sehari-hari.
Tak lama
kemudian, Ibu Aliyah keluar dan menghampiri Iqbaal. Dia menatap Iqbaal dengan
wajah yang tak bisa Iqbaal artikan. Begitu sampai di hadapannya, Ibu Aliyah
langsung menarik tanganku dan berkata, "Ikutlah ke dalam kelas."
Iqbaal
hanya terdiam mendengar ucapan Ibu Aliyah. Namun, di dalam hatinya, ia
menebak-nebak apa yang terjadi sehingga ia harus ikut ke dalam, sementara yang
lainnya tidak. Pertanyaan yang tersimpan di benaknya tersebut terjawab ketika
Ibu Aliyah menunjukkan isi bagian depan tas Iqbaal. Di sana terdapat beberapa
kotak rokok bertengger di dalamnya. Lagi-lagi Iqbaal hanya bisa diam.
"Kau
merokok?" tanya Ibu Aliyah dengan pandangan menyelidik.
Iqbaal
menggeleng.
"Kalau
kau tidak merokok, bagaimana rokok-rokok tersebut ada di tasmu?" tanya Pak
Kuko, kepala sekolah. Wajahnya yang terlihat siap memangsa Iqbaal membuatnya
menundukkan kepalanya.
"Jawab,
Iqbaal." kata Ibu Aliyah lagi. Namun, Iqbaal tetap saja tidak membuka
mulutnya. Dia sudah tahu tak ada gunanya ia mengatakan kalau barang-barang itu
bukan miliknya. Dia tidak mempunyai bukti untuk menyakinkan mereka.
TO BE CONTINUED..
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p