Sabtu, 11 Juli 2015

CERBUNG | FRIENEMIES #12 [DEMI CINTA]


Walau hati ini t'rus menangis, menahan kesakitan ini
Tapi ku lakukan semua demi cinta

KRIINGGG!!
Seperti biasanya, kalau bel pulang sekolah sudah berbunyi, para siswa siswi pasti langsung berhamburan keluar kelas supaya bisa cepat sampai ke rumah. Tak perlu repot-repot membereskan buku lagi, karena jauh sebelum jam pulang, mereka sudah membereskan semuanya. Memang tipikal murid malas semua penghuni 10-IPA1 ini.
Bahkan guru-guru sudah hafal dengan kebiasaan mereka yang satu ini.
Berbeda dengan yang lainnya, Rio, Deva, Cakka dan Gabriel justru tenang-tenang saja membereskan barang-barang mereka yang masih berantakan di atas meja. Selain karena mereka bukan pelajar malas, mereka berempat juga harus ekskul sampai sore hari ini.
“Va, lo hari ini ekskul musik, kan?” tanya Rio sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Ia heran melihat meja Deva yang penuh karena tumpukan buku ensiklopedia yang tebal-tebal.
Deva mengangguk. “Kenapa, Yo?”
“Terus itu buku ensikopedia segitu banyak mau lo bawa ke ekskul?”
Deva nyengir. “Nggak lah, itu kan udah selesai gue baca semuanya. Gue mau balikin dulu ke perpus. Nggak kuat gue ngangkat beginian kemana-mana.”
“Ya siapa tahu aja, Va,” kata Rio sambil tertawa. “Lagian biasanya kalau lo udah balikin biasanya juga mau minjem lagi, kan? Kalau buku di sana belum habis lo lahap, mana berhenti lo minjem.”
“Tahu, kayak nggak ada kerjaan lain aja si Deva tuh.” celetuk Cakka.
Deva nyengir. “Namanya juga hobi, Kka, Yo. Sama kayak lo berdua yang suka banget sama basket.”
“Gue nggak bawa bola kemana-mana tuh!” kata Cakka menjelajah ke kolong mejanya untuk mengambil bukunya yang jatuh. Namun, saat ia mau keluar dari sana, kepalanya justru terkena sial. “ADUH!”
Seketika Rio, Gabriel dan Deva tertawa melihat kepala Cakka menghantam laci meja dengan keras. Cakka langsung melotot ke arah mereka dengan tajam begitu ia berhasil keluar dari kolong meja.
“Puas banget ya ngetawain gue!” kata Cakka sebal.
“Lagian lo bisa banget kejedot begitu. Kalau emosi, jangan dilampiasin ke meja lo dong. Kasihan kali, meja lo nggak tahu apa-apa!” kata Rio masih saja tertawa.
“Lo pikir ini kemauan gue apa? Lagian yang ngajak ngobrol siapa, jadinya gue nggak konsen kan?”
“Lah, tadi kan gue sama Deva yang ngobrol. Lo yang duluan nyeletuk begitu kok!” kata Rio. Ia langsung melemparkan handuknya ke arah Cakka. “Tuh pake, tinggal dibasahin aja terus kompres kepala lo.”
“Nggak ah, nggak butuh! Udah yuk, ke lapangan!” kata Cakka melempar kembali handuk Rio. Ia langsung pergi meninggalkan kelas. Teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
“Va, entar kalau lo pulang telat, barengan yuk,” kata Rio menoleh ke arah Deva. “Selama ini kita ekskul di hari yang sama tapi nggak pernah pulang bareng. Kayak musuhan banget jadinya.”
Deva tertawa. “Itu kan gara-gara ekskul musik biasanya lebih cepat selesai daripada basket, Yo. Tapi, lihat aja nanti. Kalau ada lomba kan biasanya sampai jam setengah empat juga.”
“Ya udah, sampai ketemu nanti ya. Doain kita bisa berhasil masukin Gabriel ke tim inti.” kata Rio ikut tertawa. Tangannya merangkul Gabriel yang ada di sebelahnya.
Deva menggantungkan tasnya di pundak, kemudian mengacungkan jempol. “Pasti kok. Ya udah, gue duluan ya.”
“Oke.”
Mereka langsung keluar kelas dan berpisah arah. Rio dan Gabriel pergi menuju lapangan, sementara Deva langsung ke perpustakaan dan ruang musik. Untuk sementara waktu, mereka berpisah dulu.

J L J

Ekskul pertama di semester genap ini membawa sesuatu yang mengejutkan bagi semua anak-anak basket. Mereka tak lagi melihat Gabriel yang pendiam dan malas latihan. Ia justru tampak semangat dan serius dalam mengikuti semua kegiatan ekskul basket. Anak-anak yang tadinya menganggap Gabriel itu tidak pantas masuk ekskul basket, sekarang justru berbalik menerimanya dengan baik. Walaupun dia tetap tidak banyak bicara, paling tidak dia sudah bisa diajak berteman. Ada beberapa anak yang tampak menghampirinya di pinggir lapangan ketika jam istirahat, seperti Obiet, Via, Gita dan Rizky.
“Ternyata lo nggak seburuk yang gue kira,” kata Rizky sambil duduk di sebelah Gabriel dan menepuk pundaknya. “Dulu gue pikir lo itu sombong, nggak cocok di basket, ternyata gue salah menilai lo, bro.”
“Iya, malahan tadinya gue pikir lo satu tipe sama Anka. Sukanya mentingin diri sendiri doang, karena lo kayak nggak niat begitu kalau ekskul. Begini dong dari awal, semangat!” kata Via sambil tersenyum. Dia salah satu yang jago basket juga di ekskul.
“Eh, kapan-kapan latihan bareng yuk? Kayaknya gue mesti banyak belajar dari lo. Jago banget deh kayak Rio.” kata Gita semangat.
“Iya, pantes aja Rio jago begitu, ternyata kakaknya nggak kalah ngeri,” kata Obiet sambil tertawa. Dia adalah salah satu anggota tim inti selain Cakka, Alvin, Rio dan Rizky. “Lo sama kayak Rio ya? Udah main basket sejak kecil, makanya bisa jago begitu?”
Gabriel hanya tersenyum tipis mendengar ucapan mereka. “Kan adik gue.”
“Iya, gue tahu, tapi siapa tahu lo lebih lama lagi main basketnya daripada Rio.” kata Obiet nyengir.
“Gue sama dia kan kembar, Biet, dari kecil ngelakuin apa aja pasti bareng-bareng,” Rio tiba-tiba menghampiri mereka sambil membawa botol minum. “Nih, Yel. Istirahat bukannya minum, malah ngelamun.”
Gabriel tersenyum, kemudian menerima botol tersebut dari Rio.
“Kembar yang kompak banget dong,” kata Obiet. “Sayang tahu kalau dia nggak masuk tim inti, Yo. Gue rasa Gabriel udah sejago Cakka dan Alvin juga.”
“Apa? Gabriel? Masuk tim inti?” tiba-tiba Anka datang dengan gaya soknya. “Hello! Lo pada nggak salah apa? Masa laki-laki lemah begini dimasukin ke tim inti? Dia tuh low level basketball player tau nggak? Baru juga sekali dia pamer.”
“Yeee... urusan lo apa kalau Gabriel beneran mau masuk tim inti?” tanya Rio sebal menatap Anka. “Belum puas juga lo gangguin temen-temen gue, hah? Pakai ngatain kakak gue lagi! Lo tuh yang low level! Nggak ada sikap sama sekali.”
Anka melotot. “Ada hak apa lo nge-judge gue kayak begitu?”
“Lo juga ada hak apa nge-judge Gabriel?!” kata Rio tak kalah sebal. “Kalau lo nggak lebih baik daripada Gabriel, ya udah diem aja! Ngapain sih gangguin kita? Nggak bisa ya berusaha sendiri?!”
Anka mendengus kesal. Tangannya sudah mengepal keras mendengar ucapan Rio. Ia langsung menoleh ke arah Gabriel. “Heh! Lo! Nggak usah sok jago ya jadi orang! Kalau lo memang hebat, berani nggak lo lawan gue? Satu lawan satu! Nanti sore!”
“Lo pikir Gabriel kurang kerjaan harus ngeladenin lo?!” kata Rio.
“Yang ngomong sama lo siapa?!”
“Udah, udah! Kalian kok malah pada berantem?” tanya Obiet menengahi. Ia menoleh ke arah Anka. “Anka, lo tuh harusnya lihat diri lo sendiri. Kalau lo mau dianggep hebat, lo buktiin dong dengan kemampuan dan sikap lo. Justru dengan lo ngerendahin Gabriel begini, lo nunjukkin kalau sebenarnya lo takut dengan kehadiran Gabriel.”
Me? Afraid? Nggak akan!” kata Anka. Ia menatap tajam ke arah Gabriel. “Pokoknya nanti gue tunggu di lapangan komplek nanti sore. Kalau lo nggak dateng, itu berarti lo PE-NGE-CUT!”
Setelah berkata begitu, Anka langsung pergi meninggalkan Rio dan teman-temannya. Untung saja dia cepat-cepat kabur. Kalau tidak, Rio bisa benar-benar meledak dengan sikap Anka kepada kakaknya.
“Udahlah, Yo, nggak usah diladenin orang kayak begitu.” kata Gita menenangkan.
“Iya, Gabriel pantes kok masuk tim inti. Dia aja yang nggak mau bersaing.” kata Via ikut mendukung Gabriel.
“Gue juga berpikir kalau Gabriel harusnya bisa masuk tim inti. Bukan karena dia jago, tapi gue yakin dia bisa bekerja sama di dalam tim. Bagaimanapun kan tim itu yang penting kompak, bukan jago,” kata Rio. “Gue cuma bisa berharap nanti Pak Jo setuju dengan hal ini.”
“Mesti tunggu pertandingan sih, jadi lo bisa ajak Gabriel ikut juga, lagian Alvin kan udah mau lulus.” kata Obiet.
“Oh iya, dia kelas tiga ya. Ya udah, gue punya alasan kalau begitu.”
“Eh, Biet, gue gerah nih di pinggir terus, latihan di lapangan yuk! Ngapain kek begitu, yang penting gerak.” kata Rizky tiba-tiba.
“Gaya lo, Ky. Ya udah sana latihan!” Rio mengibaskan tangannya seperti mengusir orang. Padahal, maksudnya bercanda saja dengan teman satu ekskulnya itu.
“Jahat lo, Yo! Ayo, Biet!” Rizky langsung menarik Obiet menyingkir dari sana.
“Gue sama Via juga mau istirahat dulu deh. Pegel-pegel badan gue.” Gita dan Via akhirnya juga pamit, meninggalkan Rio dan Gabriel saja di sana.
Suasana kembali hening. Gabriel tampak sibuk sendiri dengan pikirannya. Ia sudah tahu kejadian seperti tadi pasti terjadi lagi. Sesemangat apapun ia ingin masuk tim inti, pasti ada saja yang menentang dan membuat semuanya kembali bertengkar. Bukan ini yang Gabriel inginkan. Ia ingin semuanya bahagia. Bukan seperti ini.
Rio yang menyadari wajah Gabriel kembali sendu, hanya bisa menghela nafasnya. Kakaknya pasti terlempar lagi ke masa lalu. Setiap kali ada yang mengejeknya seperti itu, Gabriel pasti teringat kelakuan Kiki, Olin dan Abner dulu.
Sebenarnya, bukan salah Gabriel semuanya menjadi begini. Tapi, salah mereka yang memandang Gabriel sebelah mata. Seharusnya mereka mengenal Gabriel lebih dalam dulu. Kenali seperti apa Gabriel itu sebenarnya baru bisa menilai baik buruknya dia.
“Lo nggak usah mikirin apa kata Anka, Yel.” Rio akhirnya bersuara.
“Bukankah gue memang pengecut?” tanya Gabriel, sukses membuat Rio bungkam. “Selama ini gue bahkan nggak bisa bangkit dari masa lalu gue sendiri. Itu bukan pengecut namanya?”
“Tapi lihat anak-anak yang lain, Yel. Mereka nggak menganggap lo pengecut,” kata Rio. “Yang nggak suka sama lo di sini cuma Anka doang, tapi yang sayang sama lo banyak.”
“Apa mereka tetap sayang sama gue kalau gue nggak bersikap serius kayak hari ini?” tanya Gabriel lagi. “Kemana aja mereka semester pertama kemarin? Di saat gue butuh pertolongan, mereka nggak ada. Tapi begitu gue begini, mereka baru mau dateng. Jangan-jangan kalau gue kembali tertutup kayak kemarin, mereka menjauh lagi dari gue.”
“Yel, bukannya gue udah bilang sama lo? Mereka cuma baru tahu kalau lo itu sebenarnya baik,” kata Rio. “Lo jangan keburu negative thinking ke mereka dong. Mereka maksudnya baik kok. Bukan apa-apa.”
Gabriel diam.
Rio menghela nafas. “Coba belajar terima orang lain masuk ke hati lo, Yel. Nggak selamanya lo bisa bersandar sama gue.”
Gabriel menoleh. “Jadi lo akan ninggalin gue juga?”
“Duh, bukan begitu, Yel. Gue pasti akan ada di samping lo selama yang gue bisa. Tapi, gue nggak mungkin nungguin lo dua puluh empat jam kayak bodyguard, kan? Lo harus punya banyak teman. Nggak cuma gue doang,” kata Rio sambil tersenyum. “Percayalah, punya banyak temen bisa bikin hidup lo bahagia.”
“Buat apa gue punya yang butuhnya cuma pas seneng doang?” tanya Gabriel.
“Apa menurut lo semua orang kayak begitu, Yel?” tiba-tiba Cakka datang dengan kedua tangan di pinggang. Ia menatap Gabriel dengan tatapan tanpa ekpresi.
Gabriel diam saja mendengarnya.
“Kalau lo berpikir semua orang cuma datang baik-baik saat seneng doang, kenapa lo nggak bergaul aja tuh sama benda-benda mati di rumah? Kenapa harus pakai sekolah segala? Ngapain juga bergaul sama gue, Rio sama Deva?” tanya Cakka cuek.
“Kka, kok lo ngomong begitu sih?” protes Rio.
“Memangnya gue salah, Yo?” tanya Cakka. “Dia bilang semua orang sama aja. Secara nggak langsung dia menganggap kita juga dateng ke dia pas seneng doang.”
“Ya tapi kan—“
“Sekarang gue tanya ya sama lo, Yel, terlepas dari masalah kita dulu, apa gue pernah ninggalin lo?” tanya Cakka sambil menatap Gabriel garang. “Apa Deva pernah nggak peduli sama lo? Apa Rio pernah ninggalin lo?”
Gabriel menggelengkan kepalanya.
“Mereka menerima lo dari awal, kan?” Cakka menatap Gabriel sendu. Sebelum Gabriel menjawab, Cakka buru-buru menambahkan. “Dan selama ini lo nganggep kita dateng cuma pas butuh doang? Otak lo dimana, hah?!”
Gabriel memejamkan matanya, ngeri dengan suara Cakka. Walaupun ia tahu, sebenarnya Cakka benar. Selama ini Gabriel justru sudah mulai nyaman dengan mereka, tapi kenapa hari ini dia harus berbicara sembarangan?
Rio tersenyum. Kemudian, ia merangkul Gabriel. “Yel, lo lihat sendiri kan sekarang? Cakka yang selama ini lo takutin aja bisa ngomong begitu. Belum lagi ada empat orang temen gue tadi,” kata Rio tetap berusaha menjelaskan. “Jadi lo nggak ada alasan buat mikirin orang-orang nggak penting kayak Anka dan temen-temen lo dulu.”
Gabriel menatap Rio diam.
Rio hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Gue nggak mau ya, gara-gara Anka tadi, lo jadi lemes lagi latihan basket.”
Gabriel tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. “Gue nggak separah itu, Yo.”
Rio tersenyum. “Ya udah, ayo latihan lagi!”
“Awas ya lo, ngomong sembarangan lagi! Gue sumpel juga itu mulut!” kata Cakka kesal, membuat Gabriel kembali ketakutan.
“Lo kali yang ngomong sembarangan, Kka! Gabriel jadi takut lagi kan?” kata Rio langsung menjitak Cakka. “Udah, biarin aja, Yel, dia maksudnya baik kok. Tenang aja.”
Rio, Gabriel dan Cakka kembali bergabung dengan anak-anak basket lainnya yang sudah mulai berkumpul di lapangan. Mereka kembali melanjutkan latihan mereka dengan semangat.
Bukan hanya anak-anak basket yang kaget. Bahkan Pak Jo juga kaget dengan perubahan Gabriel hari ini. Beliau tampak kagum dengan kemampuan Gabriel yang sebenarnya. Semoga saja dengan hal itu, beliau juga dapat menerima Gabriel. Tak seperti waktu awal masuk ekskul basket dulu.

J L J

“Wah, lomba band dari sebuah majalah ya?” tanya Deva sambil melihat brosur yang diberikan oleh teman-temannya. “Oke, kalau begitu kita harus latihan lebih giat ya! Berarti ekskul hari ini harus sampai jam setengah empat, karena kita harus cepat pilih lagu, latihan dan pendaftaran.”
“Oke, Kak!” seru anak-anak ekskul musik.
“Tapi, nanti Kak Deva juga tampil, kan?”
“Harus dong, kakak juga akan tampil sama temen-temen kakak,” jawab Deva semangat. “Tapi, kalian harus semangat ya! Kalau nggak, Kak Deva nggak mau tampil nih.”
“Yah, jangan dong, Kak! Kita pasti semangat!”
Deva tersenyum. Ia memang menjabat sebagai ketua di ekskul musik. Kegemarannya bermusik tersalurkan di ekskul sejak kecil hingga pada akhirnya tahun ini ia ditunjuk sebagai ketua ekskul yang baru untuk membimbing adik-adik kelas SMPnya. Dengan ditemani oleh beberapa orang juga dari kelas sepuluh, Deva mengajarkan berbagai hal kepada mereka. Sembari mengajar, Deva juga kadang-kadang berbagi pengalaman agar mereka bisa menganggapnya sebagai teman. Bagaimanapun juga, Deva kalau dibilang pengajar juga bukan.
“Keke, Ian, Agni, Dayat. Lo semua siap bantu gue, kan?” Deva menoleh ke arah teman-teman bandnya. “Kita tampil bareng seperti biasa. Untuk lagu biar kita rundingin nanti.”
“Siap, Va!” Keempat temannya tersebut langsung mengacungkan jempol.
“Oke, ayo kita latihan!”

J L J

Langit sudah mulai gelap ketika Rio baru saja selesai mandi. Ia dan Gabriel baru saja pulang dari ekskul mereka. Latihan intensif mereka kali ini membuat badan Rio terasa lengket, sehingga ia langsung buru-buru keramas di rumah. Sementara Gabriel hanya tiduran di tempat tidurnya, membiarkan bau keringat meresap ke udara kamar.
“Yel, lo nggak mandi? Bau tahu!” kata Rio sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecilnya. Badannya sudah tertutupi oleh baju piyama bergambar kartun.
Gabriel menoleh ke arah adiknya sejenak, kemudian langsung duduk di tempat tidurnya. “Gue bingung, Yo. Apa gue harus datengin Anka ke lapangan? Kayaknya dia serius nantangin gue.”
“Soal itu ngapain lo pusingin? Biarin aja dia mau berbuat sesukanya, gue sih nggak kemakan sama omong kosongnya!” kata Rio. Ia menaruh handuknya di meja dan segera menyisir rambutnya pelan-pelan.
“Tapi, bisa babak belur gue besok kalau gue nggak dateng,” kata Gabriel. “Selemah-lemahnya gue, gue tetep laki-laki. Pantang banget dibilang pengecut.”
“Bukannya lo memang pengecut?” tanya Rio sambil tersenyum.
Gabriel melotot ke arah Rio. Ia langsung menjitak adiknya dari samping. “Yo, gue serius! Kok malah ngebahas lagi sih soal yang tadi?”
Rio tertawa. “Lagian lo jadi orang suka banget sih bimbang. Sebenernya sih itu terserah lo. Lo merasa perlu nggak nyamperin dia? Kalau gue sih males banget. Gue dateng juga nggak bakal bikin dia jadi baik lagi.”
“Begitu ya?” tanya Gabriel.
“Iya lah,” kata Rio. Ia menyimpan sisirnya di laci meja dan menepuk pundak Gabriel. “Udah, lo mandi dulu aja sana. Kalau mau pergi nanti tinggal pergi aja.”
“Ya udah kalau lo bilang begitu, gue nggak usah nyamperin.” kata Gabriel langsung bersiap-siap untuk mandi.
“Loh, lo jangan ngikutin gue doang. Kalau lo merasa perlu ya gue nggak apa-apa. Gue kan cuma kasih saran buat lo.” kata Rio heran dengan kakaknya yang satu ini.
“Dan gue selalu yakin gue punya adik yang paling hebat di dunia. Jadi, apapun yang lo saranin pasti selalu yang terbaik buat gue, Mario Astroken!” kata Gabriel sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
“Nggak punya pendirian lo ah, Yel!” teriak Rio, maksudnya bercanda. Tapi, tak ada sahutan dari dalam sana. Hanya terdengar suara air shower yang deras.
Rio hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia langsung beristirahat di tempat tidurnya sambil menunggu kakaknya selesai mandi. Dasar Gabriel, dia selalu memiliki alasan untuk mengelak apapun. Untung ia lahir sebagai kakaknya sehingga Rio akan selalu menyayanginya meski ia terkadang aneh.

J L J

“Perhatian semuanya!” Pak Jo berteriak di lapangan agar semuanya segera berkumpul. Setelah semuanya sudah ada di lapangan, ia langsung melanjutkan ucapannya. “Bapak minta mulai hari ini kalian harus latihan lebih giat lagi, oke? Karena sebentar kita akan bertanding melawan SMA 90.”
“Kapan, Pak?” tanya Rio ingin tahu.
“Dua bulan lagi,” jawab Pak Jo. “Dan Bapak minta tim inti untuk bersiap-siap. Rio, Cakka, Alvin, Obiet dan Rizky. Jangan ada yang main-main, oke? Walaupun ini pertandingan kecil-kecilan, tapi tetap saja harus latihan keras.”
“Baik, Pak!” seru Rio, Cakka, Alvin, Obiet dan Rizky.
Rio mengangkat tangannya. “Pak, saya boleh usul nggak?”
“Iya, ada apa Rio?” tanya Pak Jo.
“Saya ingin Gabriel ikut dalam pertandingan ini,” kata Rio. “Paling tidak sebagai cadangan, Pak. Kan lumayan kalau ada pergantian pemain. Saya yakin Gabriel bisa, Pak.”
Pak Jo mengerutkan dahinya heran mendengar ucapan Rio. Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali bersikap biasa. Ia menghela nafasnya dan berkata, “Tidak, Mario Astroken.”
“Loh, kenapa, Pak?” tanya Rio tidak mengerti. “Gabriel kan juga tidak buruk. Bapak juga sudah melihat kemampuannya kemarin, kan? Sekali ini aja, Pak.”
“Alah, ngapain sih lo manjain kakak lo itu terus, Yo? Kayak nggak ada kerjaan lain aja lo!” Anka menyeletuk. “He’s not worth it buat ikut pertandingan tahu! Mainnya aja jelek begitu!”
“Priyanka, gue nggak minta pendapat lo, oke?” kata Rio datar. Kemudian, ia langsung menoleh ke arah Pak Jo kembali. “Boleh kan, Pak? Boleh ya?”
Pak Jo tetap menggelengkan kepalanya. “Tidak, Rio. Sekarang lebih baik kita langsung mulai saja latihannya. Kalian semua latihan sendiri dulu, oke? Saya akan berbicara dengan Rio dulu. Bubar!”
Semua anak-anak langsung berpencar dan latihan sendiri kecuali Rio. Begitu semuanya sudah sibuk sendiri, Pak Jo langsung menghampiri Rio dengan tatapan datar.
“Mario Astroken, apa maksudmu melakukan itu? Gabriel tidak boleh ikut pertandingan itu,” kata Pak Jo. “Apa kamu lupa perjanjian kita dulu, hah?”
“Perjanjian?” tanya Rio sambil mengerutkan dahinya heran.
“Ya. Memangnya kenapa saya menerima Gabriel masuk ke dalam ekskul?”
Rio terdiam. Tiba-tiba pikirannya kembali ke masa lalu, ketika Gabriel baru saja mau masuk ke dalam ekskul basket. Saat itu, dia memohon-mohon kepada Pak Jo agar beliau menerima Gabriel.

J L J

Pak Jo tampak berpikir sejenak setelah Rio mengutarakan keinginannya tentang Gabriel. Dengan ragu-ragu, beliau bertanya kepada Rio, “Kamu yakin, dia sanggup ada di lingkungan ekskul basket?”
Rio mengangguk cepat. “Itu akan menjadi tanggung jawab saya, Pak.”
Pak Jo mengangguk-angguk. “Saya akan berusaha dengan satu syarat.”
“Apa syaratnya, Pak? Saya akan menerimanya, apapun itu!”
Pak Jo menghela nafasnya sejenak. “Saya akan berusaha memenuhi permintaan kamu dengan syarat, Gabriel harus mengikuti latihan setiap minggu. Tapi, dia tidak boleh ikut dalam kegiatan luar basket.”
Rio mengerutkan dahinya. “Maksud Bapak?”
“Gabriel ini tidak memiliki niat untuk masuk basket, jadi Bapak akan menganggapnya sebagai anggota tambahan yang hanya butuh olahraga. Otomatis, dia tidak boleh masuk tim inti maupun ikut pertandingan antar SMA. Apalagi pertandingan nasional. Apapun alasannya. Bagaimana?”

J L J

“Sudah jelas, kan?” tanya Pak Jo lagi setelah Rio terdiam cukup lama.
Rio terdiam seribu bahasa begitu mengingat apa yang terjadi sebelum Gabriel masuk ekskul itu. Kenapa dia baru ingat? Ya, Pak Jo dulu sebenarnya sama sekali tidak mau menerima Gabriel, namun pada akhirnya karena paksaan Rio, beliau menerima Gabriel dengan syarat tersebut. Gabriel sama sekali tidak boleh masuk tim inti.
“Bapak harap kamu tidak mencoba untuk mengingkari perjanjian itu, Yo. Waktu itu, kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan menerima syarat apapun.” kata Pak Jo lagi dengan tegas.
“Tapi, waktu itu kan, perjanjian itu berlaku karena Gabriel memang nggak niat, Pak. Bukannya Bapak sudah melihat Gabriel yang sekarang? Dia sangat serius latihan, kan?” kata Rio masih berusaha meluluhkan hati Pak Jo.
Pak Jo menggeleng. “Perjanjian tetap perjanjian, Mario. Tidak ada pengecualian.”
“Tapi—“
“Tidak ada tapi-tapian, Rio!” seru Pak Jo keras.
Rio menunduk. “Ya udah deh, makasih, Pak.”
“Ya sudah, latihan sana!” perintah Pak Jo.
Rio hanya bisa diam dan menuruti apa kata Pak Jo. Namun, karena menyadari Gabriel tidak akan bisa menjadi anggota tim inti, semangatnya menjadi drop. Teman-temannya juga menjadi heran kenapa Rio menjadi murung setelah berbicara dengan Pak Jo. Sampai-sampai, banyak yang mengira kalau Rio diceramahi oleh beliau.
Rio hanya bisa tersenyum menanggapi teman-temannya. Ia tidak mau satu orang pun tahu tentang hal ini. Keadaan sudah terlanjur membaik, ia tidak mungkin merusak suasana. Ia khawatir Gabriel akan kembali murung seperti dulu. Tapi, bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Gabriel tentang hal ini? Dia kan sama sekali tidak tahu kalau dia dilarang keras masuk anggota tim inti. Apa dia harus terus membohongi kakaknya?

J L J

“Bro, lo yakin nggak apa-apa?” tanya Deva ketika mereka sudah akan pulang ke rumah. Ia benar-benar heran melihat Rio yang murung sejak selesai ekskul tadi. Padahal, biasanya dia yang paling ramai.
Rio menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa kok, Va. Udah yuk, balik.”
“Ya udah deh,” kata Deva ragu. Ia menoleh ke arah teman-teman ekskul musiknya yang masih sibuk di ruang musik. “Guys! Gue balik dulu ya! Kalau udah selesai, kunci pintunya!”
“Oke, Va!” Dayat tampak mengacungkan jempolnya.
Rio, Cakka, Deva dan Gabriel langsung berjalan pergi meninggalkan sekolah. Selama perjalanan, hanya Deva dan Gabriel yang sibuk mengobrol sendiri. Cakka hanya menyahut sesekali seperti biasa. Sementara Rio seakan-akan mengunci mulutnya. Sama sekali tak mau berbicara.
Begitu mereka sampai di rumah Rio dan Gabriel, Deva dan Cakka langsung pamit. Rio dan Gabriel melambaikan tangannya sejenak, kemudian langsung masuk ke rumah untuk segera beristirahat. Tapi, niat mereka tertunda karena Gabriel langsung bersuara.
“Sebenernya lo kenapa sih, Yo?” tanya Gabriel sambil duduk di tempat tidurnya.
Rio tersenyum. “Gue nggak apa-apa kok, Yel.”
“Lo nggak usah samain gue sama yang lain. Gue ini kakak lo, gue tahu kapan lo seneng, kapan lo sedih. Dan gue lihat dari tadi lo kayak orang yang punya masalah tahu nggak?” kata Gabriel.
Rio menunduk.
“Lo ngomong apa tadi sama Pak Jo?” tanya Gabriel lagi.
Rio menggelengkan kepalanya, tetap tidak ingin memberitahu apa-apa kepada Gabriel. Ia benar-benar takut.
Gabriel menghela nafasnya. “Apa ini... soal gue?”
Rio mengangkat kepalanya kembali, menatap kakaknya. “Lo ngomong apa sih?”
“Tadi sesaat sebelum lo murung, lo kan lagi ngomongin gue masuk ke tim inti. Tapi, Pak Jo nggak ngebolehin. Apa itu yang bikin lo murung sepanjang latihan?” tanya Gabriel.
Rio terdiam.
Gabriel menghela nafasnya lagi. Ia membuang muka. “Sebenarnya, lo nggak perlu sampai kayak begitu, Yo.”
Tetap tidak ada jawaban dari Rio.
“Gue nggak pernah bilang kan kalau gue pengen jadi anggota tim inti?” tanya Gabriel sambil tersenyum. “Biarlah waktu yang menjawab, apa gue pantas atau nggak jadi anggota tim inti. Mungkin Pak Jo punya alasan sendiri.”
“Tapi, lo pengen kan ikut pertandingan itu?”
“Pengen sih...” kata Gabriel pelan. Kemudian, ia menatap Rio. “Tapi, kalaupun gue nggak bisa ikut yang ini, gue kan bisa ikut pertandingan yang lain, Yo. Nggak usah maksa.”
Rio menggeleng. “Nggak bisa, Yel.”
Gabriel mengerutkan dahinya heran. “Maksud lo, Yo?”
Rio terdiam.
Gabriel mulai merasa curiga. Ia beranjak dari tempat tidurnya, menatap adiknya tajam. “Maksud lo apa Yo, gue nggak bisa ikut pertandingan lain?”
Rio menggeleng. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, rasanya ingin menangis jika mengingat apa yang sebenarnya terjadi. “Nggak, Yel... Gue...”
“Jangan bilang enggak sama gue, Yo. Jawab yang sejujurnya. Sebenarnya ada apa sih? Apa lo nyembunyiin sesuatu dari gue? Makanya dari tadi lo nggak mau ngomong? Dan kenapa sekarang lo nangis?” tanya Gabriel bertubi-tubi. Ah, mungkin baru kali ini Gabriel cerewet. Setelah sekian lama.
“Yel, sebenarnya...” Rio akhirnya terpaksa bercerita kepada Gabriel. Semua yang ia lakukan saat ia ingin Gabriel masuk ke dalam ekskul basket. Tentang Pak Jo yang hanya menerima Gabriel karena paksaan adiknya. Semua hal yang selama ini ia sembunyikan, ia ungkapkan kepada Gabriel. Detik ini juga.
Gabriel yang mendengar cerita Rio seketika terbelalak. Begitu banyak hal yang ia tidak tahu tentang kehidupannya. Seiring Rio bercerita, emosinya semakin tinggi. Ia sama sekali tak tahu apa-apa.
“Yel, lo ngerti, kan?” tanya Rio sedih. Air matanya sudah tumpah karena harus jujur kepada kakaknya. “Gue sama sekali nggak bermaksud—“
BRUK!!
Rio langsung tersungkur begitu Gabriel mendorongnya keras. Ia langsung bangkit, menatap kakaknya dengan tatapan kaget. Ia benar-benar tak menyangka kakaknya tak segan-segan berbuat begitu kepadanya.
"Yel..."
"Gue kecewa sama lo, Yo," kata Gabriel pedih. Matanya sudah berkaca-kaca. "Gue bener-bener nggak nyangka."
Rio berdiri dengan susah payah. Badannya sakit semua akibat dorongan Gabriel tadi. "Yel, dengerin gue..."
“Kenapa sih lo selalu memaksa orang-orang untuk menerima gue?!” tanya Gabriel. “Gue tahu gue butuh orang-orang yang pengertian sama gue. Tapi nggak begini caranya, Rio!!”
“Gue terpaksa, Yel, ngelakuin itu!” kata Rio berusaha menjelaskan.
“Terus apa lo mikir apa yang terjadi sama gue kalau lo ngelakuin itu, hah?!” tanya Gabriel lagi. Ia ikut-ikutan menangis karena terlalu sedih mendengar kenyataannya.
“Maafin gue, Yel...” suara Rio melemah.
"LO BILANG LO BAKAL SELALU DUKUNG GUE, BUKTINYA MANA?!" teriak Gabriel nyaring. "LO SAMA SEKALI GAK MIKIRIN GUE!!"
"Lo salah paham, Yel! Dengerin gue dulu!" kata Rio panik. Gabriel itu jarang marah, kalau sudah begini Gabriel pasti sudah emosi tingkat akut.
"GAK PERLU, YO! SAMA SEKALI GAK PERLU! UDAH CUKUP!" seru Gabriel lagi, kemudian langsung pergi meninggalkan kamar.
"IEL!!" teriak Rio kaget. Ia langsung berlari mengejar Gabriel. Matanya membesar begitu melihat Gabriel berlari keluar rumah. Tidak! Jangan pergi!
"YEL, LO MAU KEMANA?!" teriak Rio sekencang-kencangnya. Ia mengatur nafasnya kasar dan menatap jalanan dari teras rumah. Larinya kurang cepat, Gabriel keburu hilang dari pandangannya. Apapun yang dia lakukan sekarang, dia pasti sudah tidak bisa mengejarnya.
“Yo? Kamu kenapa?” tiba-tiba Bunda muncul dari dalam.
“Bunda!” seru Rio sedih. Ia langsung memeluk Bundanya sambil menangis.
“Aduh, anak Bunda kenapa sih? Tadi Bunda sempet denger kamu berantem sama Iel. Tapi, kalian keburu lari-larian pas Bunda mau tegur,” kata Bunda sambil mengelus punggung anaknya. “Kalian kenapa?”
“Ini salah Rio, Bun. Ini... salah Rio!” kata Rio sesunggukan.
“Ssstt... Ya sudah, ayo masuk. Mungkin Iel butuh waktu sendiri sekarang. Nanti kalau Rio udah tenang, baru cari Iel ya?” kata Bunda menenangkan. Tapi, tidak ada jawaban dari Rio.
Rio hanya mengikuti perintah Bunda untuk masuk ke dalam, tepatnya langsung ke kamarnya. Sementara Bundanya ke dapur untuk mengambilkan Rio cokelat hangat.
Rio duduk di tempat tidurnya sambil melamun. Sisa tangisannya masih ada. Rasa bersalah mulai menguasai diri Rio sekarang. Ia selalu benci jika dia mengecewakan Gabriel. Sekarang dia memang terlihat cengeng di mata semua orang karena dia laki-laki. Tapi, ia sama sekali tidak peduli. Mereka tidak tahu bagaimana ia menyayangi Gabriel. Apalagi semenjak ia tahu Gabriel sangat takut dengan dunia luar. Rio selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuatnya menderita. Tapi, sekarang apa? Justru dia sendiri yang membuatnya sakit hati. Adik macam apa sih Rio ini?
“Yo, nih cokelat hangatnya,” Bunda datang membawa segelas cokelat untuk Rio. “Bunda ke kamar dulu ya. Kamu jangan nangis terus, kalau butuh apa-apa panggil Bunda aja.”
Rio mengangguk. “Iya, makasih, Bun.”
Bundanya langsung meninggalkan Rio sendirian di kamar. Sepeninggalan Bunda, Rio tetap saja diam di sana, membiarkan tangisannya tumpah sampai ia puas. Selama ini dia selalu marah kepada orang-orang yang memandang Gabriel sebelah mata. Mereka yang sering menyakiti hati Gabriel pasti terkena amarahnya. Ternyata, dia sendiri merupakan salah satu dari orang-orang tak berperasaan tersebut. Kenapa Rio baru sadar sekarang?
Rio megnhapus air matanya sejenak, kemudian langsung mencicipi minuman yang sudah dibuat Bunda. Nafasnya ia hela berkali-kali, berusaha menenangkan dirinya sejenak.
“Maafin gue, Yel...” bisiknya pelan. “Mungkin gue adalah orang yang paling nggak berperasaan di antara orang-orang itu...”
Rio terdiam sejenak, kemudian langsung membuka jendela kamarnya. Entah akan tidur dimana Gabriel hari ini. Dia sama sekali tak membawa apa-apa ketika kabur tadi. Bagaimana kalau dia sakit?
“Maaf, ku telah menyakitimu... ku telah kecewakanmu... Bahkan ku sia-siakan hidupku dan kubawa kau seperti diriku…”
Rio hanya bisa menyandungkan lagu itu pelan untuk mengeluarkan rasa penyesalannya. Kata maaf mungkin tidak akan cukup untuk membuat Gabriel memaafkannya. Entahlah, yang pasti Rio tidak akan bisa tidur hari ini. Kenapa sih ia harus lupa akan perjanjiannya dengan Pak Jo? Semuanya pasti tidak berakhir buruk jika bukan dia yang sembarangan berjanji. Iya kan?

 TO BE CONTINUED...
Penasaran? Baca sampai tamat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p