Cakka
menoleh kanan-kiri melihat keadaan sekitar. Kemudian, dia menghela nafasnya
pelan. Sakit. Itu yang dirasakan Cakka semenjak ia meninggalkan rumahnya.
Kakinya yang masih mengenakan kruk benar-benar terasa susah digerakkan selama
dia berjalan. Belum lagi jiwanya yang seolah-olah terguncang karena fakta yang
baru saja ia ketahui. Ternyata, selama ini dia memang hidup sendirian. Tidak
ada orang tua, tidak ada saudara. Keluarga Ray ternyata hanyalah memanipulasi
kebahagiaannya.
Cakka
mendongakkan kepalanya melihat langit yang masih gelap. Mungkin tengah malam
sudah dekat. Hitam yang begitu pekat di langit Jogjakarta benar-benar menutupi
bulan dan bintang-bintang yang ada.
Menghilang.
Hanya itulah yang ia inginkan sekarang. Dia tidak ingin berada dimanapun
kecuali tempat yang tersembunyi dari semua orang. Ia benci. Ia sakit hati.
Lebih baik dia pergi, karena sesungguhnya tak ada yang menginginkannya di dunia
ini. Ternyata dia hanyalah seorang laki-laki yang bodoh. Harusnya dia tahu itu.
Karena alasan itulah orang tuanya membencinya. Ups, maksudnya orang tua
angkatnya.
Langkah
kaki Cakka terus membawanya semakin jauh dari rumah. Iapun sudah tidak tahu
dimana dia berada sekarang. Yang pasti ia benar-benar tak ingin bertemu dengan
mereka lagi. Ayah. Bunda. Bahkan Ray. Kakaknya yang sangat ia sayangi.
Bahkan di
saat mereka mengetahui bahwa rahasia besar itu telah terbongkar, mereka tetap
tidak perduli kepadanya. Mereka tetap membelai Ray, mereka tetap khawatir
dengan keadaan Ray.
Cakka
memukul kepalanya sendiri. Lagi-lagi dia lupa bahwa tangannya itu sedang kaku.
Menyebabkan tangannya kembali merasakan rasa sakit. Tangan kanannya yang
baik-baik saja langsung memijit tangan kirinya pelan-pelan. Sementara ia tetap
sibuk berbincang-bincang dengan hatinya. Ah! Berpikir apa sih aku ini? Kenapa
aku harus berharap mereka perduli padaku? Mereka tidak akan perduli bagaimana
mereka mendidikku, yang penting mereka memenuhi amanat yang mereka dapatkan.
Seperti isi surat itu.
---
Ray
membolak-balikkan badannya dengan segala cara yang ia bisa. Ia benar-benar tak
bisa tidur setelah adiknya pergi dari rumah. Kekhawatiran yang ada di dalam
dirinya benar-benar menguras seluruh rasa kantuknya. Yang dia inginkan sekarang
adalah mencari Cakka. Tapi, Ayah dan Bunda menghimbaunya untuk menunggu sampai
esok pagi.
Ray
bangkit dari tidurnya dan menoleh ke arah jendela kamarnya. Tatapannya
benar-benar sendu. Entah kemana adiknya itu akan pergi. Entah dimana adiknya
itu akan tidur malam ini. Dan bagaimana dengan kakinya yang masih terluka?
Bagaimana dengan tangan kirinya yang masih kaku?
Ia
menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya dia beranjak dari tempat tidur. Ia
menghampiri meja belajarnya dan mengambil amplop biru yang tak sengaja
ditemukan adiknya tadi. Ia benar-benar takut jika hari ini sudah tiba. Ia tak
pernah ingin berpisah dengan Cakka. Bagaimanapun ceritanya, Cakka tetaplah
adiknya. Orang yang paling berharga dalam hidupnya.
"Maafkan
aku tante, aku gagal menjaga anak tante!" katanya pilu, membiarkan air
matanya mengalir menelusuri kedua pipinya yang kurus. Dia membalikkan badannya
kembali, menatap keluar jendela. "Tante pasti marah padaku di atas sana.
Seharusnya aku tak membiarkannya pergi."
---
Pagi ini
Cakka terbangun di atas bangku panjang. Ya, semalam kedua kakinya itu
membawanya ke sebuah taman yang cukup jauh dari rumah. Rasa kelelahan yang
dirasakannya memaksanya untuk beristirahat di sana. Ia tak punya pilihan lain,
kakinya tak mungkin bisa diajak berjalan lebih jauh lagi. Sakit!
Cakka
tetap berbaring di bangku panjang tersebut begitu ia membuka mata. Mumpung
taman itu sedang sepi, Cakka ingin menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk
beristirahat. Matanya sesekali berkedip menatap langit yang sudah berubah
terang dan cerah. Kedua tangannya terkatup di atas tubuhnya. Mulutnya terkunci
rapat. Dan pikirannya mulai memikirkan kembali kejadian tadi malam. Ia
benar-benar tak ingin pulang, tapi dia harus kemana?
Ia
menghela nafas. Kemudian menutup kedua matanya, menyebabkan kata-kata dalam
surat itu kembali terdengar di pikirannya. Terdengar suara lembut perempuan
yang seolah-olah menggelitik telinganya. Membuatnya perlahan-lahan meneteskan
air mata.
Kepada
Pak Raka dan Ibu Rida,
Keluarga saya tidak termasuk keluarga yang tidak
mampu. Saya benar-benar merasa bersalah karena tak bisa menjaga bayi saya
dengan baik karena masalah ekonomi yang menimpa hidup saya. Selain kebutuhan
sehari-hari Cakka, saya juga harus membayar biaya pengobatan untuk penyakit
saya.
Saya dengar, kalian juga ingin Ray, anak kalian,
memiliki adik agar dia tidak kesepian di rumah jika kalian sedang sibuk. Jadi,
saya harap, kalian mau menerima bayi saya untuk sementara. Saya berjanji,
selama anak saya dirawat oleh kalian, saya akan mencari uang sebanyak-banyaknya
agar saya bisa memberikan bayi saya hidup yang layak. Setelah itu, saya akan
kembali untuk menjemputnya di rumah kalian. Beri nama dia Chase Karayne dengan
panggilan Cakka.
Beberapa hal yang harus kalian ketahui, sejak dia
dilahirkan tanggal 18 Agustus 1998, Dokter menyatakan bahwa daya tahan tubuh
Cakka memang agak lemah. Kemungkinan besar Cakka bisa cepat lelah jika
melakukan kegiatan berat. Dan jika tubuhnya cedera, dia bisa saja dia terkena
penyakit menurun dari saya. Ataksia. Penyakit otot yang akan melumpuhkan fungsi
tangan dan kakinya. Jadi saya mohon, jagalah dia dengan baik, jangan sampai dia
terlalu lelah dalam hal apapun. Saya juga berharap Ray bisa akrab dengan Cakka.
Terima kasih.
Maaf merepotkan kalian,
orang tua kandung Cakka,
Ibu Ida Putri Karayne
Pelan-pelan
Cakka terisak mengingat kalimat demi kalimat yang terlintas di pikirannya. Ya,
surat yang ia temukan di laci meja belajarnya adalah surat dari orang tua
kandungnya. Ataksia, penyakit otot yang akan melumpuhkan fungsi tangan dan
kakinya. Ia benar-benar sedih mengetahui bahwa Bunda kandungnya mengidap
penyakit yang begitu serius. Ia pernah mendengar tentang penyakit itu. Salah
satu dari sekian banyak penyakit yang bisa menyebabkan kematian.
Namun, di
samping hal itu, dia juga merasa tidak dibutuhkan. Bahkan orang tua kandungnya
sendiri tak pernah berusaha menemuinya. Tak pernah ada sepasang suami istri
yang datang mengaku sebagai orang tuanya.
Cakka
perlahan-lahan bangkit dari tidurnya dan duduk di sana. Sambil terisak pelan,
ia tatap tangan kirinya yang sudah hampir tak bisa ia gerakkan. Tangan dan kaki
kirinya sudah parah. Bahkan tangan kanannya juga sudah mulai kaku. Tak pernah
ada kemajuan yang terjadi dalam dirinya. Mungkin sebentar dia tidak akan bisa berjalan maupun menulis. Ah!
Tentu saja, pasti itu yang membuat orang tua kandungnya tak berniat
menjemputnya lagi. Orang tua mana yang menginginkan anak lumpuh?
"Cakka..."
Cakka
mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara. Ia terdiam melihat sosok
kakaknya telah berdiri di hadapannya dengan tatapan sedih. Kemudian, dia
menunduk kembali. "Ray..."
Ray
mengatur nafasnya sejenak, kemudian segera duduk di samping Cakka. "Aku
tak menyangka kau bisa berjalan sampai ke taman ini, dengan kaki yang belum
pulih. Aku lelah mencarimu, Kka. Dan aku lega kau ada di sini. Kau membuatku
takut."
Cakka
diam.
"Cakka,
biar aku jelaskan semuanya dari awal." kata Ray sambil menyentuh punggung
adiknya. "Waktu kau baru berusia beberapa hari, kau diletakkan oleh
Bundamu di depan rumah kami. Orang tua kita bersahabat saat itu, Kka. Dan
karena itu, Bundamu meminta tolong kepada keluarga kami agar menjagamu untuk
sementara, selama orang tuamu berusaha untuk mencari cukup biaya untuk
kehidupanmu. Makanya, kau tumbuh besar sebagai adikku. Dan orang tuaku selalu
protektif padamu karena mereka takut kau juga mengidap ataksia seperti
Bundamu."
"Itu
tetap bukan alasan mengapa aku harus mengikuti peraturan mereka yang
berlebihan!" kata Cakka. "Mereka tidak bisa mencegah penyakit genetik
dengan protektif denganku. Lihat sekarang, aku tetap mengidap ataksia, bukan?!
Aku tetap akan lumpuh nantinya! Mereka hanya tidak ingin memiliki anak
sepertiku!"
"Cakka,
mereka tidak bermaksud seperti itu." kata Ray. "Mereka tidak akan
berpikir seperti yang kau katakan. Akupun begitu, aku tidak akan pernah keberatan
sekalipun adikku lumpuh!"
"Bohong!
Kau juga sama! Kau tak perduli padaku! Dulu kau berkata padaku bahwa kau akan
membantuku jika kau tahu mengapa mereka begitu jahat padaku! Kau bilang kau
tidak tahu alasan mereka, bukan? Kenyataannya kau tahu semuanya!" kata
Cakka sebal. Ia memalingkan wajah ke arah lain. Tak ingin menatap kakak
tirinya.
"Cakka..."
"Sudahlah!
Seharusnya kau tak mencariku! Kau salah kalau aku ingin pulang ke rumah! Aku
benci kalian! Aku benci keluargaku! Aku ingin pergi!" kata Cakka. Air
matanya kembali menetes karena terlalu emosi.
"Cakka,
orang tuamu sudah meninggal." kata Ray putus asa.
Cakka
membesarkan matanya mendengar ucapan Ray. Ia kembali menatap ke arah Ray dengan
wajah tak percaya. Suaranya hampir habis ketika ia akan menjawab. "Apa kau
bilang...?"
Ray
mengangguk. "Beberapa tahun yang lalu orang tuamu menelepon ke rumah kita,
ketika kau masih SD. Bahwa mereka akan segera menjemputmu kembali. Namun, waktu
itu penyakit Bundamu sudah parah, sehingga sebelum sempat ke rumah kami,
Bundamu meninggal. Ayahmu menyusul Bundamu juga ke sana, karena beliau tak
tahan ditinggal Bundamu."
Cakka diam
sejenak. Ia menggeleng. "Tidak mungkin..."
Ray
menghela nafas dan menatap Cakka iba. "Itu semua benar, Kka. Waktu itu,
sebelum Ayahmu menyusul Bundamu, dia sempat sampai di rumah kita, tapi kau
belum pulang ke rumah. Kupikir waktu itu sudah saatnya kita berpisah, tapi
ternyata Ayahmu berkata bahwa mungkin kamu memang sudah ditakdirkan menjadi
adikku. Menjadi bagian keluarga kami. Dia berpesan untuk menjaga kamu dengan
baik. Terus dia pergi. Beberapa saat kemudian, keluarga kita mendengar bahwa
Ayahmu sudah meninggal, Kka. Mungkin dia bunuh diri."
Cakka
tetap diam mendengarnya. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya. Ia
merasa hidupnya benar-benar sial. Baru kemarin malam dia mengetahui bahwa dia
hanya anak angkat orang tua Ray. Dan ternyata kedua orang tuanya juga sudah
pergi meninggalkannya. Ternyata dia adalah seorang anak yatim piatu. Dia tidak
memiliki orang tua. Dia tidak memiliki keluarga yang menyayanginya.
"Cakka,
kembalilah ke rumah." kata Ray sambil memeluk adik tirinya itu dari
samping. Ia benar-benar sedih melihat Cakka. "Kau tak perlu khawatir, Ayah
dan Bunda sangat menyayangimu. Mereka hanya mendidikmu dengan cara yang salah.
Mereka sudah menyesal dan sedang mengkhawatirkanmu di rumah."
Cakka
menggeleng. "Aku tidak mau."
"Kka,
selama ini aku selalu dihantui oleh rasa bersalah kepadamu. Aku selalu takut
hari ini akan tiba. Dimana kau akan mengetahui semuanya dan membenci aku. Hidup
sebagai saudaramu merupakan hal yang paling membahagiakan untukku. Aku
benar-benar takut kau pergi dari keluarga kami." kata Ray putus asa.
"Jangan wujudkan semua mimpi burukku, Cakka..."
Cakka
menggeleng lagi. "Kau memang tidak pantas memiliki adik sepertiku, Ray.
Orang sepertiku memang pantas sendirian. Tangan dan kakiku sudah hampir lumpuh,
dan sebentar lagi mungkin aku akan menjadi orang yang tidak berguna."
"Tidak,
Cakka. Kau selalu berguna untukku. Asal kau tetap menjadi adikku, selalu bersamaku,
itu saja sudah cukup." kata Ray ikut menangis. "Pulanglah, aku tak
bisa tenang jika kau tak ada di rumah."
Cakka
segera melepas pelukan Ray. Kemudian, segera mengambil tisu dari saku celananya
dan memberikannya kepada Ray. "Kau laki-laki. Kau tak pantas menangis.
Apalagi menangisi aku. Lebih baik kau pulang. Biar aku sendiri di sini."
Ray
menerima tisu tersebut dan menghapus air matanya sejenak. Kemudian, dia segera
membantu Cakka berdiri dari bangku panjang tersebut tanpa menghiraukan Cakka
yang langsung bingung dengan kelakuannya. "Aku akan pulang jika kau juga
pulang. Bagaimanapun ceritanya, kau tetap adikku, dan aku tidak akan
meninggalkanmu sendiri di sini."
"Tapi,
Ray.."
"Sudahlah,
jangan membantah lagi. Kita sudah hidup sebagai saudara bertahun-tahun. Kau
bukannya tidak tahu bahwa aku keras kepala dengan semua keinginanku,
bukan?" tanya Ray sambil tersenyum. Kemudian, dia segera memunggungi
Cakka. "Naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu pulang."
"Kau
sanggup?"
"Tentu
saja. Cepatlah!" Cakka menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku
kakaknya itu. Dia langsung naik ke punggung Ray dan merekapun berjalan pulang.
Di perjalanan, mereka bercanda tawa seperti hari-hari biasanya, seakan-akan
tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Cakka!
Ray!" Begitu mereka sampai di rumah, Ayah dan Bunda juga langsung
berhamburan keluar untuk menyambut mereka berdua. Terutama Cakka. Mereka
langsung memeluk erat anak bungsu mereka tersebut dengan penuh kasih sayang.
Mereka juga menjelaskan semuanya, bahwa mereka tidak bermaksud membuat Cakka
kesal, bahwa mereka tak bermaksud membanding-bandingkannya dengan Ray, dan
sebagainya. Tapi, mereka juga sedih mengetahui bahwa tangan dan kaki Cakka
pelan-pelan mulai kehilangan fungsi.
“Maafkan
aku, Bunda, Ayah! Harusnya aku tahu kalau Ayah dan Bunda hanya bermaksud untuk
melindungiku! Sekarang semuanya sudah terlambat!” kata Cakka sambil menunduk.
“Tangan dan kakiku sudah...”
“Sudahlah,
kita akan menjagamu, Cakka.” kata Bunda sambil tersenyum.
“Ya, dan
mulai hari ini kita tidak akan protektif seperti kemarin. Ayah dan Bunda sadar,
kau juga butuh banyak pengalaman! Tidak boleh ditahan di dalam terus.” kata
Ayah sambil tersenyum.
Cakka
tersenyum mendengarnya. Disusul oleh Ray. Kemudian, mereka berdua langsung
memeluk orang tua mereka sambil membisikkan kata sayang untuk Ayah dan Bunda.
Semenjak
hari itu, hidup Cakka terasa lebih menyenangkan. Selain memiliki saudara yang
hebat seperti Ray, Ayah dan Bunda juga tidak pernah melarang Cakka untuk
bermain di luar lagi. Mereka membiarkan Cakka hidup normal seperti anak-anak
lainnya, dengan sedikit peraturan. Cakka harus berhati-hati dan terlalu lelah.
Cakka juga sudah dibolehkan lagi bermain musik dan tampil di acara sekolah
lagi. Walau tidak sesering dulu. Tapi, Cakka jelas mengerti dengan perasaan
Ayah dan Bunda. Orang tua mana yang mau anaknya celaka?
---
Ayah, Bunda, aku sangat berterima kasih karena
kalian telah memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam keluarga Ray. Ayah dan
Bunda tidak hanya membuatku sebuah keluarga yang hebat, tapi juga memberikanku
sebuah kebahagiaan. Mungkin aku tidak bisa melihat seperti apa wujud kalian
sekarang, tapi aku yakin kalian adalah orang tua terhebat yang pernah aku
punya. Sampai jumpa di surga ya, Yah, Bun. Aku sayang kalian.
~Chase Karayne, satu-satunya anak yang kalian
rindukan :')
THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Kalau mau request cerpen silahkan ya :)
Nantikan ceritaku selanjutnya!

keren juga nih cerbung'a, kebetulan ade gue ngefanbs banget ma cakka, mungkin nanti gue kasih tau ke adek gue nih hehe
BalasHapusYeayy asikk.. aku juga fans cakka :D kenalin dong adeknya hehe :)
Hapusmantap ceritanya:)
BalasHapusBahasanya bagus. Love it.
BalasHapusahh nangis ..
BalasHapus