Rabu, 06 Agustus 2014

Mini Cerbung | Surat Biru Untuk Cakka #3 [Ending]

Cakka menoleh kanan-kiri melihat keadaan sekitar. Kemudian, dia menghela nafasnya pelan. Sakit. Itu yang dirasakan Cakka semenjak ia meninggalkan rumahnya. Kakinya yang masih mengenakan kruk benar-benar terasa susah digerakkan selama dia berjalan. Belum lagi jiwanya yang seolah-olah terguncang karena fakta yang baru saja ia ketahui. Ternyata, selama ini dia memang hidup sendirian. Tidak ada orang tua, tidak ada saudara. Keluarga Ray ternyata hanyalah memanipulasi kebahagiaannya.

Cakka mendongakkan kepalanya melihat langit yang masih gelap. Mungkin tengah malam sudah dekat. Hitam yang begitu pekat di langit Jogjakarta benar-benar menutupi bulan dan bintang-bintang yang ada.
Menghilang. Hanya itulah yang ia inginkan sekarang. Dia tidak ingin berada dimanapun kecuali tempat yang tersembunyi dari semua orang. Ia benci. Ia sakit hati. Lebih baik dia pergi, karena sesungguhnya tak ada yang menginginkannya di dunia ini. Ternyata dia hanyalah seorang laki-laki yang bodoh. Harusnya dia tahu itu. Karena alasan itulah orang tuanya membencinya. Ups, maksudnya orang tua angkatnya.
Langkah kaki Cakka terus membawanya semakin jauh dari rumah. Iapun sudah tidak tahu dimana dia berada sekarang. Yang pasti ia benar-benar tak ingin bertemu dengan mereka lagi. Ayah. Bunda. Bahkan Ray. Kakaknya yang sangat ia sayangi.
Bahkan di saat mereka mengetahui bahwa rahasia besar itu telah terbongkar, mereka tetap tidak perduli kepadanya. Mereka tetap membelai Ray, mereka tetap khawatir dengan keadaan Ray.
Cakka memukul kepalanya sendiri. Lagi-lagi dia lupa bahwa tangannya itu sedang kaku. Menyebabkan tangannya kembali merasakan rasa sakit. Tangan kanannya yang baik-baik saja langsung memijit tangan kirinya pelan-pelan. Sementara ia tetap sibuk berbincang-bincang dengan hatinya. Ah! Berpikir apa sih aku ini? Kenapa aku harus berharap mereka perduli padaku? Mereka tidak akan perduli bagaimana mereka mendidikku, yang penting mereka memenuhi amanat yang mereka dapatkan. Seperti isi surat itu.

---

Ray membolak-balikkan badannya dengan segala cara yang ia bisa. Ia benar-benar tak bisa tidur setelah adiknya pergi dari rumah. Kekhawatiran yang ada di dalam dirinya benar-benar menguras seluruh rasa kantuknya. Yang dia inginkan sekarang adalah mencari Cakka. Tapi, Ayah dan Bunda menghimbaunya untuk menunggu sampai esok pagi.
Ray bangkit dari tidurnya dan menoleh ke arah jendela kamarnya. Tatapannya benar-benar sendu. Entah kemana adiknya itu akan pergi. Entah dimana adiknya itu akan tidur malam ini. Dan bagaimana dengan kakinya yang masih terluka? Bagaimana dengan tangan kirinya yang masih kaku?
Ia menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya dia beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri meja belajarnya dan mengambil amplop biru yang tak sengaja ditemukan adiknya tadi. Ia benar-benar takut jika hari ini sudah tiba. Ia tak pernah ingin berpisah dengan Cakka. Bagaimanapun ceritanya, Cakka tetaplah adiknya. Orang yang paling berharga dalam hidupnya.
"Maafkan aku tante, aku gagal menjaga anak tante!" katanya pilu, membiarkan air matanya mengalir menelusuri kedua pipinya yang kurus. Dia membalikkan badannya kembali, menatap keluar jendela. "Tante pasti marah padaku di atas sana. Seharusnya aku tak membiarkannya pergi."

---

Pagi ini Cakka terbangun di atas bangku panjang. Ya, semalam kedua kakinya itu membawanya ke sebuah taman yang cukup jauh dari rumah. Rasa kelelahan yang dirasakannya memaksanya untuk beristirahat di sana. Ia tak punya pilihan lain, kakinya tak mungkin bisa diajak berjalan lebih jauh lagi. Sakit!
Cakka tetap berbaring di bangku panjang tersebut begitu ia membuka mata. Mumpung taman itu sedang sepi, Cakka ingin menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk beristirahat. Matanya sesekali berkedip menatap langit yang sudah berubah terang dan cerah. Kedua tangannya terkatup di atas tubuhnya. Mulutnya terkunci rapat. Dan pikirannya mulai memikirkan kembali kejadian tadi malam. Ia benar-benar tak ingin pulang, tapi dia harus kemana?
Ia menghela nafas. Kemudian menutup kedua matanya, menyebabkan kata-kata dalam surat itu kembali terdengar di pikirannya. Terdengar suara lembut perempuan yang seolah-olah menggelitik telinganya. Membuatnya perlahan-lahan meneteskan air mata.

Kepada Pak Raka dan Ibu Rida,
Keluarga saya tidak termasuk keluarga yang tidak mampu. Saya benar-benar merasa bersalah karena tak bisa menjaga bayi saya dengan baik karena masalah ekonomi yang menimpa hidup saya. Selain kebutuhan sehari-hari Cakka, saya juga harus membayar biaya pengobatan untuk penyakit saya.
Saya dengar, kalian juga ingin Ray, anak kalian, memiliki adik agar dia tidak kesepian di rumah jika kalian sedang sibuk. Jadi, saya harap, kalian mau menerima bayi saya untuk sementara. Saya berjanji, selama anak saya dirawat oleh kalian, saya akan mencari uang sebanyak-banyaknya agar saya bisa memberikan bayi saya hidup yang layak. Setelah itu, saya akan kembali untuk menjemputnya di rumah kalian. Beri nama dia Chase Karayne dengan panggilan Cakka.
Beberapa hal yang harus kalian ketahui, sejak dia dilahirkan tanggal 18 Agustus 1998, Dokter menyatakan bahwa daya tahan tubuh Cakka memang agak lemah. Kemungkinan besar Cakka bisa cepat lelah jika melakukan kegiatan berat. Dan jika tubuhnya cedera, dia bisa saja dia terkena penyakit menurun dari saya. Ataksia. Penyakit otot yang akan melumpuhkan fungsi tangan dan kakinya. Jadi saya mohon, jagalah dia dengan baik, jangan sampai dia terlalu lelah dalam hal apapun. Saya juga berharap Ray bisa akrab dengan Cakka. Terima kasih.

Maaf merepotkan kalian,
orang tua kandung Cakka,
Ibu Ida Putri Karayne

Pelan-pelan Cakka terisak mengingat kalimat demi kalimat yang terlintas di pikirannya. Ya, surat yang ia temukan di laci meja belajarnya adalah surat dari orang tua kandungnya. Ataksia, penyakit otot yang akan melumpuhkan fungsi tangan dan kakinya. Ia benar-benar sedih mengetahui bahwa Bunda kandungnya mengidap penyakit yang begitu serius. Ia pernah mendengar tentang penyakit itu. Salah satu dari sekian banyak penyakit yang bisa menyebabkan kematian.
Namun, di samping hal itu, dia juga merasa tidak dibutuhkan. Bahkan orang tua kandungnya sendiri tak pernah berusaha menemuinya. Tak pernah ada sepasang suami istri yang datang mengaku sebagai orang tuanya.
Cakka perlahan-lahan bangkit dari tidurnya dan duduk di sana. Sambil terisak pelan, ia tatap tangan kirinya yang sudah hampir tak bisa ia gerakkan. Tangan dan kaki kirinya sudah parah. Bahkan tangan kanannya juga sudah mulai kaku. Tak pernah ada kemajuan yang terjadi dalam dirinya. Mungkin  sebentar dia tidak akan bisa berjalan maupun menulis. Ah! Tentu saja, pasti itu yang membuat orang tua kandungnya tak berniat menjemputnya lagi. Orang tua mana yang menginginkan anak lumpuh?
"Cakka..."
Cakka mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara. Ia terdiam melihat sosok kakaknya telah berdiri di hadapannya dengan tatapan sedih. Kemudian, dia menunduk kembali. "Ray..."
Ray mengatur nafasnya sejenak, kemudian segera duduk di samping Cakka. "Aku tak menyangka kau bisa berjalan sampai ke taman ini, dengan kaki yang belum pulih. Aku lelah mencarimu, Kka. Dan aku lega kau ada di sini. Kau membuatku takut."
Cakka diam.
"Cakka, biar aku jelaskan semuanya dari awal." kata Ray sambil menyentuh punggung adiknya. "Waktu kau baru berusia beberapa hari, kau diletakkan oleh Bundamu di depan rumah kami. Orang tua kita bersahabat saat itu, Kka. Dan karena itu, Bundamu meminta tolong kepada keluarga kami agar menjagamu untuk sementara, selama orang tuamu berusaha untuk mencari cukup biaya untuk kehidupanmu. Makanya, kau tumbuh besar sebagai adikku. Dan orang tuaku selalu protektif padamu karena mereka takut kau juga mengidap ataksia seperti Bundamu."
"Itu tetap bukan alasan mengapa aku harus mengikuti peraturan mereka yang berlebihan!" kata Cakka. "Mereka tidak bisa mencegah penyakit genetik dengan protektif denganku. Lihat sekarang, aku tetap mengidap ataksia, bukan?! Aku tetap akan lumpuh nantinya! Mereka hanya tidak ingin memiliki anak sepertiku!"
"Cakka, mereka tidak bermaksud seperti itu." kata Ray. "Mereka tidak akan berpikir seperti yang kau katakan. Akupun begitu, aku tidak akan pernah keberatan sekalipun adikku lumpuh!"
"Bohong! Kau juga sama! Kau tak perduli padaku! Dulu kau berkata padaku bahwa kau akan membantuku jika kau tahu mengapa mereka begitu jahat padaku! Kau bilang kau tidak tahu alasan mereka, bukan? Kenyataannya kau tahu semuanya!" kata Cakka sebal. Ia memalingkan wajah ke arah lain. Tak ingin menatap kakak tirinya.
"Cakka..."
"Sudahlah! Seharusnya kau tak mencariku! Kau salah kalau aku ingin pulang ke rumah! Aku benci kalian! Aku benci keluargaku! Aku ingin pergi!" kata Cakka. Air matanya kembali menetes karena terlalu emosi.
"Cakka, orang tuamu sudah meninggal." kata Ray putus asa.
Cakka membesarkan matanya mendengar ucapan Ray. Ia kembali menatap ke arah Ray dengan wajah tak percaya. Suaranya hampir habis ketika ia akan menjawab. "Apa kau bilang...?"
Ray mengangguk. "Beberapa tahun yang lalu orang tuamu menelepon ke rumah kita, ketika kau masih SD. Bahwa mereka akan segera menjemputmu kembali. Namun, waktu itu penyakit Bundamu sudah parah, sehingga sebelum sempat ke rumah kami, Bundamu meninggal. Ayahmu menyusul Bundamu juga ke sana, karena beliau tak tahan ditinggal Bundamu."
Cakka diam sejenak. Ia menggeleng. "Tidak mungkin..."
Ray menghela nafas dan menatap Cakka iba. "Itu semua benar, Kka. Waktu itu, sebelum Ayahmu menyusul Bundamu, dia sempat sampai di rumah kita, tapi kau belum pulang ke rumah. Kupikir waktu itu sudah saatnya kita berpisah, tapi ternyata Ayahmu berkata bahwa mungkin kamu memang sudah ditakdirkan menjadi adikku. Menjadi bagian keluarga kami. Dia berpesan untuk menjaga kamu dengan baik. Terus dia pergi. Beberapa saat kemudian, keluarga kita mendengar bahwa Ayahmu sudah meninggal, Kka. Mungkin dia bunuh diri."
Cakka tetap diam mendengarnya. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya. Ia merasa hidupnya benar-benar sial. Baru kemarin malam dia mengetahui bahwa dia hanya anak angkat orang tua Ray. Dan ternyata kedua orang tuanya juga sudah pergi meninggalkannya. Ternyata dia adalah seorang anak yatim piatu. Dia tidak memiliki orang tua. Dia tidak memiliki keluarga yang menyayanginya.
"Cakka, kembalilah ke rumah." kata Ray sambil memeluk adik tirinya itu dari samping. Ia benar-benar sedih melihat Cakka. "Kau tak perlu khawatir, Ayah dan Bunda sangat menyayangimu. Mereka hanya mendidikmu dengan cara yang salah. Mereka sudah menyesal dan sedang mengkhawatirkanmu di rumah."
Cakka menggeleng. "Aku tidak mau."
"Kka, selama ini aku selalu dihantui oleh rasa bersalah kepadamu. Aku selalu takut hari ini akan tiba. Dimana kau akan mengetahui semuanya dan membenci aku. Hidup sebagai saudaramu merupakan hal yang paling membahagiakan untukku. Aku benar-benar takut kau pergi dari keluarga kami." kata Ray putus asa. "Jangan wujudkan semua mimpi burukku, Cakka..."
Cakka menggeleng lagi. "Kau memang tidak pantas memiliki adik sepertiku, Ray. Orang sepertiku memang pantas sendirian. Tangan dan kakiku sudah hampir lumpuh, dan sebentar lagi mungkin aku akan menjadi orang yang tidak berguna."
"Tidak, Cakka. Kau selalu berguna untukku. Asal kau tetap menjadi adikku, selalu bersamaku, itu saja sudah cukup." kata Ray ikut menangis. "Pulanglah, aku tak bisa tenang jika kau tak ada di rumah."
Cakka segera melepas pelukan Ray. Kemudian, segera mengambil tisu dari saku celananya dan memberikannya kepada Ray. "Kau laki-laki. Kau tak pantas menangis. Apalagi menangisi aku. Lebih baik kau pulang. Biar aku sendiri di sini."
Ray menerima tisu tersebut dan menghapus air matanya sejenak. Kemudian, dia segera membantu Cakka berdiri dari bangku panjang tersebut tanpa menghiraukan Cakka yang langsung bingung dengan kelakuannya. "Aku akan pulang jika kau juga pulang. Bagaimanapun ceritanya, kau tetap adikku, dan aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini."
"Tapi, Ray.."
"Sudahlah, jangan membantah lagi. Kita sudah hidup sebagai saudara bertahun-tahun. Kau bukannya tidak tahu bahwa aku keras kepala dengan semua keinginanku, bukan?" tanya Ray sambil tersenyum. Kemudian, dia segera memunggungi Cakka. "Naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu pulang."
"Kau sanggup?"
"Tentu saja. Cepatlah!" Cakka menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kakaknya itu. Dia langsung naik ke punggung Ray dan merekapun berjalan pulang. Di perjalanan, mereka bercanda tawa seperti hari-hari biasanya, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Cakka! Ray!" Begitu mereka sampai di rumah, Ayah dan Bunda juga langsung berhamburan keluar untuk menyambut mereka berdua. Terutama Cakka. Mereka langsung memeluk erat anak bungsu mereka tersebut dengan penuh kasih sayang. Mereka juga menjelaskan semuanya, bahwa mereka tidak bermaksud membuat Cakka kesal, bahwa mereka tak bermaksud membanding-bandingkannya dengan Ray, dan sebagainya. Tapi, mereka juga sedih mengetahui bahwa tangan dan kaki Cakka pelan-pelan mulai kehilangan fungsi.
“Maafkan aku, Bunda, Ayah! Harusnya aku tahu kalau Ayah dan Bunda hanya bermaksud untuk melindungiku! Sekarang semuanya sudah terlambat!” kata Cakka sambil menunduk. “Tangan dan kakiku sudah...”
“Sudahlah, kita akan menjagamu, Cakka.” kata Bunda sambil tersenyum.
“Ya, dan mulai hari ini kita tidak akan protektif seperti kemarin. Ayah dan Bunda sadar, kau juga butuh banyak pengalaman! Tidak boleh ditahan di dalam terus.” kata Ayah sambil tersenyum.
Cakka tersenyum mendengarnya. Disusul oleh Ray. Kemudian, mereka berdua langsung memeluk orang tua mereka sambil membisikkan kata sayang untuk Ayah dan Bunda.
Semenjak hari itu, hidup Cakka terasa lebih menyenangkan. Selain memiliki saudara yang hebat seperti Ray, Ayah dan Bunda juga tidak pernah melarang Cakka untuk bermain di luar lagi. Mereka membiarkan Cakka hidup normal seperti anak-anak lainnya, dengan sedikit peraturan. Cakka harus berhati-hati dan terlalu lelah. Cakka juga sudah dibolehkan lagi bermain musik dan tampil di acara sekolah lagi. Walau tidak sesering dulu. Tapi, Cakka jelas mengerti dengan perasaan Ayah dan Bunda. Orang tua mana yang mau anaknya celaka?

---

Ayah, Bunda, aku sangat berterima kasih karena kalian telah memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam keluarga Ray. Ayah dan Bunda tidak hanya membuatku sebuah keluarga yang hebat, tapi juga memberikanku sebuah kebahagiaan. Mungkin aku tidak bisa melihat seperti apa wujud kalian sekarang, tapi aku yakin kalian adalah orang tua terhebat yang pernah aku punya. Sampai jumpa di surga ya, Yah, Bun. Aku sayang kalian.
~Chase Karayne, satu-satunya anak yang kalian rindukan :')

THE END...
Tuliskan komentar kalian di bawah,
Kalau mau request cerpen silahkan ya :)
Nantikan ceritaku selanjutnya!

5 komentar:

  1. keren juga nih cerbung'a, kebetulan ade gue ngefanbs banget ma cakka, mungkin nanti gue kasih tau ke adek gue nih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeayy asikk.. aku juga fans cakka :D kenalin dong adeknya hehe :)

      Hapus

Makasih ya udah baca cerpenku. Silahkan tinggalkan komentar kamu ya.
Semua kritik dan saran aku terima. Pujian juga boleh :p